
Bangunan itu masih berdiri kokoh. Tampak lebih hidup dari sebelumnya. Jendela-jendela di lantai atas yang dulunya sering kali tertutup, kini dibiarkan terbuka. Memberi kesempatan kepada cahaya matahari dan udara untuk bergerak bebas menjelajah setiap sudut yang bisa dijangkaunya. Tirai-tirai pun telah berganti warna, dari dominasi hitam menjadi perpaduan toska dan biru muda. Menggambarkan karakter si penghuni rumah yang berharap akan selalu bisa menjalani hidup dengan ketenangan dan kesabaran disertai jiwa yang stabil, cerdas dan memiliki rasa percaya diri tinggi.
Lantai bawah terkesan hangat dan ceria dengan kombinasi cokelat dan kuning jahe, seakan siap menyambut ramah setiap tamu. Datang dan pergi membawa bahagia serta optimis menatap masa depan.
“Masih ada yang perlu diubah?” tanya Shin Seo Hyun, ikut mengamati rumahnya seraya merangkul pundak Izzah.
“Untuk sementara kurasa sudah cukup,” sahut Izzah setelah sekali lagi mengedarkan pandangannya.
“Kalau begitu, ayo berangkat!” ajaknya, menarik tangan Izzah menuju mobil.
Shin Seo Hyun memacu kendaraannya menuju sebuah pusat perbelanjaan. Begitu tiba di sana, bergegas Shin Seo Hyun menyambar troli dan mendorongnya. Dengan riang, Izzah melemparkan apa saja yang ditariknya dari rak. Pun Shin Seo Hyun tak kalah senangnya. Tangannya dengan sigap menyambil barang-barang yang dibutuhkan. Membaca label sekilas, lalu menjatuhkannya ke dalam keranjang.
Izzah dan Shin Seo Hyun makin bersemangat saat mengelilingi barisan sayur-mayur yang tertata rapi. Memilah dan memilih dengan teliti. Memastikan apa pun yang mendarat di keranjang mereka adalah kualitas terbaik. Termasuk daging sapi Korea. Saat semua dirasa cukup, Shin Seo Hyun segera beranjak menuju kasir dan meminta layanan antar karena ia dan Izzah belum hendak pulang.
Setelah meninggalkan pelataran parkir, Shin Seo Hyun menginjak gas mengarah ke Garosu-gil di kawasan Gangnam. Pengujung musim gugur saat yang tepat untuk berburu pakaian musim dingin. Keluar masuk butik mewah sambil bergandengan tangan membuat hati Izzah berbunga-bunga, apalagi ditambah cuci mata pernak-pernik fesyen kualitas tinggi dengan gaya yang juga unik. Sungguh bikin lupa waktu. Izzah kian merasa hidupnya dipenuhi keindahan saat memasuki galeri seni. Khayalnya mulai berkelana kemana-mana. Siap untuk bertransformasi menjadi sebuah cerita.
Saat keluar dari Garosu-gil dengan tentengan tas belanja yang cukup berat, waktu hampir tiga jam berlalu.
“Kakiku seperti mati rasa saking pegalnya,” keluh Izzah begitu menyandarkan kepala dengan desah lelah pada jok mobil.
“Kau terlalu bersemangat,” sahut Shin Seo Hyun, tersenyum melirik Izzah.
“Mungkin. Garosu-gil benar-benar surganya pencinta fesyen dan gaya. Sumpah!” puji Izzah, melupakan kepenatannya.
“Rasanya aku seperti gadis desa yang pertama kali menginjak kota,” lanjutnya lagi.
Senyum puas terukir di wajah Shin Seo Hyun melihat betapa bahagianya Izzah bercerita, laksana seorang bocah mendapat kembang gula.
“Tapi … aku tak menyangka kalau kau juga penggila belanja,” ujarnya, membuat alis Shin Seo Hyun terangkat.
“Waah … kau ini … sudah membuatku melambung tinggi, lalu dalam sekejap menghempaskanku ke kerak bumi,” seloroh Shin Seo Hyun, sengaja memasang tampang cemberut.
“Itu semua kulakukan untuk kamu, Zah” sambungnya lagi.
“Ya … ya … ya … aku merasa tersanjung kau menghabiskan begitu banyak uangmu untukku dan aku jadi makin cinta sama kamu,” balas Izzah. Namun, ia langsung terdiam saat menyadari bahwa ia telah keceplosan kata.
CIIIT!
Mendadak Shin Seo Hyun menghentikan mobilnya.
“Kenapa?” tanya Izzah heran saat Shin Seo Hyun menginjak rem, padahal jalanan di depan tampak sepi.
“Ulangi ucapanmu tadi!” pinta Shin Seo Hyun, menatap Izzah lekat.
“Yang mana? Aku lupa,” sahut Izzah berkilah. Pipinya terasa panas dan merona merah.
“Kalimat terakhirmu. Aku ingin mendengarnya lagi,” harap Shin Seo Hyun. Untuk pertama kalinya kata cinta meluncur dari bibir manis istrinya itu.
Izzah berpaling. Tak berani membalas tatapan suaminya karena malu. Shin Seo Hyun mencondongkan tubuhnya semakin dekat kepada Izzah dan menarik dagu istrinya agar berhadapan muka dengannya.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Izzah berdebar-debar. Ia masih tertunduk hingga Shin Seo Hyun mengangkat dagunya dengan ujung jari.
“Apa aku salah dengar karena terlalu berharap?” tanya Shin Seo Hyun berbisik. Izzah menggeleng.
“Aku … aku sungguh-sungguh telah jatuh cinta sama kamu, Mas,” sahut Izzah terbata-bata karena gugup.
Spontan Shin Seo Hyun memeluk Izzah. Rasa bahagia menjalar di seluruh tetes darahnya. Hatinya begitu ringan, seakan terbang ke nirwana. Izzah pun merasa plong, seolah dinding tebal yang menutup hatinya runtuh seketika. Sejenak bibir mereka bertemu dalam syahdu sebelum akhirnya pulang dengan perasaan tenang.
***
Pukul tujuh malam. Izzah masih berkutat di dapur membantu Sandra menyiapkan hidangan makan malam. Sedikit istimewa dari biasanya karena malam itu Shin Seo Hyun mengundang temannya untuk datang makan malam bersama. Beberapa macam menu ala Korea dan Indonesia telah tersedia di meja.
TING! TONG!
Terdengar bunyi bel. Shin Seo Hyun bergegas membuka pintu.
“Halo Bi Sandra, Nyonya Shin,” sapa Park Joon Soo ramah dan langsung mengenyakkan pantat di atas kursi.
“Senang Anda datang tepat waktu, Tuan Park,” balas Sandra, disambut senyum manis Izzah.
“Aku takut tidak kebagian makanan seenak ini kalau terlambat datang,” tukas Park Joon Soo, melirik Shin Seo Hyun dengan senyum mengejek.
“Eiiit!” Park Joon Soo tanggap menangkis tangan Shin Seo Hyun yang akan menyerang kepalanya. Membuat Sandra dan Izzah geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol dua sahabat itu.
Ketika semua masakan sudah terhidang dengan sempurna, Park Joon Soo mengulurkan tangan hendak mengisi piringnya.
PLAK!
Shin Seo Hyun menepis punggung tangan Park Joon Soo dengan sendok.
“Aish! Kan semua sudah siap. Waktunya makan. Tunggu apa lagi?” protes Park Joon Soo sambil mengelus punggung tangannya yang tadi dipukul Shin Seo Hyun.
“Memangnya kamu pikir aku cuma mengundang kamu ke sini?” sergah Shin Seo Hyun, menahan senyum.
“Huh! Ada lagi? Waah … kukira hanya aku teman kamu satu-satunya,” balas Park Joon Soo, menggerutu.
Izzah dan Sandra seolah tak mendengar perdebatan Shin Seo Hyun dan Park Joon Soo. Dengan santai mereka duduk menempati kursi masing-masing.
Shin Seo Hyun melirik jam di pergelangan tangannya bertepatan dengan suara bel pintu berbunyi. Buru-buru ia berdiri, membuka pintu dan membawa tamunya ke meja makan.
“Riris? Selamat datang. Senang bisa ketemu lagi,” seru Izzah girang, menyongsong kehadiran Riris.
Park Joon Soo segera menoleh saat Izzah menyebut nama Riris dan ternganga tak percaya melihat wanita yang baru masuk itu ternyata memang Riris. Dalam sekejap rasa grogi langsung menyerangnya. Shin Seo Hyun tersenyum geli menyaksikan Park Joon Soo yang berubah diam dan kikuk.
Setelah menyapa Sandra, Riris duduk berhadapan dengan Park Joon Soo. Membuat lelaki itu berkeringat dingin saking gugupnya.
“Ah! Kalian sudah saling kenal, kan? Jadi, tidak perlu lagi kuperkenalkan,” kata Shin Seo Hyun, melirik Riris dan Park Joon Soo bergantian.
“Apa kabar, Tuan Park?” sapa Riris, tersenyum manis pada Park Joon Soo.
Deg! Deg! Deg!
Detak jantung Park Joon Soo langsung meningkat drastis. Disekanya keringat yang membasahi dahinya.
“Ba-baik, Nona. Bagaimana dengan Anda?” sahutnya dengan lutut gemetar tanpa berani menantang mata Riris.
***