
Di ruang Instalasi Gawat Darurat, beberapa dokter dan perawat yang sudah hadir terlihat kasak-kusuk.
“Dengar-dengar hari ini kita akan mendapatkan tenaga baru, dokter magang dari Indonesia,” bisik salah satu dokter pria.
“Benarkah? Cantik, enggak?” timpal dokter dan perawat pria lainnya.
“Dasar cowok enggak laku-laku,” sindir dokter dan perawat wanita.
Pintu terbuka. Semua yang ada di ruang itu menoleh ke arah pintu. Izzah memasuki ruang IGD didampingi seorang wanita usia empat puluhan, kepala personalia di rumah sakit itu.
"Ehem!”
Kepala personalia itu berdeham meminta perhatian. Semua diam. Pandangan mereka tertuju pada Izzah.
“Ternyata cantik.” Salah seorang perawat pria berbisik pada rekan di sebelahnya.
Kepala personalia mendelik. Perawat itu pun langsung mematung.
“Selamat pagi semua! Perkenalkan, ini rekan baru kita … dokter magang dari Indonesia,” ucap Kepala personalia memulai sesi perkenalan.
“Silakan perkenalkan dirimu, Nona!” ujarnya memberi kesempatan kepada Izzah.
Izzah membungkuk hormat dan tersenyum ramah, lalu memperkenalkan dirinya secara singkat.
“Halo. Senang bertemu dengan kalian semua. Saya Izzatun Nisa. Panggil saja Izzah. Mohon bantuan dan kerjasamanya ya .…”
Cowok-cowok berebut menyalami Izzah. Izzah tak menyambut uluran tangan mereka dan hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Untuk sesaat para cowok itu tampak bingung dan sedikit tersinggung.
Namun, ketika Izzah menerima dengan hangat uluran tangan para cewek, mereka tersenyum. Mereka tidak paham tentang ajaran agama yang dianut Izzah. Jadi, mereka pikir itu adalah bagian dari budaya Indonesia. Mereka pun menghargai sikap Izzah dan tidak mempermasalahkannya.
Setelah kepala personalia meninggalkan ruangan itu, mereka mengerubungi Izzah, berusaha mengakrabkan diri. Izzah pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan berbagai informasi mengenai tempat kerjanya itu agar bisa beradaptasi.
***
Di ruang kerja yang sangat ekslusif, seorang direktur sibuk memeriksa dan menandatangani dokumen di atas meja. Seorang lelaki seusianya berdiri di depannya.
“Dokter magang yang dijadwalkan mulai bekerja hari ini apakah sudah tiba?” tanya sang direktur yang tidak lain adalah Shin Seo Hyun.
“Sudah, Tuan,” jawab lelaki yang berdiri di depannya. Ia adalah Park Joon Soo. Pemuda yang menjemput Shin Seo Hyun di bandara dan bekerja sebagai sekretarisnya.
“Minta dia untuk segera naik!” perintah Shin Seo Hyun
BRAK!
Belum sempat Park Joon Soo menjawab perkataan Shin Seo Hyun, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dengan kasar.
Seorang wanita cantik dan seksi bergegas masuk dengan wajah memerah penuh amarah. Tangannya menggenggam koran dengan kuat.
Melihat suasana yang tidak mengenakkan itu, Park Joon Soo segera membungkuk dan pamit, lalu cepat-cepat meninggalkan ruangan itu. Shin Seo Hyun tetap menyelesaikan pekerjaannya.
“Jadi, gara-gara wanita ini kamu menolakku?” tanya wanita itu berapi-api begitu sampai di meja direktur.
Ia membanting koran yang digenggamnya di atas meja, tepat di hadapan Shin Seo Hyun. Hampir saja ujung koran itu mengenai muka Shin Seo Hyun.
Shin Seo Hyun menghentikan kegiatannya. Ia menatap wanita itu sekilas, lalu tangannya beralih meraih koran di atas meja.
Di halaman muka terpampang foto dirinya tengah mendekap erat seorang perempuan. Perempuan itu tampak membelakangi kamera, seolah sedang menyembunyikan wajahnya di dada bidang Shin Seo Hyun.
Shin Seo Hyun tersenyum kecil.
“Bagus juga angle-nya,” gumamnya dalam hati. Bukannya kesal, ia malah merasa berbunga-bunga melihat foto di koran itu.
Shin Seo Hyun meletakkan kembali koran itu di atas meja.
“Penolakanku tidak ada hubungannya dengan gadis di foto itu,” ucap Shin Seo Hyun tegas.
“Benarkah?” Wanita itu masih marah. Nada bicaranya setengah mengejek.
“Kalau begitu tolong jelaskan kenapa foto itu muncul tepat sehari setelah kamu menolakku,” lanjutnya.
Shin Seo Hyun masih bersikap tenang.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Dan jangan coba-coba mengambinghitamkan orang lain atas apa yang terjadi di antara kita.” Shin Seo Hyun menatap wanita itu tajam.
“Siapa yang mengambinghitamkan? Ini fakta. Jika tidak, beritahu aku apa salahku hingga kamu menolakku.” Wanita itu masih bersikeras. Ia tidak bisa menerima penolakan Shin Seo Hyun.
Shin Seo Hyun hanya diam.
“Apa yang kurang dariku? “ tanya wanita itu sambil berjalan mendekati Shin Seo Hyun. Nada bicaranya mulai melunak.
“Aku adalah Kim Se Na. Aku kaya, cantik dan juga terkenal.” Ia mulai bertingkah menggoda seakan telah kehilangan akal sehatnya.
Shin Seo Hyun mendorong Kim Se Na. Hampir saja Kim Se Na terjengkang.
“Kekuranganmu? Baiklah. Jika itu yang kau inginkan, aku akan memberitahumu,” kata Shin Seo Hyun dingin.
Kim Se Na kembali bersemangat, merasa ditiup angin segar.
Shin Seo Hyun melangkah mendekati Kim Se Na hingga mereka berdiri saling berhadapan.
“Kekuranganmu adalah ….” Shin Seo Hyun menghentikan ucapannya dan menatap Ki Se Na tanpa ekspresi.
Kim Se Na sudah tidak sabar. Ia memberi kode dengan tangannya agar Shin Seo Hyun melanjutkan ucapannya.
“Aku … tidak pernah mencintaimu,” lanjut Shin Seo Hyun lantang.
Kim Se Na berdiri oleng. Ia seakan mendengar petir di siang bolong. Harga dirinya terluka.
“Tidak mungkin! Bagaimana mungkin kamu tidak mencintaiku?” tangis Kim Se Na pecah.
“Kau bohong, kan?” Ditariknya dasi Shin Seo Hyun kuat-kuat.
Shin Seo Hyun melepaskan tangan Kim Se Na dari dasinya.
“Aku bersungguh-sungguh. Kau sudah mengetahui apa yang ingin kau ketahui. Sekarang keluarlah! Aku sibuk,” usir Shin Seo Hyun sambil berjalan kembali ke tempat duduknya.
Emosi Kim Se Na kembali meledak.
“Cuih! Cinta kamu bilang? Bagi orang-orang seperti kita, bukankah cinta itu hanya sebuah bisnis?”
Emosi Shin Seo Hyun pun mulai terpancing. Namun, ia berusaha keras untuk tetap bersikap tenang.
“Jika menurutmu cinta hanyalah sebuah bisnis. Di luar sana masih banyak pengusaha muda dan kaya. Silakan kejar mereka. Seperti katamu, kamu kaya, cantik, dan terkenal. Tentu bukan hal yang sulit bagimu untuk menaklukkan salah satu dari mereka. Bukankah begitu, Kim Se Na?” Ucapan sarkasme Shin Seo Hyun benar-benar menohok.
Kim Se Na langsung menyambar tasnya yang tadi dilemparkannya begitu saja di atas sofa saat ia emosi. Tanpa menunggu diusir untuk kedua kalinya, Kim Se Na keluar dari ruangan itu sambil menghentakkan kaki dengan kesal.
“Aku tidak akan semudah itu menyerah,” ancamnya sebelum menghilang di balik pintu.
Shin Seo Hyun menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya dan menutup wajah dengan koran yang tertinggal di mejanya.
***
Park Joon Soo menghubungi bagian IGD.
“Ya, Tuan?” Terdengar suara dari seberang telepon
“Direktur menunggu kehadiran dokter magang yang baru di ruang kerjanya sekarang”
“Baik, Tuan.”
Telepon ditutup.
Petugas yang menerima telepon itu segera memanggil Izzah.
“Dokter Izzah”
Izzah menoleh. “Ya?”
“Di tunggu Direktur di ruangannya.” Petugas itu kembali ke posisinya
Izzah meletakkan data pasien yang dipegangnya.
Kang So Ra, seorang perawat yang baru dikenal Izzah menggamit lengannya dan berbisik saat Izzah hendak pergi.
“Hati-hati! Jangan sampai jatuh cinta ya!” nasihatnya.
“Kenapa?” Izzah tak mengerti
“Direktur sangat tampan. Tapi … ia sangat dingin terhadap perempuan. Enggak romantis,” jelasnya.
Izzah tersenyum dan mengangguk, lalu melangkah keluar.
Ketika akan memasuki lift, ia berpas-pasan dengan Kim Se Na. Ia mengernyitkan dahi melihat wanita itu seperti terbakar emosi.
Izzah keluar dari lift menuju ruang direktur.
Park Joon Soo berjalan terburu-buru memasuki lift. Ia melihat Izzah sekilas. Merasa seolah pernah melihat gadis itu, Park Joon Soo menahan pintu lift untuk memastikan. Namun, gadis itu sudah menghilang dari pandangannya. Ia pun masuk kembali ke dalam lift dan memencet tombol angka sesuai lantai yang akan ditujunya.
Tok! Tok! Tok.
Izzah mengetuk pintu ruang direktur.
“Ya. Masuk!”
Terdengar suara dari dalam meminta Izzah untuk langsung masuk. Izzah mendorong pintu pelan, lalu melangkah masuk tanpa suara.
Ia berdiri di depan meja direktur. Tampak sang direktur sedang bersandar dan menutupi wajahnya dengan koran.
“Sepertinya Direktur sangat capek,” kata Izzah dalam hati. Ia tetap bergeming, tak ingin mengganggu istirahat sang direktur.
***