A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 100. Badai Telah Berlalu



Di luar ruangan, keluarga dan teman-teman yang ikut menanti dengan hati berdebar-debar sontak mendongak dan tersenyum lega saat tangis bayi memekik kencang.


Tanpa sadar mereka saling berpelukan, membingkai kebahagiaan ganda hari itu dengan air mata haru.


Rasa bahagia Shin Seo Hyun sungguh tak terkira. Terlebih saat Izzah dalam waktu singkat langsung bisa mengasupi putrinya dengan ASI pertama. Syukurnya kian bertambah.


Begitu Izzah dipindahkan ke ruang VVIP, Ha Na berulang kali mencium pipi Izzah dan bayi mungil di pangkuannya. Gadis kecil itu sangat senang hadiah ulang tahunnya telah lahir ke dunia. Selama beberapa waktu ruang itu dipenuhi gelak tawa. Park Joon Soo dan Riris saling tatap penuh arti, bergantian menggendong anak Shin Seo Hyun dan Izzah.


“Aunty … siapa nama adiknya?” tanya Ha Na seraya mengelus kepala sang bayi.


Izzah melirik suaminya dengan tatapan tanya.


“Humairah. Ha Na boleh panggil Ara,” sahut Shin Seo Hyun, mengacak rambut Ha Na. Senyum Ha Na pun mengembang seketika.


Saat semua orang telah pulang, tinggallah Shin Seo Hyun setia menemani Izzah dan Ara. Duduk di tepi ranjang, Shin Seo Hyun memandang hangat istri dan anaknya yang tertidur pulas. Kebahagiaannya lengkap sudah. Ia merasa sempurna sebagai seorang lelaki ketika gelar ayah melekat di pundaknya. Pangkat tertinggi dan bergengsi. Dengan tanggung jawab yang luar biasa dan berhadiah surga.


Kala Ara terjaga, Shin Seo Hyun dengan sabar dan telaten merawatnya. Tak sekali pun ia membangunkan Izzah, kecuali bila Ara membutuhkan ASI ibunya.


***


Kenyataan hidup sering kali tak seindah impian. Ketika diri merasa segalanya seakan tak bercela. Saat itulah ujian datang melanda. Mengeruntang-pukang ketenangan kalbu hingga nurani meronta lemas dan mengiba, memohon belas kasih Rabb-nya di ambang rasa putus asa.


Shin Seo Hyun menatap sayu tubuh Izzah yang terbaring lemah, tak sadarkan diri karena mengalami pendarahan hebat ketika hendak beranjak menuju kamar mandi. Sudah satu jam waktu berlalu. Namun, belum ada tanda-tanda istrinya itu akan siuman. Dalam menungnya, ingatan Shin Seo Hyun melayang kembali pada masa kecelakaan


Izzah.


“Tuan Shin, coba perhatikan dua gambar ini!” panggil Lee Kwan Gi ketika Shin Seo Hyun mengunjungi ruangannya.


Merasa penasaran, Shin Seo Hyun pun lekas mendekat. Diperhatikannya dua foto hasil USG Izzah.


“Yang ini adalah foto sesaat setelah Dokter Izzah masuk  IGD. Tampak jelas ada kista yang sudah menyusut dan juga inkompetensi serviks. Kemungkinan Dokter Izzah untuk memiliki keturunan sangat tipis …,” jelasnya. Shin Seo Hyun terus memperhatikan.


“Nah … yang ini hasil pemeriksaan ulang sebelum Dokter Izzah diperbolehkan pulang …,” lanjutnya, membandingkan dua foto itu tanpa memberikan penjelasan apa pun.


Sejenak Shin Seo Hyun tertegun. Matanya menyipit. Mengamati foto-foto itu dengan teliti.


“Bukankah itu aneh?” tanya Lee Kwan Gi.


“Apa pendapatmu?” ujar Shin Seo Hyun, bertanya balik tanpa menanggapi perkataan Lee Kwan Gi.


Lee Kwan Gi menarik napas panjang.


“Walau kistanya hilang tanpa tindakan operasi, tapi inkompetensi serviksnya belum sepenuhnya normal. Masih sangat berisiko jika terjadi kehamilan,” jelas Lee Kwan Gi.


Shin Seo Hyun mengangguk. Sebagai seorang dokter, ia juga paham akan hal itu. Hanya saja, ia butuh penegasan.


Shin Seo Hyun kembali mendesah. Izzah masih lena. Kilasan dialog lain ikut bersuara.


“Tuan Shin, Dokter Izzah … akan terlalu berisiko jika Anda mempertahankan kehamilan ini. Lebih baik Anda gugurkan saja, mumpung usianya masih muda,” saran dokter spesialis kandungan.


“Tidak, Dokter. Aku tidak mau membunuh nyawa yang tak berdosa,” tolak Izzah mentah-mentah.


“Baiklah. Kalau Anda memang bersikeras, jagalah aktivitas Anda. Saya yakin Anda juga tahu apa yang harus Anda hindari agar tidak membahayakan Anda dan bayi Anda,” lanjut sang dokter kandungan.


Peringatan itu masih melekat erat di ingatan Shin Seo Hyun. Hatinya merintih. “Apakah ini akan menjadi akhir dari segalanya? Akankah Izzah bertukar nyawa dengan anaknya?”


“Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Izzah harus tetap hidup,” bantahnya seraya menggenggam tangan Izzah.


“Seo Hyun!” Tiba-tiba Park Joon Soo masuk dengan tatapan panik.


“Kau belum mendapatkannya?” tanya Shin Seo Hyun dengan nada sedih. Park Joon Soo menggeleng.


“Semua stok kosong. Dan satu-satunya keluarga Izzah yang memiliki darah B negatif hanya ibunya. Sayangnya dia fobia ketinggian,“ sahut Park Joon Soo, seolah kehilangan harapan.


Shin Seo Hyun menatap Izzah dengan mata berkaca-kaca.


“Bertahanlah, Sayang. Aku akan berjuang mendapatkan darah itu untukmu,” janji Shin Seo Hyun seraya membelai rambut Izzah.


“Ambil darahku, Tuan Shin!” Mendadak sebuah suara dari pintu mengagetkan Shin Seo Hyun dan Park Joon Soo. Keduanya serentak menoleh.


“Tuan Ihsan!” seru Shin Seo Hyun dan Park Joon Soo berbarengan.


“Ya. Darahku juga B negatif,“ tukas Ihsan, meyakinkan Shin Seo Hyun.


“Kalau begitu, ayo ikut aku!” ajak Park Joon Soo, tak ingin buang waktu.


***


“Kumohon bertahanlah, Izzah. Meski aku tak bisa mendampingimu, kurelakan darahku menyatu denganmu. Bangunlah! Jalani hari-harimu dengan bahagia. Itu lebih baik bagiku daripada kehilanganmu untuk selamanya,” batin Ihsan seraya meneteskan air mata.


Hatinya benar-benar terluka saat mengetahui Izzah akan menikah, tetapi melihat kondisi Izzah sekarang, luka hatinya lebih parah dan berdarah.


“Sudah selesai, Tuan!” ujar perawat, mengejutkan Ihsan dari pikiran kalutnya.


“Oh ya. Terima kasih,” sahutnya agak gugup.


“Silakan diminum susunya dan perbanyak istirahat dulu, Tuan!” sambung perawat itu lagi.


Ihsan mengangguk, lalu duduk bersandar sambil memeriksa tangannya yang ditusuk jarum.


Satu jam setelah menerima transfusi darah, Izzah membuka mata.


“Alhamdulillah .…”  Serentak orang-orang yang berada di dekat Izzah mengucap syukur, termasuk Ihsan.


Ketika berada di tengah hujan badai, yang perlu dilakukan hanyalah memperbanyak menundukkan kepala. Bermunajat kepada-Nya. Dan pertolongan-Nya akan datang dengan cara yang tak terduga.


“Terima kasih, Tuan Ihsan. Anda telah menyelamatkan nyawa istriku,” ujar Shin Seo Hyun, menyalami Ihsan.


“Tidak perlu berterima kasih, Tuan Shin. Sudah sepantasnya seorang sahabat berkorban untuk sahabatnya,” sahut Ihsan merendah.


Izzah tersenyum lemah menyaksikan keakraban suami dan sahabatnya itu. Badai benar-benar telah berlalu.


***


Enam tahun kemudian .…


Ara asyik bermain sepeda di taman belakang, lalu mendadak ia menghentikan laju sepedanya dan meninggalkannya begitu saja seraya berlari kencang masuk ke dapur.


HOP!


Shin Seo Hyun yang datang membawa bola segera menangkap Ara.


“Ada apa, Sayang? Kok lari-lari begitu?” tanyanya, berlutut memegang kedua lengan atas putri terkasihnya.


“Itu, Pa … pohon besar itu … aneh!” ucapnya terbata-bata.


Izzah yang tengah memasak menghentikan kegiatannya. Ikut berjongkok di depan Ara. Dibelainya rambut gadis ciliknya itu.


“Coba cerita ke mama. Gimana anehnya?” bujuk Izzah.


“Pohonnya tiba-tiba bercahaya, Ma … Pa …,” sahutnya dengan napas tersengal-sengal. Sepertinya ia sungguh terkejut dan takut.


“Mulai sekarang, Ara jangan main sendiri di taman belakang ya … berbahaya …,” ujar Izzah, melarang anaknya.


“Kenapa, Ma? Pohonnya tidak apa-apa kok,” tanya Ara, sedikit membantah.


Izzah mendesah. Ia tahu Ara tak mudah percaya.


“Ara ingat apa yang terjadi pada orang yang sudah tua?” tanya Izzah, mencoba memanggil ingatan anaknya tentang pengalamannya.


“Eyang buyut? Sering jatuh …,” jawabnya polos. Izzah mengangguk.


“Pohon itu juga sudah sangat tua. Ara tidak mau pohon itu roboh dan menimpa Ara, kan?” tanya Izzah lagi. Ara menggeleng.


“Jadi … janji ya … Ara tidak boleh dekat-dekat pohon itu kalau sendirian,” sambungnya merayu Ara. Gadis lugu itu mengangguk.


Izzah tersenyum puas. Sejenak matanya dan mata Shin Seo Hyun bertemu pandang dengan kening sama-sama berkerut.


Gerbang Negeri Seribu Bunga?


~ T A M A T ~


Terima kasih sudah membaca A Thousand Flowers: Jodoh Rahasia sampai akhir, Sobat readers. Semoga terhibur ya.


Suka dengan cerita May? Sobat readers bisa membaca karya May lainnya di aplikasi N0ve3lMe dan N0v3l4ku  dengan nama pena Lathifah Nur. Sudah ada dua lho cerita May yang tamat di sana: 1) Lelaki Penakluk Nona Muda, dan 2) Love and Torture.


Sekarang May lagi nulis Perfect Faith, sekuel dari Love and Torture.


May tunggu kehadiran dan komentar sobat readers semua di cerita May lainnya. Love you all.