A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 58. Bagai Petir Menggelegar



Shin Seo Hyun yang duduk di ruang tamu terkesima dan sontak berdiri menahan napas tatkala melihat penampilan Izzah saat menuruni tangga. Gerakan yang anggun dan penampilan nan elegan membuat Izzah tampak bercahaya, meskipun dengan dandanan sederhana.


DEG! DEG DEG!


Dada Shin Seo Hyun bergemuruh, membuat pipinya bersemu merah. Keringatnya mengalir deras saat langkah-langkah Izzah semakin memangkas jarak di antara mereka. Cepat-cepat ia menyambar kunci mobil di atas meja, lalu berjalan ke luar. Tanpa semangat Izzah mengikuti Shin Seo Hyun.


Begitu Izzah duduk, Shin Seo Hyun segera menutup pintu mobil dan bergegas duduk di belakang kemudi. Sesaat kemudian deru mesin seolah mengucap selamat tinggal pada pekarangan sunyi itu.


Izzah duduk dengan gelisah. Ia tidak tahu ke mana Shin Seo Hyun akan membawanya. Kekesalannya pun masih tersisa, membunuh mati hasratnya untuk bicara.


“Apakah pakaian yang kau kenakan itu berduri?” tanya Shin Seo Hyun dengan kening berkerut ketika melihat Izzah tidak merasa nyaman.


Izzah hanya mendengus pelan dan melirik Shin Seo Hyun sekilas dengan sudut matanya. Shin Seo Hyun menahan senyum. Ia tahu gadis itu masih kesal.


“Kesalnya jangan lama-lama dong. Memangnya kau mau usia baru dua puluhan, tapi kerutannya mengalahkan nenek-nenek usia enam puluhan?” goda Shin Seo Hyun, membuat Izzah makin kesal.


“Bodoh amat!” sahut Izzah ketus.


“Yee … nanti calon suamimu kecantol wanita lain gimana?” ujar Shin Seo Hyun, memanas-manasi Izzah.


“EGP! Lagian, siapa juga yang mau nikah?”


“Kamulah. Memangnya kau nggak niat nikah? Itu sunah lo .…”


“Tuan Shin yang terhormat, dengar ya … nikah itu tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh dua hati yang saling menyayangi karena Allah. Anda pikir bisa nikah sendiri?” tukas Izzah sewot.


“Bukannya orang nikah itu karena cinta ya?” pancing Shin Seo Hyun.


“Cinta? Bullshit! Kebanyakan laki-laki itu cuma pintar gombal. Di awal bilang cinta setengah mati. Eeeh … pas sudah dijadikan istri, diperlakukan seperti pembantu. Parahnya lagi, habis manis sepah dibuang. Mending hidup sendiri saja daripada begitu,” balas Izzah berapi-api, membuat Shin Seo Hyun tersentak.


Shin Seo Hyun melirik gadis yang duduk di sampingnya penuh tanya. Wajah Izzah menyiratkan kebencian dan luka yang mendalam.


“Apa dia punya trauma?” batin Shin Seo Hyun. Untuk sesaat ia diam, lalu kembali buka suara.


“Tidak semua laki-laki seperti itu. Di dunia ini masih ada lelaki yang mencintai dengan sepenuh hati, meskipun jumlahnya mungkin memang tidak banyak. Sedikit bukan berarti tidak ada lo …,” protes Shin Seo Hyun


"Yang bilang semua juga siapa? Aku bilang kan kebanyakan. Lagian ya ... untuk bisa menemukan satu di antara yang sedikit itu sama saja seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Dapat tidak, capek iya," timpal Izzah makin keki.


"Orang bilang, hidup tanpa cinta itu ibarat pohon tak berbunga. Hampa. Tak ada keindahan," balas Shin Seo Hyun, berusaha membuka pemikiran Izzah.


“Terserah Tuan mau ngomong apa tentang cinta. Aku nggak peduli! Aku mau tidur. Bangunkan aku kalau sudah sampai!” sahut Izzah datar. Terdengar pesimis di telinga Shin Seo Hyun.


Shin Seo Hyun menghela napas panjang saat melihat Izzah benar-benar memejamkan mata setelah menutup kalimatnya.


Tiga puluh menit kemudian, Shin Seo Hyun memarkir mobilnya di halaman sebuah rumah mewah yang berdiri megah bak istana. Diliriknya Izzah. Mata gadis itu masih terpejam. Untuk sesaat Shin Seo Hyun terpaku menikmati pemandangan itu dengan tatapan hangat.


“Zah, sudah sampai nih …,” bisik Shin Seo Hyun, membangunkan Izzah seraya mengguncang bahunya pelan. Izzah membuka mata perlahan.


“Di mana ini?” tanya Izzah, celingukan mengamati tempat yang begitu asing.


“Turunlah! Nanti kau akan tahu,” ajak Shin Seo Hyun seraya keluar, membukakan pintu untuk Izzah.


Mata Izzah terkagum-kagum menyaksikan kemegahan bangunan yang berdiri di hadapannya.


“Ayo!” panggil Shin Seo Hyun dari teras. Izzah bergegas menyusul.


“Aunty Izzaaah ...,” pekik seorang gadis kecil, berlari menyongsong begitu Shin Seo Hyun dan Izzah memasuki ruang tamu.


“Ha Na …,” pekik Izzah kaget. Ia tak menyangka Shin Seo Hyun akan membawanya mengunjungi Kang Ha Na.


“Cup ... cup … muaaah .…” Ha Na mencium Izzah bertubi-tubi.


Geregetan dengan tingkah Ha Na, Izzah balas mencium dan mencubit pipi Ha Na yang sudah berada dalam gendongannya.


“Wah! Wah! Sepertinya Ha Na mendapat hadiah besar hari ini,” ujar Nyonya Kang. Ia tertawa senang melihat kehadiran Izzah.


“Sepertinya begitu. Aku bahkan tidak terlihat oleh Ha Na,” timpal Shin Seo Hyun dengan lirikan menggoda. Ia merasa senang melihat keakraban Ha Na dan Izzah.


“Ayo duduk!” ajak Mama Ha Na.


Izzah segera duduk di kursi sambil memangku Ha Na, diikuti Shin Seo Hyun yang memilih duduk di sebelahnya. Seorang lelaki usia empat puluhan turun dari lantai dua dengan menyeret sebuah koper besar, lalu menyapa Shin Seo Hyun.


Melihat Mama Ha Na langsung berdiri menghampiri lelaki itu, Izzah yakin itu adalah Papa Ha Na.


"Sungguh pasangan yang serasi," pikir Izzah.


Setelah perkenalan singkat, Tuan dan Nyonya Kang ikut duduk bersama mereka.


“Sudah lama tak berjumpa. Kudengar Dokter Izzah sakit. Maaf, kami tidak sempat membesuk,” ujar Nyonya Kang, merasa tak enak hati.


“Tidak apa-apa, Nyonya. Cuma kelelahan saja. Aku tahu Nyonya sangat sibuk. Dan sepertinya kedatangan kami hari ini tidak begitu tepat,” sahut Izzah seraya melirik koper yang tadi dibawa Tuan Kang.


“Oh … tidak. Kami malah senang Dokter Izzah mampir hari ini. Waktunya sangat tepat,” jawab Tuan Kang, memandang istrinya penuh arti. Nyonya Kang tersenyum.


“Iya, Dokter Izzah. Hari ini adalah ulang tahun Ha Na, tapi kami harus terbang karena ada urusan yang sangat mendesak. Jadi, bisakah kami minta tolong Dokter Izzah untuk menemani Ha Na?” tanya Nyonya Kang.


“Benarkah? Waah … barakallah fii  umrik ya Ha Na. Maaf, Aunty tidak membawa kado buat Ha Na,” ujar Izzah menatap Ha Na yang bergelayut manja di lehernya sembari mempermainkan bros jilbabnya. Ha Na menggangguk.


“Aunty … boleh tidak Ha Na minta hadiahnya sekarang aja?” tanya Ha Na dengan suara huruf R yang sedikit cadel.


“Hem … memangnya Ha Na mau hadiah apa? Nanti Aunty belikan,” sahut  Izzah, menyalakan lampu hijau.


Tanpa buang waktu Ha Na segera berbisik di telinga Izzah. Sontak Izzah terperangah mendengar permintaan Ha Na. Melihat kekagetan Izzah, Tuan dan Nyonya Kang serta Shin Seo Hyun jadi penasaran.


“Ha Na minta apa, Sayang? Sampai membuat Aunty Izzah kaget begitu?” selidik Nyonya Kang.


Ha Na langsung melompat turun dari pangkuan Izzah dan berlari menghampiri mamanya, lalu berbisik pelan di telinga sang mama. Mendengar bisikan Ha Na, mata Nyonya Kang membesar, menatap Izzah yang salah tingkah.


Begitu selesai membisiki mamanya, Ha Na kembali bergelayut manja pada Izzah. Ekspresi Nyonya Kang membuat Shin Seo Hyun dan Tuan Kang makin penasaran. Namun, Nyonya Kang tidak berkata apa-apa. Membuat Izzah sedikit lega.


Tuan Kang melirik jam tangannya. Hampir pukul dua siang.


“Oh ya, Dokter Izzah. Seperti kata Mama Ha Na tadi, kami minta tolong Dokter Izzah untuk menemani Ha Na atau lebih tepatnya titip Ha Na selama kami ke luar negeri. Mungkin sekitar tiga hari. Itu pun kalau Dokter Izzah tidak keberatan,” ujar Tuan Kang.


Izzah diam sesaat. Mempertimbangkan permintaan Tuan dan Nyonya Kang. Tiga hari lumayan lama. Teringat kesepakatannya dengan Shin Seo Hyun, Izzah merasa kehadiran Ha Na bak malaikat pelindung.


“Bos licik itu tidak akan macam-macam kalau ada Ha Na,” pikir Izzah.


Paling tidak, sampai habis masa cuti sakitnya ia akan baik-baik saja. Begitu yang terlintas di benak Izzah. Tanpa ragu, ia pun menyetujui permintaan Papa dan Mama Ha Na.


“Baiklah. Saya akan menjaga Ha Na selama Tuan dan Nyonya pergi. Lagi pula, saya juga belum masuk kerja,” sahut Izzah, tersenyum manis.


Mendengar jawaban Izzah, Ha Na spontan mendaratkan ciuman di kedua pipinya.


“Yes! Yes! Yes!” sorak Ha Na kegirangan sambil bertepuk tangan, membuat mama dan papanya saling pandang dengan mata berbinar. Sementara Shin Seo Hyun cuma bisa melongo, seolah baru saja mendengar suara petir menggelegar tepat di samping telinganya.


***