
Malam di musim gugur. Embusan angin membawa aroma daun maple dan gingko. Mengucap selamat tinggal pada ranting-ranting yang meranggas.
Suara gelak tawa Fadhil dan teman-temannya memenuhi kamar Izzah. Izzah masih berjibaku menghitung bintang di langit malam. Merasakan dinginnya embusan angin malam di balik hangatnya sepucuk rindu pada sang bunda. Hanya untaian doa mengudara, semoga bunda tercinta senantiasa baik-baik saja.
Sebuah siluet hitam bergerak lambat menaiki tangga. Izzah bergegas masuk, mengambil sebuah frying pan, lalu berdiri waspada di balik pintu.
“Kenapa, Zah?” tanya Fadhil diiringi tatapan heran tiga orang lainnya.
“Pssstt!” Izzah meminta mereka diam dengan kode tangannya.
Melihat Izzah begitu serius, mereka ikut siaga.
Terdengar pintu di dorong pelan oleh seseorang dari luar. Serta merta Izzah hendak memukulkan benda yang dipegangnya kepada tamu tak diundang itu.
“Izzah! Apa-apaan sih?” pekik seorang perempuan menyebut nama Izzah.
Izzah menurunkan frying pan yang sudah terangkat dan membuka pintu lebar-lebar.
“Riris?” Izzah kaget bukan kepalang.
“Begitu ya caramu menyambut teman!” Riris jengkel
“Siapa suruh datang menyelinap tanpa kabar?” sungut Izzah.
Keempat lelaki di kamar Izzah mengangkat alis, saling pandang. Tak satu pun dari mereka merasa mengajak Riris.
Riris duduk berselonjor sambil memijat kakinya yang terasa pegal.
“Bagaimana kamu tahu kami berada di sini?” tanya Yudha dengan nada tidak bersahabat. Ia merasa terganggu dengan kehadiran Riris di tengah mereka.
“Ho oh … perasaan enggak ada yang memberitahu kamu deh, Ris,” timpal Johny
“Waah … jangan-jangan kamu masang pelacak nih di barang-barang milik Yudha,” goda Ihsan yang berhasil membuat Yudha gondok dan yang lain sontak tertawa.
“Rahasia dong …,” jawab Riris sambil terbayang bagaimana ia bisa tahu rencana mereka.
Yudha dan teman-temannya berkumpul di kedai Bunda Izzah menikmati makan malam.
Riris mengucap salam, tetapi tak ada yang menjawab salamnya. Penasaran dengan kehebohan Yudha dan rekan-rekannya, Riris menguping pembicaraan mereka. Ia pun pulang sebelum kehadirannya diketahui Yudha dan yang lain.
Setelah keberangkatan Fadhil, Riris mendatangi Bunda Izzah menanyakan alamat rumah dan tempat kerja Izzah.
Tanpa buang waktu, ia segera menyusul Fadhil dan rekan-rekan. Sayangnya, ia tak mendapatkan tiket pesawat malam. Alhasil, ia harus rela malam hari tiba di Korea.
“Zah, aku tidur sama kamu ya …,” pinta Riris.
“Boleh, asal kamu enggak keberatan lesehan,” jawab Izzah.
“Enggak masalah,” balas Riris.
“Ya iyalah … kan gratis,” celetuk Yudha menyindir Riris.
Riris diam saja. Ia terlalu lelah untuk melayani omongan Yudha. Yang ia inginkan sekarang hanyalah bisa tidur dengan tenang.
“Ayo kembali ke hotel!” ajak Yudha, merasa gerah sejak kemunculan Riris di rumah Izzah.
Fadhil dan yang lain tidak ingin suasana menjadi panas. Mereka pun menyetujui ajakan Yudha, lalu pamit.
Izzah mengeluarkan dua kasur tipis dan bantal dari lemari, lalu membentangkannya di atas lantai. Tanpa aba-aba Riris langsung meregangkan tubuhnya di atas kasur itu.
“Zah, aku jelek banget ya?" tanya Riris begitu Izzah berbaring di sampingnya.
“Kecantikan itu tergantung di mata orang yang melihat. Menurut aku, kamu cantik kok,” jawab Izzah sedikit berfilosofi.
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
“Entahlah. Aku merasa, sekeras apa pun aku berusaha, Yudha tidak pernah melihatku sebagai wanita.” Riris terdengar putus asa.
Izzah memiringkan tubuhnya menghadap Riris.
“Itu karena kamu terlalu agresif. Cowok itu kadang merasa takut kalau terlalu dikejar-kejar. Bisa jadi Yudha merasa kamu bukannya mencintai dia, tapi malah menganggap kamu sebagai predator cinta.”
“What! Memangnya ada predator cinta? Kok aku baru dengar istilah itu.” Izzah cuma senyum mendengar protes Riris.
“Dasar Riris lugunya kebangetan. Itu kan cuma ungkapan Izzah saja karena enggak tahu mau bilang apa. Izzah saja belum pernah jatuh cinta …haha ….” Izzah tertawa geli di hati.
“Bukan istilah itu yang jadi masalahnya. Intinya, kalau kamu mau meluluhkan hati Yudha, hindarilah bersikap terlalu agresif! Kamu kan tahu Yudha itu orangnya bagaimana. Jadi ya … ada baiknya mulai sekarang kamu coba jaga jarak. Beri dia ruang untuk menyadari arti keberadaan kamu di sisinya!”
Riris diam. "Ucapan Izzah mungkin ada benarnya," pikir Riris. Tanpa sadar ia bersenandung.
“Kalau sudah tiada … baru terasa ... bahwa kehadirannya ... sungguh berharga .…”
“Nah tuh … Bang Roma saja tahu. Kamu belajar gih sama Bang Roma,” goda Izzah, tertawa kecil melihat tingkah Riris.
Emosi Riris memang mudah sekali berubah-ubah. Ia tak pernah bersedih dalam waktu lama dan Izzah sangat menyukai sifat Riris yang seperti itu.
“Oke. Mulai besok, aku akan jaga jarak dari Yudha. Semangat!” tekad Riris seraya menyemangati dirinya sendiri.
Senyum Izzah mengembang dan mendukung keputusan Riris dengan memberi tepukan ringan di pundak Riris.
“Sudah malam. Yuk, tidur! Jangan lupa baca doa ya! Have a nice dream!” ucap Izzah, lalu memejamkan mata.
“Have a nice dream!”
Riris tertidur dengan sejuta rencana untuk menghindari Yudha.
***
Izzah baru saja membuka pintu ketika rombongan Fadhil muncul membawa tentengan.
“Sudah siap? Sarapan dulu yuk!” ajak Ihsan sambil meletakkan paper bag berisi makanan di atas meja luar.
“Riiis … ikutan sarapan enggak nih? Entar keburu habis lo,” teriak Izzah, memanggil Riris.
“Iya. Sebentar,” balas Riris dari dalam.
Lima menit kemudian ia ikut bergabung untuk sarapan.
Sarapan pagi pertama Izzah dalam kebersamaan. Ditemani harmoni cantiknya perpaduan warna alam di tengah pergantian warna daun maple dan gingko di sepanjang jalan. Langit biru terang diselingi putihnya awan menghangatkan udara pagi di musim gugur.
Selesai sarapan, mereka turun. Sabtu yang indah. Fadhil duduk di belakang kemudi ditemani Johny. Riris dan Izzah di bangku tengah. Ihsan dan Yudha di posisi paling belakang.
“Jadi, ke mana dulu nih?” tanya Fadhil, melirik Izzah dari kaca spion.
“Yonsei University Museum,” jawab Izzah dan Riris hampir bersamaan.
Mengikuti GPS, Fadhil memacu mobil menuju kawasan strategis salah satu universitas ternama di Kota Seoul.
Bagi muda-mudi, mengunjungi Yonsei University museum menjadi pilihan yang tepat. Disamping tempat itu terkenal sebagai tempat berkumpulnya anak muda, di musim gugur Yonsei University Museum juga menyuguhkan eksotisme keindahan warna daun maple dan gingko. Mengundang romantisme kawula muda untuk menghabiskan waktu.
Yonsei University Museum ditata menjadi museum komprehensif yang mencakup seni, arkeologi, sejarah, cerita rakyat dan sejarah alam. Bahkan, sejak tahun 2006, Yonsei University Museum secara resmi diakui sebagai organisasi yang mengeluarkan sertifikasi melalui suatu pelatihan untuk mendapatkan pengalaman karir dengan beragam tujuan, seperti kurator museum dan pekerja museum.
Dengan menjadikan Yonsei University Museum sebagai tujuan pertama, Izzah berharap bisa lebih mengenal Korea Selatan, tempat di mana ia akan menghabiskan waktu selama beberapa bulan ke depan.
***