A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 47. Naga Terbang



Seiring dengan peredaran matahari yang makin meninggi, pengunjung yang datang pun makin berjubel. Izzah melepaskan pandangan sejauh mungkin.


Nun jauh di sana, di atas jembatan di seberang Yukdam Falls, ratusan wisatan berbaris seperti semut beriring. Sesekali sebagian dari mereka tampak berhenti mengabadikan keberadaan mereka di atas jembatan itu dengan latar belakang keindahan Yukdam  Falls.


“Izzaaah!”


Mendengar seseorang memanggil namanya, Izzah menoleh.


CEKREK!


“Yes. Dapat!” seru Ihsan gembira begitu berhasil memotret Izzah. Izzah melotot, merasa dikerjai.


“Waah … bagus banget background-nya,” puji Shin Seo Hyun, mengintip hasil jepretan Ihsan dari belakang.


“Mana? Coba kulihat,” pinta Dimas, penasaran mendengar pujian Shin Seo Hyun.


“Kalau ini sih, bukan cuma latarnya yang bagus. Modelnya juga cantik.” Dimas ikut memuji, membuat Izzah makin melotot. Entah mengapa pujian Dimas malah membuatnya semakin jengkel. Merasa dua kali dikerjai.


“Benarkah? Lihat dong?” Izzah mendekati Ihsan.


Ihsan yang sangat mengenal watak Izzah langsung menyembunyikan ponselnya, membuat Shin Seo Hyun dan Dimas mengangkat alis tak mengerti.


“Ayolah … sebentar saja,” bujuk Izzah. Ihsan menggeleng.


“Atau … kamu mau tetap tinggal di sini?” ujar Izzah dingin.


“Wuih … sadis amat! Masa tega sih, Zah. Sama teman sendiri juga.” sahut Ihsan datar, mencoba menyembunyikan kegugupannya. Ia tahu Izzah tidak pernah main-main dengan ucapannya.


“Tergantung kamu,” jawab Izzah santai.


Shin Seo Hyun dan Dimas yang tidak begitu paham maksud perkataan Izzah hanya bengong melihat Ihsan dengan terpaksa mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


“Tapi … janji jangan dihapus ya!” pinta Ihsan setengah memelas. Ia ingat, setiap kali mengambil foto Izzah diam-diam, maka Izzah akan selalu menghapusnya.


“Iya. Bawel ah!” sungut Izzah saat Ihsan masih tarik ulur dengan ponselnya.


“Ya ampun, Tuan Ihsan. Tinggal kasih lihat saja kok kesannya ribet banget ya?” sela Shin Seo Hyun, mulai kesal menyaksikan adegan Ihsan dan Izzah.


“Ho-oh … asli ribet banget!” Dimas membeo.


Dalam hati Ihsan berkata, “Kalian belum kenal watak Izzah sih. Kalau kalian jadi aku, pasti kalian akan melakukan hal yang sama.”


Melihat Ihsan sedikit lengah, secepat kilat Izzah menyambar ponsel di tangan Ihsan. Sontak Ihsan kaget begitu menyadari ponselnya sudah berpindah tangan. Buru-buru direbutnya kembali, khawatir Izzah akan menghapus hasil jepretannya.


Refleks Izzah menjauhkan ponsel itu ketika tangan Ihsan mencoba menjangkaunya. Dimas dan Shin Seo Hyun kompak menahan Ihsan demi menolong Izzah.


“Ya ampun, Nona sangat beruntung memiliki tiga saudara laki-laki yang tampaknya sangat menyayangi Nona,” seru seorang lelaki usia enam puluhan.


Ia tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat mereka sambil memegang tongkatnya. Tersenyum ramah ke arah mereka.


Izzah terperanjat dengan mulut menganga. Dimas dan Shin Seo Hyun segera melepaskan Ihsan. Tak kalah kagetnya mendengar perkataan lelaki tua itu. Sementara Ihsan yang berdiri memunggungi lelaki itu melirik Izzah dengan senyum dikulum, lalu memutar tubuhnya.


Begitu lepas dari keterpanaan, Izzah dan teman-temannya tanpa dikomando serentak membungkukkan badan memberi penghormatan kepada lelaki tua itu, sesuai dengan budaya Korea.


“Aduuh … kalian benar-benar kompak,” puji lelaki itu merasa senang dengan kesopanan yang ditunjukkan Izzah dan teman-temannya.


“Berikan ponselnya padaku! Biar aku potret kalian berempat,” pinta lelaki itu seraya menadahkan tangan.


Tiga lelaki itu saling pandang, lalu menatap Izzah secara bersamaan. Lagi-lagi tanpa dikomando, membuat lelaki tua itu tertawa lepas.


“Waah … sepertinya kalian ini sehati ya,” ujarnya merasa lucu, masih menadahkan tangan kepada Izzah.


Merasa risi ditatap tiga pria yang dianggapnya menjengkelkan serta tidak ingin melukai perasaan lelaki tua itu, akhirnya dengan terpaksa Izzah menyerahkan ponsel yang dipegangnya kepada lelaki tua itu.


Lelaki itu pun memberi kode dengan tangan agar Shin Seo Hyun dan teman-temannya merapat kepada Izzah.


Merasa mendapat angin surga, mereka segera ambil posisi tanpa menunggu diperintah dua kali. Izzah hanya tinggal diam menuruti arahan lelaki tua itu.


CEKREK! CEKREK! CEKREK!


Entah berapa kali lelaki tua itu mengambil gambar mereka dengan berbagai pose.


“Benar-benar bagus. Ternyata kalian fotogenik juga ya,” puji lelaki itu sambil melihat hasil jepretannya di ponsel Ihsan.


Buru-buru Shin Seo Hyun dan Dimas mendekati lelaki tua itu, minta dikirimi foto yang baru saja diambilnya. Mereka tidak ingin kehilangan kesempatan. Sementara itu, Izzah cuma bisa melongo menahan geram.


Lalu, mereka pun sibuk dengan ponsel masing-masing tanpa menyadari Izzah yang telah melangkah pergi, mendaki jalan setapak menuju air terjun kedua.


Mereka senyum-senyum sendiri menatap ponsel sambil bergelut dengan khayalan masing-masing tentang Izzah.


Begitu tersadar dari lamunan kosongnya, Shin Seo Hyun bergegas menyusul Izzah diikuti Ihsan dan Dimas.


“Sial! Kita ditinggal pergi,” maki Shin Seo Hyun.


“Kamu sih … sibuk dengan ponsel saja,” ujar Dimas menyalahkan Shin Seo Hyun.


“Memangnya kamu tidak?” sahut Ihsan menyindir Dimas.


“Iya, iya. Salah kau, aku, dan juga dia,” balas Dimas sambil mengarahkan jari telunjuknya kepada Ihsan, dirinya sendiri dan Shin Seo Hyun. Merasa lucu, mereka tertawa bersama.


Tanpa disadari, di belakang mereka, lelaki tua itu tersenyum geleng-geleng kepala melihat tingkah pola tiga lelaki muda yang berjalan di depannya.


“Orang tua mereka pasti sangat bangga memiliki anak seperti mereka,” gumamnya tanpa mengetahui jika orang-orang yang disangkanya bersaudara itu sama sekali tidak memiliki hubungan darah setetes pun.


Semakin ke atas, jalanan semakin menanjak. Beruntung tidak banyak pengunjung yang datang bersama Izzah dan teman-temannya sehingga tidak butuh waktu lama untuk sampai di air terjun kedua.


Air yang jatuh dari ketinggian enam belas meter mengalir deras bak seekor naga terbang.


“Kamu tahu kenapa air terjun ini dinamai Biryong?” tanya Shin Seo Hyun yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Izzah dengan menumpukan kedua tangannya pada pagar pembatas.


“Karena bentuknya yang mirip naga terbang?” jawab Izzah tanpa mengalihkan tatapannya dari keanggunan air terjun Biryong.


“Tepat sekali! Tapi … selain itu ada sebuah kisah yang dipercayai masyarakat secara turun temurun,” sahut Shin Seo Hyun, mengundang rasa penasaran Izzah. Dimas dan Ihsan juga tertarik mendengarnya.


“Waah … aku tak menyangka kalau orang Korea juga percaya dongeng,” ujar Dimas setengah berseloroh.


“Mas Dimas ini bagaimana sih. Di mana-mana, setiap masyarakat itu punya cerita dan keyakinannya sendiri terhadap suatu tempat, benda atau peristiwa. Dan itulah salah satu alasan kenapa manusia tertarik untuk saling mengenal budaya antara satu dengan lainnya,” protes Izzah.


“Aku juga penasaran bagaimana ceritanya,” timpal Ihsan siap pasang kuping. Shin Seo Hyun mulai bercerita.


“Zaman dulu, masyarakat yang tinggal di desa aliran sungai ini pernah menderita kekeringan yang luar biasa. Selidik punya selidik, ternyata ada seekor naga yang bercokol menghalangi air sungai ini terjun ke kolam di bawahnya–”


“Biar kutebak, pasti naganya minta darah perawan sebagai persembahan,” ujar Dimas memotong cerita Shin Seo Hyun. Shin Seo Hyun cuma senyum.


“Aish … Mas Dimas ini … dengerin dulu kenapa? Main potong saja!” sungut Izzah. Dimas menyeringai.


“Iya deh … maaf. Lanjut!” ujarnya, memberi aba-aba.


“Tebakan Dimas tidak sepenuhnya salah sih. Akhirnya, penduduk desa itu memang menawarkan seorang pembantu sebagai pengorbanan. Tentu saja tidak lama kemudian naga itu pun terbang ke langit. Nah, sejak itu air terjun ini dikenal dengan nama air terjun Biryong, yang secara harfiah berarti naga terbang.” Shin Seo Hyun pun


mengakhiri ceritanya.


PLOK! PLOK!


Ihsan dan Izzah bertepuk tangan sebagai apresiasi atas kesediaan Shin Seo Hyun untuk berbagi cerita.


“Tapi, kenapa kolam airnya harus dipagar begitu?” tanya Izzah, melihat pagar besi berdiri kokoh mengelilingi bagian kolam yang tak bertebing.


Sehelai spanduk berukuran kecil dalam bahasa Korea tampak tergantung di salah satu sisi pagar. Karena jarak yang begitu jauh, Izzah tak bisa membaca tulisan itu dengan jelas.


“Oh ... itu karena mandi atau bermain air tidak diperbolehkan dalam kawasan Taman Nasional Seoraksan ini,” jelas Shin Seo Hyun.


“Sayang sekali, padahal pasti seru banget kalau bisa mandi-mandi di sana,” sahut Dimas.


“Memang sangat disayangkan sih, tapi itu semua demi menjaga dan melindungi kualitas air yang ada di sini,” lanjut Shin Seo Hyun.


“Aah … pantas saja semuanya masih tampak begitu alami,” timpal Ihsan.


“Iyalah. Buang sampah sembarangan juga tidak diperbolehkan di sini,” balas Izzah.


“Dan bukan itu saja, pengunjung juga dilarang membawa keluar objek alami dalam bentuk apa pun dari Seoraksan ini,” tambah Shin Seo Hyun, membuat Izzah dan teman-temannya mengangkat alis.


“Masa sih? Sebutir batu kecil pun tidak boleh?” ujar Dimas tak percaya.


“Bahkan, walau hanya sebutir batu, tetap tidak boleh,” tegas Shin Seo Hyun.


***