A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 75. Perawatan Pranikah



Pagi itu cuaca lebih dingin dari biasanya. Izzah menggeliat pelan, seakan enggan melepas selimut yang membalut tubuhnya. Entah kenapa beberapa hari ini Izzah memiliki kebiasaan baru, tidur setelah subuh. Mungkin karena cuacanya atau mungkin juga karena ia ingin melupakan pernikahannya untuk sejenak.


Sinar mentari pagi menyeruak dari balik tirai jendela yang sedikit tersibak. Dengan malas Izzah beranjak turun dari tempat tidur. Mengenakan jilbab sorong, lalu merapikan seprai dan selimut yang berantakan. Rupanya, dalam tidur pun ia gelisah. Itu terbukti dari kondisi kasur yang setengah telanjang.


Izzah melirik jam beker di atas meja di sisi ranjang. Pukul 08.40. Berpikir Shin Seo Hyun sudah berangkat kerja, Izzah pun keluar tanpa cuci muka. Ia sedang tidak ingin menyentuh air. Sebagai gantinya, ia hanya membersihkan mukanya dengan selembar tisu.


Ketika pintu terbuka, betapa kagetnya Izzah. Shin Seo Hyun sudah berdiri di depan pintu dengan pakaian santai. Kemeja abu-abu gelap yang dikenakannya membuatnya tampak gagah dan berwibawa.


Shin Seo Hyun pun tak kalah terperanjatnya. Ia baru hendak mengetuk pintu ketika Izzah tiba-tiba sudah berdiri menatapnya. Wajah polos Izzah yang jelas-jelas menunjukkan ia baru saja bangun dari tidur membuat Shin Seo Hyun terpesona. Pupil matanya membesar. Dalam pandangannya, penampilan Izzah yang natural dan seadanya itu malah terlihat lebih cantik.


“Mas Dirga enggak kerja?” tanya Izzah, mencairkan kebekuan di antara mereka.


Shin Seo Hyun sedikit gugup, “Oh … mulai hari ini dan beberapa hari ke depan tidak. Aku ada urusan di luar negeri.”


“Apa yang akan kau lakukan hari ini?” tanya Shin Seo Hyun, menggaruk kuduknya dengan jari telunjuk. Detak jantungnya masih belum normal.


“Entahlah. Aku mau ke dapur dulu. Permisi!” sahut Izzah enggan.


Shin Seo Hyun segera bergeser. Ia masih berdiri terpaku di depan pintu hingga Izzah benar-benar tak lagi terlihat.


“Nona Izzah, hari ini anda tidak ke mana-mana, kan?” tanya Sandra, tiba-tiba muncul saat Izzah hendak kembali ke kamarnya dengan secangkir cokelat panas.


“Tidak. Kenapa, Bi? Bibi butuh bantuanku?” sahut Izzah, meletakkan cangkir yang dipegangnya di atas meja makan.


“Tidak, Nona. Bukan itu. Aku ingin mengajak Nona ke salon,” tukas Sandra cepat.


“Salon?” Izzah mengernyit.


Seumur-umur ia belum pernah menginjakkan kaki di salon. Setiap kali ia ingin memotong rambutnya, maka bundanyalah yang akan melakukannya.


Sandra tersenyum, “Iya, Non. Nyonya Kang meminta saya untuk membawa Nona ke salon. Katanya itu hadiah untuk pernikahan Nona.”


“Tapi … itu tidak perlu, Bi. Aku tidak terbiasa,” tolak Izzah sopan dan berterus terang.


“Tidak apa-apa, Non. Itu salon milik Nyonya Kang. Lagi pula, ada kok paket khusus muslimahnya,” bujuk Sandra.


Izzah berpikir sejenak. Menimbang-nimbang. Rasanya tidak enak juga kalau ia menolak niat baik Nyonya Kang.


"Ya sudahlah. Sesekali mencoba ke salon tak apa-apalah," pikirnya.


“Baiklah, Bi. Tunggu sebentar! Aku mandi dulu,” kata Izzah, akhirnya menerima ajakan Sandra.


“Baik, Non. Aku juga akan bersiap-siap,” sahut Sandra, masuk ke kamarnya.


Satu jam kemudian, Sandra dan Izzah meninggalkan rumah kediaman Shin Seo Hyun menuju salon kecantikan milik Nyonya Kang.


Sesampainya di salon, Izzah disambut langsung oleh Nyonya Kang. Sepertinya ia memang sudah menanti kedatangan gadis itu di salonnya. Setelah basa-basi, Nyonya Kang mengantarkan Izzah ke ruang khusus untuk pelanggan muslimah.


“Layani Nona ini dengan baik ya!” perintah Nyonya Kang kepada seorang gadis muda.


“Baik, Nyonya,” sahut gadis itu seraya membungkuk.


“Mari ikut saya, Nona!” ajaknya pada Izzah.


Izzah mengikuti gadis itu. Sementara Sandra menemani Nyonya Kang.


Entah berapa lama Izzah menjalani perawatan kecantikan di salon itu, mulai dari aroma terapi, facial hingga manicure dan pedicure. Pokoknya paket pengantin lengkap. Izzah benar-benar merasa nyaman dan rileks saat


mendapat layanan pijat, tetapi ia agak sedikit canggung saat harus menjalani proses ratus.


Izzah tak menyangka, di saat wanita-wanita Indonesia berlomba-lomba menggunakan produk kecantikan Korea. Eeh … di Korea ia malah mendapat perawatan ratus. Bahkan, Nyonya Kang mendatangkan rempahnya langsung dari Indonesia.


“Izzah?”


Seseorang yang sangat dikenal Izzah tampak kaget dan senang saat berpas-pasan dengannya di pintu keluar.


“Safitri?”


Izzah juga senang dan tak menyangka akan bertemu teman SMA-nya itu di Korea.


“Waah … dunia ini benar-benar sempit ya …,” celoteh Safitri dengan senyum merekah.


“Iya. Kamu mau perawatan juga?” tanya Izzah dan dibalas gelengan kepala oleh Safitri.


“Tidak. Aku ada urusan bisnis mewakili mama,” sahut Safitri.


“Sudah tiba di sini rupanya?” Tahu-tahu Nyonya Kang dan Sandra datang menghampiri.


“Iya, Nyonya Kang. Aku mengantarkan ini,” ujar Safitri, menyerahkan sebuah map berwarna cokelat setelah menyalami Nyonya Kang dan Sandra.


“Oh, ya. Terima kasih,” sambut Nyonya Kang.


“Maaf, Nyonya. Aku langsung pamit ya. Aku mau ngobrol sama teman dulu,” ujar Safitri pada Nyonya Kang dan Sandra sambil menggamit lengan Izzah.


Nyonya Kang dan Sandra saling pandang.


“Kalian saling kenal?” tanya Nyonya Kang, melirik Izzah.


“Iya, Nyonya. Kami teman SMA,” sahut Izzah senyum.


“Bi Sandra pulang duluan saja ya … aku mau ngobrol dulu sama Safitri,” kata Izzah pada Sandra.


“Baik, Non. Selamat bersenang-senang ya …,” balas Sandra.


Izzah dan Safitri meninggalkan salon Nyonya Kang dan menghabiskan waktu hampir satu jam di sebuah kafe. Mengobrol santai sambil minum secangkir kopi panas dan makan sepotong kue legit.


“Sampai ketemu besok ya,” ujar Safitri kepada Izzah setelah menurunkan Izzah di depan rumah Shin Seo Hyun. Mereka sepakat untuk pulang bersama ke Indonesia.


“Sampai ketemu besok,” sahut Izzah melambaikan tangan, melepas kepergian Safitri.


Untuk sesaat Izzah berdiri di halaman rumah itu, memandangi setiap sudutnya dengan desah napas perpisahan sebelum akhirnya masuk dengan langkah gontai.


***


TIK TOK! TIK TOK! TIK TOK!


Suara detak jarum jam di atas meja terdengar lantang. Izzah terbaring gelisah di atas ranjang. Matanya tak sedetik pun lena. Kepulangannya ke Indonesia tinggal menghitung jam. Membuat hatinya semakin resah.


Malam yang kian kelam tak jua mampu mengantarkan matanya terpejam. Perlahan Izzah bangkit dari pembaringan, berjalan menuju sofa. Diraihnya laptop yang ada di atas meja, lalu keluar dari kamar dan masuk ke ruang perpustakaan.


Sesampainya di perpustakaan, Izzah langsung meletakkan laptopnya di atas meja, di mana ia biasa duduk menghabiskan waktu untuk membaca buku. Dinyalakannya laptop dan disibaknya tirai jendela.


Saat lembar kosong muncul di layar monitor, jari-jari lentiknya langsung menari di atas keyboard mengikuti irama kata yang bersenandung di kepalanya.


Tatkala rasa gerah menyergapnya, waktu telah tiga jam berlalu. Izzah membuka jilbab sorongnya karena teringat rencana Shin Seo Hyun terbang ke luar negeri hari ini. Dan ketidakmunculan lelaki itu sejak kepulangannya dari salon, semakin meyakinkannya bahwa bosnya itu memang tidak berada di rumah. Dengan begitu, ia merasa bisa sedikit leluasa melepaskan hijabnya. Memberi kesempatan kepada rambut hitam panjangnya untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Sejurus kemudian, Izzah kembali melanjutkan ketikannya. Semua resah, segenap gundah dan sejuta kekalutan ditumpahkannya dalam cerita yang sedang ditulisnya. Karena keasyikan mengetik, Izzah sampai lupa waktu. Dan ketika kantuk menyerangnya, ia pun tertidur dengan laptop masih menyala.


***