
Purnama bulat sempurna di langit Kota Seoul. Bercermin muka pada permukaan Sungai Han yang membiaskan cahaya keperakan dari lampu-lampu di tepi sungai itu.
Keindahan lampu warna-warni dan atraksi air mancur dari jembatan yang membelah Sungai Han menghadirkan kesan romantis bagi muda-mudi yang menghabiskan waktu di sepanjang tepian sungai.
Di tepi pagar kapal yang membawanya mengarungi Sungai Han, Izzah berdiri berpangku tangan. Jilbabnya berkibar-kibar terkena embusan angin malam. Hawa dingin menembus pori, menusuk tulang. Membuat angan melambung masuk ke lorong rindu tak berpintu.
Shin Seo Hyun melepas jaket yang dikenakannya. Izzah menoleh ketika merasakan seseorang menyampirkan sesuatu di pundaknya.
“Pakailah! Cuaca semakin dingin.” Shin Seo Hyun berkata lembut dan tersenyum manis.
“Terima kasih.” Izzah membetulkan posisi jaket itu agar lebih menghangatkan tubuhnya.
“Bagaimana? Kamu suka?” tanya Shin Seo Hyun. Ia melirik Izzah sembari mengumbar senyuman menawan.
“Ya. Sangat indah,” sahut Izzah dengan nada sedikit lebih ramah. Senyuman Shin Seo Hyun semakin lebar menyadari hal itu.
Tak bisa dipungkiri bahwa menikmati Sungai Han di malam hari tak ubahnya seperti melihat kilau permata aneka warna. Izzah seakan terbius oleh pesona romantisme Sungai Han.
“Sebentar lagi, kamu akan menyaksikan sesuatu yang lebih indah,” ujar Shin Seo Hyun berpromosi.
“Oh ya? Aku jadi tidak sabar,” balas Izzah bersemangat. Ia mulai terbuai oleh suasana.
“Lihat!”
Shin Seo Hyun menunjuk langit. Izzah mengarahkan pandangannya mengikuti telunjuk Shin Seo Hyun. Tampak atraksi kembang api berbagai rupa menghias angkasa. Orang-orang di kapal bersorak gembira.
“Luar biasa! Aku belum pernah melihat kembang api seindah itu,” seru Izzah riang.
Melihat senyum Izzah merekah, hati Shin Seo Hyun lebih bahagia. Matanya tak teralihkan dari wajah Izzah yang begitu terpesona menikmati keindahan kembang api yang berpijar di atas sana. Bagi Shin Seo Hyun, wajah bahagia Izzahlah kembang api terindahnya.
Puas mengelilingi Kota Seoul dengan menyusuri romantisme Sungai Han selama satu jam, kapal kembali merapat di Dermaga Yeongdeungpo-gu.
Turun dari kapal, Shin Seo Hyun mengajak Izzah menikmati pesona tepian Sungai Han dengan berjalan santai. Dekorasi yang apik, dilengkapi bangku-bangku panjang hampir di setiap sudut, benar-benar tempat yang sempurna bagi pasangan muda untuk memadu kasih. Izzah merasa malu hati menyaksikan adegan-adegan khas kawula muda di mabuk asmara.
Shin Seo Hyun menyipitkan mata setiap kali melihat Izzah memalingkan muka atau menunduk kala menyaksikan drama percintaan di sepanjang jalan yang mereka lalui.
“Gadis ini begitu canggung. Apa dia belum pernah pacaran?” hati Shin Seo Hyun bertanya-tanya.
“Baguslah kalau begitu. Akan kupastikan kenangan terindahnya hanya bersamaku,” tekadnya.
“Awaaas!” Seseorang berteriak lantang memberi peringatan.
Di jalan menurun, sebuah sepeda meluncur kencang tak terkendali. Seorang lelaki paruh baya membuka lebar kedua kakinya, berjuang mempertahankan keseimbangan di saat tangannya berusaha keras mengendalikan laju sepeda.
Karena jarak yang begitu dekat, spontan Shin Seo Hyun mendorong Izzah ke tepi, lalu mencoba menahan laju sepeda itu dengan kedua tangannya. Tak khayal Shin Seo Hyun dan pengendara sepeda sama-sama terjatuh saat sepeda itu berhenti mendadak.
Izzah mengibas kotoran yang menempel pada pakaian dan kedua tangannya. Melihat Shin Seo Hyun dan pengendara sepeda itu meringis lantaran terimpit oleh sepeda yang roboh, Izzah beregas menghampiri mereka. Pelan-pelan disingkirkannya sepeda itu dari tubuh si pengendara dan Shin Seo Hyun. Keduanya segera berdiri.
“Anda baik-baik saja, Tuan?” tanya Izzah pada Shin Seo Hyun agak khawatir.
“Ya. Aku baik-baik saja,” sahut Shin Seo Hyun menenangkan Izzah.
“Bagaimana dengan Anda, Tuan?” tanya Izzah kepada si pengendara yang sedang membetulkan letak kacamatanya.
“Saya tidak apa-apa, Nona. Terima kasih sudah membebaskan kami,” jawab lelaki itu sambil membungkukkan badan.
“Syukurlah kalian berdua tidak kenapa-napa,” ujar Izzah lega.
Beruntung Shin Seo Hyun tak mengalami cedera yang berarti. Hanya sebelah kakinya yang terimpit oleh ban depan. Sementara si pengendara terlihat sedikit pincang.
“Tidak apa-apa, Tuan. Anda tidak perlu merasa bersalah. Saya baik-baik saja. Lain kali harap lebih hati-hati ya …,” balas Shin Seo Hyun ramah.
“Bagaimana kalau kita ke klinik dulu, Tuan. Saya akan merasa lega setelah Anda diperiksa,” tawar lelaki itu tulus.
“Tidak perlu, Tuan. Kami berdua adalah dokter. Sebaiknya Anda ke klinik untuk memeriksakan diri Anda sendiri,” tolak Shin Seo Hyun halus.
“Oh … begitu rupanya. Baiklah. Sekali lagi terima kasih. Ini, ambillah! Datanglah kapan-kapan bila kalian ada waktu!” ucap lelaki itu menyodorkan sehelai kartu nama.
Shin Seo Hyun menyambut dengan kedua tangannya. Ia membaca sekilas. Di sana tertera nama sebuah restoran mewah.
“Baiklah, Tuan. Terima kasih.” Shin Seo Hyun tersenyum, lalu memasukkan kartu itu ke dalam kantongnya.
“Hati-hati, Tuan!” ujar Izzah melepas kepergian lelaki itu dengan menggandeng sepedanya.
“Kamu tidak apa-apa? Maaf kalau tadi aku mendorongmu terlalu keras,” tanya Shin Seo Hyun. Ia cemas dan merasa bersalah.
“Aku baik-baik saja, Tuan. Sebaiknya Tuan mencemaskan diri Tuan sendiri,” sahut Izzah meyakinkan Shin Seo Hyun.
“Bagaimana kondisi pergelangan tangan Anda?” Izzah sedikit khawatir, teringat tadi Shin Seo Hyun menghentikan sepeda yang melaju kencang itu dengan kedua tangannya.
Shin Seo Hyun mencoba menggerakkan dan memutar-mutar kedua pergelangan tangannya.
"Aw!” desisnya kesakitan saat menggerakkan pergelangan tangan kanannya.
“Coba kulihat!” pinta Izzah, menadahkan kedua tangannya. Shin Seo Hyun mengulurkan tangan kanannya.
Izzah menggerakkan tangan bosnya itu perlahan. Shin Seo Hyun meringis.
“Sepertinya ini terkilir,” jelas Izzah.
Tangannya masih menyentuh kulit Shin Seo Hyun, menghantar aliran listrik yang membuat jantung Shin Seo Hyun berdegup kencang.
Khawatir kondisi tangan Shin Seo Hyun akan memburuk jika terlambat ditangani, Izzah menyalurkan energi penyembuh melalui telapak tangannya.
Shin Seo Hyun tahu apa yang akan dilakukan Izzah. Ia menikmati hawa sejuk dan hangat yang meresap di pergelangan tangannya itu. Sementara matanya menatap Izzah tanpa kedip.
“Oke. Coba gerakkan lagi, Tuan!” perintah Izzah setelah melepaskan sentuhan tangannya dari pergelangan tangan Shin Seo Hyun. Shin Seo Hyun patuh.
“Sudah tidak sakit,” desisnya. Izzah tersenyum.
“Bagaimana kau melakukannya?” tanya Shin Seo Hyun penasaran.
“Aku tidak bisa memberitahu Anda, Tuan. Aku terpaksa melakukannya sepengetahuan Anda karena tidak ada cara lain untuk menyembunyikannya,” sahut Izzah tegas.
“Dan aku harap Anda dapat menyimpannya untuk diri Anda sendiri.” Tatapan dingin Izzah membuat Shin Seo Hyun sedikit bergidik.
“Gadis aneh ini seperti punya seribu kepribadian,” batin Shin Seo Hyun.
Namun, ia merasa senang karena itu artinya ia mulai mendapatkan setitik kepercayaan dari gadis yang dicintainya itu.
“Baiklah. Kau bisa memercayaiku,” tegas Shin Seo Hyun meyakinkan Izzah.
"Tapi … tidak bisakah kau memanggilku dengan nama saja jika kita hanya berdua?” pinta Shin Seo Hyun penuh harap.
Izzah menautkan alis, tak menyangka akan mendengar permintaan seperti itu dari si bos.
***