A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 46. Pesona Seoraksan



“Apa lagi?” tanya Izzah gusar setelah menghentikan langkahnya.


“Kan aku sudah bilang akan menemanimu. Ayo ke mobil!” ujar Ihsan mengingatkan Izzah tentang kesepakatannya pagi tadi sebelum kekacauan kecil itu terjadi.


“Aku juga ikut,” kata Dimas mengangkat tangan.


“Idem. Aku juga,” sahut Shin Seo Hyun tak mau kalah.


Izzah menghempaskan napas berat. Merasa ketenangannya makin terganggu. Ditatapnya Ihsan, Dimas, dan Dirga bergantian. Yang ditatap menanti harap-harap cemas seperti peserta kuis menunggu hasil pencabutan undian.


“Baiklah. Kalau semuanya memang ingin ikut, berjanjilah untuk bersikap baik agar tidak ada lagi kesalahpahaman. Mengerti?” tegas Izzah dengan tatapan dingin.


Ihsan, Dimas dan Dirga kompak menggangguk seperti anak kecil yang berjanji kepada ibunya. Melihat tampang mereka yang begitu polos, Izzah menahan senyum.


“Ayo berangkat!” ajak Ihsan.


“Naik mobilku saja!” sergah Dimas. Izzah mendelik. Dimas langsung terdiam.


“Biar adil, cabut undian saja,” usul Ihsan.


Izzah melengos. Dalam hati ia benar-benar dongkol.


“Aduuuh. Ihsan dan Dimas ini seperti Tom dan Jerry saja. Buang-buang waktu,” gerutunya.


Diliriknya jam tangannya dengan gelisah. Melihat itu, Dirga cepat tanggap.


“Begini saja. Karena kalian semua adalah tamu di  negara ini, bagaimana kalau naik mobilku saja? Anggap saja aku tuan rumah yang melayani tamu-tamunya,” usul Shin Seo Hyun mencari jalan tengah. Ia juga mulai gerah dengan perseteruan Ihsan dan Dimas yang sepertinya belum tuntas.


Untuk sesaat Ihsan dan Dimas saling pandang. Sementara Izzah pura-pura buang muka, lalu balik badan.


“Oke. Setuju,” ujar Ihsan dan Dimas hampir bersamaan.


Dirga tersenyum, lalu membukakan pintu depan untuk Izzah. Dengan langkah malas, Izzah masuk ke mobil dan duduk di samping Dirga.


Ihsan dan Dimas menyusul dan duduk sama-sama buang muka menatap ke luar jendela. Dirga tersenyum tipis melihat tingkah Ihsan dan Dimas dari kaca spion.


“Dasar bocah!” ledek Dirga dalam hati, melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


“Mau ke mana nih?” tanya Dirga setelah cukup lama tak ada yang bersuara.


Ihsan dan Dimas kompak menunjuk Izzah. Shin Seo Hyun melirik Izzah yang terlihat asyik menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Ia tak mendengar pertanyaan Shin Seo Hyun.


“Ke mana tujuan kita kali ini, Zah?” ujar Shin Seo Hyun mengulang pertanyaannya.


“Hah?” Izzah kaget.


“Mau ke mana?” ulang Shin Seo Hyun.


“Oh … Taman Nasional Seoraksan,” jawab Izzah singkat.


“Hah! Kamu yakin, Zah? Itu lumayan jauh lo dari Seoul. Harusnya kita berangkat lebih pagi tadi,” seru Shin Seo Hyun terperangah.


Dimas yang duduk di kursi belakang terbatuk, merasa tersindir oleh perkataan Izzah. Duduk dengan menjaga jarak di sebelahnya, Ihsan pura-pura tidak dengar dan menyibukkan diri dengan memandang ke luar jendela.


Shin Seo Hyun berkonsentrasi pada kemudi, menambah kecepatan. Hati kecilnya ikut merasa tersindir. Tak bisa dipungkiri, kehadiran mereka bertiga telah merusak rencana Izzah. Sudah sepantasnya mereka bertanggung jawab. Biarkan Izzah menikmati akhir pekannya dan mereka cukup jadi pengawal yang akan memastikan keselamatan


gadis itu.


Menjelang siang Shin Seo Hyun memarkir mobilnya di pelataran parkir Taman Nasional Seoraksan. Tiga jam lebih perjalanan yang ditempuh dari Seoul ke Sokcho


Begitu turun dari mobil Izzah meregangkan tangan dan pinggangnya yang terasa luar biasa pegal. Setelah itu, ia berjalan menuju loket untuk membeli tiket. Namun, langkahnya terhenti ketika Dimas menghampirinya dengan membawa empat lembar tiket di tangannya.


“Aku sudah beli nih,” ujar Dimas, menyerahkan tiket yang dipegangnya kepada Izzah.


Izzah melirik tiket di tangan Dimas. Cepat-cepat ia melepaskan tas sandangnya dan mengeluarkan dompet. Belum sempat Izzah mengambil uang dari dompet itu, Dimas sudah mencegahnya.


“Tidak usah. Biar aku yang bayar semua tiket ini. Anggap saja sebagai permintaan maafku karena telah mengacaukan pagi indahmu,” tolak Dimas halus sambil menahan dompet Izzah dengan ujung jarinya.


“Tapi … aku tidak–” ucapan Izzah terhenti karena kemunculan Ihsan.


“Sudahlah … terima saja! Hari ini kamu ratunya. Jadi, biar kami yang menanggung semua biaya,” ujar Ihsan memotong kalimat Izzah.


“Iya, Zah. Hari ini tugasmu hanya bersenang-senang menikmati liburan akhir pekanmu yang sempat tertunda gara-gara kami,” sambung Shin Seo Hyun, mendukung pernyataan Dimas dan Ihsan. Tahu-tahu ia muncul tanpa disadari Izzah.


Izzah masih tampak berpikir. Ia merasa sungkan. Bagaimanapun, ia tidak terbiasa menerima pemberian orang lain tanpa alasan yang jelas, apalagi itu dari laki-laki. Harga dirinya terlalu enggan untuk berutang budi pada makhluk yang namanya lelaki.


“Tidak usah kebanyakan mikir. Ayo! Lapar nih. Tadi belum sempat sarapan,” ajak Ihsan seraya melangkah menuju pintu masuk. Dengan berat hati, lagi-lagi Izzah mengalah dan mengikuti langkah Ihsan.


Memasuki pintu gerbang Seoraksan, kesejukan dan keindahan menyambut Izzah dan teman-temannya. Seekor patung beruang hitam yang menjadi maskot Seoraksan berdiri anggun mengangkat sebelah kakinya, seolah menyapa ramah dengan ucapan selamat datang.


Berjalan ke sebelah kiri pintu masuk, lezatnya aroma makanan yang menggugah selera langsung menusuk hidung. Terbawa embusan angin dari restoran yang berjajar rapi. Membuat perut Izzah ikut bernyanyi.


Izzah mengenyakkan pantatnya di kursi di sebelah Ihsan, lalu memesan Vegetarian Bibimbap. Yang lain mengikuti menu pilihan Izzah. Bukan apa-apa sih. Mereka juga merasa hanya menu itu yang tidak diragukan kehalalannya.


Kelezatan Vegetarian Bibimbap ditambah cita rasa saus Gochujang-nya yang maknyus benar-benar membuat lidah bergoyang sampai-sampai Izzah lupa akan kekesalannya pada kesalahpahaman Dimas dan Ihsan tadi pagi.


Selesai mengisi perut, Shin Seo Hyun memandu Izzah dan teman-temannya menuju Yukdam Falls. Berjalan di atas jembatan yang melintasi sebuah lembah, mata Izzah dimanjakan oleh keindahan semesta.


Tebing-tebing granit berwarna putih menjulang tinggi di kedua sisi lembah, laksana perisai pelindung menjaga pesona tarian sungai yang meliuk gemulai di sepanjang lembah, seirama ketinggian bukit-bukit batu di Seoraksan. Tirai merah kuning dari dedaunan khas musim gugur melambai indah menghiasi tepi sungai.


Mengikuti panduan Shin Seo Hyun, Izzah dan teman-temannya menapaki trek hiking yang sempit dan mendaki sesuai liukan aliran sungai. Hadirnya keteduhan dari kanopi pepohonan di sepanjang tepi jalan itu mengurangi setitik lelah yang mulai terasa. Napas pun mulai memburu seiring meningkatnya hawa dingin dan kehampaan udara di ketinggian.


Di kejauhan, cahaya mentari jatuh menimpa permukaan air terjun dan memantulkan siluet keperakan yang begitu memukau. Sungguh pesona yang luar biasa.


Tiga puluh menit telah berlalu. Suara gemercik air terdengar seperti kidung penenteram jiwa. Enam aliran air bergerak lambat, meliuk lembut mengikis permukaan bebatuan yang dilewatinya. Sebelum akhirnya jatuh meleburkan diri pada sebuah kolam kecil yang berkilauan tertimpa cahaya mentari. Memantulkan warna-warni pepohonan di sekelilingnya. Begitulah Yukdam Falls menebar pesona yang menyihir setiap pasang mata yang mengaguminya.


Izzah menghela napas dalam, menikmati suguhan keindahan air terjun pertama yang menyambutnya ramah.


***