A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 10. Menyelamatkan Diri



"Bismillah .…" Izzah memantapkan hati, berprasangka baik dan percaya sepenuhnya pada takdir Allah.


Mereka berjalan dalam hening. Tak ada yang buka suara untuk memulai percakapan. Izzah terlalu takut untuk bertanya walau hanya sekadar basa-basi. Cahaya senter di kepalanya mulai redup. Ia melangkah dengan lebih hati-hati.


Sudah cukup jauh mereka berjalan. Kaki Izzah seperti mati rasa saking pegalnya. Kerongkongannya terasa sangat kering. Perutnya pun keroncongan. Seharian ia belum makan nasi, hanya sepotong sandwich dan cemilan ringan. Tubuh Izzah seakan tak lagi menginjak tanah. Benar-benar lemas.


Kriiiuuuukkk!


Perut Izzah bernyanyi. Lelaki itu menghentikan langkah dan menoleh kepada Izzah.


“Sebaiknya kita istirahat dulu di sini. Sepertinya kau lapar,” ajaknya.


Izzah merasa malu, tetapi tak bisa memungkiri bahwa ia memang sangat lapar.


“Tunggu di sini! Aku akan mencari makanan.”


Izzah mengangguk. Dalam sekejap lelaki itu pun menghilang ditelan kegelapan.


Izzah tidak ingin hanya duduk diam. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tak mau hanya menjadi beban bagi orang lain. Izzah selalu memegang teguh nasihat bundanya bahwa ia harus selalu membalas kebaikan orang lain sesuai kemampuannya. Tanpa membuang waktu, Izzah bergerak mengumpulkan dahan dan ranting kering. Setelah dirasa


cukup, disusunnya kayu bakar yang telah dikumpulkannya, lalu menyalakan api dengan pemantik yang selalu dibawanya. Api pun menyala.


“Alhamdulillah .…”


Izzah menghela napas lega, kemudian duduk di atas potongan kayu besar yang tadi dipungutnya. Dinginnya angin malam dan jaket yang tidak terlalu tebal membuat tubuh Izzah mulai menggigil. Segera ia menghangatkan diri dengan mengulurkan kedua tangannya di atas api. Suara burung hantu membuat bulu kuduk Izzah meremang.


Tidak lama kemudian lelaki penolong Izzah muncul dengan membawa beberapa ekor ikan di tangan kanan dan kayu bakar di pangkuan lengan kiri.


Izzah merasa lega. Begitu sampai di tempat Izzah duduk, lelaki itu menghempaskan kayu bakar yang dibawanya dan segera duduk di dekat Izzah.


“Ternyata kau cukup bisa diandalkan,” pujinya sambil membakar ikan. Izzah hanya tersenyum kecil.


“Aku Jumali. Kau siapa?” Lelaki itu memperkenalkan diri dan bertanya dengan nada lembut.


“Ternyata sikap lelaki ini sangat berbeda dengan tampangnya,” batin Izzah.


“Aku Izzah.” Izzah pun memperkenalkan diri.


“Kenapa kau bisa berada di Hutan Larangan ini? Ini bukan tempat yang bisa dimasuki sembarang orang. Berbahaya,” selidik lelaki yang bernama Jumali itu.


Ia menyerahkan ikan yang sudah matang kepada Izzah. Izzah menyambut ikan itu, mengucapkan terima kasih dan segera melahapnya.


“Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa berada di sini,” jawab Izzah terus terang, lalu menceritakan peristiwa yang dialaminya.


Jumali mendengarkan cerita Izzah dengan serius. Kepalanya manggut-manggut. Namun, ia tak memberi komentar apa pun. Entah karena ia tak memercayai cerita Izzah sepenuhnya atau karena memang tak tahu harus berkata apa.


Setelah mengisi perut dan bercakap-cakap, Jumali dan Izzah beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga mereka. Perjalanan yang akan mereka tempuh masih cukup jauh. Jumali merebahkan tubuh di atas rerumputan, memejamkan mata. Izzah memilih untuk tetap duduk di dekat perapian, menjaga tubuhnya tetap hangat.


“Bangunkan aku setelah lima belas menit!” pintanya pada Izzah.


“Baik, Pak,” jawab Izzah.


Bintang-bintang telah menampakkan diri, menghiasi langit malam. Rembulan setengah bersembunyi di balik awan. Izzah menengadah, menatap langit, menghitung rasi bintang. Tanpa terasa, Izzah meneteskan air mata. Teringat akan bundanya. Saat ini ia pasti sangat khawatir.


“Maafkan Izzah telah membuat Bunda khawatir. Izzah baik-baik saja di sini, Bunda. Semoga Bunda juga baik-baik saja.” Izzah berbisik menatap bintang-bintang, seolah menitip pesan lewat semilir angin malam.


Lima belas menit telah berlalu. Izzah membangunkan Jumali sesuai permintaannya. Jumali membuka mata. Izzah menyandang kembali ranselnya. Mereka segera bangkit dan melanjutkan perjalanan.


“Berhenti!”


Sebuah bentakan tiba-tiba menghentikan langkah mereka. Dua orang lelaki berdiri mengadang jalan. Tubuh mereka tinggi dan kekar. Meski samar-samar, Izzah bisa melihat kalau kedua lelaki itu berwajah cukup tampan, bahkan ketampanan salah satu dari mereka menyamai seorang model. Mata mereka menatap Jumali dingin. Namun, yang


ditatap hanya diam mematung.


“Hei, Codet! Serahkan gadis itu!” perintah lelaki yang lebih tampan.


“Apa hak kalian memintanya?” tanya Codet datar.


“Ini wilayah kami. Segala sesuatu yang ada di sini berada di bawah kekuasaan kami, termasuk nyawa kalian,” bentak lelaki itu mengintimidasi.


“Memangnya kalian pikir kalian Tuhan?” ledek Codet, membuat kedua lelaki itu naik pitam.


“Kurang ajar! Cepat serahkan gadis itu sebelum kami bertindak kasar!” Lelaki itu semakin murka. Codet membentangkan tangan kirinya, melindungi Izzah.


“Mundurlah!” perintah Codet kepada Izzah. Izzah segera melangkah mundur.


“Ambil sendiri kalau kalian bisa!” tantang Codet.


Tanpa membuang waktu, kedua lelaki itu menyerang Codet. Kemampuan bela diri mereka sangat bagus. Izzah hanya berdiri mengawasi jalan pertarungan antara Jumali dan dua lelaki yang mengaku sebagai penguasa Hutan Larangan itu. Hampir satu jam mereka bertarung. Belum ada tanda-tanda kekalahan dari salah satu pihak yang bertarung.


Sementara itu, dari atas sebatang pohon yang cukup besar, seorang lelaki bertopeng ikut menyaksikan pertarungan antara Jumali dan dua orang pengadangnya. Matanya tak berkedip mengikuti setiap gerakan Jumali. Sesekali ia menyunggingkan senyum ketika melihat Jumali terkena pukulan lawan.


“Ternyata kemampuan bela diri Si Codet lumayan bagus,” gumamnya.


Ia segera melompat turun dan ikut bertarung begitu salah satu dari dua lelaki itu jatuh tersungkur terkena serangan Jumali dan tak lagi mampu berdiri untuk melanjutkan pertarungan. Keadaan menjadi tak seimbang. Jumali yang sudah kelelahan mulai terdesak.


Melihat itu, Izzah tidak tinggal diam. Ia turun tangan membantu Jumali. Jumali kaget. Tak menyangka jika gadis itu juga memiliki kemampuan bela diri. Izzah berhasil mengalahkan lelaki tampan yang menjadi lawannya. Namun, di waktu bersamaan terdengar jerit kesakitan Jumali. Perutnya terkena sabetan pisau dari lelaki bertopeng.


Jumali jatuh tersungkur berlumuran darah. Izzah segera berlari menghampiri Jumali dan menekan bagian perut yang terluka. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Izzah mengalirkan energi penyembuh untuk menghentikan pendarahan pada luka Jumali.


“Ternyata cuma segitu kemampuan bela diri kalian? Sok-sokan menantang kami,” ejek lelaki bertopeng.


“Lekas pergi, Izzah! Selamatkan dirimu! Tinggalkan aku!” perintah Jumali ketika melihat lelaki bertopeng itu berjalan mendekati Izzah. Ia mencium bahaya.


“Tapi, Paak  .…” Izzah ragu. Hatinya berat meninggalkan penolongnya dalam kondisi terluka dan telah kehilangan banyak darah.


“Tidak ada waktu lagi, Izzah. Sekarang!” Jumali cemas. Lelaki bertopeng itu semakin dekat.


Baru saja Izzah akan berlari meninggalkan Jumali, tahu-tahu lelaki bertopeng itu telah mencekal pergelangan tangannya.


“Mau kemana, Cantik?” Lelaki itu menyeringai.


“Lepaskan! Kau membuat tanganku terasa sakit.”


Izzah mengatakan itu dengan setenang mungkin. Lelaki itu berusaha menyembunyikan keterkejutannya atas sikap tenang Izzah. Belum pernah ia menemukan gadis seberani itu.


“Apa? Lepaskan? Jangan mimpi kamu!” Cekalannya semakin kuat.


Izzah meringis menahan sakit. Ia berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman lelaki itu, tetapi ia kalah tenaga. Ia terlalu lelah.


“Kamu tidak takut? Harusnya kamu menangis memohon agar aku lepaskan.”


Lelaki itu penasaran kenapa gadis di depannya begitu gigih melepaskan diri dan masih saja bersikap tenang, seolah tak memiliki rasa takut sedikit pun.


Dalam hati, Izzah sebenarnya merasa gentar. Ia sangat takut kalau lelaki itu akan berbuat buruk kepadanya. Ia tidak ingin kehilangan miliknya yang sangat berharga, yang selama ini selalu dijaganya. Di sisi lain, ia juga tidak ingin tampak terintimidasi, apalagi ketakutan. Ia benar-benar tidak ingin terlihat lemah.


Izzah terus berusaha melepaskan diri sambil bergerak setengah lingkaran. Kini lelaki bertopeng itu berdiri antara Izzah dan Jumali yang tergeletak pingsan. Ia terkekeh melihat kegigihan Izzah yang belum membuahkan hasil. Sikap lengah lelaki itu segera dimanfaatkan Izzah. Secepat kilat ia melayangkan tendangan ke arah area sensitif lelaki itu.


Merasakan sakit yang teramat sangat, lelaki itu refleks melepaskan cengkeramannya dari tangan Izzah. Ia merunduk dan memegang aset pribadinya yang paling berharga. Izzah berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan Jumali dan lelaki jahat itu.


Izzah berhenti mengatur napasnya yang ngos-ngosan karena berlari kencang. Ia membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada lutut. Namun, sesaat kemudian ia mendengar langkah kaki berlari di belakangnya.


“Sial! Lelaki itu mengejarku,” umpat Izzah, lalu segera berlari kembali.


Derap langkah kaki itu semakin dekat dan semakin dekat. Izzah tidak ingin tertangkap. Ia terus berlari … berlari … dan terus berlari ….


***