A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 55. Ultimatum



Tiga hari telah berlalu. Izzah tak pernah menyangka akan menghabiskan waktu selama itu di rumah seorang pria.


Pagi itu ia sedang berkemas untuk kembali ke rumah kontrakannya ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Sesaat kemudian terdengar suara pintu dibuka, diikuti langkah kaki berjalan menuju ke arahnya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Shin Seo Hyun, memperhatikan Izzah menata pakaiannya yang terhampar di kasur ke dalam koper.


“Tentu saja sedang bersiap-siap untuk pulang. Aku sudah cukup lama di sini,” sahut Izzah tanpa mengalihkan perhatiannya.


“Hentikan!” perintah Shin Seo Hyun, mencekal pergelangan tangan kanan Izzah yang hendak memasukkan sehelai lipatan baju.


“Lepaskan tanganku, Tuan Shin!” pinta Izzah tanpa menoleh.


“Tidak akan aku lepaskan sebelum kau berjanji akan tetap tinggal di sini,” sahut Shin Seo Hyun tegas. Tangannya makin kuat menggenggam pergelangan tangan Izzah.


Izzah berdiri menantang Shin Seo Hyun, berusaha melepaskan cekalan lelaki itu. Shin Seo Hyun menatap Izzah dingin tanpa sedikit pun melonggarkan cengkeramannya.


“Tuan Shin, aku tidak mengerti apa yang Anda pikirkan. Aku hargai Anda telah merawatku dengan baik dan aku sangat berterima kasih untuk itu, tapi … tidak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal di sini,” jelas Izzah panjang lebar, membuat mata Shin Seo Hyun berkilat.


“Bukankah aku sudah bilang bahwa aku bertanggung jawab penuh atas keselamatanmu?”


“Jika itu alasannya, Anda tidak perlu khawatir Tuan Shin. Aku bisa menjaga diriku dengan baik. Aku janji.”


“Kenapa kau terus membantahku?” tanya Shin Seo Hyun datar. Mencoba mempertahankan kesabaran saat emosinya mulai terpancing menghadapi sikap keras kepala Izzah.


“Tuan Shin, kenapa Anda terus memaksaku?” balas Izzah dingin.


“Aaargh! Gadis ini benar-benar punya nyali menguji kesabaranku,” teriak hati Shin Seo Hyun di balik tatapan tajamnya.


Izzah mulai gelisah. Ia memutar otak mencari cara agar bisa melepaskan diri dari cekalan Shin Seo Hyun. Seolah bisa membaca pikiran Izzah, Shin Seo Hyun makin memperkuat cekalannya.


“Sial!” maki Izzah di hati dengan tangan terkepal.


Ditariknya tangannya dengan keras. Namun, tubuhnya malah tersedot maju saat Shin Seo Hyun membalas tarikannya. Kini jarak tubuhnya dan Shin Seo Hyun hanya terhalang dua tangan.


Tatapan dua insan berlainan jenis itu saling menikam tajam. Izzah berkutat melepaskan diri dan Shin Seo Hyun bersikeras mempertahankan Izzah. Selang dua menit kemudian, mendadak Shin Seo Hyun mengangkat tangannya dengan cepat dan memutar tubuh Izzah tanpa melepaskan cengkeramannya hingga membuat punggung Izzah


menempel di dadanya.


Izzah yang tak menduga akan mendapat serangan mendadak seperti itu hanya bisa menahan napas dalam posisi terkunci. Pipinya terasa panas saat ia merasakan embusan napas Shin Seo Hyun di telinganya seraya berbisik.


“Kau boleh pilih, tetap bekerja sebagai dokter magang dan tinggal di sini atau berhenti dan pulang ke Indonesia. Aku tunggu jawabanmu dalam tiga jam.”


Selesai berkata begitu Shin Seo Hyun melepaskan Izzah, lalu keluar dari kamar itu tanpa menoleh.


Di luar kamar, bersandar pada dinding, Shin Seo Hyun mengembuskan napas kencang seraya mengelus dadanya. Detak jantungnya bergemuruh. Pipinya memerah dan panas. Cepat-cepat ia turun ke bawah.


GLEK! GLEK! GLEK!


Shin Seo Hyun menelan habis air dingin dari botol tanpa henti. Menyeka mulutnya dengan lengan baju, lalu menghempaskan botol itu di atas meja dapur. Sejurus kemudian, ia berdiri dengan kasar, membuat kursi yang didudukinya terdorong ke belakang.


“Sial! Lagi-lagi gadis itu membuatku hampir kehilangan kendali,” maki Shin Seo Hyun seraya membuka pintu menuju taman belakang.


Kelelahan berlari dua putaran mengelilingi taman itu, Shin Seo Hyun menghempaskan diri di atas rerumputan di bawah sebatang pohon besar. Direntangkannya kedua tangan dan kakinya. Menormalkan kembali tarikan napas dan detak jantungnya.


Sinar mentari yang menyeruak di celah daun-daun muda menyilaukan mata, membuat Shin Seo Hyun terpaksa memejamkan matanya. Sesaat kemudian, ia tersentak dan membuka mata.


Sudah puluhan tahun ia tak melihat pohon besar itu berdaun. Bahkan, sehelai pun tidak. Lalu, kenapa hari ini tiba-tiba pohon itu seolah terlahir kembali?


Shin Seo Hyun berputar-putar di tempat duduknya, mengamati rerumputan di sekitar pohon itu. Ia makin tercengang ketika melihat rerumputan yang selama ini kering kerontang dan berwarna kecokelatan telah tumbuh dengan suburnya laksana hamparan permadani hijau.


“Bagaimana mungkin ini terjadi? Aku telah menggunakan berbagai macam penyubur tanaman, tetapi tak ada satu pun yang berhasil. Lalu, kenapa tiba-tiba bisa begini?” Shin Seo Hyun sungguh dibuat bingung oleh keanehan itu.


Diedarkannya pandangan menyusuri setiap inci taman itu. Masih seperti semula. Hidup segan, mati tak mau. Bunga-bunga masih kering kerontang. Hanya pohon besar dan rerumputan di bawah pohon itu yang hidup lagi, seolah telah menerima roh baru.


Tiba-tiba saja ingatan Shin Seo Hyun tertuju pada Izzah. Mungkinkah gadis keras kepala itu telah menggunakan kekuatannya?


Dengan sangat teliti, Shin Seo Hyun mengamati setiap jengkal tanah dan batang pohon besar itu.


CLING!


Seberkas siluet menyilaukan muncul di celah-celah rerumputan. Shin Seo Hyun mendekati cahaya itu. Tampak sebuah bros kecil tergeletak di sana. Diraihnya benda itu. Diamatinya dengan saksama.


“Bukankah ini bros yang dipakai Izzah sebelum dia menghilang?” gumam Shin Seo Hyun.


Mendadak ucapan Sandra bergema di kepalanya. “Aku menemukan gadis itu pingsan di halaman.”


“Hem … berarti gadis itu benar-benar datang ke sini. Dasar gadis bodoh. Sudah tahu sakit masih saja menggunakan kekuatannya,” omel Shin Seo Hyun seraya kembali merebahkan tubuhnya di atas rerumputan.


“Apakah ini saatnya?” tanya Shin Seo Hyun sambil terus bermain-main dengan bros ditangannya.


***


Di kamarnya, Izzah menghempaskan diri tertelungkup di atas kasur dengan tangan terkepal. Ia sangat jengkel.


“Dasar bos licik! Tega sekali dia memberiku dua pilihan yang sulit. Benar-benar tidak punya hati,” maki Izzah berulang kali.


“Yang mana yang harus kupilih? Haruskah aku menyerah dan pulang ke Indonesia?”


Izzah mendesah. Hatinya goyah ketika terbayang percakapannya dengan Dimas.


Saat itu, untuk pertama kalinya ia tanpa sengaja bertemu Dimas di Korea. Seraya menikmati indahnya musim gugur, mereka berbincang-bincang menyusuri jalanan di Yonsei University Museum.


“Mas Dimas sudah lama berbisnis di sini?” tanya Izzah sambil memungut sehelai daun maple yang gugur.


“Belum juga sih, tapi ada hal lain yang lebih penting untuk kukerjakan di sini selain urusan bisnis,” sahut Dimas, menggugah rasa penasaran Izzah.


“Oh ya? Apa itu?”


“Kau ingat lukisan yang kau lihat di perpustakaan keluargaku?”


“Tentu saja. Apa ada hubungannya dengan itu?”


“Ya. Aku datang ke sini dengan misi untuk menemukan pemegang kunci keempat gerbang Negeri Seribu Bunga,” jelas Dimas sambil mengambil selembar daun yang jatuh di atas kepala Izzah.


“Bagaimana Mas Dimas bisa tahu kalau kuncinya ada di sini?”


“Tidak tahu persis sih. Tapi berdasarkan catatan dokumen yang kubaca, kemungkinannya hanya ada di tiga negara. Aku sudah mencarinya di Jepang dan Cina, tapi tidak mendapatkan apa pun,” jawab Dimas mendesah kecewa.


***