A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 76. Pernikahan



TAP! TAP! TAP!


Shin Seo Hyun melangkah pelan menaiki tangga. Ia terlihat lelah. Ketika ia akan berbelok ke kamarnya, dilihatnya cahaya merembes keluar dari pintu kamar Izzah yang sedikit terbuka.


Shin Seo Hyun melirik jam tangannya. Pukul 03.05. Alisnya terangkat. Perlahan ia bergerak mendekati kamar Izzah. Didorongnya pintu itu pelan. Tampak ranjang Izzah kosong. Ditolehnya kamar mandi. Gelap. Ditutupnya kembali pintu kamar Izzah, lalu berjalan menuju perpustakaan.


Shin Seo Hyun terkesima, menyaksikan pemandangan indah di bawah jendela. Izzah tertidur dengan laptop yang masih menyala. Rambutnya yang lebat, hitam dan panjang jatuh tergerai bak tirai. Melambai-lambai ditiup angin yang berembus dari celah-celah jendela.


Penasaran dengan apa yang dikerjakan Izzah, Shin Seo Hyun melangkahkan kaki mendekati gadis itu tanpa suara. Ia berdiri di belakang Izzah, membaca hasil tulisan yangtersusun rapi di layar monitor.


Sebuah judul cerita terpampang jelas.


“NO CHOICE. By IN Cinnamon.” Mulut Shin Seo Hyun komat-kamit membaca tulisan itu dalam hening.


Kaget, Shin Seo Hyun menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia sama sekali tak pernah menduga jika penulis yang selama ini diidolakannya tak lain dan tak bukan adalah gadis yang saat ini sedang tertidur pulas di depannya.


Dengan hati-hati sekali, Shin Seo Hyun mematikan laptop. Lalu, ia menarik kursi dan duduk di samping Izzah. Tanpa jilbab, Izzah terlihat jauh lebih cantik dan menggairahkan. Shin Seo Hyun menghela napas dalam. Rasanya tak sabar ia menunggu hari esok.


***


Berjalan menarik koper, Izzah celingukan mencari sosok Fadhil di antara kerumunan orang yang menjemput keluarga mereka. Di sudut yang agak sepi, Fadhil melambaikan tangan dan segera berlari menyongsong Izzah begitu gadis itu tersenyum melambaikan tangan ke arahnya.


“Bagaimana penerbangannya?” tanya Fadhil seraya mengambil alih koper Izzah.


“Cukup melelahkan,” sahut Izzah, menggosok hidungnya yang tiba-tiba gatal karena perubahan cuaca yang mendadak.


Sebuah mobil sudah terparkir di depan pintu bandara. Fadhil bergegas membuka bagasi dan memasukkan koper Izzah ke dalamnya, lalu berlari duduk di belakang kemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan bandara.


Cuaca yang panas memaksa Izzah membuka jendela. Membiarkan embusan angin menerpa langsung wajahnya. Sejuknya angin alami lebih disukainya dari pada AC mobil yang membuat hidungnya sering kebut.


Hampir sembilan puluh menit Izzah menikmati pemandangan di sepanjang jalan sebelum akhirnya tiba di rumah. Melihat Izzah turun dari mobil, bundanya langsung menyambut dengan senyum bahagia dan pelukan hangat. Izzah membalasnya dengan kecupan sayang di kedua pipi bundanya yang mulai keriput.


“Ayo masuk, Nak! Kamu perlu istirahat setelah menempuh perjalanan yang melelahkan,” ajak Rahmi merangkul pinggang anak gadisnya itu. Ibu dan anak itu pun masuk ke dalam.


Beberapa muda-mudi tampak sibuk memasang dekorasi untuk persiapan pernikahan Izzah besok. Setelah menyapa mereka, Izzah langsung masuk ke kamar dan berganti pakaian.


Pukul 19.45. Izzah keluar dari kamarnya dan ikut bergabung dengan muda-mudi itu. Sesaat mereka terlibat obrolan ringan. Tidak betah berada di tengah keramaian, Izzah keluar. Berjalan menyusuri teras, menatap rembulan yang bulat sempurna dengan sinar keemasan. Sesekali tangannya mengusap lengannya, mengusir hawa dingin yang dibawa semilir angin malam.


“Yaelah. Dicariin di dalam ternyata malah di sini.” Sebuah suara membuat Izzah menoleh.


“Eh, Johny. Sudah lama? Maaf, aku tidak melihatmu tadi,” sahut Izzah, menghentikan langkahnya.


“Enggak juga sih. Ngapain di luar? Dingin loh … entar masuk angin lagi,” ujar Johny, menggoda Izzah. Izzah cuek.


“Ngomong-ngomong, Ihsan mana ya? Kok nggak kelihatan?” tanya Izzah heran, tak melihat keberadaan sahabat karibnya itu di rumahnya.


“Itu … lagi bertapa …,” sahut Johny, menunjuk seorang lelaki yang duduk menyendiri di bawah pohon rambutan. Lengan kirinya terlipat di atas meja kayu yang sengaja dibawanya ke sana.


Dari kejauhan Izzah memperhatikan Ihsan minum sekaleng sprite dengan kepala tertunduk lesu.


“Sakit, tapi di sini …,” jawab Johny dengan nada ikut prihatin sambil menunjuk dada kirinya. Kedua alis Izzah bertaut.


“Oh … lagi patah hati. Sama siapa? Kok aku nggak pernah tahu ya dia naksir cewek,” celoteh Izzah polos. Membuat Johny mendesah keras.


“Ya ampun, Zah. Kamu itu ya … jadi cewek kok nggak peka banget sih,” sahut Johny rada kecewa.


“Huh? Ngomong yang jelas dong, John. Jangan bikin bingung!” sergah Izzah datar.


“Jadi, kamu benaran nggak tahu perasaan Ihsan ke kamu? Ckckck … Izzah … Izzah. Padahal, sudah sangat jelas dia menunjukkannya ke kamu melalui sikap dan perhatiannya,” timpal Johny panjang lebar, membuat mulut Izzah terkunci selama beberapa waktu.


Sebenarnya Izzah bukannya tak menyadari sikap dan perhatian Ihsan yang berbeda. Hanya saja, ia hanya menganggap itu sebagai wujud persahabatan tulus yang sudah terjalin lama. Dan trauma masa kecil telah memicunya untuk tak percaya akan adanya cinta.


“Maafkan aku, San,” bisik Izzah di hati.


Dalam hening, Izzah dan Johny mendekati Ihsan dan duduk menemaninya. Ihsan mendongak bengong ketika mengetahui Izzah telah duduk di dekatnya.


“Kapan sampai?” sapa Ihsan dengan nada getir dan tetap mencoba tersenyum.


“Sejam yang lalu,” sahut Izzah sedikit kaku.


“Selamat ya … semoga kau bahagia,” lanjut Ihsan. Meski terdengar tulus, tetapi ia tak mampu menyembunyikan kesedihan dari getar suaranya.


“Terima kasih,” sahut Izzah tanpa ekspresi.


Entah kenapa percakapan mereka terdengar kaku, seolah baru pertama kalinya mereka bertemu.


“Ke dalam yuk, San! Cari cemilan,” ajak Johny, berdiri menepuk pundak Ihsan. Ia tidak tahan berada dalam situasi yang canggung seperti itu.


Ihsan berjalan mengikuti Johny tanpa menyahut. Izzah menyusul.


Keesokan harinya, rumah Izzah sudah ramai oleh para tetamu. Izzah duduk dengan kepala tertunduk di depan penghulu. Sehelai selendang putih menutupi wajahnya.


Hari beranjak siang. Namun, calon pengantin pria belum juga datang. Membuat sebagian tamu mulai berbisik dan berkasak-kusuk. Pak penghulu pun mulai tampak gelisah. Berkali-kali ia melirik jam di pergelangan tangannya dan celingak-celinguk mengamati deretan tamu-tamu pria. Sesekali disekanya keringat yang mengalir di lehernya.


Saat tamu makin resah dan Izzah mulai pasrah. Tiba-tiba terdengar suara salam. Seorang lelaki usia empat puluhan masuk diikuti seorang lelaki lainnya dengan postur lebih tinggi. Dari pakaian yang dikenakannya, orang-orang yang hadir di situ langsung bisa mengenali bahwa dialah calon mempelai pria. Namun, tak seorang pun dapat melihat wajahnya karena tertutup kacamata hitam dan masker.


Lelaki itu pun langsung duduk, mengambil posisi berhadapan lurus dengan penghulu nikah. Pak Penghulu segera bersiap untuk melakukan prosesi ijab kabul setelah pendamping mempelai pria itu berbisik di telinganya.


Calon mempelai pria membuka masker dan kacamata hitam yang dikenakannya. Izzah tetap tertunduk. Tak berani melirik calon imamnya itu. Hatinya kebat-kebit, sangat gugup.


Diawali dengan istigfar, syahadat serta mempertanyakan kesediaan masing-masing calon mempelai, penghulu itu menggenggam erat tangan mempelai pria. Siap melakukan prosesi ijab kabul.


Setelah ijab, calon mempelai menyambut dengan kabul. “Saya terima nikah dan kawinnya Izzatun Nisa binti M. Daud–”


“Hentikan!” teriak seorang lelaki dari pintu masuk, memutus proses kabul yang sedang berlangsung. Semua orang pun serentak menoleh ke pintu.


***