A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 27. Tugas Khusus



Dua menit sudah Izzah berdiri di depan meja sang direktur. Shin Seo Hyun belum menyadari bahwa orang yang mengetuk pintu ruangannya telah berada tepat di depannya. Menyaksikan sang direktur tak berubah posisi, Izzah memutuskan berbalik arah.


Mendengar langkah kaki menjauh, Shin Seo Hyun tersentak, menghempaskan koran yang menutupi wajahnya. Ia pun membenarkan posisi duduknya.


“Hei!”panggilnya.


Izzah berhenti dan memutar tubuh menghadap sang direktur.


“Hah!”


Keduanya terkesima. Beradu pandang dengan ekspresi yang sulit dimengerti.


“Ah! Jadi, Anda dokter magang dari Indonesia?” tanya Shin Seo Hyun memecah kebisuan dan sedikit gelagapan.


Tersadar, Izzah membungkuk, memberi hormat.


“Ya. Tuan!”


“Siapa namamu?”


“Izzah, Tuan.”


Shin Seo Hyun manggut-manggut. Menyibukkan diri dengan membolak-balik dokumen di atas meja untuk menutupi kegugupan yang tiba-tiba saja datang menyerang.


“Kau membawa berkas yang dibutuhkan bagian kepegawaian?” tanyanya.


Setelah menata hati, ia memberanikan diri menatap Izzah. Diperhatikannya gadis yang berdiri di depannya secara detail dari kepala hingga ke kaki.


Sederhana, tetapi elegan. Shin Seo Hyun memberi penilaian.


Izzah merasa risi ditatap seperti itu. Ia tahu sang direktur sedang menilai penampilannya.


“Sudah saya serahkan ke bagian personalia, Tuan,” jawab Izzah memutus tatapan Shin Seo Hyun.


“Oh! Baiklah. Kamu boleh keluar sekarang.”  Shin Seo Hyun kembali menyibukkan diri dengan dokumennya.


Izzah merasa plong. Tanpa menunggu lama, ia langsung balik badan.


“Tunggu!”


Panggilan Shin Seo Hyun mengerem langkah Izzah.


Deg! Deg! Deg!


“Apa lagi nih?” tanya Izzah di hati. Jantungnya berdebar.


Shin Seo Hyun mengeluarkan sebuah ponsel dari tas kerjanya, lalu diperlihatkannya pada Izzah.


“Ini punyamu?”


Di balik sikap tenangnya, mata Izzah membiaskan keterkejutan.


“Bentuknya memang mirip dengan ponsel saya. Boleh saya lihat, Tuan?” Izzah mendekat.


Shin Seo Hyun mengagumi sikap Izzah.


“Gadis ini cukup bijak. Ia tidak langsung mengakui kalau ini ponselnya,” puji Shin Seo Hyun dalam hati.


Disodorkannya ponsel yang dipegangnya kepada Izzah. Izzah menyambut dengan dua tangan, lalu mengecek ponsel itu.


Spontan Izzah tersungkur sujud syukur. Tak menyangka akan menemukan kembali ponselnya.


Shin Seo Hyun terlonjak kaget melihat Izzah jatuh tersungkur. Buru-buru ia mendekati Izzah. Mengira gadis itu jatuh pingsan saking senangnya.


Takut-takut, Shin Seo Hyun membungkuk dan mengulurkan tangan ingin menepuk pundak Izzah, untuk memastikan apakah gadis itu benar-benar pingsan atau tidak.


Sontak ia menarik kembali tangannya dan melangkah mundur ketika Izzah mendadak bangkit dari sujudnya.


“Alhamdulillah ... terima kasih, Ya Allah. Engkau Maha Pemurah.”


Izzah mendekap ponselnya dengan kedua tangan. Matanya berbinar-binar. Senyumnya merekah.


Shin Seo Hyun membetulkan dasi begitu mengenyakkan pantat di atas kursi kebesarannya.


“Ehem”


Dehaman Shin Seo Hyun mengembalikan kesadaran Izzah akan keberadaannya. Izzah segera berdiri.


“M-maaf, Tuan!” Izzah gugup.


“Terima kasih sudah mengembalikan ponsel saya,” ujarnya tulus.


Shin Seo Hyun tidak menjawab. Hanya mengibaskan tangan, isyarat Izzah boleh pergi. Izzah membungkuk, lalu meninggalkan ruang sang direktur.


“Huh!”


Shin Seo Hyun menghempaskan napas kuat-kuat.


“Gadis itu nyaris membuat jantungku copot,” gerutunya seraya melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.


“Menemukan ponsel yang hilang saja begitu reaksinya. Bagaimana kalau dapat hadiah lebih besar? Bisa-bisa mati berdiri dia.”


Shin Seo Hyun terus mengoceh sendiri. Mengingat ekspresi Izzah saat mendapatkan kembali ponselnya, Shin Seo Hyun senyum-senyum sendiri. Di matanya Izzah tampak luar biasa cantik.


BIP! BIP!


Shin Seo Hyun menerima panggilan telepon. Begitu selesai, ia menghubungi Park Joon Soo.


“Ya, Tuan?” Park Joon Soo bertanya dari seberang telepon


“Siapkan ruang VVIP sekarang!” perintahnya


“Ya, Tuan!”


Park Joon Soo bertindak cepat. Ia tahu, jika Shin Seo Hyun telah memberi perintah seperti itu, artinya salah satu keluarga sang direktur akan dirawat di rumah sakit itu.


Tidak lama kemudian, Park Joon Soo datang menghadap.


“Ruang VVIP sudah siap, Tuan!” lapor Park Joon Soo


“Setelah pemeriksaan, segera pindahkan pasien ke ruang itu!” ujar Shin Seo Hyun memberi instruksi lanjut.


“Ya, Tuan!”


Park Joon Soo membatalkan niatnya untuk keluar ketika Shin Seo Hyun kembali buka suara.


“Minta dokter magang yang baru untuk merawat pasien, menggantikan perawat sebelumnya.”


“Tapi, Tuan … dia kan seorang dokter, bukan perawat?” protes Park Joon Soo heran dengan keputusan direkturnya.


“Lakukan saja! Ini permintaan keluarga pasien,” jawab Shin Seo Hyun, tak ingin dibantah.


“Baik, Tuan!”


Park Joon Soo segera keluar dari ruang itu. Meraba kuduk, merasa aneh dengan permintaan sang direktur.


***


Di ruang Instalasi Gawat Darurat, para perawat saling pandang dan kasak-kusuk. Mereka melirik Izzah sambil berbisik-bisik.


Di sebuah meja, Izzah sibuk dengan berkas-berkas pasien. Tak mengetahui dirinya menjadi trending topik di ruang itu.


“Dokter Izzah!”


Terdengar suara memanggil.


“Ya?”


Izzah menoleh. Ternyata itu suara Dokter Lee Kwan Gi, pembimbingnya.


“Mulai sekarang, kau bertugas menjadi perawat pribadi pasien di ruang VVIP selama dia dirawat di sini.”


“Ya?”


Izzah kaget, tak percaya ia akan mendapat tugas seperti itu.


“Bukankah itu tugas perawat, bukan dokter?” pikir Izzah.


“Atau rumah sakit ini memang punya aturan khusus?” batinnya. Masih bengong.


Melihat Izzah kebingungan, dokter itu tersenyum.


“Ini permintaan khusus dari wali pasien. Di sini, pasien VVIP memang berhak untuk memilih perawat.’’


“Oh … baik, Dok!”


Izzah bersiap-siap. Selanjutnya berjalan di samping dokter yang akan mengantarnya. Dalam hati, Izzah bertanya-tanya seperti apa pasien VVIP sehingga mendapat pelayanan yang begitu istimewa.


“Tunjukkan kinerja terbaikmu dan jangan sampai melakukan kesalahan!” nasihat Dokter Lee Kwan Gi sebelum memutar gagang pintu ruang VVIP.


“Ya, Dok!”


Di ruang mewah itu, terbaring seorang pasien wanita usia tujuh puluhan, tak sadarkan diri. Tubuhnya ringkih dan terlihat lemah.


“Walinya tidak di sini, Dok?” tanya Izzah saat tak menemukan seorang pun menemani pasien.


“Cucu perempuannya akan datang sesekali, karena itulah ia menginginkan perawat khusus.”


Izzah mengangguk maklum. Dalam hati ia berkata, “Enak ya jadi orang kaya, apa-apa tinggal perintah.”


“Aku percaya padamu, Dokter Izzah,” kata Dokter Lee Kwan Gi sambil menepuk lembut pundak Izzah.


“Aku akan berusaha keras,” janji Izzah.


Dokter Lee Kwan Gi meninggalkan Izzah setelah memberikan informasi penting tentang pasien sehubungan dengan tugas Izzah.


Sendiri, Izzah mendekati pasien. Ditariknya sebuah kursi, lalu duduk di tepi ranjang. Diamatinya kondisi wanita tua itu. Hatinya merasa iba.


“Di usia sesenja itu dan dalam kondisi selemah itu, bukankah seharusnya anak cucunya hadir mendampinginya? Menunjukkan bakti terakhir mereka jika Tuhan tak memberinya kesempatan untuk kembali pulih? Di mana mereka semua?”


Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di benak Izzah. Tanpa sadar ia meneteskan air mata. Teringat akan bundanya yang makin menua. Akankah bundanya bernasib seperti wanita tua di hadapannya ini? Sendiri dalam kemewahan hampa.


“Tidak. Aku tidak akan membiarkan bunda sendiri. Aku akan selalu mendampingnya di hari tua,” janji Izzah pada diri sendiri.


***