
Tatapan mata Seo Hyun dan Izzah saling bertaut dalam bisu. Pipi Izzah memerah dan terasa panas. Debaran hatinya semakin menjadi.
Seo Hyun tenggelam dalam kepekatan mata Izzah. Hatinya bergetar. Di tengah semilir angin dan senandung dedaunan yang berbisik mesra, tangan kanan Seo Hyun bergerak naik. Menyentuh wajah Izzah.
Jemarinya membelai lembut bibir gadis yang membuat jantungnya berdetak kencang setiap kali berada di dekatnya. Lalu, perlahan bibir Seo Hyun mendarat di bibir Izzah dan ********** dengan lembut. Dengan mata terpejam, Seo Hyun dan Izzah hanyut dalam kemesraan musim gugur, disaksikan indahnya daun-daun maple yang
berguguran.
"Tuan Shin!”
Panggilan Izzah mengagetkan Shin Seo Hyun.
“Hah!”
Shin Seo Hyun tersadar dari lamunannya. Izzah bergegas mengambil botol air mineral yang tertinggal di tepi kolam.
Salah tingkah dan merasa malu pada dirinya sendiri, Shin Seo Hyun menggaruk kepala dan memaki dirinya.
“Sial! Bisa-bisanya aku memikirkan hal seperti itu. Mana mungkin gadis seperti Izzah mau melakukan hal serendah itu sebelum menikah.”
Shin Seo Hyun dan Izzah menyusul teman-temannya untuk menikmati makan siang yang terlambat. Untuk beberapa waktu mereka berbincang-bincang mengusir penat.
Ketika waktu menunjukkan hampir pukul empat sore, mereka meninggalkan Taman Nasional Naejangsan kembali ke Seoul, mengejar pesawat malam.
***
Pukul 20.40. Di Bandara Incheon ….
“Terima kasih, Tuan Shin dan Tuan Park. Beritahu kami jika Anda ke Indonesia. Kami akan dengan senang hati menemani liburan Anda.”
Fadhil pamit dan menyalami Park Joon Soo. Park Joon Soo memeluk Fadhil dan menepuk punggungnya, seakan mereka sudah menjadi teman dekat hanya dalam waktu dua hari.
“Titip adik saya, Tuan Shin!”
“Tentu. Akan saya pastikan adik Anda baik-baik saja, Tuan Fadhil.”
“Terima kasih!”
Fadhil membisikkan sesuatu di telinga Shin Seo Hyun saat mereka saling berpelukan. Shin Seo Hyun mengangguk dan melirik Izzah sekilas.
Ihsan dan kawan-kawan bergiliran menyalami Shin Seo Hyun dan Park Joon Soo.
"Jaga diri baik-baik ya!”
Fadhil memeluk Izzah, adik kesayangannya.
“In syaa Allah. Kakak juga. Jaga kesehatan ya!”
Izzah melepaskan pelukan kakaknya dengan berat hati.
Lambaian tangan Izzah menyiratkan kesedihan, melepas kepergian kakak dan teman-temannya.
Park Joon Soo dan Shin Seo Hyun memacu mobil mereka, meninggalkan Bandara Incheon.
Sepuluh menit perjalanan, Shin Seo Hyun melirik Izzah yang duduk di sampingnya sudah terlelap.
“Gadis bodoh ini pasti sangat kelelahan.”
Senyum Seo Hyun mengembang, teringat kejadian saat Izzah tertidur di kereta tadi pagi.
Deg!
Hatinya kembali bergetar.
Namun, senyum Seo Hyun mendadak lenyap tatkala melihat Izzah tidur dengan gelisah. Keringat bercucuran di dahi Izzah. Kening Seo Hyun ikut berkerut saat Izzah mengernyit.
Perlahan Seo Hyun meraba kening Izzah.
“Astaga! Badannya panas sekali!”
Seo Hyun menepikan mobilnya di depan sebuah apotik. Ia bergegas turun dan masuk membeli obat penurun panas.
Begitu meletakkan kantong obat, mobil Seo Hyun melaju dengan kecepatan tinggi.
Di tengah hamparan padang bunga aneka warna, Izzah berjalan pelan. Mengagumi setiap kuncup yang dilewatinya.
“Di mana ini? Aku belum pernah melihat taman ini sebelumnya.”
Izzah terus berjalan menyusuri jalan setapak di antara bunga-bunga itu. Dari kejauhan tampak seekor kupu-kupu hinggap di setangkai bunga mawar. Izzah mendekatinya.
“Syifa!” Izzah terbelalak.
“Izzah!”
Syifa, si kupu-kupu cantik berwujud manusia itu pun tak kalah kaget melihat kehadiran Izzah.
“Senang bisa bertemu denganmu lagi, Izzah!”
Syifa menyambut Izzah hangat dan segera melayang mendekati Izzah. Izzah membentangkan telapak tangannya untuk tempat Syifa hinggap.
“Aku juga.”
Izzah melihat sekeliling dan bertanya, “Tapi … di mana ini?
Syifa senyum. “Ini lembah bunga.”
“Ya.”
“Luar biasa cantik!”
“Terima kasih. Mari ikut aku!”
Syifa mengembangkan kedua sayapnya dan terbang. Izzah mengikuti Syifa menuju sebuah rumah mungil di tengah taman dengan kolam yang indah.
Izzah duduk di atas sebuah batu di tepi kolam. Berpikir bagaimana ia bisa berada di taman Syifa. Mungkinkah karena kalung yang dikenakannya?
Syifa tersenyum, seolah bisa membaca pikiran Izzah.
“Kamu sedang sakit, Izzah. Karena itulah kamu berada di sini.”
“Maksudmu?”
“Apakah kau lupa kalau kau mewarisi kekuatanku?”
“Tentu saja tidak. Tapi, apa hubungannya?”
“Aku bisa merasakannya. Karena itu aku mengundangmu datang ke sini.”
Izzah menatap Syifa penuh tanya.
“Sepertinya kau telah menggunakan kekuatanmu melebihi daya tahan tubuhmu. Dan kau lupa memperbaruinya.”
“Aku tak mengerti maksudmu.”
Tiba-tiba tubuh Izzah melayang.
“Syifa … tolong aku!”
Izzah berteriak ketakutan. Tubuhnya semakin menjauh dari Syifa. Syifa mengejar Izzah.
“Buka mulutmu!” perintah Syifa begitu berhasil terbang di atas wajah Izzah.
Izzah patuh dan membuka mulutnya. Syifa mengeluarkan botol kecil dan menuangkan sesuatu ke dalam mulut Izzah. Manis. Tubuh Izzah terasa segar.
Shin Seo Hyun membopong Izzah masuk ke rumahnya, alih-alih mengantarkan gadis itu ke kontrakannya.
Pelan-pelan dibaringkannya tubuh Izzah di atas ranjang. Ia memeriksa kondisi Izzah.
“Panasnya sudah turun. Kok bisa?”
Shin Seo Hyun mengangkat kantong obat yang tadi dibelinya dan belum disentuh Izzah.
“Apa gadis ini juga memiliki kemampuan untuk memulihkan diri sendiri?”
Ia merasa Izzah semakin aneh.
“Baiklah. Aku akan terus mengawasinya.”
Setelah merapikan selimut Izzah, Shin Seo Hyun mengambil kasur lipat dan menggelarnya di lantai, di samping ranjang. Kelelahan, ia merebahkan diri dan langsung tertidur.
Menjelang tengah malam, Izzah terjaga, memanggil nama Syifa. Begitu membuka mata, ia menemukan dirinya berada di sebuah kamar asing.
“Ah, ternyata cuma mimpi.”
Izzah mengamati seisi kamar. Suasana yang temaram membuatnya tak bisa melihat dengan jelas.
Duduk. Izzah menjilat bibirnya yang terasa lengket. Manis madu.
“Hem … ini nyata, bukan mimpi. Aku benar-benar bertemu Syifa.”
“Aha! Sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak perlu minum multivitamin, cukup konsumsi madu saja.”
“Bodohnya aku selama ini. Bukankah madu antibiotik alami dengan khasiat yang luar biasa? Tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan, tapi juga untuk kecantikan. Terima kasih Syifa.”
Tiba-tiba Izzah merasa ingin ke toilet, tetapi ia bingung di mana letak toiletnya. Bahkan, ia tak tahu sedang berada di mana.
“Apakah ini rumah Tuan Direktur?”
Izzah ingat dari bandara tadi ia pulang bersama Shin Seo Hyun.
“Tapi … kenapa ia malah membawaku ke rumahnya? Apa karena aku tertidur dan Tuan Direktur terlalu sungkan untuk membangunkanku?”
Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Izzah tanpa menemukan jawaban.
“Aduh! Aku benaran kebelet nih. Bagaimana ini?”
Izzah mulai gelisah. Ia mengambil ponsel di kantong jaketnya, mencari nomor kontak Shin Seo Hyun.
“Ah! Tidak! Tidak boleh. Tuan Direktur pasti sudah tidur. Sebaiknya aku cari sendiri saja di mana letak toiletnya.”
Berpikir tak ingin mengganggu jam tidur Shin Seo Hyun, Izzah menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu bergerak turun.
Kondisi kamar yang remang-remang membuat kaki Izzah tersangkut pada kasur alas tidur Shin Seo Hyun. Nahas, ia terjatuh dan menimpa tubuh sang direktur.
Sontak Shin Seo Hyun langsung terbangun karena kaget. Melihat Izzah tertelungkup di atas tubuhnya, Shin Seo Hyun mematung, bengong menatap Izzah yang ternganga, sama kagetnya. Detak jantung Seo Hyun dan Izzah seakan saling berpacu.
***