A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 94. Kebenaran



Izzah dan Sandra saling tatap penuh tanya melihat perubahan sikap Park Joon Soo dan serentak melempar pandang kepada Shin Seo Hyun. Shin Seo Hyun hanya mengangguk ringan. Membuat Izzah dan Sandra tersenyum maklum.


“Kapan tiba di Korea, Ris?” tanya Izzah, mencairkan suasana.


“Tadi sore,” jawab Riris singkat.


Keningnya berkerut lantaran merasa aneh dengan sikap Park Joon Soo yang berbeda dari yang ia kenal sebelumnya.


“Oh ya, mulai besok Riris akan bekerja sebagai staf ahli gizi di rumah sakit kita,” umum Shin Seo Hyun.


Sontak Park Joon Soo mendongak, menatap Riris dengan mata berbinar. Lalu, cepat-cepat ia menunduk kembali.


“Benarkah? Selamat ya, Ris. Terus kamu tinggal di mana?” tanya Izzah, memberi selamat dan antusias karena bisa lebih sering bertemu dengan teman lamanya itu.


Belum sempat Riris membuka mulut, Shin Seo Hyun sudah menjawab.


“Riris akan tinggal di rumah indekosmu dulu. Sayang kalau dianggurkan. Dan aku sudah memindahkan semua barang-barangmu,” jelas Shin Seo Hyun cepat.


“Maaf kalau aku tidak memberitahumu lebih awal,” lanjutnya, merasa bersalah.


“Tidak apa-apa. Aku malah senang Riris tinggal di situ," sahut Izzah, tersenyum penuh pengertian.


“Mari kita rayakan!” ujar Sandra ikut gembira. Perutnya sudah dari tadi bernyanyi.


Tanpa buang waktu, mereka pun bersantap diselingi obrolan ringan dan gelak tawa. Berkali-kali Shin Seo Hyun dan Izzah melirik Park Joon Soo dengan sudut mata mereka. Merasa geli melihat Park Joon Soo tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan hanya fokus pada makanannya.


***


Di ruang kerjanya, Shin Seo Hyun tampak sibuk memeriksa berkas yang telah dibukanya. Membaca baris demi baris dengan teliti sebelum menandatanganinya. Sementara di sudut kiri meja, setumpuk berkas masih menggunung. Sisa-sisa buah dari liburan bulan madunya yang tak bisa dilimpahkan kepada sang sekretaris


Sesaat ditautkannya jari-jari di kedua tangannya, mengusir ketegangan saraf yang mulai kaku. Sesekali digerakkannya pula lehernya ke kiri dan ke kanan, menghalau penat akibat terlalu lama menunduk. Dan adakalanya ia berjalan mondar-mandir untuk melancarkan peredaran darah di kaki yang terasa kebas karena banyak duduk.


Shin Seo Hyun menghempaskan napas berat ketika dilihatnya berkas yang belum diperiksanya seakan tak berkurang. Tatkala ia tengah berkonsentrasi memilah-milah dan memisahkan berkas dengan prioritas utama, telepon di mejanya berdering.


“Ya?” sahutnya singkat, lalu diam mendengarkan suara Park Joon Soo di seberang telepon. Sejenak dibukanya buku agenda, mengecek janji temu.


“Oke. Izinkan dia masuk,” perintahnya seraya menutup kembali buku agenda dan meletakkan gagang telepon ke tempatnya.


Tidak lama kemudian, seorang lelaki masuk setelah mengetuk pintu.


“Silakan duduk, Tuan Ari!,” ujarnya, mempersilakan lelaki itu duduk seraya berjalan menyambutnya dan berjabat tangan.


“Urusan apa yang ingin Tuan bicarakan?” tanya Shin Seo Hyun tanpa basa-basi begitu duduk saling berhadapan dengan Arif.


Tanpa diduga, lelaki yang di panggil Arif itu bangkit dari sofa dan berlutut di hadapan Shin Seo Hyun seraya menundukkan kepala.


“Aku mohon kebesaran hati, Tuan. Tolong bebaskan anak saya, Tuan Shin!” pintanya mengiba.


“Kembalilah ke tempat duduk Anda, Tuan Arif!” ujar Shin Seo Hyun, menepuk pelan pundak Arif. Arif tetap diam, bergeming.


“Aku tahu apa yang telah dilakukan oleh anakku itu salah dan tak bisa dimaafkan, tapi … ia berbuat demikian karena tidak mengenal dengan baik siapa Izzah sebenarnya,” jelas Arif dengan suara serak.


“Apa maksud Anda, Tuan Arif?” selidik Shin Seo Hyun, merasa janggal.


Dengan tangan gemetar, Arif mengeluarkan selembar foto usang dari dompetnya dan menyerahkannya kepada Shin Seo Hyun.


“Siapa bayi kembar di foto ini?” tanyanya lagi.


“Itu saya dan adik perempuan kembaran saya,” jawab Arif, masih dengan kepala tertunduk.


“Lebih dari setengah abad kami hidup terpisah. Saat aku mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, aku pun berusaha keras melacak keberadaannya, tapi … ketika aku berhasil menemukan keturunannya, anakku malah mengacaukan segalanya,” lanjutnya, berurai air mata dan tubuh terguncang penuh sesal.


“Tolong bicara lebih jelas, Tuan Arif, agar aku bisa mengerti!” pinta Shin Seo Hyun. Hati kecilnya tersentuh melihat kesedihan Arif.


“Izzah … istrimu itu adalah keponakanku. Jadi, kumohon, Tuan Shin. Tolong bebaskan Nadira! Aku ingin membawanya menemui Rahmi,” jelas Arif sembari menatap Shin Seo Hyun penuh harap. Lalu, ia pun menceritakan kisah kelam masa kecilnya dan Rahmi hingga mereka berdua terpisah.


Sejurus Shin Seo Hyun tampak berpikir dan menimbang-nimbang.


“Baiklah. Aku akan mempertimbangkannya, tapi aku butuh persetujuan Izzah,” sahut Shin Seo Hyun, memberi harapan. Wajah Arif serta merta berbinar cerah.


“Terima kasih, Tuan Shin. Terima kasih!” ujar Arif berulang kali, nyaris bersujud saking senangnya.


Shin Seo Hyun meraih kedua pundak Arif dan membantunya berdiri.


“Jika benar Anda adalah paman Izzah, berarti Anda juga pamanku. Cukup panggil aku dengan nama saja, Paman,” balas Shin Seo Hyun, membuat Arif menangis haru atas kelapangan dada suami keponakannya itu.


Refleks Arif memeluk Shin Seo Hyun. Untuk beberapa waktu Shin Seo Hyun merelakan tubuhnya dipeluk Arif. Membiarkan lelaki paruh baya itu menumpahkan keharuan karena kehadirannya diterima dan diakui sebagai keluarga Izzah. Pelan-pelan ditepuknya punggung Arif seolah berusaha menenangkannya.


***


Kala malam tiba, peraduan menjadi tempat ternyaman untuk memulihkan kekuatan jiwa dan raga yang terkuras habis, disedot rutinitas kerja. Di sanalah kini Shin Seo Hyun dan Izzah berada. Berbaring dan bermanja-manja sambil berbincang tentang pertemuannya dengan Arif tadi siang di kantornya.


“Jadi, bagaimana menurutmu? Haruskah aku membebaskan Nadira?” tanya Shin Seo Hyun, minta pendapat istrinya.


“Aku percaya padamu, Mas. Aku yakin kau tahu mana yang terbaik. Kau tidak menganggapku seorang pendendam, bukan?” sahut Izzah, menempelkan kepalanya di dada Shin Seo Hyun.


“Terima kasih. Akan kujaga  kepercayaanmu itu,” janjinya seraya mengecup ubun-ubun Izzah.


Sejurus Izzah menjauh. Menatap langit-langit kamar sambil senyum-senyum sendiri.


“Apa kata-kataku terdengar aneh?” tanya Shin Seo Hyun, salah tingkah.


“Tidak. Bukan itu,” tukas Izzah cepat. Khawatir Shin Seo Hyun tersinggung karena ulahnya.


“Terus?” kejar Shin Seo Hyun penasaran


“Aku hanya merasa lucu dan beruntung terlahir dari dua orang tua yang sama-sama kembar. Pantas saja saat aku melihat Papa Nadira waktu itu aku seolah sangat akrab dengan wajahnya,” jelas Izzah.


Seperti Izzah, Shin Seo Hyun juga senyum-senyum sendiri memandangi langit-langit kamarnya, berbantalkan lipatan kedua tangannya.


“Kok kamu ikutan senyum-senyum, Mas. Meledek ya?” protes Izzah, setengah menuduh.


“Aku sedang membayangkan betapa serunya menjadi ayah dari sepasang anak kembar,” sahut Shin Seo Hyun, langsung memutar tubuhnya menghadap Izzah.


Merasa malu, sontak Izzah mencubit pinggang Shin Seo Hyun. Lalu ia berbalik membelakangi suaminya. Melihat itu, bergegas Shin Seo Hyun menarik selimut, menyelubungi tubuh mereka.


***