
Berdiri di trotoar, Izzah menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, menciptakan kehangatan melawan dinginnya udara pagi yang menusuk tulang.
Bibirnya komat-kamit ber-murojaah. Celingak-celinguk menanti bus yang akan mengantarnya ke tempat kerja, Izzah dikagetkan oleh suara klakson.
Teet … teeet .…
Sebuah mobil Porsche Macan warna night blue metallic berhenti di depannya. Merasa pandangannya terhalang, Izzah pun bergeser.
Teet … teet .…
Suara klakson terdengar lebih kencang. Izzah tak menggubris. Kaca depan mobil terbuka, Shin Seo Hyun melongokkan kepala agar wajahnya bisa terlihat.
“Masuk!” perintahnya saat Izzah menoleh.
Izzah bimbang. Terlalu sungkan untuk menuruti permintaan si bos, tetapi takut juga akan menyinggung perasaan si bos jika menolak.
“Ayo!” Shin Seo Hyun membuka pintu mobil dari dalam.
Mau tidak mau dan dengan berat hati Izzah akhirnya duduk di samping si bos. Matanya menatap lurus ke depan, memperhatikan jalanan.
Alunan salawat dari suara emas Omar Borkan Al Gala berkumandang. Izzah merogoh tas, mengeluarkan ponselnya. Sebuah video call. Izzah mengangkat panggilan itu dengan mengucap salam. Wajah tampan Fadhil seketika menghias layar monitor.
Shin Seo Hyun melirik ponsel Izzah dan langsung teringat foto yang pernah ia curi lihat di galeri ponsel gadis itu.
“Susah banget ya dihubungi. Kangen tahu …,” rajuk Fadhil sewot-sewot manja.
Mendengar kalimat tanpa basa-basi itu, darah Shin Seo Hyun mendidih. Tanpa sadar tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat.
“Lebay!” balas Izzah pura-pura keki.
Fadhil tertawa, menampakkan gigi putihnya yang berbaris rapi. Ia senang sekali melihat ekspresi adiknya setiap kali digoda.
“Zah masih di jalan. Nanti ya … Zah hubungi lagi .…” Izzah melambaikan tangan dan langsung memutus sambungan video call itu.
Ciiiittt ….
“Astagfirullah … kenapa, Tuan?” tanya Izzah kaget saat mobil Shin Seo Hyun berhenti mendadak. Nyaris saja kepalanya terantuk.
“Itu … ada motor nyalip,” jawab Shin Seo Hyun sekenanya.
Nada bicara Izzah yang sedikit manja saat di telepon tadi membuat hatinya rasa terbakar, hingga tanpa sadar ia menginjak pedal rem dengan kuat.
“Oh .… “ Izzah cuma ber-oh.
Shin Seo Hyun kembali menjalankan mobilnya. Tak ada yang bicara. Semua membisu dalam kekalutan masing-masing.
“Berhenti di sini saja, Tuan!” pinta Izzah begitu melihat gerbang rumah sakit sudah di depan mata.
Shin Seo Hyun segera menepikan mobilnya. Izzah bergegas turun.
“Terima kasih, Tuan.”
Tanpa menunggu jawaban, Izzah melenggang santai memasuki gerbang rumah sakit.
Setelah memarkir mobil, Shin Seo Hyun tidak langsung turun.
KRAK!
Ia memukul setir dengan kuat.
“Sebenarnya siapa yang jadi bos? Aku atau dia? Bisa-bisanya dia memerintahku dan aku dengan bodohnya mengikuti perintah gadis aneh itu.” Shin Seo Hyun merutuki kebodohannya yang bersikap seperti seorang sopir bagi Izzah.
“Bahkan, dia hampir saja membuatku celaka. Ngapain juga pagi-pagi video call-an segala. Sebel!” Shin Seo Hyun menggerutu.
“Gadis sialaaan! Bisa-bisanya kamu merusak pagi indahku,” maki Shin Seo Hyun seraya membenturkan keningnya ke setir mobil berulang kali.
Shin Seo Hyun merasa asing dengan dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya seorang gadis menguasai emosi dan pikirannya tanpa disadarinya.
Melihat Shin Seo Hyun tidak kunjung keluar dari mobilnya, penjaga gerbang berlari mendekati mobil itu. Ia menempelkan kedua tangannya dan mengintip dari balik kaca mobil.
Penjaga itu pun panik menyaksikan kepala Shin Seo Hyun terkulai lemas pada setir.
TOK! TOK! TOK! TOK!
Digedornya kaca mobil secara beruntun seraya memanggil-manggil Shin Seo Hyun.
“Tuan Shin! Tuan Shin! Anda baik-baik saja?”
Shin Seo Hyun tersentak. Diturunkannya kaca mobil perlahan.
“Ya?”
“Syukurlah Anda baik-baik saja, Tuan Shin!”
Dalam sekejap, Shin Seo Hyun keluar dari mobil. Penjaga itu membungkuk, memberi hormat.
"Eeitt ...."
Park Joon Soo menghalangi pintu lift dengan sebelah kaki dan cepat-cepat masukbegitu pintu itu kembali terbuka.
Menyadari Shin Seo Hyun sudah berada dalam lift itu terlebih dahulu, Park Joon Soo menyapanya. Shin Seo Hyun diam saja seolah tak melihatnya.
“Hei!” Park Joon Soo mengibaskan tangannya di depan wajah Shin Seo Hyun. Membuat Shin Seo Hyun kaget.
“Joon Soo?”
“Ya ampun, Seo Hyun. Kamu sakit?”
Park Joon Soo heran. Hari ini Shin Seo Hyun terlihat berbeda dari biasanya.
Pintu lift terbuka. Shin Seo Hyun segera keluar.
“Ikut ke ruanganku!” perintahnya tanpa menoleh.
Park Joon Soo mengikuti Shin Seo Hyun ke ruangannya.
Begitu tiba di kantornya, Shin Seo Hyun langsung duduk di kursi dan tersandar lemas tak bertenaga sambil memejamkan mata.
Park Joon Soo melayangkan tatapan curiga. "Pasti ada sesuatu yang tidak beres," pikirnya.
“Pagi ini kamu terlihat aneh,” kata Joon Soo memulai percakapan. “Apa yang terjadi?”
Shin Seo Hyun membuka mata. Menatap hampa sekretaris sekaligus sahabatnya itu.
“Ayolah, Kawan! Ini bukan Shin Seo Hyun yang kukenal.” Park Joon Soo memancing Shin Seo Hyun.
Shin Seo Hyun membuka laci meja dan mengeluarkan selembar foto.
“Selidiki latar belakang gadis ini dan juga pergaulannya!” perintah Shin Seo Hyun kepada Park Joon Soo sambil meletakkan foto itu di atas mejanya.
Park Joon Soo mengambil foto itu.
“Hah! Bukankah ini dokter magang dari Indonesia itu?"
Shin Seo Hyun menggangguk.
“Kenapa kamu ingin menyelidikinya?” Park Joon Soo benar-benar penasaran.
Untuk pertama kalinya Shin Seo Hyun tertarik untuk menggali kehidupan pribadi seorang gadis.
“Tidak usah banyak tanya. Lakukan saja. Secepatnya!” sergah Shin Seo Hyun. “Sekarang kamu boleh kembali ke ruanganmu.”
Park Joon Soo meninggalkan Shin Seo Hyun sembari mengibas-ngibaskan foto Izzah ke telapak tangannya.
***
Kecelakaan bus angkutan pelajar. Dokter dan perawat di IGD super sibuk. Izzah wara-wiri tanpa istirahat dan mulai kelelahan.
Baru saja akan beristrirahat sejenak, suara brankar pasien di dorong kencang membuatnya kembali berlari menyongsong.
Seorang anak lelaki usia enam tahun terbaring pingsan berlumuran darah.
“Dokter, tolong selamatkan anak saya!” ucap seorang lelaki memohon dengan panik dan langkah tertatih-tatih sambil meringis menahan sakit.
“Anda juga perlu mendapatkan perawatan, Tuan,” jawab Izzah.
“Anda tidak perlu cemas, Tuan. Anak Anda sedang ditangani tim dokter. Mari kami periksa kondisi Anda, Tuan!”
Seorang perawat memapah lelaki itu berbaring di ranjang. Dokter segera memeriksanya. Beruntung ia hanya mengalami luka ringan.
Pegal. Izzah melemaskan otot-otot lehernya, lalu menghempaskan pantat di atas kursi, di ruang istrihat dokter dan perawat.
“Aaakh … rasanya seluruh persendianku akan terlepas,” keluh Kang So Ra dengan kepala melunglai di atas meja, diikuti dokter dan perawat lainnya.
Sepuluh menit kemudian mereka pamit pulang. Tinggallah Izzah seorang diri menggantikan rekan yang seharusnya bertugas shift malam seraya menunggu rekan yang lain datang.
Pukul delapan malam. Berjalan di koridor rumah sakit, Izzah membaca nama pasien di setiap kamar, mencari anak lelaki yang tadi pagi mengalami cedera kepala.
Tak sengaja menyaksikan Izzah mengendap-endap, Shin Seo Hyun membatalkan niatnya untuk pulang. Diam-diam ia mengikuti Izzah. Penasaran dengan apa yang akan dilakukan gadis itu.
“Aha, ini dia,” desis Izzah gembira begitu menemukan anak yang dicarinya.
Dari kaca pintu, Izzah dapat melihat anak itu tak ada yang menemani. “Mungkin walinya sedang keluar,” pikir Izzah. Ini kesempatan emas.
Celingak-celinguk Izzah memperhatikan sekeliling. Setelah yakin kondisi aman, Izzah membuka pintu pelan dan berjinjit masuk ke ruangan anak itu.
***