
Izzah tergeletak di tanah. Pingsan. Terik mentari menyengat kulit. Izzah membuka mata perlahan. Ah, silau. Ia menghalangi cahaya mentari yang menusuk matanya dengan lengan kiri dan berusaha duduk. Kepalanya berdenyut. Dicobanya memijat untuk mengurangi rasa sakit.
“Aku di mana?” tanya Izzah. Tak ada jawaban.
Izzah mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak seorang pun terlihat. Tak ada bangunan. Hanya semburat keemasan memantul dari permukaan air yang tertimpa cahaya mentari. Izzah berdiri, sedikit oleng. Perlahan ia melangkahkan kaki menuju sebuah danau.
Danau itu sangat luas. Sejauh mata memandang, tampak bunga lili berwarna-warni mengelilingnya. Membuat siapa pun yang berada di sana akan betah berlama-lama. Semilir angin membuat jilbab yang dipakai Izzah berkibar menutupi wajah cantiknya. Ia segera menepisnya.
Izzah memutar tubuh ke kiri. Perlahan berjalan menyusuri tepi danau sambil sesekali ujung jarinya membelai lembut mahkota bunga Lili yang dilewatinya.
Sebatang pohon besar berdiri kokoh tidak jauh dari lokasi Izzah pingsan. Di sisi kanan pohon itu terdapat sebuah bangku panjang terbuat dari kayu. Di sisi kirinya tergantung sebuah ayunan dari akar pohon yang ditumbuhi bunga rambat. Cantik.
Ingin rasanya Izzah duduk di atas ayunan itu, menikmati indahnya danau yang bercincin bunga serta merasakan sejuknya semilir angin sore. Akan tetapi, ia tidak bisa. Ia harus segera pulang ke rumah. Bagaimana caranya pulang? Ia bahkan tidak tahu sedang berada di mana. Semuanya begitu asing.
Perlahan ia melangkahkan kaki ketika matanya melihat jalan setapak membelah hutan di tepi danau itu. Secercah harap menyeruak di hati Izzah.
“Ya Allah, semoga jalan ini menuju perkampungan penduduk.” Ia mempercepat langkah. Matahari semakin condong ke Barat.
Tiga puluh menit telah berlalu. Belum ada tanda-tanda peradaban manusia. Hari mulai gelap. Perlahan Izzah dihinggapi rasa waswas.
KRAK!
Suara ranting patah membuat jantung Izzah berpacu lebih cepat. Berpikir jangan-jangan ada penjahat atau hewan buas yang mengikuti, ia bergerak pelan, lalu bersembunyi di balik semak-semak. Matanya terus menatap awas.
Creesh … creeesh .…
Suara semak yang dilewati terdengar semakin dekat. Izzah tetap diam mengawasi dengan keringat bercucuran dan dada bergemuruh. Bibirnya tak henti-henti melafal doa.
HUFT!
Tiba-tiba sesuatu yang besar melompat di depan tempat persembunyian Izzah. Ia kaget, takut setengah mati. Cepat-cepat ia membekap mulut dengan kedua tangan agar jeritannya tak keluar.
Sesaat kemudian tampak seekor kijang memakan buah rambutan sisa tupai yang jatuh ke tanah. Izzah mengelus dada, menarik napas lega.
“Alhamdulillah, cuma seekor kijang,” gumamnya seraya berdiri, mengeluarkan sebuah senter kepala kecil dan memasangnya. Ia bergegas melanjutkan perjalanan sebelum matahari benar-benar tenggelam dan hari semakin gelap.
***
“Izzaaaah ... kamu di mana?” Teriakan Fadhil dan Ihsan memanggil Izzah bergema saling bersahutan. Mereka berpencar. Dengan begitu mereka berharap bisa lebih cepat menemukan Izzah.
Napas Ihsan ngos-ngosan. Lelah berteriak dan berlari ke sana kemari, menurun dan mendaki. Ia berhenti menghela napas sambil mengedarkan pandangan, menembus rimbunnya semak belukar dan pepohonan yang mulai temaram.
Tiba-tiba matanya terpaku pada sebatang pohon berbentuk unik. Ia ingat Izzah selalu tertarik dengan segala sesuatu yang unik dan menarik. Ia pun bergerak mendekati pohon itu, mengamati sekelilingnya. Tak ada bekas-bekas Izzah terjatuh ke bawah tebing.
Ihsan menjambak rambutnya, kesal karena tak bisa menemukan Izzah. Baru saja ia hendak melangkahkan kaki tatkala melihat sesuatu tergeletak di tanah. Segera diraihnya benda itu. Sebuah gantungan kunci berbentuk bunga Rafflesia putih, milik Izzah.
Telah lebih dari dua jam Fadhil dan teman-temannya mencari Izzah. Namun, Izzah belum jua ditemukan. Hari mulai gelap. Khawatir kemalaman, mereka akhirnya memutuskan pulang. Pencarian akan dilanjutkan esok hari dengan bala bantuan.
“Assalamu’alaikum, Bunda.” Terdengar suara salam.
“Wa’alaikumussalam.” Bunda Izzah tersenyum lega, segera menyongsong Fadhil dan teman-temannya. Namun,
ketika matanya tak melihat sosok Izzah, senyumnya lenyap seketika.
“Mana Izzah, Nak?” tanyanya pada Fadhil dengan nada cemas. Untuk sesaat Fadhil tak bisa berkata-kata. Matanya berkaca-kaca.
“Nak, di mana adikmu?” Bunda Izzah mengguncang tubuh Fadhil.
“Maafkan Fadhil, Bunda. Fadhil kakak yang tidak berguna. Fadhil tidak bisa menjaga Izzah dengan baik. Izzah hilang, Bunda. Hiks, hiks .…” Fadhil merasa sangat bersalah. Ia menangis sesenggukan menyesali diri.
“Tidak mungkin! Kamu cuma ingin menggoda Bunda kan, Nak?” Bunda Izzah geleng-geleng kepala, tidak ingin memercayai apa yang baru saja didengarnya.
Ia menatap mata Fadhil lekat, mencoba mencari kebohongan di sana. Namun, yang ditemukannya hanyalah sebuah kepedihan dan rasa penyesalan yang mendalam. Bunda Izzah mengedarkan pandangan, menatap teman Izzah satu per satu. Dan ketika yang dilihatnya hanyalah wajah-wajah tertunduk lesu, ia syok.
BRUK!
Bunda Izzah jatuh pingsan. Fadhil menangkap dengan sigap sebelum tubuh lemah itu terhempas dengan kuat.
***
Suara binatang malam mulai terdengar, pertanda mentari telah kembali ke peraduan. Izzah terseok menyeret langkahnya menyusuri jalan setapak yang seakan tak berujung. Haus. Izzah berjongkok, menenggak tegukan terakhir persediaan air yang dibawanya.
Nyaris saja Izzah terjerembap ketika tiba-tiba seorang lelaki telah berdiri di hadapannya, tepat pada saat ia hendak bangkit. Posisinya yang begitu dekat, ditambah penerangan dari cahaya senter di kepalanya, membuat Izzah dapat
melihat raut lelaki itu dengan sangat jelas.
Lelaki itu berusia sekitar empat puluhan, berkulit gelap dan rambut tak terurus. Rahangnya yang kokoh dan bekas luka panjang di pelipis kanannya membuat lelaki itu tampak sangar dan kejam. Izzah bergidik ngeri. Tanpa sadar ia melangkah mundur.
Lelaki itu tersenyum. Namun, tampak menyeringai di mata Izzah.
“Jangan takut, Nona!” ucap lelaki itu saat melihat Izzah akan memutar tubuh dan melarikan diri. Suaranya terdengar berwibawa. Izzah mengurungkan niatnya. Namun, tetap waspada.
“Aku tidak bermaksud jahat. Sepertinya Nona tersesat. Mari ikut aku!” ajak lelaki itu. “Aku akan mengantarmu ke rumah penduduk terdekat. Di sini tidak aman.”
Lelaki itu menawarkan bantuan tanpa memperkenalkan diri, lalu memutar tubuh dan berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Izzah masih berdiri mematung. Bingung antara percaya dan tidak dengan ucapan lelaki bertampang menakutkan itu.
“Nona ingin tetap di sini dan menjadi mangsa binatang buas?” Lelaki itu menghentikan langkah dan menoleh ke belakang saat ia tak jua kunjung mendengar langkah kaki gadis itu mengikutinya.
Mendengar ucapan tegas lelaki itu, Izzah bergidik. Ia tidak ingin mati konyol menjadi santapan binatang buas. Meski ragu-ragu, akhirnya Izzah menyusul. Ia tak punya pilihan selain memercayai niat baik lelaki itu. Ia meyakini tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan di dunia ini. Semua telah dirancang oleh Sang Maha Pengatur. Bahkan, sehelai daun yang jatuh sekalipun telah tercatat di sisi-Nya.
***