A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 52. Penasaran



TOK! TOK!


Shin Seo Hyun mengetuk pintu kamar Izzah. Tak ada sahutan. Ia mengetuk ulang. Namun, masih tak terdengar apa pun dari dalam kamar Izzah.


“Apa dia masih tidur?”


Shin Seo Hyun melirik jam tangannya. Pukul 6.30.


“Atau dia sudah pergi?”


Merasa waswas, Shin Seo Hyun mendorong pintu perlahan. Tampak Izzah masih tertidur pulas tanpa sedikit pun berubah posisi. Melihat itu, mendugas Shin Seo Hyun menghampiri ranjang. Dirabanya kening gadis itu dengan lembut. Terasa sedikit panas.


“Sebelumnya dia baik-baik saja. Ah! Seharusnya aku menemaninya kemarin malam,” sesal Shin Seo Hyun, merasa kecolongan.


Tergabas Shin Seo Hyun menuruni tangga menuju dapur, lalu kembali dengan membawa air hangat dan selembar kain. Ditempelkannya kain basah itu ke kening Izzah.


Shin Seo Hyun menyibak tirai jendela di kamar itu. Di luar jendela, rinai pun lingsir membasuh dedaunan. Nun jauh di atas cakrawala, mega mendung menghalangi pendar mentari pagi.


Jalanan tampak sepi. Dinginnya hawa pagi yang berbalut gerimis membuat orang-orang enggan untuk meninggalkan tempat tidur. Terlebih lagi di hari minggu begini.


Izzah menggeliat. Begitu membuka mata, ia merasakan sesuatu yang basah menempel di keningnya. Diraihnya benda itu. Matanya menyipit melihat sehelai kain kompres di tangannya.


Menyadari ia tak terbaring di kamarnya, Izzah menabirkan pandangan. Matanya tertumbuk pada sesosok lelaki yang berdiri membelakanginya di dekat jendela.


“Tuan Shin,” desis Izzah kaget.


“Kau sudah bangun?” tanya Shin Seo Hyun. Ia berjalan mendekati Izzah, seolah mendengar dengan jelas namanya disebut.


Izzah bangkit. Kepalanya terasa sedikit pusing.


“Ah!” Izzah nyaris roboh saat mencoba turun dari ranjang.


“Pelan-pelan,” ujar Shin Seo Hyun, menahan tubuh Izzah.


“Duduklah dulu! Aku akan membuatkan sarapan untukmu.” Shin Seo Hyun keluar dari kamar.


Izzah duduk di tepi ranjang. Memijat lembut kepalanya. Ia merasa tak berdaya, kehilangan sebagian besar tenaganya. Ia baru ingat kalau ia tidak hanya melewatkan makan malam, tetapi juga telah bertarung dalam kondisi di mana seharusnya ia tidak boleh terkena benturan keras.


Ya, saat sedang haid, seharusnya seorang wanita sangat berhati-hati dan menghindari segala bentuk benturan fisik, apalagi di bagian perut. Izzah mengecek lengan dan kakinya. Terlihat ada begitu banyak memar. Dengan sececah tenaga yang masih tersisa, Izzah berupaya memulihkan dirinya sendiri.


Shin Seo Hyun yang berdiri di tengah pintu dengan sebaki makanan dan minuman menghentikan langkahnya dan balik badan saat menyaksikan Izzah sedang berkonsentrasi. Ia bergegas meletakkan nampan itu di atas meja setelah mendengar Izzah terbatuk dan melangkah ke kamar mandi.


“Makanlah jika sudah siap! Aku akan keluar sebentar,” pamit Shin Seo Hyun. Izzah melirik bosnya itu sekilas.


“Ya. Terima kasih,” sahut Izzah agak lesu.


Satu jam kemudian ….


Shin Seo Hyun turun dari mobil. Membuka bagasi dan menurunkan sebuah koper, lalu menentengnya ke kamar Izzah.


“Mulai hari ini kau akan tinggal di sini,” kata Shin Seo Hyun. Ia meletakkan koper itu di sisi ranjang.


Izzah menghentikan suapannya. Merasa janggal.


“Apakah saya pernah bilang saya akan tinggal di sini, Tuan? Tolong jangan ambil hati igauan saya saat demam!” sahut Izzah jengah.


“Tidak, tapi aku yang memutuskan,” tegas Shin Seo Hyun, membuat kening Izzah berkerut.


“Haruskah aku menjelaskan semua alasannya? Aku direktur rumah sakit tempatmu bekerja, merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatanmu,” tukas Shin Seo Hyun.


“Aku bisa menjaga diriku sendiri,” tegas Izzah seraya meletakkan sendok yang dipegangnya di atas piring kosong.


Jawaban Izzah memancing emosi Shin Seo Hyun.


“Gadis ini benar-benar keras kepala. Aku harus memutar otak mencari cara agar dia tidak bisa menolak,” pikir Shin Seo Hyun, menahan geram dan membiarkan Izzah membawa nampan berisi piring kotor itu keluar dari kamar.


Shin Seo Hyun mengenyakkan pantatnya di atas sofa. Menunggu Izzah kembali.


Izzah mengentakkan nampan yang dibawanya di atas wastafel cuci piring. Ia dongkol gara-gara Shin Seo Hyun membuat keputusan tanpa persetujuannya, apalagi di rumah itu hanya ada Shin Seo  Hyun.


“Tinggal serumah dengan, Direktur Shin? Berdua saja? Waaah, bagaimana bisa dia punya pikiran seperti itu? Apa alasannya coba?” omel Izzah berdiri dengan berkacak pinggang, seolah berbicara dengan pecah belah kotor di depannya.


Izzah geleng-geleng kepala. Sesuatu yang tak pernah dibayangkannya. Bahkan, dalam mimpi sekali pun.


“Ah sudahlah. Daripada mumet, mending selesaikan cuci piring secepatnya,” pikir Izzah.


Setelah menuntaskan pekerjaannya, Izzah bermaksud untuk naik kembali ke kamarnya. Namun, tiba-tiba saja matanya menangkap sebuah pintu yang agak tersembunyi di sudut dapur. Rasa penasaran menyeret langkahnya untuk mendatangi pintu itu.


Diputarnya anak kunci dengan perlahan. Sedikit susah. Sepertinya pintu itu sudah lama tidak pernah dibuka. Sudah ada karatan-karatan kecokelatan yang menempel pada lubang kunci. Pantang menyerah, Izzah mencoba lagi, lagi dan lagi.


“Yes! Alhamdulillah!” desis Izzah girang begitu pintu itu berhasil dibuka. Tak sabar, ia bergegas melangkah keluar dan menutup pintu itu tanpa suara.


Berdiri di ujung teras yang tampak tak pernah disentuh sapu, Izzah tercengang. Di hadapannya terbentang sebuah taman belakang yang cukup luas. Sebatang pohon besar berdiri menjulang di tepi pagar. Sebuah kolam dengan jembatan kecil yang membentang di kedua sisinya menghias tengah taman. Di sampingnya terdapat sebuah gazebo tak terurus. Bentuknya unik, dikelilingi beberapa pot tanaman di setiap sudut.


Sebuah trek sepeda melingkar di sekeliling taman, dipagari bunga-bunga rendah beraneka rupa. Rerumputan terhampar luas dengan aliran sungai-sungai batu dan pasir di beberapa pojok taman.


Sayangnya, semua tumbuhan yang ada di taman itu berwarna cokelat kehitaman seakan-akan pernah terbakar.


“Kenapa tanaman-tanaman itu terlihat mati?” tanya Izzah, merasa ganjil.


“Bukankah seharusnya taman ini terlihat cantik di kala musim gugur?”


Tanpa menghiraukan gerimis yang makin deras, Izzah mengikuti nalurinya, mengitari taman. Pohon raksasa yang tinggi menjulang tanpa daun itu menjadi tujuan pertama Izzah. Dari dekat, pohon itu terlihat jauh lebih besar.


Mendongak sembari meresapi tetes-tetes hujan yang membasahi wajahnya, tangan Izzah mengelus lembut batang pohon itu. Merasakan kerasnya pegagan kering dengan daun-daun yang meranggas di setiap ujung rantingnya.


“Pohon yang malang. Kamu pasti sangat menderita dengan kondisi seperti ini. Harusnya kamu tetap bertahan hidup untuk seribu tahun lagi,” bisik Izzah berempati.


Titik-titik hujan terus berjatuhan dari ranting-ranting kering itu, seakan ikut menangisi takdir sang pohon dan seluruh penghuni taman itu. Izzah mengusap wajahnya. Seketika dadanya terasa sesak.


Ia jatuh bersimpuh di atas rerumputan basah. Tanpa ia sadari, air mata kesedihan mengalir deras di kedua pipinya. Izzah tak mengerti mengapa ia merasa seolah batinnya terikat dengan pohon itu. Kalungnya terasa panas.


Entah sudah berapa lama Izzah tertunduk lunglai di situ. Tiba-tiba rintik hujan tak lagi menyentuh tubuhnya. Izzah mendongak. Sebuah payung hitam telah menaunginya.


“Apa yang kau lakukan di saat hujan begini di sini?” tanya seseorang, berdiri di belakang Izzah.


Izzah menoleh. Jarak yang begitu dekat membuat Izzah tak leluasa melihat orang yang memayunginya. Hanya tampak sepasang kaki memakai ugly shoes berwarna biru dan celana olahraga warna senada.


Izzah mencoba berdiri. Namun, sedetik kemudian ia jatuh terkulai. Wajahnya pucat. Bibirnya membiru. Jari-jarinya mengerut. Dengan sigap orang itu menangkap tubuh Izzah setelah melemparkan payung yang dipegangnya.


“Gadis bodoh! Harusnya kau tahu bahwa sering kali semut mati karena gula,” ujarnyaseraya membopong tubuh Izzah dengan kedua lengannya.


***