A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 74. Jaga Jarak



“Tunggulah sebentar! Aku akan membereskan barang-barang yang belum dikemas,” ujar Shin Seo Hyun, lalu melanjutkan lagi pekerjaannya yang tadi tertunda.


Sambil menunggu Shin Seo Hyun berkemas, Izzah berkonsentrasi mengobati dirinya sendiri, terutama bagian perut dan kepala yang mengalami benturan.


Satu jam kemudian, Izzah sudah berada di kamarnya. Sandra sudah membersihkan kamar itu dan menyiapkan makanan untuk menyambut kepulangan Izzah setelah satu minggu dirawat di rumah sakit.


Merasa gerah, Izzah beranjak menuju kamar mandi. Tak lupa ia mengunci pintu kamarnya lebih dulu. Mengantisipasi kebiasaan Shin Seo Hyun yang bisa masuk kapan saja untuk menemuinya.


“Hah!”


Izzah ternganga. Begitu membuka pintu kamar mandi, wangi aroma mawar langsung menyambutnya. Perlahan ia mendekati bak mandi. Duduk di tepinya sambil bermain air dengan tangan kanannya. Terasa hangat dan nyaman.


Diambilnya sekuntum mawar dan diciumnya dalam-dalam seraya memejamkan mata. Menikmati keharuman lembut yang berpadu dengan aroma sabun.


Izzah membuka mata. Tersenyum. Tak menduga Sandra juga akan menyiapkan hal seperti itu untuknya. Pelan-pelan diletakkannya kembali bunga mawar itu. Membiarkan kelopak indah itu berputar, mengambang bersama yang lain.


Tak lama kemudian, Izzah berdiri membuka pakaian dan menggantinya dengan kain basahan halus dan transparan. Kemudian, ia berjinjit memasuki bak mandi.


Selama beberapa saat ia memanjakan dirinya berendam di tengah buncah buih sabun dan kelopak-kelopak mawar yang bermekaran. Menggosok lembut kulit tubuhnya serta bersandar nyaman meresapi aliran air menembus pori-porinya.


Shin Seo Hyun memicingkan mata menyadari pintu kamar Izzah tak bisa dibuka. Berulang kali ia mencoba memutar handle pintu itu, tetap saja masih terkunci. Cemas terjadi sesuatu terhadap Izzah, Shin Seo Hyun berlari ke dapur.


“Mencari sesuatu, Tuan Shin?” tanya Sandra yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Shin Seo Hyun saat ia sibuk membuka laci dan membolak-balik perkakas yang ada di dalamnya.


Shin Seo Hyun berdiri tegak, “Itu … aku butuh sesuatu untuk membuka pintu kamar Izzah yang terkunci.”


Sandra tersenyum, “Kurasa Anda tidak memerlukannya, Tuan. Nanti Nona akan membukanya sendiri.”


“Huh?” Shin Seo Hyun tak mengerti.


“Seminggu di rumah sakit, tentu membuat Nona Izzah tidak nyaman. Kurasa sekarang ia tengah menikmati waktu me time-nya di kamar mandi," sahut Sandra, menjelaskan sedikit kebiasaan wanita yang tidak begitu dipahami oleh Shin Seo Hyun.


“Oh … begitu ya?”


Shin Seo Hyun memasukkan kembali perkakas di tangannya ke dalam laci, lalu naik menuju kamarnya. Sandra tersenyum geli menatap punggung Shin Seo Hyun.


“Cinta memang sering kali membuat lelaki kehilangan sebagian besar akal sehatnya,” bisik Sandra sambil berlalu.


Shin Seo Hyun baru saja hendak mengangkat tangan untuk mengetuk pintu kamar Izzah ketika gadis itu menarik gagang pintu dan berdiri kaget melihatnya.


“Mas Dirga?”


Shin Seo Hyun tak menyahut. Ia berdiri mematung, mengamati Izzah dari atas hingga bawah. Benar kata Sandra, Izzah baru saja melewatkan satu jam lebih waktunya di kamar mandi.


Aroma tubuhnya sehabis mandi sungguh wangi. Menusuk hidung Shin Seo Hyun dan menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Membangkitkan hasrat liar Shin Seo Hyun.


“Mas! Kok bengong sih!” hardik Izzah, mengembalikan kesadaran Shin Seo Hyun.


“Kenapa kau mengunci pintunya?” tanya Shin Seo Hyun, berjuang keras mengontrol dirinya.


“Mulai sekarang aku tidak ingin Mas masuk sembarangan ke kamarku,” sahut Izzah, memberi kode dengan tangannya agar Shin Seo Hyun mundur karena ia ingin keluar.


Shin Seo Hyun menyejajari langkah Izzah begitu gadis itu meninggalkan kamarnya dan beranjak turun.


“Ok. Aku tidak akan masuk tanpa izinmu, tapi berjanjilah untuk tidak mengunci pintu,” tukas Shin Seo Hyun bernegosiasi.


“Janji?” tanya Izzah mengonfirmasi.


“Janji. Akan kupegang kata-kataku,” balas Shin Seo Hyun serius.


“Aku akan kembali ke rumah sakit. Jika kau butuh sesuatu, mintalah pada Bi Sandra! Dia akan dengan senang hati melayanimu,” ujar Shin Seo Hyun begitu sampai di bawah. Izzah mengangguk,


“Fii amanillah” Izzah melepas Shin Seo Hyun dengan doa.


***


“Bi, Bibi melihat Izzah?”  tanya Shin Seo Hyun pada Sandra yang masih berkutat di dapur.


“Tidak. Sepertinya Nona Izzah sudah berangkat pagi-pagi sekali,” jawab Sandra, memasukkan potongan apel ke dalam juicer.


Alis Shin Seo Hyun bertaut. Sejak keluar dari rumah sakit, Izzah seakan sengaja menghindarinya. Gadis itu selalu berangkat dan pulang kerja lebih awal darinya. Bahkan, di rumah pun Izzah lebih banyak mengurung diri di kamar.


“Baiklah, Bi. Aku berangkat dulu,” pamit Shin Seo Hyun.


Shin Seo Hyun memperlambat laju mobilnya saat melewati halte bus, berharap menemukan Izzah masih berdiri di sana. Diperhatikannya wajah-wajah setiap perempuan yang berdiri di tepi jalan itu. Namun, tak ada Izzah. Shin Seo Hyun mendesah kecewa, lalu memacu kendaraannya meninggalkan halte bus itu.


Di ruang kerjanya, Shin Seo Hyun menatap ponselnya tanpa gairah.


“Kenapa akhir-akhir ini sulit sekali untuk bertemu dengan gadis itu?” lirihnya. “Padahal tinggal serumah. Ditelepon juga tidak diangkat.”


Shin Seo Hyun mencengkeram ponselnya dengan  erat. “Izzaaah … kenapa kau menghindariku?”


Shin Seo Hyun berbicara sendiri seperti orang gila. Diusapnya wajahnya dengan kasar. Ia gelisah. Hatinya terasa hampa tanpa kehadiran Izzah. Tiga hari tak melihat senyum manis Izzah seakan tiga abad sudah.


TOK! TOK! TOK!


Lama tak ada suara dari dalam, Park Joon Soo langsung masuk ke ruang Shin Seo Hyun. Matanya menyipit melihat bosnya itu sibuk memandangi ponsel dengan dagu di atas meja.


“Ehem!” Park Joon Soo berdeham sambil berjalan mendatangi Shin Seo Hyun.


Shin Seo Hyun masih asyik dengan ponselnya. Tak mendengar dehaman sekretarisnya itu.


“Kayak orang lagi galau saja si bos,” batin Park Joon Soo.


Dihempaskannya berkas yang dibawanya di sudut kanan meja kerja bosnya itu. Membuat Shin Seo Hyun terlonjak kaget.


“Apa-apaan sih Joon Soo!” maki Shin Seo Hyun kesal.


“Sudah tidak tahu caranya mengetuk pintu?” omelnya lagi.


Park Joon Soo cuma tersenyum sembari menggeleng.


“Yang apa-apaan itu kamu. Aku sudah mengetuk pintu berkali-kali dan berdeham, tapi kamu masih saja sibuk dengan ponselmu. Lagi ada masalah?” sahut Park Joon Soo tenang.


“Huh?” Shin Seo Hyun tak percaya ia sampai bisa lupa diri begitu.


“Kalau kau sedang bermasalah atau lelah sebaiknya pulang saja. Biar aku yang menyelesaikan pekerjaanmu,” saran Park Joon Soo. Tangannya terulur hendak mengambil kembali berkas yang tadi dihempaskannya.


“Ah! Tinggalkan saja! Kau boleh keluar!” sergah Shin Seo Hyun, menahan berkas itu dengan tangannya.


“Baiklah.” Park Joon Soo pun meninggalkan ruangan itu.


Sepeninggal Park Joon Soo, Shin Seo Hyun membuka dan membaca berkas yang ada di atas mejanya.


“Hah!”


Matanya terbelalak membaca surat persetujuan izin cuti Izzah yang harus ia tanda tangani.


“Hem … dua hari lagi ya?” gumam Shin Seo Hyun, bersandar pada kursinya sambil memutar-mutar pena di ujung jemarinya.


“Dua hari lagi dia akan pulang ke Indonesia untuk menikah.”


Shin Seo Hyun tampak berpikir dan mempertimbangkan sesuatu, lalu tersentak duduk membaca ulang surat persetujuan izin cuti Izzah. Kata demi kata, baris demi  baris dibacanya dengan saksama. Ketika matanya membaca rencana tanggal pernikahan Izzah, ia tercenung dan membiarkan pena di ujung jarinya tetap menggantung.


***