A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 81. Rahasia



Tiga hari setelah resepsi sederhana dan hanya dihadiri keluarga dekat serta beberapa kolega dilaksanakan di sebuah hotel mewah, Izzah kembali masuk kerja. Suaminya telah membatalkan rencana bulan madu mereka dan menundanya gara-gara kedatangan tamu rutin Izzah.


“Hallo … selamat pagi semua …,” ujar Izzah ceria, menyapa rekan-rekannya di ruang IGD.


“Waaah … Dokter Izzah benar-benar penuh kejutan,” canda seorang dokter muda, menyambut kemunculan Izzah dengan senyuman lebarnya.


Belum sempat Izzah meletakkan tasnya, Kang So Ra sudah menarik tangannya menjauh dari yang lainnya. Sepertinya ia sangat penasaran dengan pernikahan Izzah yang terkesan mendadak dan sembunyi-sembunyi.


“Gimana rasanya setelah menikah?” bisik Kang So Ra.


Ia bertanya tanpa basa-basi. Wajahnya benar-benar penuh semangat, ingin mengetahui pengalaman pribadi Izzah melewati malam pertama.


“Apanya yang gimana?” Izzah balik bertanya, pura-pura tak mengerti arah pembicaraan Kang So Ra.


“Issh … kamu ini … kura-kura dalam perahu,” sahut Kang So Ra terlihat sewot. Bibirnya mengerucut cemberut.


“Kamu sudah melakukannya, kan? Sakit, enggak?” kejarnya lagi. Rupanya ia benar-benar penasaran.


Pipi Izzah memerah. Menahan malu sekaligus kesal. Ia bergeming. Prinsip Izzah, urusan ranjang adalah rahasia pribadi yang hanya boleh diketahui pasangan suami istri dan sangat tidak pantas untuk diceritakan kepada orang lain.


“Rahasia dong …,” sahut Izzah setelah lama terdiam menata emosinya. Ia pun berjalan menuju ruang istirahat. Kang So Ra mengejarnya.


“Ayo dong, Zah … ceritakan sedikit saja!” bujuk Kang So Ra dengan wajah memelas.


Kepalanya mengangguk-angguk. Sepuluh jarinya menyatu di depan dada disertai tatapan puppy eyes yang mampu menggoyahkan iman.


Izzah menghentikan langkah dan tersenyum menatap Kang So Ra.


“Benaran mau tahu?" tanyanya. Kang So Ra langsung mengangguk antusias.


“Sini …,” bisik Izzah, meminta Kang So Ra mendekat dengan kode jari telunjuknya.


Bergegas Kang So Ra mendekatkan kupingnya ke mulut Izzah. Siap menampung segala informasi yang akan meluncur dari bibir sahabatnya itu.


“Nikah dulu sana!” tukas Izzah seraya berlari kecil meninggalkan Kang So Ra, bengong.


“Aiish … Izzah … kamu ngerjain ya …,” pekik Kang So Ra begitu tersadar.


Lekas-lekas ia memburu Izzah. Ia masih tidak ingin menyerah sebelum berhasil mengorek keterangan yang diinginkannya dari mulut Izzah.


“Dokter Izzah!” Terdengar seseorang berteriak memanggil Izzah.


Izzah berhenti dan menoleh. Tampak Park Joon Soo berlari ke arahnya.


“Ya?” tanya Izzah.


“Itu … dipanggil Direktur Shin,” sahut Park Joon Soo sedikit kikuk.


Ia belum sempat menginjakkan kaki di ruang kerjanya ketika Shin Seo Hyun memintanya untuk memanggil Izzah.


“Oh … baiklah. Terima kasih,” ujar Izzah datar.


Park Joon Soo segera membungkuk dan berlalu dari hadapan Izzah.


Izzah naik ke ruang direktur dengan hati bertanya-tanya.


“Ngapain juga si bos pagi-pagi sudah manggil,” rungutnya disertai perasaan heran.


Begitu mengetuk pintu, langsung terdengar sahutan dari dalam.


“Masuk!”


Izzah pun membuka pintu dan masuk. Ia agak gugup. Lututnya bahkan sampai mengalami sedikit tremor saat berjalan memasuki ruangan direktur itu.


“Silakan duduk!” perintah Shin Seo Hyun sambil menunjuk sofa.


Izzah pun mengenyakkan pantat di tempat yang ditunjuk sang direktur.


Begitu Izzah duduk, Shin Seo Hyun langsung bergerak menuju pintu dan menguncinya. Membuat alis Izzah bertaut.


“Kenapa dia mengunci pintu?” batin Izzah.


“Ini kantor Direktur Shin, bukan rumah!” bisik Izzah tegas.


Shin Seo Hyun menyilangkan kaki dan melipat kedua tangannya di dada. Sedetik kemudian ia memejamkan mata.


“Beri aku waktu lima menit. Aku butuh tenaga untuk menyelesaikan berkas yang menggunung itu,” sahutnya santai. Izzah menarik napas panjang.


“Bagaimana kalau ada yang datang?” tanya Izzah rada khawatir


“Aku sudah mengunci pintu dan Pak Joon Soo tidak akan muncul jika tidak kupanggil,” sahut Shin Seo Hyun dengan mata masih terpejam,


Sesaat kemudian ia memiringkan tubuhnya ke kanan. Melingkarkan lengan kirinya di pinggang Izzah dan menyembunyikan wajahnya di perut sang istri.


Izzah mengelus lembut rambut suaminya. Kehangatan secara perlahan juga mulai mengaliri jiwanya.


TOK! TOK! TOK!


Suara ketukan pintu membuat Izzah menoleh. Namun, Shin Seo Hyun seakan tak mendengarnya.


“Mas, bangun dong … ada tamu tuh,” bisik Izzah di telinga Shin Seo Hyun.


“Biarkan saja!” ujar Shin Seo Hyun. “Paling Joon Soo, padahal sudah dibilang jangan datang kalau tidak dipanggil.” Shin Seo Hyun bersungut keki.


“Siapa tahu bukan dia, Mas,” lanjut Izzah, mulai sedikit kesal ketika ketukan di pintu semakin keras.


Dengan terpaksa, Shin Seo Hyun duduk dari pangkuan  Izzah. Untuk sesaat ia dan Izzah saling pandang.


BIP! BIP!


Bunyi pesan masuk. Shin Seo Hyun membuka ponselnya.


Tn. Dimas Prasetyo


+82XXXXXXXXXX


Aku  di depan pintu


Shin Seo Hyun menghela napas.


“Siapa?” tanya Izzah, ingin tahu.


“Tuan Dimas,” sahut Shin Seo Hyun, tak bersemangat. Diliriknya jam di pergelangan tangannya. Pukul 09.05.


“Kenapa dia datang lebih awal?” sungut Shin Seo Hyun, merasa terganggu dengan kehadiran Dimas.


“Mungkin ada hal yang sangat mendesak,” sahut Izzah, mendinginkan emosi suaminya.


“Kau mau aku yang membukakan pintu untuknya?” tawar Izzah, melihat Shin Seo Hyun berjalan dengan menyeret langkah.


“Apa? Enak saja. Aku masih bisa melakukannya,” sergah Shin Seo Hyun cepat, lalu memperpanjang langkahnya menuju pintu. Membuat Izzah tersenyum geli.


Begitu pintu terbuka, Dimas langsung menerjang masuk.


“Izzah?” Dimas kaget melihat Izzah duduk manis di atas sofa. Tatapan matanya penuh curiga.


Belum sempat Izzah menyapa Dimas, Shin Seo Hyun langsung menyela.


“Dokter Izzah, anda boleh keluar sekarang!” perintah Shin Seo Hyun pada Izzah. Sorot matanya terlihat tidak senang dengan cara Dimas menatap Izzah.


“Permisi, Tuan. Mas Dimas,” pamit Izzah.


“Silakan duduk, Tuan Dimas!” ujar Shin Seo Hyun kepada Dimas setelah Izzah meninggalkan ruang itu.


Setengah jam lebih Dimas berada di ruang Shin Seo Hyun, membahas kerja sama mereka. Selama itu hati Dimas tak tenang. Ia tak bisa fokus pada pembicaraan. Pikirannya di penuhi oleh bayangan Izzah. Ia penasaran kenapa Izzah berada di ruang kerja Shin Seo Hyun dalam kondisi terkunci. Akan tetapi, ia terlalu sungkan untuk bertanya langsung pada lelaki yang berada di depannya itu.


Shin Seo Hyun mengamati Dimas dengan kening berkerut. Ia tahu konsentrasi lelaki itu terganggu, tetapi ia juga bingung bagaimana memberitahu Dimas tentang pernikahannya dengan Izzah, karena ia dan Izzah sudah sepakat untuk sementara waktu merahasiakan status mereka kecuali pada segelintir orang.


Saat Dimas keluar dari ruangannya, Shin Seo Hyun hanya bisa mengiring kepergian lelaki itu dengan desahan napas panjang.


***