
Shin Seo Hyun baru saja keluar dari kamar mandi ketika ponselnya berdering. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, Shin Seo Hyun menyambar ponsel di atas meja.
“Ya?” ujarnya begitu mendekatkan ponsel ke telinganya.
“Kau sibuk sekarang?” tanya suara di seberang telepon
“Jika tidak ada hal yang sangat mendesak, aku akan sangat berterima kasih bila kau tidak menghubungiku hari ini, Joon Soo,” sahut Shin Seo Hyun tegas.
“Ya, ya. Aku mengerti, tapi ini menyangkut hasil penyelidikan tentang peristiwa pengadangan yang lalu,” balas Joon Soo cepat sebelum Shin Seo Hyun memutus sambungan telepon.
“Katakan!” sahut Shin Seo Hyun sembari menghidupkan loudspeaker ponselnya, lalu meletakkan ponsel itu di atas meja rias.
Ia membuka lemari pakaian, kemudian mengeluarkan selembar celana dan kemeja hitam. Untuk beberapa waktu ia sibuk mematut diri di depan cermin sambil terus mendengarkan ocehan Park Joon Soo.
“Baiklah. Tunggu aku! Aku akan segera ke sana,” jawab Shin Seo Hyun sambil menggulung lengan bajunya hingga ke siku.
Setelah yakin dengan penampilannya, Shin Seo Hyun menyambar kunci mobil yang tergantung di dekat pintu, lalu bergegas keluar.
“Uncle mau pergi?” tanya Ha Na saat melihat Shin Seo Hyun turun dari tangga. Ia sedang asyik menyimak cerita yang dibacakan Izzah di ruang tengah.
“Iya, Sayang. Baik-baik di rumah ya! Uncle akan segera kembali,” janji Shin Seo Hyun, menghalau semburat kecewa di wajah Ha Na.
“Uncle … pulangnya bawa pizza ya …,” pinta Ha Na.
Shin Seo Hyun mengacungkan jempol, membuat Ha Na langsung tersenyum ceria.
“Kau juga ingin aku belikan sesuatu?” tanya Shin Seo Hyun pada Izzah.
“Tidak. Terima kasih,” sahut Izzah datar.
“Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamit Shin Seo Hyun, mencium pipi Ha Na.
Tanpa sadar ia juga bergerak, seolah akan mencium pipi Izzah yang duduk memangku Ha Na. Refleks Izzah menarik kepalanya ke belakang. Membuat keduanya sedikit kikuk.
“Baiklah. Hati-hati di rumah!” pesan Shin Seo Hyun, lalu berlalu meninggalkan Izzah dan Ha Na.
Izzah lanjut membacakan cerita untuk Ha Na. Sesekali ia juga harus memuaskan rasa ingin tahu Ha Na yang cukup besar.
Setibanya di kantor polisi, Park Joon Soo langsung menyambut Shin Seo Hyun dan membawanya menemui opsir polisi yang bertanggung jawab terhadap kasus Shin Seo Hyun.
“Mari ikut saya, Tuan Shin!” ajak opsir polisi itu, membawa Shin Seo Hyun ke ruang khusus di mana ia dapat menyaksikan proses interograsi terhadap tersangka.
Dari balik kaca, Shin Seo Hyun menyaksikan jaksa tengah menginterogasi seorang wanita yang tertunduk lesu. Mukanya yang cantik tampak lusuh dengan rambut panjang kusut seakan tak terurus. Sesekali ia menyeka hidungnya dengan tisu. Sepertinya ia menangis, menyesali perbuatannya.
“Anda yakin wanita itu dalangnya?” tanya Shin Seo Hyun berbisik sambil berpangku tangan.
“Iya, Tuan. Tapi, dia tidak sendiri. Tunggu sesaat lagi! Aku yakin Anda akan semakin terkejut,” sahut opsir polisi itu, juga berbisik pelan, membuat alis Shin Seo Hyun terangkat.
Lima menit kemudian wanita itu meninggalkan ruang interogasi dikawal oleh seorang polisi wanita. Lalu, dua orang polisi membawa masuk seorang lelaki usia lima puluhan dengan dua tangan diborgol. Tubuhnya sedikit gempal dan rambutnya mulai memutih. Ia duduk dengan kasar di hadapan jaksa yang akan menginterogasinya.
Mata Shin Seo Hyun terbelalak begitu mengenali wajah lelaki itu.
“Tuan Kim Tae Jin?” desis Shin Seo Hyun tak percaya.
“Selama ini ia dikenal sebagai pebisnis yang berjiwa sportif. Aku benar-benar tak menyangka dia tega melakukan hal serendah itu,” ujar Shin Seo Hyun dengan nada kecewa.
Selesai berkata begitu Shin Seo Hyun segera keluar dari ruang itu, diikuti Park Joon Soo dan si opsir polisi.
Shin Seo Hyun benar-benar merasa kecewa mengetahui identitas dua orang yang bersekongkol untuk mencelakai Izzah.
“Usut kasus ini sampai tuntas dan proses sesuai hukum! Aku tidak akan membiarkan orang-orang seperti mereka berkeliaran dengan bebas,” geram Shin Seo Hyun.
“Siap, Tuan Shin,” sahut opsir polisi itu seraya membungkuk, melepas kepergian Shin Seo Hyun.
Seorang lelaki paruh baya yang sedang berbicara dengan seseorang mendadak menghentikan percakapannya saat melihat kelebat Shin Seo Hyun keluar dari kantor polisi.
“Sebentar!” ujarnya sambil bergegas mengejar Shin Seo Hyun.
“Sial. Terlambat!” umpatnya kesal.
Ia meninju angin ketika menyaksikan mobil Shin Seo Hyun sudah berkelana di jalanan saat ia sampai di pelataran parkir. Dengan langkah gontai ia kembali masuk ke dalam.
Shin Seo Hyun mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah. Ia masih tak habis pikir dengan kenyataan yang menohoknya.
“Bagaimana Kim Tae Jin bisa mengenal wanita itu?” gumam Shin Seo Hyun. Yang lebih tidak ia mengerti adalah bagaimana Kim Tae Jin bisa bersekongkol dengan wanita itu untuk menyakiti Izzah.
“Apa hubungan Kim Tae Jin dengan wanita itu?” bisik Shin Seo Hyun bertanya-tanya. Sesaat kemudian ia memasang headset ke telinganya dan menghubungi Park Joon Soo.
“Selidiki dengan teliti latar belakang Kim Tae Jin dan hubungannya dengan wanita itu!” perintah Shin Seo Hyun begitu panggilannya diangkat.
“Baik, Tuan,” tukas Park Joon Soo.
Shin Seo Hyun memutus sambungan dan melepaskan headset dari telinganya.
Begitu melewati kedai Pizza, Shin Seo Hyun langsung membelokkan mobilnya. Mencari sudut yang nyaman untuk parkir, lalu bergegas masuk membeli pesanan Ha Na. Sebuah pizza nondaging ukuran besar pun sudah berada di tangan Shin Seo Hyun.
Setelah meninggalkan restoran Pizza, Shin Seo Hyun beranjak ke toko roti. Dibelinya secetak kue ulang tahun cantik tanpa lilin, roti tawar dan juga berbagai jenis selai. Teringat stok buah di kulkas sudah menipis, tak lupa ia
singgah di toko buah. Sengaja dipilihnya jenis buah-buahan yang banyak mengandung energi booster. Dalam waktu singkat, kantong belanjaannya sudah dipenuhi oleh jambu biji, pisang, jeruk, apel, mangga dan alpukat.
Shin Seo Hyun juga menyempatkan diri untuk singgah di apotik membeli beberapa botol madu. Ia ingat, saat demam atau setelah menggunakan kekuatannya, kondisi kesehatan dan tenaga Izzah lebih cepat pulih sesudah minum madu.
Setelah yakin bahwa ia telah membeli semua yang dibutuhkan, Shin Seo Hyun langsung memacu mobilnya kembali pulang.
Begitu menginjakkan kaki di teras, Ha Na telah membuka pintu dan bergegas menyongsong Shin Seo Hyun.
“Uncle pulaaang ...,” teriak Ha Na riang sambil berlari.
Shin Seo Hyun segera meletakkan barang bawaannya dan berjongkok menyambut Ha Na.
Mendengar teriakan Ha Na, Izzah pun keluar. Diambilnya kantong belanjaan yang diletakkan Shin Seo Hyun di lantai dan dibawanya masuk. Shin Seo Hyun mengiringnya sambil menggendong Ha Na. Mendengarkan gadis kecil itu berceloteh tentang kegiatannya sepeninggal Shin Seo Hyun.
Di luar pagar, seorang lelaki menyaksikan setiap gerak-gerik Shin Seo Hyun dan Izzah diam-diam dengan kamera di tangan. Lelaki itu baru meninggalkan tempat persembunyiannya setelah penghuni rumah yang diamatinya menghilang di balik pintu. Tatapan mata dan senyumnya sarat dengan misteri.
***