
“Bagaimana kalau ternyata kunci itu tidak ada di sini?” tanya Izzah berandai-andai.
“Aku yakin kunci itu ada di negara ini. Masalahnya adalah bagaimana bisa menemukan sebatang pohon aneh di antara jutaan pohon yang ada di sini?”
Mendengar penjelasan Dimas, Izzah teringat empat gambar pohon yang terpajang di ruang rahasia ayahnya saat akan meninggalkan Negeri Seribu Bunga. Pohon keempat seperti pohon maple.
“Lalu, apa yang akan Mas Dimas lakukan jika berhasil mendapatkan kunci itu?”
“Menemukan kunci itu, satu-satunya cara untuk membebaskan penduduk Negeri Seribu Bunga yang sudah terkurung selama puluhan tahun.”
“Tapi … Mas Dimas kok bisa keluar masuk dengan bebas?” tanya Izzah heran.
“Kau ini … benar-benar tidak tahu atau hanya kura-kura dalam perahu?” Dimas bertanya balik.
“Ah!” pekik Izzah seraya menepuk jidatnya. Membuat Dimas tersenyum geli melihat ekspresi lucu Izzah.
HUH!
Izzah menghela napas panjang dan menghempaskannya kuat-kuat. Ia bimbang. Haruskah ia memilih pulang? Jika begitu, ia akan kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan ayah kandungnya. Lalu, haruskah ia tetap tinggal di sini?
“Aduuuh … pusing, pusing, pusiiing …,” pekik Izzah.
“Anda baik-baik saja, Nona?” tanya Sandra tiba-tiba menerobos masuk, mendengar teriakan Izzah ketika melintasi kamar itu.
Izzah kaget. Bergegas ia membalikkan badan dan bangkit.
“Oh! Maaf telah mengagetkan, Bibi. Aku cuma sedikit pusing,” ujar Izzah berbohong sambil memijat pelipisnya.
“Mau aku ambilkan obat atau mungkin aku panggilkan Shin Seo Hyun?” tawar Sandra.
“Tidak usah, Bi. Semuanya akan segera membaik,” tolak Izzah sopan.
“Baiklah kalau begitu. Beristirahatlah! Jangan terlalu memaksakan dirimu!” saran Sandra.
“Ya, Bi. Terima kasih,” sahut Izzah. Sandra melangkah keluar.
Selang beberapa menit, Izzah turun dan berjalan menuju taman belakang. Sesaat ia berdiri di teras, lalu melangkah gontai belok kanan, mengikuti trek.
Dari kejauhan, Shin Seo Hyun yang duduk bersandar pada pokok pohon besar itu terkesima.
“Hem … ternyata benar. Gadis keras kepala itu datang lagi ke sini,” desis Shin Seo Hyun.
Ia langsung bersembunyi begitu melihat kemunculan Izzah. Ia penasaran apa lagi yang akan dilakukan gadis itu pada tamannya.
Izzah menyusuri taman itu dengan lesu. Pikirannya tak tentu. Hatinya benar-benar galau menentukan pilihan. Sejenak ia berhenti, teringat akan pohon besar yang dikunjunginya tiga hari yang lalu.
SYUT!
Bergegas Shin Seo Hyun menarik kepalanya saat melihat Izzah memutar tubuh.
HAH!
Izzah terperangah menyaksikan pohon meranggas itu kini tampak segar dengan daun-daun muda yang bermunculan di setiap ujung rantingnya. Refleks Izzah memperhatikan telapak tangan kanannya.
“Ternyata kekuatan ini juga bisa dipakai untuk tumbuhan,” bisik Izzah senang.
“Aha!” pekiknya riang. Sebuah ide muncul di kepalanya. Sejenak ia lupa akan keresahannya.
“Kalau dugaanku benar, maka taman ini akan kembali indah,” ucapnya pelan, penuh harap. Secepat kilat ia balik badan.
Saking riangnya, tanpa sadar Izzah melantunkan salawat lawkana bainanal habib dari album Omar Borkan Al-Gala seraya membelai lembut bunga-bunga kering yang dilaluinya. Sesekali ia berhenti dan berbicara dengan bunga-bunga itu.
Dari tempat persembunyiannya, Shin Seo Hyun memperhatikan tingkah Izzah sambil geleng-geleng kepala. Terkadang ia senyum-senyum sendiri melihat kekonyolan gadis itu berbicara sendiri seperti orang gila.
“Gadis aneh! Sebentar-sebentar membuatku marah, sebentar-sebentar membuatku gelisah dan merana. Tapi … melihatmu bahagia, hatiku berkali lipat merasa bahagia. Ah .…"
SYUT!
Cepat-cepat Shin Seo Hyun menarik kepalanya kembali.
Izzah celingukan seperti mencari-cari seseorang.
“Kok rasa-rasa sedang diawasi ya?” tanya Izzah pada diri sendiri sambil meraba kuduk.
“Ah sudahlah. Mungkin hanya perasaanku saja,” ujarnya, kemudian melanjutkan kembali kegiatannya.
Merasa lelah, Izzah duduk berselonjor di atas rerumputan kering di tepi kolam. Lalu, ia merebahkan diri menikmati hangatnya cahaya mentari yang tak begitu terik. Tiupan angin sepoi-sepoi membuat Izzah jatuh tertidur.
***
Di Negeri Seribu Bunga ….
“Apa?” Dimas terlonjak kaget mendengar informasi dari seberang telepon.
“Benar, Tuan. Kejadiannya begitu tiba-tiba,” jawab suara itu meyakinkan Dimas.
“Baiklah. Tetap di tempat. Aku akan segera ke sana,” perintah Dimas.
“Siap, Tuan.” Sambungan telepon diputus.
Dimas menghubungi Abbas.
“Siapkan helikopter! Kita berangkat sekarang,” instruksi Dimas begitu telepon di angkat.
“Ke mana?” tanya Abbas.
“Gerbang empat,” sahut Dimas, langsung menutup ponselnya.
Secepat kilat Dimas melesat ke atap gedung kantornya. Begitu tiba di sana, sebuah helikopter telah menunggu. Dimas bergegas naik. Dalam hitungan detik, helikopter itu pun mengudara.
Tidak sampai satu jam, dari angkasa tampak sebuah padang ilalang terbentang luas. Dua pengawal yang berdiri mengapit sebatang pohon besar di tepi padang ilalang itu tampak seperti dua titik kecil.
Sekejap kemudian helikopter itu menukik disertai embusan angin kencang, memporak-porandakan daun ilalang yang semula berdiri kokoh. Begitu putaran baling-baling berhenti, Abbas dan Dimas segera melompat turun. Dua penjaga pohon itu pun berlari menyongsong Dimas dan Abbas.
Dimas dan Abbas termangu menatap sebatang pohon besar yang berdiri kokoh.
“Kapan ini terjadi?” selidik Dimas
“Sekitar tiga hari yang lalu, Tuan,” jawab salah satu pengawal.
“Pohon ini muncul tiga hari yang lalu, kenapa baru memberitahuku sekarang?” protes Dimas
“Mohon maaf, Tuan. Saat itu pohon ini terlihat seperti mati. Kami takut pohon ini akan kembali menghilang. Jadi, kami putuskan untuk mengamatinya terlebih dahulu,” ujar pengawal lainnya, memberi penjelasan.
Dimas menengadah, memperhatikan pohon yang menjulang itu.
“Lalu, sejak kapan pohon ini mulai berdaun?”
“Pagi ini, Tuan. Dan anehnya, sesaat yang lalu batang pohon ini mengeluarkan cahaya, kemudian menghilang.”
Dimas manggut-manggut mendengarkan penjelasan dua penjaga itu.
“Baiklah. Terima kasih. Kalian telah melaksanakan tugas dengan sangat baik. Tetaplah berjaga dan laporkan setiap ada perkebangan terbaru!” perintah Dimas
“Baik, Tuan.”
Dimas dan Abbas terbang meninggalkan tempat itu.
Di kantornya, Dimas duduk termenung. Hatinya bertanya-tanya bagaimana pohon yang sudah menghilang selama puluhan tahun itu tiba-tiba muncul seolah terlahir kembali?
TOK! TOK!
Terdengar suara pintu di ketuk.
“Masuk!”
Abbas mendorong pintu dan melangkah masuk, lalu duduk di atas sofa.
“Jadi, apa yang akan kau lakukan?” tanya Abbas, ingin tahu rencana Dimas
“Kurasa aku harus kembali ke Korea secepatnya,” sahut Dimas.
“Tapi … kau kan baru pulang kemarin?” protes Abbas
“Itu tidak penting. Lakukan saja apa yang harus kau lakukan!” tukas Dimas
“Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah dan jangan membahayakan dirimu!” saran Abbas, lalu meninggalkan ruang kerja Dimas.
Dimas berdiri dan menghela napas dalam-dalam. Ia menatap sebuah lukisan tua yang terpajang di dinding ruangan itu.
***