A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 54. Canggung



“Halo, Bibi Sandra,” sapa Park Joon Soo ramah pada seorang perempuan yang baru saja keluar dari dapur setelah menata ulang isi kulkas Shin Seo Hyun.


“Halo, Joon Soo. Mencari Seo Hyun?” sahut wanita itu ramah.


“Ya, Bibi. Saya mau mengantar pesanan Seo Hyun,” jawab Park Joon Soo sambil mengangkat kantong obat yang dibawanya dari apotik.


“Saat Bibi masuk tadi, Bibi tidak melihat Shin Seo Hyun.  Tapi … coba cek di kamar kedua ya … mungkin saja dia sudah pulang dan sekarang berada di sana,” ujar Sandra dengan senyum misterius seraya melangkah ke kamarnya, membuat alis Park Joon Soo terangkat.


“Sepertinya Bibi Sandra sudah mengetahui keberadaan Dokter Izzah,” gumam Park Joon Soo sembari menaiki tangga.


TOK! TOK!


Park Joon Soo mengetuk pintu.


“Ya. Masuk!” perintah Shin Seo Hyun. Ia yakin itu Park Joon Soo.


Park Joon Soo mendorong daun pintu perlahan, lalu melangkah masuk dan berdiri di samping Shin Seo Hyun.


“Ini obatnya,” kata Park Joon Soo seraya meletakkan kantong obat yang dibawanya di atas meja kecil di samping ranjang.


Shin Seo Hyun berdiri dan segera memasang selang infus di tangan Izzah. Begitu selesai, ia duduk terenyak dan bersandar di sofa, disusul Park Joon Soo.


“Bagaimana kondisi Dokter Izzah?” tanya Park Joon Soo, prihatin melihat tampang kusut Shin Seo Hyun yang kurang tidur.


“Dia hanya kelelahan. Butuh istirahat selama beberapa hari,” sahut Shin Seo Hyun lesu. Matanya menerawang jauh.


“Terjadi sesuatu?”


Dari ekspresi Shin Seo Hyun, ia tahu sahabatnya tengah terganggu oleh sesuatu. Shin Seo Hyun menghela napas.


“Entahlah. Aku hanya tak mengerti bagaimana Izzah tiba-tiba menghilang, lalu mendadak sudah terbaring lagi di sini,” jawab Shin Seo Hyun datar.


“Kurasa kau hanya tidak melihat saat Dokter Izzah keluar dan kembali,” tukas Park Joon Soo, memberikan pendapatnya.


“Ooh ... jadi gadis cantik itu bernama Izzah ya?”


Tiba-tiba Sandra muncul dengan dua cangkir kopi panas dan sepiring kue. Shin Seo Hyun terperangah dan langsung duduk lurus.


“Bibi Sandra? Kapan pulang?”


“Tadi pagi.”


“Jadi, semua ini ulah Bibi?” tanya Shin Seo Hyun, meminta kepastian. Sandra tersenyum


“Aku menemukan gadis itu pingsan di halaman,” jawab Sandra setengah berbohong.


“Alhamdulillah. Bibi tahu? Aku tadi cemas setengah mati,” kata Shin Seo Hyun jujur, membuat Sandra dan Joon Soo saling lempar senyum saat melihat raut muka Seo Hyun kembali berbinar.


Saat Izzah tersadar, suara berisik diselingi gelak tawa membuatnya langsung berpaling ke arah sofa. Ia melihat Shin Seo Hyun dan Park Joon Soo berbincang seru dengan seorang wanita cantik dan berhijab seperti dirinya.


“Kau sudah sadar?” tanya wanita itu hangat begitu menyadari gadis yang tadi pagi ditolongnya itu menatap mereka.


Sontak Shin Seo Hyun bangkit mendekati Izzah.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya Shin Seo Hyun tanpa mampu menyembunyikan kekhawatirannya.


“Alhamdulillah masih bisa bertemu Anda, Tuan Shin,” sahut Izzah dingin. Namun, berhasil mengundang senyum Park Joon Soo dan Sandra.


Untuk sesaat Joon Soo dan Sandra saling berbisik. Shin Seo Hyun tak menyahut.


“Baiklah. Kami keluar dulu, Tuan Shin. Semoga lekas sembuh Dokter Izzah. Beristirahatlah dengan baik!” pamit Park Joon Soo seraya meninggalkan kamar itu.


Sandra meraba kening Izzah. Panasnya sudah turun. Ia tersenyum menatap Izzah.


“Beristirahatlah, Nona! Beritahu saya jika Anda menginginkan sesuatu!” ujarnya ramah sebelum beranjak keluar menyusul Park Joon Soo.


“Terima kasih, Bi,” sahut Izzah lemah.


“Bi, bisakah Bibi memasakkan bubur untuk Dokter Izzah?” pinta Shin Seo Hyun sebelum Sandra menghilang di balik pintu.


“Tentu saja. Akan aku buatkan bubur yang enak,” ujarnya.


Sepeninggal Park Joon Soo dan Sandra, Shin Seo Hyun duduk di samping Izzah.


“Bukankah aku sudah pernah bilang agar kau berhenti membuatku khawatir? Kenapa kau tak mendengarkanku?” cecar Shin Seo Hyun. Di matanya masih tersirat kecemasan.


“Maaf, Tuan Shin! Aku tidak bermaksud begitu,” elak Izzah.


“Kau lupa kesepakatan kita?” tanya Shin Seo Hyun membuat Izzah tercenung.


“Lupakan saja! Kuharap lain kali kau akan mengingatnya,” sahut Shin Seo Hyun lembut.


Izzah mencoba duduk. Shin Seo Hyun segera membantunya dan menumpuk beberapa bantal agar Izzah bisa duduk bersandar dengan nyaman.


Tidak lama kemudian, Sandra masuk membawakan semangkuk bubur ayam serta secangkir jahe hangat campur madu. Shin Seo Hyun langsung menyambutnya.


“Terima kasih, Bi,” ujar Shin Seo Hyun dan Izzah bersamaan.


Sandra menatap Shin Seo Hyun dan Izzah bergantian dengan senyum terkembang.


“Semoga Nona menyukainya,” kata Sandra.


“Tentu saja saya akan makan dengan baik,” sahut Izzah.


Sandra senang mendengar tutur kata Izzah. Di matanya gadis itu sangat sopan dan santun.


Sandra cepat-cepat beranjak meninggalkan Shin Seo Hyun dan Izzah. Ia tidak ingin menjadi nyamuk pengganggu di kamar itu.


“Aaaa ...,” ujar Shin Seo Hyun, meminta Izzah membuka mulutnya seraya menyodorkan sesendok bubur. Izzah merasa risi.


“Aku bisa melakukannya sendiri, Pak Direktur,” tolak Izzah sungkan. Shin Seo Hyun hanya tersenyum.


“Tamu adalah raja. Itu artinya kau adalah ratu. Biarkan aku menjadi pelayan setiamu,” tegas Shin Seo Hyun.


Izzah masih menutup mulutnya. Ia merasa aneh mendengar kata-kata Shin Seo Hyun.


“Apa Direktur Shin menerima pukulan keras di kepalanya kemarin?” batin Izzah.


“Ayolaaah! Pegal nih, atau mau aku buka dengan paksa?” tanya Shin Seo Hyun, membuat Izzah mendelik. Shin Seo Hyun tertawa melihat mata Izzah semakin membulat.


DEG! DEG!


Jantung Izzah berdegup kencang mendengar tawa Shin Seo Hyun yang begitu merdu di telinganya.


Meski malu-malu, akhirnya Izzah membuka mulutnya dengan perlahan dan melahap bubur yang disuapi Shin Seo Hyun hingga sendok terakhir. Ia benar-benar lapar.


Shin Seo Hyun menyeka bibir Izzah yang berlepotan dengan sapu tangannya.


DEG! DEG!


Detak jantung Shin Seo Hyun seakan berpacu. Sejurus Shin Seo Hyun dan Izzah saling beradu pandang. Lalu, keduanya cepat-cepat saling membuang muka. Sesaat suasana mendadak terasa canggung.


“Minumlah!” ujar Shin Seo Hyun kemudian sambil menyodorkan bibir cangkir ke mulut Izzah.


Pelan-pelan Izzah menyeruput jahe hangat itu tanpa berani menatap Shin Seo Hyun. Pun demikian halnya dengan Shin Seo Hyun. Matanya fokus pada cangkir yang dipegangnya. Diam-diam keduanya sibuk berjuang menata hati masing-masing.


“Istirahatlah atau kau ingin aku membawakan novel untukmu?” tanya Shin Seo Hyun.


“Tidak usah. Bantu aku mengambil ponselku,” sahut Izzah, melirik tasnya yang diletakkan Shin Seo Hyun di atas meja.


“Ini. Tapi ingat, jangan lama-lama. Radiasinya bisa memperlambat proses pemulihanmu,” nasihat Shin Seo Hyun seraya menyerahkan ponsel itu kepada Izzah.


“Iya … Pak Dokteeer … bawel ah!” rajuk Izzah sebel lantaran diperlakukan bak pasien anak. Rona muka Izzah membuat Shin Seo Hyun makin gemas.


Merasa tak kuat lama-lama berada di dekat Izzah, Shin Seo Hyun lantas turun membawa nampan kosong bekas makan Izzah. Hatinya semringah.


“Lo! Masih di sini, Joon Soo?” seru Shin Seo Hyun, kaget melihat Park Joon Soo masih asyik berbincang dengan Sandra di meja dapur sambil menikmati buah-buahan segar.


Diletakkannya nampan kosong yang dibawanya di atas wastafel cuci piring, lalu ikut duduk bersama Joon Soo dan Sandra.


“Sudah lama tidak ngobrol sama Bibi Sandra. Masa iya langsung pulang,” sahut Joon Soo sembari memasukkan potongan besar buah kesemek ke dalam mulutnya.


“Bukannya izin cuti Bibi masih tersisa dua hari lagi ya?” tanya Shin Seo Hyun, merasa aneh dengan kehadiran Sandra yang lebih cepat dari jadwal seharusnya.


“Bi Sandra nggak tahan pisah lama-lama sama aku,” seloroh Park Joon Soo yang langsung dihadiahi jitakan di kepala oleh Sandra. Park Joon Soo meringis mengusap kepalanya.


“Bukannya kamu yang sudah kebelet pengen makan masakan Bi Sandra?” ledek Shin Seo Hyun sambil mengupas sebutir apel merah. Namun, matanya sesekali melirik Sandra, menanti jawaban.


“Kurasa dalam waktu dekat keberadaanku di rumah ini sudah tidak akan dibutuhkan lagi,” ujar Sandra, membuat Shin Seo Hyun menghentikan kegiatannya.


“Apa maksud Bibi berkata begitu?” tanya Shin Seo Hyun tak mengerti.


Sandra bukannya menjawab pertanyaannya, tetapi malah memberinya teka-teki.


Park Joon Soo and Sandra saling lempar senyum penuh misteri melihat tampang lugu Shin Seo Hyun.


***