
PRANG!
Terdengar suara barang pecah.
“Astagfirullah!” Rahmi kaget gelas yang dipegangnya tiba-tiba terjatuh.
Seketika ia menyebut nama Izzah dan terbayang wajah anak gadisnya itu.
"Bunda baik-baik saja?” Fadhil berlari mendekati ibunya, cemas.
Ihsan, Yudha dan Johny yang kebetulan datang berkunjung dan ikut menikmati makan malam juga serentak berdiri kaget.
“Bunda tidak apa-apa,” jawab Rahmi berjongkok, ingin membersihkan pecahan beling di lantai. Hatinya merrasa waswas.
“Sebaiknya Bunda duduk saja, biar Fadhil yang mengerjakannya,” ujar Fadhil seraya memapah bundanya berdiri dan membawanya ke meja makan.
“Bunda sedang kepikiran Izzah ya?” tebak Johny begitu Rahmi duduk.
Rahmi mencoba mengusir kegalauan dengan senyum. Di antara teman-teman Izzah, Johny memang selalu lebih peka.
“Iya. Entah kenapa Bunda merasa sedikit waswas. Sudah dua hari ini Izzah tidak memberi kabar. Ponselnya juga sulit dihubungi,” jawab Rahmi berterus terang.
“Bagaimana kalau Bunda menyusul Izzah ke Korea?” usul Yudha tiba-tiba, membuat yang lain ternganga.
“Benar, Bunda. Biar bunda bisa melepas kangen.” Ihsan sependapat.
Rahmi jadi salah tingkah. “Pengen sih, tapi itu tidak mungkin,” sanggahnya.
“Lo … kenapa tidak, Bunda? Kalau Bunda memikirkan biayanya, tenang saja Bunda. Kami siap membantu Bunda,” kata Yudha lagi.
“Bukan itu. Bunda takut ketinggian,” jawab Rahmi rada malu.
Sontak Yudha dan teman-temannya melongo. Mereka baru tahu kalau Rahmi fobia ketinggian.
“Kalau begitu, susah juga,” celetuk Ihsan nyaris tak terdengar.
“Gimana kalau kita yang ke sana. Hitung-hitung liburan. Sudah lama lo kita enggak ke mana-mana.” Johny ikut buka suara setelah lama hening.
Yang lain manggut-manggut mendengar usul Johny.
“Sepertinya menarik.” Ihsan bersemangat.
“Kak Fadhil gimana?” tanya Yudha minta pendapat Fadhil.
Fadhil garuk-garuk kepala sesaat.
“Sepertinya akan menyenangkan, tapi … kalau aku ke sana, bisa-bisa café yang baru kurintis terpaksa tutup gara-gara bangkrut.”
Yudha dan teman-temannya sangat memahami maksud perkataan Fadhil. Untuk beberapa lama mereka diam, berpikir mencari solusi.
“Hem … begini saja. Tiket PP, aku yang tanggung.” Ihsan menawarkan diri.
“Sip. Akomodasi biar aku yang bayar.” Yudha tak mau kalah.
“Wah, seru nih. Kalau begitu, biaya makan dan lain-lain selama di sana menjadi bagianku.” Johny ikut nimbrung.
“Nah … gimana, Kak Fadhil? Oke, kan?” tanya Yudha menunggu jawaban.
Rahmi terharu melihat kekompakan teman-teman Izzah. Mereka selalu saling dukung satu sama lain.
“Hem … gimana ya? Rasa ada yang kurang,” jawab Fadhil, membuat yang lain mengerutkan kening.
Tidak lama kemudian, suara Fadhil setengah berteriak mengagetkan mereka.
“Aha … ini dia! Berhubung semua sudah ada yang menanggung, aku bagian rental mobil ya, tapi jangan lama-lama, gimana?”
“Benar juga. Kok tadi kita enggak kepikiran ya?” ujar Johny
“Kakak yakin?” tanya Ihsan tanpa bermaksud merendahkan.
Fadhil mengacungkan dua jempol tangannya.
“Oke. Sepakat. Kapan berangkat?” tanya Yudha.
“Besok,” jawab yang lainnya kompak.
Jika besok terbang ke Jakarta dan mengambil pesawat malam ke Korea Selatan, maka kemungkinan besar lusa mereka sudah bertemu dengan Izzah.
Rahmi tersenyum. Ia merasa beruntung anaknya dikelilingi oleh orang-orang baik dan sangat peduli.
***
Dua hari kemudian .…
Jam istirahat makan siang. Selesai menghambakan diri di hadapan Sang Pemilik kerajaan langit dan bumi beserta segala isinya, Izzah menuju kantin menyusul rekan sejawatnya.
Berdiri tidak jauh dari pintu masuk, Shin Seo Hyun mengedarkan pandangan ke seluruh kantin, celingak-celinguk mencari seseorang.
“Zaaah … sini!” Kang So Ra melambaikan tangan saat melihat Izzah muncul di pintu.
Izzah duduk tepat di depan Kang So Ra.
Tiba-tiba suasana menjadi riuh. Beberapa perawat dan dokter perempuan yang notabene masih jomlo berdesak-desakan, berebut posisi melihat ke area parkir.
Kang So Ra penasaran, lalu bangkit.
"Zah, ikut yuk!” ajaknya.
Shin Seo Hyun mengawasi Izzah.
“Enggak ah. Aku mau makan. Lapar,” jawab Izzah datar. Ia memang tidak tertarik untuk hal-hal seperti itu.
Shin Seo Hyun kembali tersenyum melihat Izzah menolak ajakan Kang So Ra. Ia berjalan menuju meja Izzah. Namun, langkahnya terhenti mendadak.
BIP!
Izzah mengecek ponselnya. Ada chat masuk.
My Gokil Brother
+628XXXXXXXXXXX
Di mana sekarang?
Masih di rumah sakit
Keluarlah! Kakak di parkiran
“Hah!”
Izzah terlonjak kaget. Bergegas ia keluar meninggalkan makanan yang masih tersisa di atas meja.
Pandangan Shin Seo Hyun mengikuti langkah Izzah yang terburu-buru. Penasaran dengan apa yang terjadi, ia pun membuntuti Izzah diam-diam.
Di lapangan parkir, Fadhil dan teman-teman Izzah berdiri di dekat mobil sewaannya dengan pose ala model iklan. Mengenakan kacamata hitam sebagai tameng untuk mengadang terik mentari siang itu. Langit biru cerah. Secerah hati mereka.
Sementara itu, para jomlowati sibuk berbisik-bisik.
“Ya ampuuun … cakep banget. Mereka dari mana ya? Sepertinya mereka turis asing.”
“OMG … aku mau dong jadi pacar salah satu dari mereka.”
Cewek-cewek jomlo ngenes itu pun klepek-klepek menyaksikan ketampanan empat jomblo tampan yang seolah tebar pesona di lapangan parkir itu.
“Hei! Lihat! Itu Izzah, kan?” tanya salah satu perawat ketika melihat Izzah melenggang santai di tengah lapangan parkir, mendekati empat lelaki pujaan mereka.
“Iya. Benar. Izzah benar-benar beruntung,” timpal yang lain dengan nada iri, ingin bernasib seperti Izzah.
Begitu Izzah sampai, Fadhil langsung menyambut adiknya itu dengan pelukan hangat. Membuat teman sejawatnya yang mengintip dari balik jendela kaca pada gigit jari, terkulai lunglai.
Para dokter dan perawat pria jadi tertarik melihat fenomena itu. Mereka ikut-ikutan mengintip.
“Waah … pantas saja dokter Izzah tampak cuek. Dia punya tangkapan bagus,” kata seorang perawat pria itu
“Iya. Dokter Izzah bak Geum Jan Di di drama Boys Before Flowers,” sambut yang lain.
“Ckckck ….”
Mereka ikut nelangsa karena merasa kehilangan kesempatan untuk mendekati dokter Izzah.
Yudha merentangkan kedua tangan seolah ingin memeluk Izzah begitu melihat Fadhil melepaskan pelukannya.
Izzah melotot dan mengacungkan tinjunya. Melihat keisengan Yudha pada adiknya, Fadhil spontan mengunci leher Yudha. Yudha mengap-mengap menepuk lengan Fadhil, tanda menyerah.
Ihsan dan Johny tertawa geli. Izzah melambaikan kedua tangannya pada mereka.
Di balik kaca pintu masuk, Shin Seo Hyun menyaksikan semua tingkah polah Izzah dan keempat cowok itu dengan dada bergemuruh.
“Sepertinya aku pernah melihat mereka. Di mana ya?” tanya Shin Seo Hyun mengingat-ingat.
“Tentu saja. Mereka kan kakak dan teman dekat Dokter Izzah.” Tahu-tahu Park Joon Soo berbisik di telinga Shin Seo Hyun menjawab pertanyaannya.
Shin Seo Hyun menoleh kaget sesaat, lalu kembali memperhatikan lapangan parkir tanpa kedip.
“Sejak kapan Joon Soo berdiri di situ?” tanya Shin Seo Hyun di hati, merasa gundah ketahuan mengawasi Dokter Izzah.
“Kasihan sekali lelaki yang memendam perasaan pada Dokter Izzah. Jika tidak cepat-cepat mengungkapkan perasaannya, bisa-bisa akan menyesal seumur hidup.” Joon Soo memperhatikan perubahan ekspresi Seo Hyun.
“Dokter Izzah gadis yang luar biasa dan sangat populer. Pantas menjadi rebutan. Tidak sulit baginya untuk mendapatkan pacar. Lihat saja! Tiga lelaki yang bersamanya itu tidak hanya tampan, tapi juga tajir. Benar kan, Seo Hyun?”
Park Joon Soo semakin memanas-manasi Shin Seo Hyun, lalu berlalu meninggalkannya setelah Izzah masuk ke mobil.
Shin Seo Hyun berdiri kaku. Tangannya mengepal menahan amarah.
***