A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 13. Curiga



Selama perjalanan pulang Izzah tetap bungkam. Ia tak sekali pun merespons candaan Dimas dan Abbas. Ikut tersenyum pun tidak. Ia seperti terkurung dalam dunianya sendiri.


Dimas dan Abbas benar-benar dibuat heran dengan sikap Izzah, seolah gadis itu tak memiliki emosi sama sekali.


“Eh, Dim! Kamu yakin ini cewek manusia, bukan robot? Atau jangan-jangan sebangsa demit lagi. Hiiiii … serem!” Abbas berbisik di telinga Dimas, bergidik.


PLETAK!


Dimas menjitak kepala Abbas. Abbas meringis.


“Kalau demit kakinya enggak napak kali,” Dimas balas berbisik di telinga Abbas.


Abbas menjatuhkan pandangannya ke tanah, memperhatikan kaki Izzah. Ia mengelus dada lega begitu melihat gadis itu berjalan menginjak tanah, bukan melayang. Sesaat kemudian, ia menyeringai menatap Dimas.


Naimah sedang menyapu halaman ketika Izzah dan dua lelaki asing itu tiba di rumah. Izzah mengucap salam dan menyalami Naimah. Ia menghormati dan memperlakukan wanita itu seperti ibu kandungnya. Lalu, ia langsung menyelonong masuk ke dalam tanpa basa-basi pada dua orang lelaki yang datang bersamanya.


Dimas dan Abbas saling pandang. Sudah sering mereka ke rumah Ki Daud, tetapi mereka tidak pernah tahu kalau wanita yang telah lama bekerja untuk Ki Daud itu memiliki seorang anak perempuan, cantik lagi.


“Silakan masuk Den Dimas, Den Abbas!” Naimah mempersilakan Dimas dan Abbas masuk menuju ruang tamu.


Ia menyandarkan sapu pada sebuah tiang di teras rumah, lalu menyusul masuk menuju dapur, membuat dua cangkir teh panas.


Izzah masuk ke ruang kerja Ki Daud. Meletakkan keranjang yang dibawanya di atas sebuah meja panjang, tempat di mana Ki Daud biasa menyiapkan ramuan obat-obatan herbal. Kemudian meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju kamarnya.


“Zah, sini!” panggil Naimah dari ruang tamu ketika Izzah baru saja hendak membuka pintu kamarnya.


Dimas dan Abbas kompak menatap Izzah. Berharap gadis itu memenuhi undangan Naimah.


“Maaf, Bi. Saya mau bersih badan dulu. Bau nih,” tolak Izzah halus sambil mengendus sekilas aroma tubuhnya.


“Oh, ya sudah deh,” balas Naimah mafhum. Dimas dan Abbas terlihat kecewa.


Izzah masih bisa mendengar obrolan dan gelak tawa mereka dari ruang tamu. Dalam hati Izzah bertanya-tanya siapa Dimas dan Abbas. Melihat keakraban mereka dengan Naimah dan sikap hangat Naimah menyambut mereka, sepertinya mereka saling kenal sudah cukup lama.


“Tapi … ah sudahlah. Itu bukan urusanku,” kata Izzah pada diri sendiri, lalu menyambar handuk dan bergerak menuju kamar mandi.


Satu jam kemudian Izzah keluar dari kamarnya dengan pakaian yang bersih dan wangi. Tubuhnya terasa segar. Wajahnya terlihat lebih cantik dan bersinar, meskipun tanpa polesan make up.


Ki Daud dan Jumali pulang dari berburu, membawa dua ekor kelinci dan menyerahkan kelinci itu kepada Naimah. Dimas dan Abbas menyalami Ki Daud dan Jumali. Setelah sedikit berbasi-basi, Ki Daud dan Jumali pamit untuk membersihkan diri.


Sepeninggal Ki Daud dan Jumali, Abbas masuk ke ruang perkakas. Ia selalu menyempatkan diri mengagumi koleksi persenjataan Ki Daud setiap kali berkunjung ke rumah itu.


Dimas mendekati ruang kerja Ki Daud, membuka pintunya pelan, lalu melangkah masuk. Mengamati ratusan botol ramuan herbal siap pakai. Dibacanya setiap label yang tertera pada botol. Tiba-tiba matanya melihat sebuah botol kecil berisi cairan berwarna merah delima, tersembunyi di sudut rak. Ia mengambil botol itu dan mengernyitkan kening ketika tak menemukan label apa pun pada botol itu.


“Aneh. Kenapa botol ini disembunyikan dan tidak diberi label?” tanyanya dalam hati sambil terus mengamati isi botol itu.


Terdengar langkah kaki mendekat. Dimas meletakkan kembali botol itu ke tempatnya. Pada saat bersamaan, pintu terbuka. Ki Daud melangkah masuk.


“Huh! Hampir saja,” gumam Dimas mengembuskan napas lega.


“Jadi, Nak Dimas sengaja datang ke sini ingin mengambil sendiri ramuan herbal yang dibutuhkan Nona Tiara?” tanya Ki Daud begitu Dimas mengikutinya.


Ki Daud dan Dimas masuk ke sebuah ruang rahasia. Ruang itu adalah laboratorium pribadi Ki Daud. Ukurannya tidak terlalu luas. Namun, memiliki perlengkapan mutakhir. Di sanalah Ki Daud bekerja meracik berbagai produk perawatan kecantikan dan obat-obatan herbal. Sayangnya, hanya untuk kalangan tertentu dan tidak sembarang orang bisa bertemu langsung dengan Ki Daud, apalagi sampai ikut masuk ke sana. Hanya orang-orang terdekat dan kepercayaan Ki Daud yang punya akses itu.


Izzah sibuk memilah-milah tanaman herbal yang tadi dipetiknya, menyortir setiap jenis sesuai kualitasnya, memasukkan ke kotak-kotak kayu yang telah diberi label, lalu menyusun kembali kotak-kotak itu pada sebuah rak di belakangnya. Saking konsentrasinya, ia tak menyadari kehadiran Ki Daud dan Dimas di ruangan itu


“Zah, tolong bantu Nak Dimas menyiapkan kebutuhannya ya!” pinta Ki Daud saat melihat Izzah sedang berada di ruangan itu.


“Astagfirullah .…” Suara Ki Daud membuat Izzah terlonjak kaget.


Kotak yang dipegang Izzah terhempas dan menimpa kakinya. Membuatnya meringis menahan sakit,


“Maafkan saya Ki. Saya tidak sengaja,” ujar Izzah minta maaf, lalu berusaha membereskan kekacauan yang dibuatnya.


Ki Daud segera keluar saat melihat kaus kaki Izzah berubah warna.


Dimas membantu Izzah memungut isi kotak yang berserakan di lantai. Tanpa sengaja tangannya menangkap tangan Izzah, saat tangan mereka bermaksud mengambil barang yang sama. Layaknya seperti sebuah adegan film, Dimas dan Izzah saling tatap. Akan tetapi, hanya sekejap. Izzah segera menunduk dan menarik tangannya. Cepat-cepat Izzah berdiri setelah semua tanaman yang berserak di lantai sudah dimasukkan kembali dalam kotak.


“Obati luka kakimu dengan ini!” ucap Ki Daud, menyerahkan botol kecil berisi serbuk berwarna kuning kecokelatan.


Izzah mengangkat rok untuk melihat kakinya. Tampak ada bercak darah di kaus kaki yang dikenakannya. Penglihatan Ki Daud  memang sangat jeli.


“Baik, Ki. Saya akan menyiapkan ramuan herbal lebih dulu,” jawab Izzah setelah menerima botol kecil dari tangan Ki Daud.


“Tidak usah! Biar saya saja yang menyiapkannya.” Dimas menyela.


“Tidak apa-apa, Tuan. Ini hanya luka kecil.”


Izzah menolak tawaran Dimas untuk menggantikan tugasnya. Ia tidak ingin terlihat seperti wanita cengeng dan lemah hanya karena sebuah luka kecil.


Dimas menatap Izzah tajam. Dalam hati ia berkata, “Gadis ini benar-benar memiliki harga diri tinggi dan keras kepala.”


“Kalau begitu biar saya sendiri yang melakukannya. Segera obati lukamu! Luka sekecil apa pun bisa menyebabkan infeksi jika terlambat diobati,” kata Ki Daud menyudahi ketegangan batin antara Dimas dan Izzah.


Izzah segera meninggalkan Ki Daud dan Dimas. Ki Daud mengumpulkan berbagai ramuan yang dibutuhkan Dimas dan meletakkannya di atas meja. Dimas membantu Ki Daud mengemas obat-obat itu.


Diam-diam Ki Daud meninggalkan Dimas dan membuntuti Izzah. Setelah apa yang disaksikannya di kamar waktu itu, ia penasaran akan jati diri Izzah.


***