A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 60. Tangkapan Besar



“Ini, Sayang …,” ujar Izzah, menyodorkan seekor lumba-lumba lucu nan lembut dan langsung disambut Ha Na dengan wajah semringah.


“Terima kasih, Aunty. Aunty Izzah memang hebat!” puji Ha Na, mengacungkan jempol. Mendung di wajahnya telah berlalu.


“Uncle juga bisa dapat lebih cepat. Sayangnya Uncle terlalu lelah” ujar Shin Seo Hyun, berkilah membela diri.


“Ih … Uncle bohooong …,” bantah Ha Na.


“Tidak. Uncle tidak bohong kok,” sahut Shin Seo Hyun bersikeras


“Buktinya Aunty Izzah yang dapat,” ledek Ha Na.


Gadis itu langsung berlari menjauh dikejar Shin Seo Hyun. Izzah hanya senyum-senyum menyaksikan adegan kejar-kejaran paman dan keponakan itu.


Lambaian Ha Na dari stan es krim memaksa Izzah mempercepat langkahnya.


“Aunty mau cicip?” tawar Ha Na, menyodorkan cone es krim di tangannya. Izzah merunduk, menjilati puncak es krim cokelat yang dipegang Ha Na.


Melihat itu, Shin Seo Hyun ikut berjongkok dan membuka mulut lebar-lebar, siap menerima suapan Ha Na. Akan tetapi, terpaksa Shin Seo Hyun menelan ludah kecewa karena gadis kecil itu mengabaikannya.


Ha Na sudah menjauh dan duduk di pangkuan Izzah, menikmati sisa es krimnya sambil menyaksikan orang-orang yang berlalu lalang. Sesekali ia masih menyuapi Izzah, membuat kening Shin Seo Hyun berkerut.


“Waah … sebenarnya siapa yang keluarga Ha Na?” sungut Shin Seo Hyun. Ia menyusul Izzah dan Ha Na, lalu duduk di sebelah kiri Izzah.


“Enak ya es krimnya?” tanya Shin Seo Hyun menyindir Ha Na. Ia tidak menoleh. Kedua tangannya bertopang pada bangku yang didudukinya. Ha Na mengangguk kuat.


“Uncle mau?” tanya Ha Na sambil menjilati es krim itu dengan nikmat.


“Mau, mau,” tukas Shin Seo Hyun, memutar tubuh menghadap Ha Na. Mulutnya menganga. Cepat-cepat Ha Na menjauhkan es krim itu dari mulut Shin Seo Hyun.


“Uncle bisa beli di situ,” kata Ha Na sambil menunjuk stan es krim. Shin Seo Hyun melengos malu, membuat Izzah menahan senyum.


Tidak lama kemudian, Shin Seo Hyun menggelitik Ha Na. Tawa gadis kecil itu pun pecah. Untung es krim di tangannya sudah habis.


“Permisi, Tuan. Boleh saya mengambil foto Anda dan keluarga?” tanya seorang lelaki muda yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka dengan sebuah kamera di tangannya.


Alis Shin Seo Hyun terangkat. Ia tak yakin pernah mengenal lelaki itu.


“Oh, maaf. Kenalkan, saya Song Tae Young. Fotografer sebuah majalah keluarga,” ujar lelaki itu memperkenalkan diri.


“Keharmonisan keluarga Anda sangat cocok dengan tema majalah kami untuk edisi yang akan datang,” lanjutnya dengan senyum meyakinkan, menyemai harap.


“Oh, tentu saja. Dengan senang hati,” sahut Shin Seo Hyun cepat begitu melihat Izzah akan membuka mulutnya.


Spontan Izzah mendelik. Shin Seo Hyun langsung berdiri mengangkat Ha Na dari pangkuan Izzah seraya berbisik di telinga Izzah.


“Lakukan dengan baik dan jangan mengecewakanku!”


Izzah tak menyahut. Dikeluarkannya sebuah sisir kecil dan dirapikannya rambut Ha Na. Tak lupa ia membersihkan wajah comeng Ha Na dengan tisu basah.


CEKREK! CEKREK! CEKREK!


Beberapa kali terdengar bunyi klik kamera mengabadikan momen bahagia keluarga Shin Seo Hyun dalam berbagai pose sesuai arahan sang fotografer. Begitu selesai, fotografer itu terlihat sangat puas dengan hasil jepretannya.


“Terima kasih, Tuan. Boleh saya minta kartu nama Anda? Mungkin saya akan menghubungi Anda sebelum foto ini terbit,” ujar Song Tae Young sedikit ragu.


Shin Seo Hyun segera merogoh kantong dan menyerahkan selembar kartu nama kepada fotografer ltu.


“Hah!”


Song Tae Young terperangah membaca nama yang tertera di kartu itu. Buru-buru ia membungkukkan badan.


“Maafkan saya tidak mengenali Anda lebih awal, Tuan Shin,” ujar fotografer itu salah tingkah.


“Ini pertama kalinya saya bertemu Anda secara langsung. Dan saya tidak menyangka Anda ternyata sangat berbeda dari citra yang selama ini saya dengar,” balas Song Tae Young berterus terang. Shin Seo Hyun hanya tersenyum.


“Baiklah. Saya permisi dulu, Tuan Shin. Sekali lagi terima kasih atas kesediaan Anda menjadi model saya. Hubungi saya jika Anda butuh bantuan!” lanjut lelaki itu seraya menyerahkan kartu namanya.


“Oh, ya … terima kasih,” sahut Shin Seo Hyun sambil menyimpan kartu nama yang baru saja diterimanya.


“Selamat bersenang-senang, Tuan Shin,” ucap lelaki itu dengan nada riang, lalu beranjak meninggalkan Shin Seo Hyun.


Mengingat matahari makin condong ke Barat, Shin Seo Hyun mengajak Izzah dan Ha Na pulang.


Dari kejauhan, Song Tae Young mengabadikan setiap gerakan Shin Seo Hyun saat melayani Izzah dan Ha Na masuk ke mobil.


“Hari ini aku benar-benar beruntung bisa mendapatkan tangkapan besar,” gumamnya puas seraya memandangi foto-foto Shin Seo Hyun yang telah diambilnya.


Song Tae Young tetap berdiri di tempatnya hingga mobil Shin Seo Hyun menghilang di kejauhan.


Setibanya di rumah, Shin Seo Hyun bergegas membuka pintu mobil dan menggendong tubuh Ha Na yang tertidur di pangkuan Izzah. Izzah mengekor hingga Shin Seo Hyun membaringkan Ha Na di atas kasur.


“Kau mau aku masakkan makan malam atau cukup pesan di luar?” tanya Shin Seo Hyun sebelum keluar dari kamar Izzah.


“Pesan saja! Tuan Shin juga lelah,” sahut Izzah, membuat Shin Seo Hyun tersenyum dan langsung menghubungi nomor jasa antar makanan.


Izzah sudah mandi dan berganti pakaian ketika ponselnya berdering. Buru-buru ia mengangkat panggilan itu saat nama Shin Seo Hyun muncul.


“Ya?”


“Kau akan turun atau mau kuantar makanannya ke kamar?” sahut Shin Seo Hyun di seberang telepon. Terdengar bunyi keresek dilipat tanda ia baru saja selesai menata makanan yang dipesannya ke dalam piring.


“Baiklah. Aku akan segera turun,” balas Izzah dan langsung menutup telepon.


Di meja makan, Shin Seo Hyun mengangkat alis menatap ponsel di tangannya.


“Gadis aneh ini tidak pakai basa-basi lagi. Langsung main tutup saja teleponnya,” gerutu Shin Seo Hyun, meletakkan ponsel itu di atas meja.


Langkah kaki Izzah terdengar pelan menuruni tangga. Shin Seo Hyun menuangkan air putih ke dalam gelas dan meletakkannya di sisi kiri piring. Izzah tiba tepat setelah semuanya siap. Bergegas Shin Seo Hyun menarik kursi untuk Izzah. Meski merasa canggung dengan perlakuan bosnya itu, Izzah duduk juga.


“Zah, kamu benar-benar lupa dengan kesepakatan kita?” tanya Shin Seo Hyun memecah keheningan di antara mereka.


“Hah? Kesepakatan yang mana yang Tuan maksud?” balas Izzah sambil terus menyantap hidangan di depannya.


Shin Seo Hyun mengambil napas dalam-dalam. Semburat kecewa tergurat di wajahnya.


“Bukankah aku sudah memintamu untuk memanggilku hanya dengan nama saja saat kita hanya berdua?” ujar Shin Seo Hyun menatap Izzah dingin.


“Oh … yang itu. maaf, aku benar-benar melupakannya,” sahut Izzah santai, membuat Shin Seo Hyun mendengus kesal. Kalimat Izzah menunjukkan unsur kesengajaan, bukan keteledoran.


“Mulai sekarang kau harus terus mengingatnya. Panggil aku Mas Dirga!” ujar Shin Seo Hyun tegas.


“Ya, ya, ya ... akan kuingat, Mas Dirga!” jawab Izzah dengan nada terpaksa dan memberi penekanan pada nama panggilan Shin Seo Hyun.


“Kau marah?” selidik Shin Seo Hyun.


“Ah, tidak. Mana berani aku memarahi Mas Dirga yang baik hati dan suka menolong,” sahut Izzah cuek tanpa sedikit pun menoleh ke arah Shin Seo Hyun sambil memindahkan sepotong paha ayam ke piringnya.


Jawaban Izzah membuat Shin Seo Hyun geregetan. Cepat-cepat ia menancapkan garpu di atas paha ayam yang baru saja diambil Izzah. Dalam sekejap, paha ayam itu pun telah berpindah ke mulutnya.


Sontak perbuatan nekat Shin Seo Hyun menyebabkan Izzah menatap bosnya itu dengan tajam.


Shin Seo Hyun menantang tatapan Izzah sambil terus menggerogoti daging ayam yang tadi dirampasnya. Acara makan malam itu pun berubah wujud menjadi ajang laga pandang antara Izzah dan Shin Seo Hyun. Siapakah yang akan keluar sebagai pemenang?


***