
Orang bilang, liburan di Korea pada musim gugur belum lengkap tanpa menikmati indahnya perubahan warna daun maple di Gunung Naejangsan.
Beruntung Fadhil dan rombongannya mendapatkan pemandu wisata sukarela. Siapa lagi kalau bukan Sang Direktur, Shin Seo Hyun, dan Sekretarisnya, Park Joon Soo.
Pukul 6.15 pagi Shin Seo Hyun dan Park Joon Soo sudah tiba menjemput Izzah dan Riris.
Shin Seo Hyun membukakan pintu untuk Izzah. Sementara Riris mendampingi Park Joon Soo. Dua mobil itu pun melaju menuju hotel tempat Fadhil dan rombongannya menginap, lalu membawa mereka ke stasiun Yongsan, mengejar kereta jam tujuh.
Perjalanan dari Yongsan ke Naejangsan membutuhkan waktu lebih dari dua jam. Cukup lama untuk menuntaskan kantuk yang belum hilang.
Izzah yang duduk di sebelah Shin Seo Hyun berjuang keras menahan kantuk diserang dinginnya udara pagi. Namun, akhirnya tertidur juga.
“Waah … bahkan, saat tidur pun Izzah tampak cantik,” puji Shin Seo Hyun.
“Alisnya tebal dan bulu matanya sangat lentik.”
“Hidungnya juga bangir. Sangat serasi dengan bibir mungil yang tipis.”
Tak henti-hentinya Shin Seo Hyun mengagumi kecantikan Izzah.
Kedinginan, Izzah memeluk kedua tangannya. Shin Seo Hyun segera membuka jaket dan menyelimuti Izzah.
Deg! Deg!
Jantung Shin Seo Hyun berdegup kencang seperti genderang ditabuh saat posisi wajahnya begitu dekat dengan wajah Izzah. Aroma tubuh Izzah begitu wangi, menggoda jiwa kelelakian Seo Hyun.
Untuk beberapa waktu, Seo Hyun seperti terbius oleh pesona Izzah. Matanya terpejam, merasakan ranumnya bibir Izzah dalam khayal. Tiba-tiba Izzah menggeliat. Seo Hyun tersadar. Cepat-cepat ia membetulkan posisi duduknya.
“Aish! Apa yang kupikirkan?” tanya Seo Hyun, merasa malu hati dengan pikiran kotornya sendiri.
“Daripada memikirkan hal yang aneh-aneh, mending tidur saja," pikir Seo Hyun. Ia pun memejamkan mata.
Pukul sembilan Izzah terbangun dari tidurnya. Melihat Shin Seo Hyun tertidur tanpa jaket di sampingnya, ia baru menyadari jaket sang direktur melekat di tubuhnya.
“Ternyata Direktur Shin perhatian juga,” puji Izzah, lalu memindahkan jaket itu ke tubuh Seo Hyun.
Di saat bersamaan, Shin Seo Hyun membuka mata. Untuk sesaat Izzah dan Seo Hyun saling tatap tanpa kata.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Izzah dan Seo Hyun sama-sama bak gendang bertalu-talu. Keduanya gugup. Seo Hyun menahan napas. Wangi yang merebak dari tubuh Izzah membuat hasrat lelakinya kembali tergoda.
Izzah melepaskan jaket Seo Hyun yang dipegangnya dan membuang muka. Pipinya terasa panas. Tak ada satu pun yang bicara hingga mereka turun dari kereta.
***
Sesuai makna namanya, Naejangsan benar-benar memiliki sesuatu yang tersembunyi di gunung itu tanpa batas.
Sejauh mata memandang, hanya keindahan warna merah cerah dedaunan yang menyelimuti Gunung Naejangsan. Tak heran jika gunung ini dijuluki “Geumgangsan of Honam.”
“… dan kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”
Air mata Izzah jatuh berderai. Haru. Teringat salah satu arti ayat dari Surat Luqman yang sering dibacanya. Buru-buru Izzah menyeka air matanya dengan selembar tisu.
Sekali pun Izzah tidak pernah bermimpi akan menginjakkan kaki di Gunung Naejangsan, apalagi bisa melintasi lembah maple dengan kereta gantung. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan diberi kesempatan menikmati megahnya Gunung Naejangsan dari Yeonjabong Peak Observatory.
Duduk diam di samping Izzah, Shin Seo Hyun yang melihat sisi lain dari gadis itu ikut terharu. Izzah yang dikenal dingin dan tomboy tak disangkanya memiliki hati selembut sutra.
Puas mengagumi dan mengabadikan berjuta pesona warna-warni pohon maple, Shin Seo Hyun membawa rombongan Izzah menuju Kuil Baekyangsa. Kuil itu terletak di dalam Taman Nasional Naejangsan.
Perpaduan gunung dan lembah di kedua sisi kuil menciptakan pemandangan yang indah dengan perubahan warna dedaunan maple di musim gugur, Menghadirkan kesan romantis yang tiada banding.
Berjalan menyusuri barisan pohon oak putih dan maple, begitu memasuki Kuil Baekyangsa, Izzah dan rombongannya disambut oleh keindahan pemandangan pavilyun Ssanggyeru di tengah kolam yang berkilauan, memantulkan warna-warni dedaunan di tepi kolam.
Izzah mengitari tempat-tempat suci dalam kuil yang telah dinobatkan sebagai aset budaya dan tak segan-segan menunjukkan decak kagum melihat keindahan mural di kuil itu.
Shin Seo Hyun tak sedetik pun memisahkan diri dari Izzah. Ia dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan gadis itu.
“Sepertinya kuil ini sudah sangat tua.”
Izzah manggut-manggut.
“Kalau hari libur, tempat ini dipenuhi pengunjung. Apa kuil ini juga masih berfungsi selain menjadi objek wisata?"
Shin Seo Hyun tersenyum. Ia mengagumi karakter Izzah yang selalu haus akan ilmu pengetahuan.
“Tentu saja. Kuil ini menjadi markas Ordo Buddhis Jogye dan memiliki peranan penting dalam pendidikan monastik di daerah Jeolla.”
“Monastik?”
Izzah tidak begitu paham diksi yang dipakai Shin Seo Hyun.
“Itu lo … praktik di mana orang-orang meninggalkan hasrat keduniawian demi membaktikan hidup semata-mata untuk kegiatan rohani.”
“Semacam pelatihan menjadi biksu, begitu?”
Tiba-tiba saja Izzah teringat film avatar.
Shin Seo Hyun mengangkat bahu mendengar pertanyaan Izzah.
“Mungkin. Aku juga tidak begitu paham tentang ajaran Budha.”
“Oh ... oke. Lupakan saja!”
Keluar dari kuil, Izzah melangkah menuju kolam diikuti Shin Seo Hyun. Izzah mengeluarkan ponselnya, mengabadikan lukisan alam yang terpantul di permukaan air kolam.
Merasa haus, Izzah berjongkok mengeluarkan sebotol air mineral dari tasnya.
BIP!
Pesan masuk. Izzah meletakkan botol air mineral di tepi kolam, lalu sibuk berbalas pesan.
“Seo Hyun, cari makan yuk!”
Park Joon Soo berteriak memanggil seraya menunjuk jam di pergelangan tangannya.
“Oke. Duluanlah! Kami nyusul!”
Park Joon Soo meninggalkan kuil bersama yang lainnya.
Melihat Izzah masih sibuk dengan ponselnya, Seo Hyun merogoh kantong, mengeluarkan ponsel.
Ia mencari posisi dengan latar belakang yang indah untuk ber-selfie. Putar kanan, putar kiri. Hadap sana, hadap sini. Tanpa sengaja, layar ponsel Seo Hyun menangkap sosok Izzah berdiri di belakangnya, masih dengan ponsel di tangan.
“Rezeki nomplok nih!”
Seo Hyun tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia tersenyum manis.
CEKREK!
Sedetik kemudian foto itu langsung menjadi wall paper-nya.
“Dokter Izzah, sepertinya kita hampir melewatkan waktu makan siang.”
Izzah memasukkan ponsel ke kantong jaket.
“Ayo!”
Shin Seo Hyun mempersilakan Izzah berjalan di depan dengan kode tangannya.
Baru beberapa langkah .…
BUK!
Mendadak Izzah berbalik dan menabrak Shin Seo Hyun. Wajahnya mendarat di dada bidang Seo Hyun. Kaget lantaran tak mengira Seo Hyun mengiringi langkahnya, spontan Izzah melangkah mundur. Sialnya, ia justru terpeleset. Shin Seo Hyun menangkap kedua bahu Izzah.
***