
PLOK! PLOK! PLOK!
“Luar biasa! Kamu memang berbakat, Izzah!” puji Jumali sambil bertepuk tangan saat melihat tidak ada satu pun dari anak panah yang dilepaskan gadis itu meleset. Semua tepat sasaran dan berada di titik tengah.
“Alhamdulillah. Berkat kerja keras Bapak yang melatih Izzah dengan sabar.” Izzah merendah.
Tak urung pujian Izzah membuat Jumali tertawa. “Kamu memang pintar menyenangkan hati orang lain, Zah. Tapi sebenarnya, kegigihan dan semangat pantang menyerah kamulah yang mengantarmu sampai ke titik ini dalam kurun waktu yang relatif singkat.”
“Benarkah? Sayang sekali aku melewatkan pertunjukannya.” Jumali dan Izzah menoleh ke sumber suara. Tampak Ki Daud berjalan ke arah mereka.
“Bagaimana kalau sekarang kau menemaniku pergi berburu Jumali? Sudah lama aku tidak melakukannya,” lanjutnya.
“Siap, Ki,” jawab Jumali.
“Bagaimana dengan Izzah?" tanya Jumali. Matanya melirik Izzah yang sedang mencabut anak panah dari papan sasaran.
“Biarkan dia memanen buah mangga dengan anak panahnya. Anggap saja ujian,” jawab Ki Daud sambil menunjuk sebatang pohon mangga, tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Siap, Ki,” jawab Izzah, langsung menyambar sebuah keranjang rotan di atas rumput.
Izzah segera meluncur setelah Ki Daud dan Jumali pergi berburu.
“Maaf ya keranjang, hari ini bebanmu bertambah,” ucap Izzah kepada keranjang yang dibawanya. Dasar gadis aneh.
Setelah berhasil memanen beberapa buah mangga dengan panahnya, Izzah mengumpulkan berbagai jenis bunga dan tanaman herbal sesuai pesanan Ki Daud. Ia mengerjakan semua itu dengan suka cita. Ia merasa beruntung diselamatkan oleh Ki Daud, seorang herbalis hebat yang terkenal di daerah itu. Setiap hari ia belajar mengenali dan meracik obat-obat herbal dengan Ki Daud.
Merasa lelah mengitari taman pribadi Ki Daud yang cukup luas, Izzah memutuskan untuk membasuh muka di danau buatan yang berada di tengah taman itu. Ia duduk di jembatan kayu di tepi danau, merendam kaki dan menikmati sejuknya semilir angin. Sesaat kemudian ia pun meninggalkan danau itu.
Izzah belum ingin pulang. Ia masih ingin berada di taman itu lebih lama. Didekatinya sebatang pohon besar dan rimbun, diletakkannya keranjang yang sudah terisi penuh dan juga ransel. Dibentangkannya selembar sajadah, lalu merebahkan diri di atasnya. Tak lupa ia memasang headset di telinga, mendengar lantunan salawat merdu dari album Omar Borkan Al Gala. Izzah memejamkan mata sembari bibirnya ikut bersenandung. Embusan angin sepoi-sepoi membuat Izzah jatuh tertidur.
Tiga puluh menit telah berlalu. Izzah menggeliat, membuka mata perlahan.
“Astagfirullah! Aaaaaaakh!” Ia berteriak kaget saat melihat sesosok wajah lelaki menatapnya lekat dari sebuah cabang pohon yang berada tepat di atas kepalanya.
Lelaki itu tak kalah kagetnya mendengar teriakan Izzah dan jatuh meluncur. Tak ingin tertimpa tubuh si lelaki, secepat kilat Izzah berguling ke kanan. Namun, tubuhnya terhenti oleh keranjang.
Lelaki itu mendarat tepat di atas sajadah. Tak urung tangan kanannya menimpa punggung Izzah. Izzah meringis. Sementara si lelaki sibuk mengatur napas.
“Tanganmu cukup berat, Tuan,” ucap Izzah lantang dan tegas. Si lelaki terkejut. Ia menarik tangannya dari tubuh gadis itu dan bergegas bangkit.
Izzah segera duduk. Lelaki itu mengulurkan tangan, bermaksud membantu Izzah berdiri. Namun, Izzah mengabaikannya. Ia meraih sajadah, melipat dan memasukkannya ke dalam ransel.
“Maafkan saya, Nona. Saya tidak bermaksud bersikap tidak sopan.” Lelaki itu merasa bersalah. Ia telah menarik kembali tangannya yang tadi terulur. Izzah melirik sekilas.
“Lupakanlah!” ucap Izzah dingin dan raut wajah datar. Ia sudah berdiri dan beranjak meninggalkan lelaki itu tanpa menoleh lagi ke belakang.
Untuk sesaat lelaki itu terperangah, tak percaya telah diabaikan oleh seorang gadis desa. Harga dirinya terluka sekaligus merasa tertantang. Bergegas ia menyusul gadis itu dengan langkah panjang. Begitu berhasil menyejajarkan langkah dengan Izzah, ia menyambar keranjang di tangan gadis itu. Dalam sekejap keranjang itu
“Anda masih marah, Nona? Saya benar-benar minta maaf.” Lelaki itu mengulang permintaan maafnya dengan tulus.
“Bukankah saya telah meminta Anda untuk melupakannya?” jawab Izzah masih dengan nada dingin.
“Ah ya … baiklah. Saya anggap Anda telah memaafkan saya,” ujar lelaki itu cengengesan.
“Perkenalkan, saya Dimas.” Ia kembali mengulurkan tangan kepada Izzah.
Lagi-lagi Izzah hanya melirik sekilas dan tak menyambut uluran tangannya. Lelaki itu mengernyitkan kening. Heran.
“Gadis ini benar-benar aneh,” batinnya.
Sudah dua kali uluran tangannya diabaikan dan itu membuatnya makin penasaran. Selama ini belum pernah ia ditolak wanita. Sebaliknya, gadis-gadis cantik mengantre ingin berkenalan dengannya, bahkan dengan sukarela menawarkan diri untuk menjadi pacarnya. Akan tetapi, gadis yang berjalan di sebelahnya ini benar-benar berbeda. Jiwa kelelakiannya makin tertantang.
“Kalau boleh tahu, nama Nona siapa ya?” Ia bertanya sopan dan memilih kata dengan hati-hati.
“Apakah itu penting?” Bukannya memperkenalkan diri, Izzah malah balik bertanya.
“Waaah! Ini gadis benar-benar ya …,” ucap lelaki itu mulai kesal, tetapi hanya dalam hati. Benar-benar merasa diremehkan. Ia mengepalkan tangan menahan emosi.
“Hei, Dim! Dicari ke mana-mana, ternyata kamu malah lagi asyik berduaan di sini.”
Tiba-tiba seorang lelaki muncul begitu saja, merangkul pundak Dimas. Akrab.
Dimas mendelik. “Apaan sih kamu, Bas?” Dimas jengkel.
Ia melirik Izzah, khawatir gadis itu tersinggung atau marah. Namun, Izzah tetap saja menampilkan aura dingin seolah tak mendengar apa-apa. Dimas mendecak dan geleng-geleng kepala.
“Enggak dikenalin ke aku, Dim?” bisik lelaki yang bernama Abbas itu, sahabat sekaligus sekretaris Dimas. Dimas menyikut Abbas, isyarat agar Abbas tutup mulut.
Dalam hati Dimas menggerutu. “Bagaimana mau ngenalin ke kamu, Bas. Aku saja belum berhasil kenalan sama dia. Nasib.”
Dalam hati Abbas juga dongkol. “Sialan nih Dimas. Giliran cewek cantik diembat sendiri saja. Awas ya, Dim!”
Setelah beberapa lama Dimas tak jua kunjung memperkenalkan gadis itu kepadanya, Abbas memberanikan diri dan berinisitiatif memperkenalkan dirinya kepada gadis itu.
“Halo, Nona. Saya Abbas, temannya Dimas,” ucap Abbas dengan nada ceria sambil mengulurkan tangan.
Dimas melongo, tidak menyangka Abbas akan bertindak nekat. Entah kenapa jantung Dimas jadi deg-degan. Ia penasaran bagaimana respons gadis itu, tetapi ia juga cemas. Jangan-jangan Abbas tersinggung kalau gadis itu merespons perkenalan Abbas dengan cara yang sama seperti dengannya tadi.
Dugaannya ternyata benar. Izzah cuma melihat sekilas dan tak menyambut uluran tangan Abbas. Akan tetapi, kali ini gadis itu sedikit menganggukkan kepala. Abbas terperangah, melotot menatap Dimas. Dimas mengedikkan bahu. Mereka saling tatap, tak mengerti.
Dalam hidup, ada banyak hal yang terkadang sulit untuk dipahami dan butuh kesabaran untuk bisa menyingkap tabir rahasianya.
***