
“Aw!” pekik Izzah.
Tiba-tiba ia terpeleset karena terinjak ujung gamisnya yang kepanjangan. Refleks Shin Seo Hyun menangkap tubuh Izzah, lalu secepat kilat menggendong istrinya itu tanpa memedulikan tatapan Naimah dari meja makan. Merasa malu hati, Naimah menahan senyum dan saling pandang dengan Ki Daud hingga Shin Seo Hyun mendudukkan Izzah di kursi. Ia pun duduk di sebelah Izzah.
Sarapan pagi yang terlambat itu pun berlangsung diselingi obrolan ringan mertua dan menantu.
TRING!
Tanpa sengaja Shin Seo Hyun menjatuhkan sendok ke lantai.
“Oh … maaf!” ujarnya cepat seraya merunduk, memungut sendok itu dari lantai.
“HAH?”
Mata Ki Daud menyipit ketika melihat kalung yang dipakai Shin Seo Hyun jatuh menjuntai. Cepat-cepat ia menghabiskan makanannya, kemudian pamit dan berlalu ke ruang kerjanya.
“Ada apa Ki? Kok buru-buru sekali?” tanya Jumali hampir bertabrakan dengan Ki Daud di pintu laboratorium pribadinya.
“Ah! Kebetulan kau masih di sini. Hubungi Dimas dan Abbas secepatnya. Minta mereka lekas datang ke sini!” perintah Ki Daud tegas, lalu bergegas masuk ke ruang kerjanya.
Meski merasa aneh, Jumali tak berani bertanya lebih jauh karena Ki Daud langsung meninggalkannya tanpa menoleh.
“Pasti ada hal yang sangat mendesak,” pikirnya seraya mengeluarkan ponsel menghubungi Abbas.
***
Pukul 09.15. Izzah membawa Shin Seo Hyun mengitari taman pribadi ayahnya. Setiap keindahan yang tampak di taman itu benar-benar menjadi perhiasan dunia yang memesona. Memanjakan mata siapa pun yang memandangnya.
Shin Seo Hyun dibuat takjub oleh kecantikan istrinya berdiri di tengah hamparan bunga. Beberapa kupu-kupu hinggap di kepala Izzah, melingkar seperti mahkota.
Kala mentari makin meninggi, Shin Seo Hyun mengajak istrinya berteduh di bawah naungan sebatang pohon besar. Ia duduk bersandar, berselonjor kaki dan membiarkan Izzah berbaring di pangkuannya, memainkan sebatang rumput.
“Kau tahu? Aku merasa beruntung memilikimu sebagai istriku,” bisiknya sambil membelai pipi Izzah.
“Huh?” Izzah menoleh.
“Kau ingat pernah menolong seorang remaja yang babak belur di tengah jalan?” tanya Shin Seo Hyun. Izzah tampak berpikir sesaat.
“Hem … seingatku, aku hanya pernah menolong sepupu Safitri,” sahut Izzah datar
“Yah. Sejak saat itu aku berjanji untuk menjadi lelaki yang kuat dan akan selalu melindungimu,” timpal Shin Seo Hyun.
“Tunggu! Maksudmu … kau sepupu Safitri?” tanya Izzah, baru mulai paham dengan cerita suaminya.
Shin Seo Hyun mengangguk, lalu mengeluarkan selembar foto dari dompetnya. Izzah ingat, saat itu ia tengah menikmati semangkuk es krim ketika Safitri memanggil dan memotretnya. Safitri selalu begitu, curi-curi kesempatan untuk memotret Izzah karena ia selalu menolak kalau diajak berfoto.
“Tapi … bagaimana kau bisa berdiri di belakangku dan ikut berfoto?” tanya Izzah polos. Seingatnya, tak ada orang lain selain dirinya dan Safitri saat itu. Shin Seo Hyun tertawa.
“Aku masuk diam-diam,” sahutnya.
“Jangan-jangan kau juga yang sengaja mengundang Safitri ke Korea saat hari kepulanganku ke Indonesia?” tebak Izzah.
“Yep! Kau makin pintar sekarang,” puji Shin Seo Hyun berseloroh.
“Rahasia apa lagi yang kau sembunyikan dariku?” tanya Izzah penasaran. Shin Seo Hyun tampak berpikir.
“Kurasa aku sudah mengatakan semuanya,” sahut Shin Seo Hyun, sedikit ragu.
“Kau bohong! Lalu, bagaimana kau meyakinkan bundaku untuk menerimamu?” kejar Izzah
“Ah! Itu bukan aku yang melakukannya, tapi Papa Ha Na.”
“Oh ya? Haruskah aku percaya itu?”
Izzah mengangguk.
“Dia menyewanya untuk memata-matai kita dan memintanya mengirim foto-foto itu secepatnya.”
“Waah … rasanya aku ingin memukul wajah Tuan Kang,” ujar Izzah kesal, membuat Shin Seo Hyun tertawa lepas. Muka sewot Izzah sungguh bikin gemas.
“Aku pun awalnya merasa begitu,” timpal Shin Seo Hyun setelah menghentikan tawanya.
“Tapi … saat mendapat kabar bundamu akhirnya yakin menerima lamaranku setelah melihat foto-foto itu, aku jadi ingin memeluknya,” lanjutnya lagi.
“Hem … kau lebih licik dari yang kukira,” desis Izzah
“Tidak. Bukan licik. Aku hanya lebih cerdas,” bantah Shin Seo Hyun seraya menyumbat mulut Izzah dengan bibirnya saat dilihatnya Izzah membuka mulut ingin menyanggah ucapannya.
Seluruh penghuni taman menjadi saksi keterbukaan dan kemesraan sepasang anak manusia yang mencoba saling menyatukan rasa. Desir angin seakan berbisik pada dedaunan, menyampaikan cerita cinta yang didengarnya. Bahkan, rerumputan yang bergoyang seolah menari gembira dan ikut bersuka cita.
Shin Seo Hyun membelai kepala istrinya penuh kasih. Mencoba mengusir ingatan masa lalu Izzah akan kejamnya perlakuan seorang suami.
“Tuan Shin! Izzah!” teriak Jumali, memanggil Shin Seo Hyun dan Izzah seraya berlari dengan napas memburu. Bergegas Izzah duduk.
“Kenapa, Pak?” tanya Izzah sedikit cemas dan ikut berdiri di samping Shin Seo Hyun.
Jumali masih sibuk mengatur napas dan tak langsung menjawab pertanyaan Izzah.
“Kalian harus pulang sekarang! Ki Daud menunggu di ruang kerjanya,” sahut Jumali setelah sedikit lebih tenang.
“Baik, Pak. Bapak duluan saja! Kami akan menyusul,” kata Shin Seo Hyun.
***
Manusia hanyalah pemegang pensil untuk menorehkan sejuta sketsa rencana akan masa depan. Namun, Tuhan-lah yang memegang penghapusnya. Menghapus setiap goresan yang tak sesuai dengan kehendak-Nya, lalu menggantinya dengan yang lebih baik, tersembunyi di balik misteri dan teka-teki yang tak jarang menuntut pengorbanan serta menguras air mata.
Ketika Shin Seo Hyun dan Izzah tiba di ruang kerja Ki Daud. Dimas dan Abbas sudah berada di situ lebih dulu. Mengundang tatapan heran Shin Seo Hyun dan Izzah.
Dimas pun tak kalah kaget melihat kehadiran Shin Seo Hyun dan bertanya-tanya di hati kenapa lelaki itu bisa berada di Negeri Seribu Bunga.
“Nah, karena kalian berempat sudah berkumpul di sini, ayo ikut aku!” ajak Ki Daud.
Meski semua saling melempar pandang tak mengerti, tetapi mereka tetap mengekor di belakang Ki Daud.
Shin Seo Hyun berdecak kagum menyaksikan kecanggihan laboratorium Ki Daud. Dan Ketika sebuah pintu ruang rahasia terbuka, semua mata terbelalak tak percaya. Di hadapan mereka terpampang sebuah panel teknologi canggih dan monitor layar lebar dengan tombol-tombol beraneka warna.
Belum hilang kekagetan mereka, tiba-tiba Ki Daud sudah angkat bicara.
“Serahkan masing-masing kunci yang kalian pegang,” pinta Ki Daud, menadahkan kedua tangannya.
Dimas dan Abbas bergegas melepaskan kalungnya disusul Izzah. Shin Seo Hyun masih berdiri terpaku, tak mengerti.
“Kau juga,” ujar Ki Daud pada Shin Seo Hyun, membuat Dimas dan Abbas ternganga.
“Sebentar, Ki!” sela Dimas. Semua menoleh ke arah Dimas
“Ki Daud yakin Tuan Shin yang memegang kunci keempat?” tanyanya ragu. Ki Daud mengangguk.
“Buka kalungmu!” pinta Ki Daud pada menantunya.
Meski masih belum paham dengan apa yang sebenarnya terjadi, Shin Seo Hyun menuruti perintah mertuanya. Ia pun melepaskan kalung yang dikenakannya dan menyerahkannya pada Ki Daud.
***