A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 31. Gadis Bodoh



Bau amis darah bercampur masamnya keringat dan aroma obat-obatan yang terkurung dalam kelembapan udara ruang IGD itu menghadirkan aroma khas yang menyengat, menusuk hidung serta membuat sakit kepala.


Shin Seo Hyun masih belum sadarkan diri. Di tangannya terpasang selang infus.


“Apa Tuan Shin baik-baik saja, Dok?” tanya Park Joon Soo. Kecemasan masih terukir di wajahnya.


“Tidak apa-apa, Tuan Park. Tuan Shin sepertinya mendapatkan stimulasi yang memicu kembalinya sebagian memorinya yang pernah hilang,” jawab Dokter spesialis saraf yang memeriksa Shin Seo Hyun.


Izzah yang berdiri di sisi ranjang Shin Seo Hyun terkesiap.


“Baiklah. Saya pamit dulu.” Dokter itu pamit.


Namun, sesaat kemudian ia berbalik menghadap Izzah.


“Oh ya, Dokter Izzah. mengingat kinerja Anda sangat bagus saat merawat pasien VVIP, saya percayakan perawatan Tuan Shin pada Anda.”


Deg! Deg!


Mendadak jantung Izzah berdetak cepat.


“Ya, Dok.”


Sebagai dokter magang, Izzah tak bisa menolak permintaan para dokter senior.


“Saya tidak menyangka kalau Tuan Shin pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan dia menderita amnesia,” kata Izzah bersimpati sambil menatap Shin Seo Hyun. Kedua tangannya dalam saku jas.


Park Joon Soo melirik Izzah sekilas, lalu menatap iba wajah pucat Shin Seo Hyun.


“Bukan kecelakaan seperti yang kamu bayangkan. Lebih tepatnya suatu peristiwa yang memiliki efek seperti kecelakaan,” jawab Park Joon Soo dengan nada sendu.


Kening Izzah berkerut. Ingin ia melontarkan seribu pertanyaan, tetapi diurungkannya. Rasanya kurang sopan menggali masa lalu seseorang melalui orang lain.


Shin Seo Hyun telah dipindahkan ke ruang VVIP. Izzah menemaninya sambil duduk di kursi, membaca sebuah buku.


Menjelang sore, kesadaran Shin Seo Hyun kembali. Ketika membuka mata, ia menemukan dirinya berada di ruang yang sudah tidak asing, VVIP.


Izzah masih berkonsentrasi pada bacaannya, tak menyadari Shin Seo Hyun menatapnya dalam diam.


“Hem … mungkin sebaiknya aku tetap pura-pura pingsan. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan gadis aneh ini.” Shin Seo Hyun membatin.


Sebuah akal bulus muncul begitu saja saat melihat Izzah belum menyadari bahwa ia telah siuman. Ia tersenyum licik, lalu kembali memejamkan mata. Menanti apa yang akan terjadi selanjutnya dengan jantung berdebar kencang.


Untuk beberapa waktu, belum ada tanda-tanda pergerakan dari kursi di sebelah ranjangnya. Shin Seo Hyun mulai ragu dengan niatnya.


Berpikir bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan terbaik yang ia miliki untuk membuktikan kecurigaannya, Shin Seo Hyun tetap bertahan.


Merasa matanya mulai lelah, Izzah menutup buku yang dibacanya dan meletakkannya di atas nakas.


Shin Seo Hyun masih terpejam. Izzah menghela napas berat. Sekilas diliriknya jam di pergelangan tangannya. Sudah lebih dari empat jam Shin Seo Hyun terbaring pingsan. Izzah mulai tidak tenang. Berjalan mondar-mandir, menimbang-nimbang antara tetap sabar menunggu atau menggunakan kekuatan khususnya untuk membantu


sang direktur.


Shin Seo Hyun mendengar kegelisahan Izzah dengan hati harap-harap cemas. Ia sangat berharap hari ini akan mendapatkan jawaban teka-teki yang selama ini membuat kepalanya seakan mau pecah. Di sisi lain, ia juga cemas, bagaimana kalau Izzah sadar bahwa ia sedang berpura-pura?


Keringat mulai bercucuran di kening Shin Seo Hyun. Melihat itu, Izzah bergegas mengambil tisu dan menyekanya.


“Ah! Aku tak bisa lagi hanya terus menunggu. Aku harus bertindak,” bisik Izzah di hati.


“Maafkan aku Tuan Shin, aku harus melakukan ini. Aku tidak ingin Anda terus tertidur,” ucap Izzah pelan sambil membersihkan keringat yang mulai membanjiri leher sang direktur.


“Yes! Akhirnya!” Pekik kemenangan bergema di hati Shin Seo Hyun.


Izzah berjalan menuju ujung kaki Shin Seo Hyun, lalu menyingkap selimutnya. Dengan lembut, ditekannya telapak kaki Shin Seo Hyun dengan telapak tangan kanannya.


Shin Seo Hyun merasakan hawa sejuk dan hangat secara perlahan keluar dari telapak tangan Izzah, menembus telapak kakinya, lalu merambat naik. Mengalir di sekujur tubuhnya. Rasa nyaman dan rileks menguasai tubuhnya.


Ingin rasanya Shin Seo Hyun membuka mata saat Izzah menghentikan aksinya. Namun, ia membatalkannya ketika mendengar langkah kaki Izzah semakin mendekati kepalanya.


Untuk sesaat Izzah berdiri mematung menatap Shin Seo Hyun. Seulas senyumnya terpancar saat melihat perubahan wajah sang direktur yang tak lagi sepucat kertas.


“Semoga Anda segera pulih, Tuan Shin!”


Selesai dengan ucapannya, Shin Seo Hyun merasakan hangatnya jemari Izzah memijat lembut kepalanya. Perasaan nyaman dan rileks kembali menguasai Shin Seo Hyun. Tekanan-tekanan di kepalanya terangkat seperti kapas melayang. Shin Seo Hyun benar-benar merasa damai.


Sesaat kemudian, aliran sejuk dan hangat yang berputar di kepalanya mendadak terhenti. Shin Seo Hyun memberanikan diri untuk sedikit membuka mata, mengintip.


Tampak Izzah berdiri sempoyongan sambil memijat pelipisnya. Secepat kilat Shin Seo Hyun mencabut jarum infus di tangannya, lalu bangkit menangkap tubuh Izzah sebelum tubuh gadis itu jatuh terenyak.


Izzah terkulai lemas dalam dekapan Shin Seo Hyun. Pingsan. Ia telah menyalurkan kekuatannya secara berlebihan di saat kondisi fisiknya sedang lemah.


Shin Seo Hyun merasa bersalah telah mengerjai Izzah. Ia menatap lekat wajah gadis di pangkuannya itu. Meski terlihat pucat, Shin Seo Hyun dapat melihat kecantikan Izzah benar-benar alami tanpa polesan make up.


Shin Seo Hyun membaringkan Izzah di atas ranjang yang tadi di tempatinya, lalu duduk dan meraba nadi Izzah. Detaknya begitu lemah.


Seorang dokter dan perawat langsung datang tidak lama setelah Shin Seo Hyun memencet bel. Mereka terperangah.


“Syukurlah Anda sudah sadar, Tuan Shin! Tapi, bagaimana ini bisa terjadi?" Dokter itu merasa heran melihat bukan sang direktur yang terbaring di ranjang, melainkan Izzah.


“Periksa saja!”


Shin Seo Hyun memberi perintah tanpa menjawab pertanyaan dokter itu.


Selesai memeriksa Izzah, dokter itu juga memeriksa Shin Seo Hyun untuk memastikan kondisi Shin Seo Hyun baik-baik saja.


“Bagaimana kondisi dokter Izzah?" tanya Shin Seo Hyun begitu dokter itu selesai memeriksanya. Perawat telah selesai memasang infus di lengan Izzah.


“Dia hanya kelelahan dan kekurangan nutrisi. Sepertinya dokter Izzah sering melewatkan waktu makan,” jawab dokter itu menjelaskan kondisi Izzah.


“Baiklah. Terima kasih.”


Shin Seo Hyun mempersilakan dokter dan perawat itu untuk meninggalkan ruang VVIP.


Shin Seo Hyun mengembuskan napas panjang.


“Gadis bodoh! Bagaimana bisa kamu masih berusaha menyelamatkan orang lain di saat kamu sendiri dalam kondisi lemah?”


Shin Seo Hyun memaki kebodohan Izzah. Ia tak percaya masih ada orang seperti Izzah yang rela mengabaikan dan mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan orang lain.


NYUUT!


Shin Seo Hyun mengelus dada. Tiba-tiba saja hatinya terasa sangat sakit melihat Izzah tergeletak tak berdaya. Matanya berkaca-kaca.


“Aiissh … kenapa aku selalu merasa ingin melindungi gadis aneh ini? Kenapa hatiku merasa sakit saat melihatnya begitu lemah?”


Shin Seo Hyun bertanya-tanya  pada dirinya sendiri. Dua puluh delapan tahun sudah ia hidup di dunia ini. Namun, tak pernah ia merasa seperti itu sebelumnya.


Park Joon Soo datang membawa baju ganti dan makanan pesanan Shin Seo Hyun.


***