A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 38. Kemelut Rasa Hati



“Stop di sini, Tuan!”


Seo Hyun menghentikan mobilnya. Izzah mengelus dada dan membuang napas lega.


“Untung saja sudah sampai. Kalau tidak, bisa-bisa rahasiaku terbongkar!”


PLAAK!


Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Izzah. Seorang wanita cantik berdiri mengadang jalannya dengan wajah merah padam penuh amarah.


“Dasar perempuan ******! Berani-beraninya kamu merebut calon tunanganku!”


Shin Seo Hyun kaget bukan kepalang mendengar suara bentakan seorang wanita yang sudah tidak asing di telinganya. Ia bergegas turun dari mobil menghampiri dua wanita yang saling berhadapan.


Izzah mengelus pipinya yang terkena tamparan dan tetap bersikap tenang.


“Apa maksudmu, Nona?”


“Jangan pura-pura bodoh! Katakan, apa yang kamu inginkan dari Shin Seo Hyun. Kamu hanya mengincar hartanya, kan?"


Melihat perempuan di depannya tidak menjawab, emosi wanita itu semakin meledak. Ia kembali menggerakkan tangannya untuk menampar Izzah.


Shin Seo Hyun berteriak mencegah dan mempercepat larinya.


”Hentikan, Kim Se Na!”


Akan tetapi, wanita itu seperti telah ditulikan oleh amarahnya.


Tepat saat tangan wanita itu akan menyentuh pipinya, Izzah mencengkeram pergelangan tangan wanita yang dipanggil Kim Se Na itu.


Sontak Seo Hyun menghentikan langkah. Ia tak menduga Izzah akan melawan. Wanita itu pun meringis menahan sakit.


“Dasar perempuan ******!”


Perlawanan Izzah membuat api amarah di dada Kim Se Na semakin membara. Ia melayangkan sebelah tangan lainnya. Lagi-lagi Izzah mengcengkeramnya, membuat Kim Se Na makin kesakitan.


“Sudah kubilang, penolakanku tidak ada hubungannya dengan wanita ini. Kenapa kamu masih ngotot juga?”


“Cuih!”


Kim Se Na meludahi wajah Izzah, membuat amarah Shin Seo Hyun ikut bergolak. Ia maju mendekati Kim Se Na. Namun, tatapan tajam Izzah menghentikan langkahnya.


“Apakah Anda pernah mencintai wanita ini, Tuan Shin?”


Kim Se Na dan Shin Seo Hyun sama-sama terperanjat mendengar pertanyaan Izzah.


"Tidak. Aku tidak pernah mencintainya.”


Shin Seo Hyun menjawab lantang, meskipun tak paham apa yang ada di kepala Izzah saat itu. Yang ia tahu, ia harus berterus terang. Itu saja.


Izzah mengalihkan pandangannya menatap Kim Se Na.


“Anda sudah mendengar sendiri, Nona. Kalau aku menjadi Anda, aku tidak akan membuang harga diriku hanya demi mengejar lelaki yang tidak pernah memberikan hatinya untukku,” tegas Izzah.


Ia melirik Shin Seo Hyun sekilas, lalu kembali menatap lekat bola mata Kim Se Na. “Kenapa? Karena bagi seorang wanita, menikah dengan lelaki yang tidak mencintainya sama saja dengan menyerahkan dirinya menjadi seonggok sampah tak berguna. Hidupnya akan terasa bagai di neraka. Apakah kehidupan seperti itu yang Anda inginkan, Nona Kim Se Na?”


Rangkaian kata yang meluncur dari bibir Izzah terasa lebih menyakitkan bagi Kim Se Na daripada cengkeraman di kedua tangannya. Bahkan, Shin Seo Hyun pun merasa tersindir.


Perlahan sorot mata Kim Se Na mulai meredup.


"Jika memang itu yang Anda inginkan, silakan lanjutkan perjuangan Anda, Nona. Tapi … kalau boleh saya memberi saran, cintailah pria yang juga mencintai Anda dan hiduplah dengan bahagia!”


Selesai berkata begitu, Izzah melepaskan cengkeramannya, lalu meninggalkan Kim Se Na yang berdiri mematung.


Melihat Shin Seo Hyun berjalan mengikuti Izzah tanpa menoleh sedikit pun kepadanya, Kim Se Na kembali ke mobilnya yang di parkir tidak jauh dari gerbang rumah sakit. Sepertinya ia memang sengaja menunggu kehadiran wanita yang tadi dilabraknya.


Kim Se Na menangis menelungkupkan kepala pada setir mobil. Kata-kata Izzah menyadarkannya. Perlahan ia menghidupkan mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


Di pelataran rumah sakit, Izzah menyeka wajahnya dengan tisu. Shin Seo Hyun menyejajarkan langkah dengan Izzah.


“Maafkan aku. Semua yang menimpamu karena kesalahanku.”


Shin Seo Hyun merasa sangat bersalah telah membiarkan Izzah terlibat dalam kemelut masalah pribadinya.


“Jika Anda tidak bisa mencintai seorang wanita dengan tulus, maka berhentilah memberi harapan. Dengan begitu, kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi.”


NYUT!


Ucapan Izzah menohok hati Shin Seo Hyun. Lagi-lagi Izzah mengagetkannya dengan sisi yang tak terduga.


“Gadis aneh ini sangat blak-blakan.”


Izzah melewati ruang IGD dan langsung menuju toilet untuk mencuci muka. Seo Hyun menuju kantornya.


***


“Zah, makan siang di luar yuk!” ajak Kang So Ra.


Tahu-tahu ia sudah berdiri di samping Izzah.


“Sekarang?”


“Iya. Yang lain sudah menunggu di luar.”


“Sebentar. Aku bereskan ini dulu ya ....”


Izzah merapikan beberapa dokumen pasien yang ada di atas meja.


“OK. Let’s go!”


Tiba di restoran, teman sejawat Izzah sudah menempati posisi masing-masing. Izzah dan Kang So Ra duduk di meja yang terletak di bagian sudut. Sedikit tersembunyi dari keramaian, tetapi bisa dengan bebas melihat orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan di depan restoran.


Izzah menikmati santap siangnya dengan santai, diselingi obrolan ringan dan cerita lucu Kang So Ra.


Dari sebuah meja, seorang lelaki berulang kali melirik Izzah di sela-sela percakapannya dengan relasi bisnis, seolah ia ingin memastikan gadis itu belum beranjak dari situ.


Shin Seo Hyun yang merasa diabaikan karena lawan bicaranya sering melirik melewati bahunya jadi penasaran. Dengan sengaja ia menjatuhkan pena yang tergeletak di sudut meja dengan punggung tangannya.


“Oh … Maaf!”


Shin Seo Hyun menunduk mengambil pena di lantai sambil melihat pengunjung yang duduk di belakang mejanya.


Tiba-tiba dadanya terasa sesak saat melihat Izzah tersenyum manis di pojok restoran itu.


“Aaah … jadi gadis aneh itu yang telah mencuri perhatian Tuan Dimas.”


Shin Seo Hyun menahan geram. Terbawa emosi, ia berusaha mengakhiri pertemuan itu dengan secepat mungkin. Hatinya rasa terbakar setiap kali menyaksikan lawan bicaranya melirik Izzah.


Park Joon Soo yang senantiasa mendampingi Shin Seo Hyun merasa heran dengan tingkah direkturnya itu.


“Baiklah. Terima kasih atas kerjasama Anda, Tuan Shin.” Dimas tersenyum, menyalami Shin Seo Hyun.


“Sama-sama, Tuan Dimas.”


Shin Seo Hyun menggenggam tangan Dimas dengan erat, membuat alis Dimas terangkat, heran. Buru-buru ia melepaskan tangannya.


“Izzah! Ini benaran Izzah, kan?”


Di jalan keluar, Izzah menoleh dan menghentikan langkah ketika mendengar seseorang memanggil namanya.


“Mas Dimas!” Izzah tak kalah kaget.


“Waaah … ternyata dunia ini benar-benar sempit ya .…”


Dimas tertawa ceria. Izzah memperlihatkan senyum manisnya. Membuat Shin Seo Hyun yang masih berdiri di dekat Dimas menjadi panas hati.


“Sepertinya begitu. Bagaimana kabar Paman dan Bibi?”


“Alhamdulillah baik-baik saja. Kamu enggak ingin tahu kabar Ki Daud?”


Shin Seo Hyun mengepalkan tangan mendengar Dimas bertanya dengan nada menggoda.


“Ah … mereka sudah saling kenal rupanya.” Seo Hyun bersungut-sungut.


“Tentu saja aku ingin tahu. Ki Daud sehat-sehat saja, kan?”


“Ya,” sahut Dimas. “Apa kamu punya waktu luang?”


Izzah melihat jam. “Tiga puluh menit.”


“Oke, itu sudah cukup!”


Dimas melirik Kang So Ra.


“Maaf, Nona. Boleh saya pinjam temanmu sebentar?”


Kang So Ra menatap Izzah. Izzah tersenyum, lalu memperkenalkan Dimas kepada Kang So Ra.


“Baiklah, Tuan Dimas. Pastikan Anda mengembalikan Izzah dengan selamat!” ujar Kang So Ra, meninggalkan Izzah dan Dimas.


Dari teras restoran, Shin Seo Hyun menatap dingin Dimas dan Izzah memasuki mobil hingga mobil itu menghilang di tengah keramaian lalu lintas Kota Seoul.


***