A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 77. Nasihat Bunda



Kemunculan mendadak seorang lelaki misterius itu sontak membuat orang-orang yang hadir di pernikahan Izzah kaget. Mengundang bisik-bisik tak jelas, juga tatapan mencemooh dan lirikan sinis yang ditujukan pada Izzah dan ibunya. Izzah semakin menunduk.


Lelaki itu berjalan santai memasuki ruang pernikahan seraya melepaskan cadar yang menutupi mukanya.


“Mas Daud!” pekik Rahmi tak percaya begitu cadar lelaki itu terbuka.


“Ayah!” desis Fadhil sama kagetnya.


Mendugas Rahmi menyongsong Ki Daud dengan mata berkaca-kaca. Bergegas Fadhil membisiki sesuatu di telinga sang kadi yang memimpin pernikahan Izzah. Sang kadi pun lekas berdiri menyalami Ki Daud dan mempersilakan lelaki itu duduk di hadapan calon mempelai pria menggantikannya.


“Mohon maaf, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Saya menyatakan mengundurkan diri sebagai wali nikah mempelai wanita,” ucap sang kadi, membuat para tamu saling melempar pandang dan makin berkasak-kusuk.


“Tapi .…” Sang kadi terdiam sesaat karena bisik-bisik para tamu semakin riuh terdengar.


“Tolong dengarkan dulu, Pak, Bu!” pinta kadi itu, menghentikan keresahan tamu undangan yang terhanyut oleh prasangka mereka.


Setelah suasana kembali hening, sang kadi pun melanjutkan bicaranya.


“Karena ayah kandung mempelai wanita sudah hadir di sini, maka urusan perwalian saya serahkan kembali kepada wali nasab yang sah.”


Tampak para tamu ternganga sejenak. Selama ini mereka tidak pernah tahu jika ayah Izzah masih hidup. Lalu, mereka pun manggut-manggut memaklumi keputusan sang kadi.


“Bagaimana, Pak, Bu? Bisa kita lanjutkan acaranya?” tanya sang kadi. Serentak tetamu yang hadir mengiyakan.


“Baiklah. Silakan, Pak!” ujar sang kadi kepada Ki Daud, lalu ia duduk di hadapan Izzah.


“Saya terima nikah dan kawinnya Izzatun Nisa binti M. Daud Hasyim dengan mas kawin tiga ayat Al-Qur’an dibayar tunai,” ucap mempelai pria dengan lancar.


“Bagaimana saksi? Sah?” tanya kadi kepada saksi dan tamu undangan yang menyaksikan prosesi ijab kabul itu.


“Saaah .…” pekik mereka serentak. Bergema memenuhi ruangan sempit itu.


“Alhamdulillah .…”


Sang kadi pun memimpin doa untuk kedua mempelai.


Kini tibalah saatnya penyerahan mas kawin. Sepasang pengantin itu memutar tubuhnya dan duduk saling berhadapan. Jantung Izzah berdegup kencang. Waswas menanti lelaki yang telah menjadi suaminya itu membaca ayat yang dimintanya sebagai mahar.


Dengan kepala tetap tertunduk, Izzah menyimak lantunan setiap ayat yang dibacakan oleh suaminya. Dalam hati Izzah terkesiap. Tak menyangka lelaki yang belum diketahui identitasnya itu memiliki suara yang sangat merdu. Menghadirkan ketenangan jiwa dan mengusir resahnya. Tanpa sadar Izzah meneteskan air mata saat hatinya ikut


terhanyut meresapi arti dari ayat-ayat yang dikumandangkan suaminya itu.


“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah


kepadamu.’ Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; dan di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fussilat: 30-32)


Desahan kekaguman membahana begitu suami Izzah selesai membacakan ayat yang menjadi maharnya.


Ragu-ragu Izzah mengulurkan tangannya menyalami lelaki itu. Debar hatinya tak keruan. Cemas campur gugup, membayangkan lelaki itu akan menyingkap selendang yang menutupi wajahnya.


membuka kerudung yang menutupi wajahnya, melainkan memegang lembut ubun-ubunnya. Sebelah tangannya lagi menengadah, lalu terdengar lantunan doa pengantin meluncur dari bibirnya.


Emosi Izzah campur aduk, antara cemas dan bahagia. Antara ragu dan syukur. Membuatnya masih tak berani mengangkat wajah walau hanya sekadar untuk mengintip rupa sang suami dari balik selendang putih yang dikenakannya.


Setelah pembacaan sighat taklik talak dan semua prosesi pernikahan selesai, Lelaki yang telah sah menjadi suami Izzah itu memasang kembali kacamata hitam dan maskernya. Mengundang tatapan heran para tamu yang hadir karena apa yang dilakukannya di luar kelaziman. Lalu, sepasang pengantin itu pun melakukan sembah sujud kepada kedua orang tua Izzah. Menyalami sanak kerabat serta handai tolan.


Saat kedua mempelai sibuk menyalami keluarga dan kerabat, tiba-tiba pendamping mempelai pria menerima panggilan telepon. Ia beranjak keluar dari ruangan itu. Selang beberapa waktu ia kembali masuk dengan wajah kaku dan bergegas menghampiri mempelai pria seraya berbisik pelan.


Sontak kening sang mempelai berkerut. Lekas-lekas ia menemui mertuanya dan berbisik di telinga Ki Daud. Ki Daud mengangguk, menepuk pundak menantunya. Lalu, sang mempelai menghampiri Izzah yang tampak bingung.


“Maaf, Sayang … aku harus meninggalkanmu di hari pertama pernikahan kita. Aku janji akan segera kembali menjemputmu. Sabar ya,” bisiknya pelan, lalu keluar menyusul pendampingnya.


Tak sepatah kata pun terucap dari bibir Izzah. Ia hanya mengangguk pelan. Menyembunyikan wajahnya semakin dalam. Tak tahan dengan bisik-bisik yang makin berisik, Izzah memilih kembali ke kamarnya. Rahmi membuntuti Izzah.


Sesampainya di kamar, Izzah tak lagi mampu menahan tangisnya. Setelah melemparkan selendangnya ke atas kasur. Ia menghambur ke pelukan bundanya.


“Bunda ….” Dipeluknya Rahmi dengan erat.


Rahmi mengusap punggung Izzah, berusaha menenangkan kegalauan anaknya.


“Sabar ya … suamimu pasti akan kembali. Dia sangat mencintaimu. Percayalah!”


Mendengar kata-kata bundanya, Izzah merasa sedikit terhibur. Ia percaya bundanya tak mungkin berbohong.


Tiba-tiba saja Izzah merasa langsung diuji dengan mahar yang tadi diterimanya.


“Ya, aku tak boleh takut dan sedih. Aku harus kuat. Allah tidak pernah memberi ujian melebihi kemampuan hamba-Nya,” batin Izzah seraya mengusap air matanya dan kembali tersenyum menatap manik mata bundanya.


Sungguh Izzah selalu merasakan ketenangan dan seakan mendapat kekuatan baru setiap kali ia menatap dalam manik mata bundanya yang begitu tegar dan tabah.


“Terima kasih, Bunda. Bunda selalu membuatku bisa bangkit setiap kali aku terjatuh,” ucap Izzah, membelai lembut tangan tua bundanya.


Lega, Rahmi langsung memeluk anaknya.


“Kau telah tumbuh dengan baik, Nak. Bunda bangga padamu,” ujar Rahmi sambil mengusap sisa-sisa air mata Izzah dan mencium keningnya.


“Sekarang beristirahatlah! Tenangkan dirimu dan banyak-banyaklah mendoakan suamimu!” sambungnya lagi, lalu keluar dari kamar Izzah.


Izzah duduk termenung di ujung ranjang, menatap punggung bundanya. Untuk sesaat ia tidak tahu harus berbuat apa selain mereka-reka kemungkinan yang akan terjadi. Ia bahkan tak bisa membayangkan seperti apa wajah suaminya.


“Bodohnya aku! Kenapa aku tidak mencoba meliriknya saat ijab kabul atau saat bersalaman dengannya tadi?” sesal Izzah, memaki diri sendiri. Lalu, ia menjatuhkan diri telentang di atas ranjang.


Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Kini Izzah hanya bisa menanti hingga suaminya itu kembali walau tak pasti. Namun, harap tak boleh mati karena masih banyak hari yang mesti dijalani.


Izzah mendesah panjang. Perlahan ia bangkit dan mengganti pakaian pengantinnya yang mulai terasa panas dengan busana harian yang lebih nyaman. Tak peduli di luar masih terdengar hiruk pikuk sebagian tamu yang belum beranjak pulang.


***