
BIP! BIP!
Izzah bersicepat membuka ponselnya ketika terdengar bunyi pesan masuk.
Dimas Si Tukang Intip
+82XXXXXXXXXX
Kau sibuk? Kalau tidak, kutunggu di kantin
Ada hal penting yang ingin kubicarakan
“Huh? Hal penting?” batin Izzah penasaran. Sejenak ia menatap lurus ke depan, lalu secepat kilat mengetik 'OK' pada ponselnya.
Berdiri di pintu masuk, Izzah mengamati ruang kantin. Masih sepi. Hanya ada satu dua karyawan yang keluar masuk. Sekadar membelikan minuman atau makanan kecil untuk senior atau atasan mereka.
Dimas langsung melambaikan tangan begitu melihat Izzah dan menarikkan kursi saat gadis itu sudah sampai di mejanya.
“Aku tidak punya banyak waktu, Mas,” ujar Izzah to the point.
Dimas tersenyum kecut. “Gadis ini masih saja belum berubah. Basa-basi dulu kek. Bikin hati ciut saja,” gerutu Dimas dalam hati.
“Tenang saja! Aku juga ngerti kok. Begini … beberapa waktu yang lalu, gerbang keempat telah kembali muncul dengan tiba-tiba. Apa kau tahu?”
Melihat tak ada kekagetan di wajah Izzah, Dimas menyimpulkan Izzah juga sudah menyadarinya. Tapi yang tidak ia mengerti, kenapa gadis itu diam saja dan tak mencoba menghubunginya?
Izzah tak menjawab pertanyaan Dimas. Ia terpaku membayangkan saat-saat ia melihat berkas cahaya menyilaukan terpancar dari pohon besar di taman Shin Seo Hyun.
“Jadi, pohon itu benar-benar gerbang keempat Negeri Seribu Bunga?” batin Izzah, setengah tak percaya sekaligus gembira. Semua rasa itu tergurat jelas pada raut mukanya, membuat Dimas semakin yakin dengan kesimpulannya.
“Ah! Sepertinya kau benar-benar sudah tahu. Mungkinkah kau juga telah menemukan pohon yang menjadi gerbang penghubungnya?” tanya Dimas, melihat Izzah hanya diam.
“Atau … jangan-jangan kau juga sudah tahu siapa pemegang kuncinya,” sambungnya lagi, menatap Izzah penuh selidik.
“Entahlah. Aku tidak yakin, tapi aku akan segera mencari tahu kebenarannya,” sahut Izzah setelah sadar dari keterpanaan pikirannya.
Ia tak ingin gegabah memberitahu Dimas sebelum ia sendiri benar-benar yakin dengan apa yang pernah dilihatnya. Lagi pula, itu lahan pribadi. Tak bisa dimasuki tanpa izin pemiliknya. Pemegang kunci? Ia bahkan belum terpikir sampai ke situ. Mungkihkah Shin Seo Hyun?
“Aku harus menyelidikinya,” batin Izzah, menggangguk mantap.
“Baiklah. Kalau tak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku pamit,” ujar Izzah seraya berdiri dan hendak berlalu.
“Tunggu, Izzah!” cegah Dimas.
Izzah kembali duduk. Tak bicara. Hanya matanya menatap Dimas menuntut penjelasan. Dimas menghela napas.
“Kau tahu apa artinya semua itu?”
Izzah masih diam.
“Semakin cepat kita temukan kuncinya, semakin cepat pula orang-orang itu bebas,” lanjut Dimas, memberi pengertian pada Izzah.
Izzah tersenyum tipis. Ia paham betul kekalutan dan harapan Dimas. Ia pun merasakan hal yang sama. Hanya saja, ia tak mau melangkah terburu-buru.
“Iya … aku ngerti, Mas, tapi … aku masih perlu waktu untuk menyelidikinya.”
“Berapa lama? Aku takut gerbang itu menghilang lagi,” tukas Dimas. Kekhawatiran jelas tergambar pada sorot matanya.
“Tak bisa kupastikan. Yang jelas, sama seperti dirimu, aku juga akan berusaha semampuku,” sahut Izzah datar.
“Apa yang akan kau usahakan semampumu?" tanya Shin Seo Hyun, tiba-tiba menghampiri mereka dengan tangan kiri di saku celana.
Dimas dan Izzah menoleh kaget, lalu serentak berdiri kikuk. Membuat Shin Seo Hyun melempar pandangan curiga.
“Maaf, Tuan. Saya akan kembali sekarang,” ujar Izzah cepat-cepat, menghindari tatapan tajam Shin Seo Hyun.
“Permisi, Mas Dimas,” pamitnya pada Dimas, lalu buru-buru meninggalkan kantin.
Shin Seo Hyun dan Dimas sama-sama mendengus dan beradu tatap dalam diam, seakan ingin saling melenyapkan.
“Apakah peraturan di kantor Anda memberi kebebasan kepada karyawan untuk menemui relasi pimpinan di saat jam kerja?” tanya Shin Seo Hyun sarkastik sambil melirik jam yang tergantung di dinding.
“Aku hanya ingin menyapa Izzah sebagai teman, bukan sebagai relasi pimpinannya. Apa itu salah?” sahut Dimas, bertanya balik dengan nada dingin. Sepasang mata mereka sama-sama berkilat.
“Tentu saja tidak jika Anda tahu waktu,” balas Shin Seo Hyun, tak kalah dingin.
“Silakan nikmati hidangannya!” lanjutnya lagi, melirik makanan dan minuman di meja yang belum disentuh Dimas.
“Terima kasih. Anda boleh pergi atau Anda ingin menemaniku minum, Tuan Shin?” tawar Dimas basa-basi.
“Aku akan pergi. Semoga hari Anda menyenangkan,” balas Shin Seo Hyun datar seraya beranjak pergi.
Begitu tiba di ruang kerjanya, Shin Seo Hyun duduk berpikir sambil mempermainkan dagunya dengan ujung jari telunjuk kirinya. Sementara ujung jari kanannya sesekali mengetuk kaca meja.
“Apa yang mereka bicarakan? Kelihatannya sangat serius,” gumam Shin Seo Hyun, mengingat ekspresi Izzah dan Dimas di kantin tadi.
“Kunci … kunci apa?”
Shin Seo Hyun terus berdialog dengan dirinya sendiri tentang potongan pertanyaan Dimas yang sempat tertangkap oleh pendengarannya saat melewati meja mereka sebelum masuk ke kantin.
“Aaaargh .…”
Shin Seo Hyun berteriak kesal karena tak menemukan jawaban dari teka-tekinya.
“Gadis itu memang penuh misteri. Selalu saja ada hal yang tak terduga,” omelnya makin penasaran.
Teringat Dimas dan Izzah berbagi rahasia yang sama, mendadak dada Shin Seo Hyun terasa sesak. Wajahnya mengeras. Tangannya terkepal. Menggenggam erat pena di atas meja hingga pena itu patah.
***
Selesai mandi dan berpakaian, Shin Seo Hyun bergegas ke ruang perpustakaan. Ia tahu istrinya selalu menghabiskan waktu sorenya di sana. Mencurahkan semua ide-ide di kepalanya melalui cerita yang ditulisnya. Shin Seo Hyun sangat menikmati setiap perubahan ekspresi istrinya itu sesuai dengan emosi tokoh dalam cerita.
Membayangkan itu, Shin Seo Hyun senyum-senyum sendiri dan melangkah lebar.
“Hah? Ke mana dia?” tanya Shin Seo Hyun celingukan ketika mendapati meja tempat Izzah biasa bekerja itu kosong.
Tiba-tiba saja pikiran usil melintas di kepalanya. Ditutupnya pintu diam-diam. Sambil berjinjit, ia mengendap-endap. Mendekati rak-rak buku yang menjulang tinggi karena mengira istrinya pasti tengah sibuk mencari referensi yang cocok untuk bahan ceritanya.
Disusurinya setiap lorong. Namun, betapa kecewanya Shin Seo Hyun ketika tiba di ujung lorong. Ia tetap tak menemukan istrinya di sana.
“Hah! Tidak ada juga. Tumben!” desis Shin Seo Hyun, mulai waswas.
Melihat tirai jendela tersibak, Shin Seo Hyun yakin Izzah telah ke ruang itu sebelumnya. Cepat-cepat ia berjalan menuju jendela itu.
Berdiri di belakang meja, Shin Seo Hyun bisa melihat jelas seluruh area taman belakang. Dengan mata elangnya, ditelitinya setiap sudut taman. Mencari sosok Izzah di antara bunga-bunga yang bermekaran.
Tiba-tiba matanya menyipit saat menemukan istrinya sedang berdiri termangu menatap pohon besar di tepi taman itu. Jilbabnya yang panjang berkibar-kibar ditiup angin senja.
“Hem … dia selalu tertarik dengan pohon besar itu. Aneh!” desis Shin Seo Hyun.
Dilihatnya Izzah mendekati pohon itu dan meraba batangnya seolah-olah sedang mencari sesuatu, lalu berjalan berputar mengelilinginya. Membuat rasa penasaran Shin Seo Hyun makin menggunung.
“Sepertinya memang ada sesuatu dengan pohon itu,” bisiknya lagi seraya menyilangkan tangan di depan dada. Matanya terus mengawasi Izzah karena ingin tahu apa yang akan dilakukan istrinya itu.
“Hah!”
Kedua tangan Shin Seo Hyun spontan terjatuh ke sisi tubuhnya karena terkesiap dengan apa yang disaksikannya.
Merasa cemas, sedetik kemudian Shin Seo Hyun bergegas membuka pintu di samping meja kerja Izzah. Ia berlari seperti orang gila menuruni tangga menuju taman belakang.
Sesampainya di bawah pohon besar itu, Shin Seo Hyun berteriak histeris memanggil nama istrinya.
“Izzzaaah ….”
Shin Seo Hyun jatuh berlutut, berurai air mata. Isak tangisnya terus terdengar hingga mentari tenggelam di ufuk Barat.
***