
Keesokan harinya, Izzah ke warung kecil tidak jauh dari rumahnya, hendak membeli sebungkus roti tawar untuk tamu bulanannya. Begitu melihat kedatangan Izzah, ibu-ibu yang sudah berkumpul di sana melirik Izzah dengan tatapan penuh cemooh. Izzah tak menghiraukannya.
“Lihat tuh si Izzah. Baru dinikahi sudah langsung ditinggal pergi. Jangan-jangan ngambil laki orang,” ujar salah satu dari mereka, mencemooh Izzah.
“Iya ya … kalau enggak, ngapain juga tuh lakinya pakai kacamata hitam dan masker terus,” sambut yang lain.
“Ho .. oh … mungkin biar enggak ada yang ngenali gitu,” timpal yang lainnya, membuat kuping Izzah terasa panas.
“Tidak usah didengerin, Zah. Emak-emak sini mah emang suka gitu. Kurang kerjaan,” sahut Ibu pemilik warung, mendinginkan hati Izzah.
“Memang begitu kenyataannya kok, Bu. Coba ibu ingat-ingat! Memangnya pernah ada pengantin yang sudahlah datangnya telat … eeeh … pakai kacamata hitam dan masker terus lagi. Kan aneh!” balas wanita pertama sengit dan diamini dengan anggukan kepala oleh rekan-rekannya.
Tak ingin berlama-lama mendengar gosip khas emak-emak yang bikin hati terbakar, Izzah segera berlalu begitu menerima uang kembalian belanjanya dari pemilik warung.
Gerombolan ibu-ibu yang suka bergosip itu pun melepas kepergian Izzah dengan kerling sinis dan seringai menghina. Pemilik warung cuma geleng-geleng kepala melihat ulah ibu-ibu itu.
Rahmi dan Fadhil saling melempar pandang penuh tanya saat Izzah melintas dengan langkah terburu-buru dan kepala tertunduk lesu seakan menyembunyikan sesuatu.
BRAAAK!
Izzah membanting pintu kamar, menumpahkan kekesalannya karena omongan biang gosip di warung tadi. Lantaran khawatir, Rahmi lekas menyusul Izzah masuk ke kamar.
Ditutupnya pintu kamar anaknya itu dengan pelan saat dilihatnya Izzah duduk di tepi ranjang dengan muka masam.
“Kenapa, Nak? Kau mendengar sesuatu yang meresahkan?” tanya Rahmi lembut, mengelus pundak Izzah.
Izzah menatap bundanya penuh tanya. “Sebenarnya siapa lelaki yang menjadi suamiku, Bunda?”
Rahmi tersenyum. “Nanti kau juga akan tahu. Percayalah sama bunda!"
“Tapi, Bunda–”
Rahmi langsung memotong sanggahan Izzah.
“Nak, jangan dengarkan omongan orang lain tentang suamimu. Dia lelaki yang baik. Ingat kata-kata Bunda, seorang suami adalah orang asing yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah denganmu. Tapi ketahuilah, saat dia memutuskan untuk menjadi suamimu, itu artinya dia akan menyerahkan seluruh hidupnya, bahkan
nyawanya untukmu. Maka, hormatilah dia! Hargailah segala jerih payahnya! Dukunglah segala keputusannya dan belajarlah untuk terus mencintainya setulus hatimu karena Allah!”
“Tapi, Bunda–”
Lagi-lagi bantahan Izzah dipotong oleh Rahmi.
“Nak, sebenarnya kau bisa saja menolak perjodohan itu, tapi kau tidak melakukannya. Bukankah itu berarti kau juga telah memilih dia untuk menjadi suamimu? Maka, bertanggung jawablah atas keputusanmu itu! Yakinlah, semua akan baik-baik saja selama kau tetap yakin seperti mahar yang kau minta. Ingat, Nak! Sekarang surgamu tergantung pada rida suamimu.”
Rahmi menyudahi wejangannya dengan senyuman dan pelukan hangat seorang ibu yang menenangkan kegelisahan anaknya.
Tiba-tiba saja kabut hitam tebal yang menggelayut di hati Izzah hilang entah kemana. Nasihat bundanya telah membuka kembali kesadarannya akan makna pernikahan yang sesungguhnya.
“Benar kata Bunda, apa pun yang terjadi … aku harus ikhlas menjalani pernikahan ini. Tak peduli siapa pun lelaki yang telah menjadi suamiku. Bukan karena siapa-siapa, tapi karena aku sendirilah yang telah menerima dia untuk
menyempurnakan setengah agamaku dalam bingkai pernikahan. Aku harus bisa setegar Bunda,” batin Izzah, berjanji pada dirinya sendiri.
Rahmi mengusap kepala Izzah lembut dan penuh kasih. Ia bangga memiliki anak seperti Izzah. Sejak kecil Izzah tak pernah membantah dan selalu berbakti kepadanya. Kini sudah saatnya Izzah merasakan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Begitulah yang terlintas di pikiran Rahmi saat memutuskan menerima lamaran lelaki itu untuk anaknya.
***
Sehari setelah pernikahan, suasana rumah Izzah sudah kembali seperti sediakala. Ki Daud langsung menghilang tidak lama setelah kepergian menantunya. Sementara Fadhil baru saja terbang ke Jakarta.
Rahmi sedang pergi mengembalikan beberapa barang tetangga yang dipinjamnya saat pernikahan Izzah. Tinggallah Izzah sendiri, setia menunggu suaminya.
Sore itu cuaca sedikit berkabut. Sisa-sisa asap dari kebakaran hutan karena kemarau panjang terasa menyesakkan dada. Suhu yang kian panas benar-benar membuat gerah. Izzah beranjak ke kamar mandi setelah membersihkan sisa-sisa dekorasi yang menghias kamar tidurnya.
“Siapa kau? Keluar dari kamarku!” teriak Izzah kencang ketika menyadari seorang lelaki menerobos masuk ke kamarnya saat ia baru saja selesai mandi dengan tubuh yang hanya berbalut handuk.
Lelaki itu tak menghiraukan teriakan Izzah. Ia semakin mendekati gadis itu. Gelagapan, Izzah menyembunyikan tubuhnya di balik pintu lemari pakaian yang terbuka.
“Kau lupa ya?” tanya lelaki itu santai, membuat jantung Izzah berdetak kencang.
Menyadari tak ada orang di rumah selain dirinya, rasa takut mulai menyergap Izzah. Bagaimana kalau lelaki itu merampas miliknya yang paling berharga? Panik melihat lelaki itu semakin dekat, Izzah melemparkan baju-baju yang ada dalam lemari ke arah lelaki itu.
“Kau mau aku bantu pakaikan bajumu?” tanya lelaki itu dengan nada menggoda tanpa menghentikan langkahnya.
Kecemasan Izzah makin meningkat saat menyaksikan lelaki itu justru menangkap salah satu pakaian yang dilemparnya. Karena langkahnya yang panjang, dalam waktu singkat lelaki itu sudah berada di dekat Izzah. Memaksa gadis itu untuk terus mundur hingga membentur rak pakaian di belakangnya.
Tubuh Izzah tak lagi bisa bergerak karena terkurung kedua lengan lelaki itu. Jaraknya yang begitu dekat membuat napas Izzah tercekat.
DEG! DEG! DEG!
Jantung Izzah berdetak kencang seperti genderang perang. Ia mengepalkan kedua tangan di depan dada, mengambil posisi siaga. Sedetik kemudian ia cepat-cepat menurunkan tangan kirinya menyambar ujung handuknya yang tiba-tiba melorot, membuat lelaki itu tersenyum geli di balik masker dan kacamata hitam yang
dikenakannya.
“Kau tahu? Betapa sulitnya aku menahan diri dari pesonamu selama ini?” tanya lelaki itu dengan nada berat sambil melepas masker yang menutupi wajahnya dan melemparnya ke lantai.
“A-a-apa maksudmu?” tanya Izzah terbata-bata.
Perasaan gugup benar-benar telah menguasainya. Ia ingin berteriak, tetapi lelaki itu dengan sigap membekap mulutnya.
“Kau benar-benar membuatku gila, Zah,” sahutnya dengan napas memburu dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Izzah.
Serta merta aroma wangi yang merebak dari tubuh Izzah semakin menusuk hidungnya. Dari balik kacamata hitamnya, manik mata lelaki itu menatap Izzah penuh gelora. Membuat tubuh Izzah menggigil ketakutan. Mata Izzah bergerak liar mencari celah untuk bisa membebaskan diri dari kekangan lengan dan tubuh kekar lelaki itu.
Melihat kegelisahan Izzah, lelaki itu tersenyum licik seraya melepaskan kacamata hitamnya.
“Hah!”
Mata Izzah terbelalak tak percaya saat mengenali wajah lelaki di depannya. Kedua lututnya terasa goyah. Detak jantungnya pun makin bergemuruh.
***