A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 80. Jangan Berpikir Aneh!



“Aduh! Kau sudah ingin membunuhku sehari setelah pernikahan kita?” protesnya sambil melirik Izzah dengan kedipan mata menggoda.


Spontan Izzah menghadiahinya sebuah cubitan kecil di pinggang seraya berlalu.


“Akh! Kau nakal ya …,” ujarnya, menangkap pinggang Izzah dengan kedua tangan kekarnya.


Izzah meronta-ronta melepaskan diri, tetapi percuma. Lelaki itu malah menguncinya. Entah kenapa semua kemampuan bela dirinya seakan hilang begitu saja saat berhadapan dengan suaminya.


“Hentikan, Mas! Kamar ini tidak kedap suara,” jerit Izzah menahan geli karena terus digelitik oleh suaminya. Lelaki itu seketika menghentikan aksinya.


“Oh ya?”


Izzah mengangguk.


“Baiklah. Kau bebas sekarang!” ujar lelaki itu, melepaskan pinggang istrinya.


Sekilas ia masih menyempatkan diri mengecup pipi Izzah. Membuat Izzah mendelik jengah.


Izzah berjalan ke meja rias, mengambil sisir, lalu  duduk, siap untuk menyisir rambutnya.


“Sini! Biar kusisir rambutmu,” ujar lelaki itu, merebut  sisir dari tangan istrinya.


Sejenak pandang dan senyum mereka bertemu dalam cermin. Kepala Izzah langsung tertunduk dan pipinya terasa panas saat lelaki itu mengecup kepalanya sambil terus menatapnya di cermin.


“Haha … ternyata gadis tomboyku pemalu juga,” selorohnya, menggoda Izzah.


Jiwa pemberontak Izzah langsung bangkit seketika. Ia berdiri melotot.


“Berhenti menggodaku, Mas! Atau akan kubuat kau belingsatan,” sergah Izzah, mencoba merampas kembali sisir yang dipegang suaminya. Refleks lelaki itu meninggikan tangannya.


“Sial! Beraninya mengancamku. Mentang-mentang lagi palang merah,” rutuk lelaki itu dalam hati. Matanya tak sedetik pun lepas dari wajah istrinya.


Dengan senyumnya yang menawan, ia kembali merayu Izzah.


“Duduklah! Aku akan melakukannya untukmu,” bujuknya sambil mendorong pelan kedua bahu istrinya agar kembali duduk di kursi. Lalu, dengan sangat hati-hati disisirnya rambut Izzah.


Izzah menonton aktivitas suaminya dari pantulan cermin. Ia mendesah, merasakan lembutnya sentuhan jemari lelaki tampan itu di setiap helai rambutnya. Ia seakan tengah bermimpi. Berkali-kali ia bertanya dalam hati.


“Benarkah lelaki ini suamiku?”


“Ada apa? Kau sudah jatuh cinta padaku?” tanya lelaki itu  tersenyum usil, mengagetkan Izzah dari lamunannya. Pandangan mereka kembali beradu melalui cermin.


“Idih. Ge-er! Tak semudah itu, Mas,” sanggah Izzah menahan malu karena ketahuan sedang intens memperhatikan suaminya.


Lelaki itu berusaha menyembunyikan bias kecewa dari raut mukanya. Ia tersenyum hambar.


“Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja. Aku akan sabar menunggu saat itu tiba,” bisiknya, kembali mengecup kepala istrinya. Tiba-tiba perasaan bersalah menyusup di hati Izzah.


“Maafkan aku, Mas. Aku janji akan berusaha keras mengatasi traumaku. Bantu aku ya!” ujar Izzah pelan. Ia berdiri tertunduk di hadapan suaminya.


Lelaki itu mengangkat dagu istrinya. Saat pandangan mereka kembali bertemu. Disusurinya wajah cantik Izzah dengan ujung jari tangan kanannya. Sementara lengan kirinya telah menarik pinggang Izzah, merapat ke tubuhnya.


“Aku sangat mencintaimu. Lebih dari yang bisa kuungkapkan dengan kata-kata dan bisa kau bayangkan,” bisiknya, meyakinkan Izzah.


Bola mata Izzah menatap tajam ke dalam manik mata suaminya. Kelembutan yang terpancar dari kedua bola mata kelam lelaki itu benar-benar penuh dengan kehangatan cinta.


“Terima kasih, Mas. Aku janji … akan mencoba membuka hatiku untukmu.”


Izzah balas berbisik tanpa melepaskan pandangan dari mata suaminya.


Lelaki itu menyelipkan helaian rambut yang tertiup angin ke belakang telinga Izzah. Dengan penuh perasaan dikecupnya bibir istrinya.


Izzah memejamkan mata. Merasakan kasih sayang yang disalurkan suaminya melalui bibir lembutnya.


“Shshsh .…” Lelaki itu menyilangkan telunjuknya di bibir Izzah. Sekilas matanya berkilat marah.


“Jangan pernah berpikir yang aneh-aneh!” sambungnya, mengacak rambut Izzah. Membuat mata Izzah kembali melotot. Lelaki itu tertawa renyah melihat ekspresi Istrinya.


***


Mentari pagi menyapa hangat tubuh Izzah yang masih terbaring lelap di balik selimutnya. Rambutnya yang hitam berkilau indah tertimpa cahaya mentari  yang menyeruak di celah ventilasi kamar itu.


Seorang lelaki tampan tersenyum menopang kepalanya dengan tangan kiri. Menatap penuh kasih wajah istrinya yang masih terbuai mimpi. Perlahan disentuhnya anak rambut di kening istrinya dengan lembut. Disusurinya tepian wajah cantik itu dengan ujung jemarinya.


Ia tersenyum lebar saat wanita yang sangat dicintainya itu membuka mata karena terkejut dengan sentuhan jarinya di ujung hidung bangirnya.


“Selamat pagi, Sayang…” sapanya hangat.


“Apaan sih, Mas,” ujar Izzah bersungut-sungut.


Lantaran malu memperlihatkan tampang kusutnya, secepat kilat Izzah menarik selimut dengan kedua tangan, menyembunyikan kepalanya. Membuat senyum lelaki itu semakin lebar. Ditariknya selimut yang menutupi wajah istrinya itu. Izzah bertahan.


“Kenapa? Kau tak ingin melihat suamimu?” tanya lelaki itu sambil terus menarik pelan selimut Izzah.


“Aku malu, Mas,” sahut Izzah jujur dari balik selimutnya. Lelaki itu tertawa.


“Apakah kau akan terus seperti itu seumur hidupmu?” godanya seraya terus mengamati reaksi istrinya.


Pelan-pelan Izzah menurunkan selimutnya. Mengintip malu-malu sebelum akhirnya benar-benar memperlihatkan wajah bangun tidurnya kepada sang suami.


Lelaki itu langsung mendaratkan kecupan ringan di kening Izzah. Lalu merapatkan tubuh dan mendekap istrinya.


“Biarkan aku memelukmu sesaat,” pintanya seraya melingkarkan lengan kanannya ke tubuh Izzah. Izzah balas memeluk dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya, seakan memberi kesempatan kepada lelaki itu untuk menghirup aroma rambutnya dan menciumi kepalanya.


Selang berapa lama, Izzah menengadah menatap wajah suaminya.


“Boleh aku ke kamar mandi sekarang?” pamitnya. Merasa resah dengan aset pribadinya karena kehadiran si tamu bulanan.


Lelaki itu melayangkan ciuman ringan di bibir istrinya.


“Baiklah,” ujarnya sambil melepaskan pelukannya.


Malu-malu Izzah mengecup kening suaminya pelan sebelum turun dari ranjang. Membuat binar muka lelaki itu terlihat cerah. Secerah sinar mentari pagi di luar sana.


***


Di ruang makan, Izzah tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Saat lelaki itu keluar dari kamar, ia disambut oleh aroma masakan yang menggugah selera. Diam-diam ia memeluk istrinya dari belakang seraya mengendus-endus aroma masakan yang terhidang di meja.


“Lepas dong, Mas! Sebentar lagi bunda juga keluar,” ujar Izzah membiarkan teko yang dipegangnya mengambang di udara.


Lelaki itu pun lekas melepaskan pelukannya dan duduk di kursi, menyambut dengan suka cita saat Izzah menyodorkan sepiring sarapan dan secangkir kopi moka.


Selesai sarapan, lelaki itu mengangkat dua koper besar keluar dan menyusunnya di bagasi mobil yang terparkir di pekarangan rumah Izzah.


“Bunda, kami berangkat ya. Jaga kesehatan, Bunda!” pamit lelaki itu pada ibu mertuanya.


Rahmi tersenyum. “Iya, Nak. Bunda percayakan Izzah kepadamu.”


“Baik, Bunda. Akan kujaga dia dengan segenap jiwa dan ragaku,” janji lelaki itu mantap. Izzah memeluk bundanya erat.


Rahmi menyeka air mata haru saat Izzah dan suaminya telah berlalu bersama suara mesin mobil yang menderu.


“Semoga Allah senantiasa melindungi kalian, Nak,” doanya sesaat sebelum beranjak masuk ke rumah.


 ***