
Ihsan panik menyibak setiap tirai di ruang IGD, mencari keberadaan Izzah. Dan ketika akhirnya ia melihat Rahmi membelai kepala seorang gadis, Ihsan menangis haru. Tangan kiri di pinggang, sementara tangan kanannya terkepal menutupi mulut agar suara tangisnya tak keluar.
Ihsan menyeka air matanya dengan jari sebelum mendekati ranjang di mana Izzah masih tergolek, belum sadarkan diri. Dadanya bergemuruh.
Ihsan hanyut dalam pikirannya. Ia tak mengerti mengapa ia begitu mengkhawatirkan Izzah.
“Setelah Izzah ditemukan, aku merasa senang. Ini aneh. Ada apa denganku?” tanya Ihsan pada diri sendiri. Matanya sedikit pun tak beralih dari Izzah.
Menjelang malam, Izzah membuka mata. Rahmi mencium kening putrinya, bahagia.
Ihsan memanggil dokter. Dokter memeriksa Izzah.
“Tidak perlu khawatir, Bu. Hanya benturan ringan di kepala, tidak apa-apa. Pasien hanya butuh istirahat. Dalam dua atau tiga hari, jika tidak ada keluhan yang berarti, pasien sudah boleh pulang”
“Alhamdulillah … terima kasih, Dok!” Rahmi dan Ihsan serentak mengucap syukur dan berterima kasih atas penjelasan dokter.
Setelah mengurus administrasi, Izzah dipindahkan ke ruang VIP. Rahmi sungkan, tetapi Ihsan bersikeras demi percepatan pemulihan Izzah.
***
Rahmi mengupas apel, menyuapkan potongan-potongan kecil ke mulut Izzah.
“Izzah bisa makan sendiri, Bun.” Izzah mengambil potongan apel yang masih tersisa.
Rahmi meletakkan piring berisi apel di pangkuan Izzah, lalu memasukkan pisau ke laci nakas.
Ihsan datang membawa minuman hangat dan beberapa potong roti.
“Isi perut dulu, Bun! Dari tadi Bunda belum makan apa-apa,” kata Ihsan menyerahkan minuman dan makanan yang dibawanya kepada Rahmi.
“Aduuh … Bunda jadi sangat merepotkan Nak Ihsan.”
Rahmi makin tak enak hati menerima kebaikan teman anaknya.
“Enggak repot kok, Bun. Saya senang melakukannya.”
Rahmi tersenyum, lalu mencicipi minuman yang diterimanya. Ihsan bercakap-cakap ringan dengan Izzah.
Pukul 19.35. Turun dari mobil, Yudha langsung memasuki rumah sakit, menenteng sebuah bingkisan.
“Yud, tungguin dong!” Riris berteriak memanggil dan mengejar Yudha.
Yudha tak menghiraukan panggilan Riris. Ia setengah berlari menuju ruang VIP setelah bertanya di bagian informasi.
“Aish … sial! Aku ditinggalin lagi.” Riris jengkel kehilangan jejak Yudha. Buru-buru ia menemui petugas bagian informasi.
Tok! Tok! Tok!
“Assalamu'alaikum ....” Yudha membuka pintu dan melangkah masuk.
“Wa’alaikumussalam ....” Rahmi dan Ihsan menoleh.
“Gimana kondisimu, Zah?” tanya Yudha setelah menyalami Rahmi dan Ihsan.
Ia meletakkan bingkisan yang dibawanya di atas nakas.
Izzah menyelesaikan minumnya. Rahmi mengambil gelas di tangan Izzah.
“Alhamdulillah sudah jauh lebih baik,” jawab Izzah sambil merapikan ujung lengan bajunya yang sedikit tersingkap.
“Tumben sendiri saja, Yud,” celetuk Ihsan. Yudha mengerti maksud Ihsan.
BRAK!
Suara keras mengagetkan mereka yang ada di ruangan itu. Mereka menoleh ke arah pintu. Riris melangkah masuk sambil mengusap-usap keningnya. Serta merta mereka menahan senyum melihat Riris meringis.
“Nah … panjang umur tuh anak,” ucap Yudha rada ketus.
“Izzzaaah .…” Riris memeluk Izzah
“Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Riris sambil memeriksa tubuh Izzah.
“Ah …. syukurlah kamu baik-baik saja,” ujarnya ketika tak menemukan luka-luka di tubuh Izzah.
Rahmi dan Ihsan hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Riris.
“Yang ada Izzah jadi kenapa-napa setelah ketemu kamu,” ujar Yudha.
Entah mengapa Yudha selalu merasa dongkol dengan tingkah Riris, padahal sebenarnya Riris itu anak yang baik dan sangat peduli. Hanya sedikit kecentilan.
Riris mendelik. Ia tidak mengerti mengapa Yudha tidak pernah bersikap ramah kepadanya.
“Apakah Yudha begitu membenciku?” tanya Riris dalam hati.
“Memangnya salah kalau aku mencintainya?”
Riris menatap Yudha putus asa.
“Kalau rasa bisa memilih, aku juga tidak ingin jatuh cinta sama kamu, Yud. Tapi, hatiku tidak mau diajak kompromi. Sampai saat ini masih saja mengharapkanmu.”
Riris menghela napas kecewa. Rasanya sangat menyakitkan menanggung beban cinta yang bertepuk sebelah tangan.
“Ya ampun … Yudha! Riris!. Kalian ini mau membesuk Izzah atau mau numpang bertengkar sih?”
Ucapan Ihsan mengagetkan Yudha dan Riris. Keduanya saling membuang muka.
Izzah tersenyum geli.
“Jangan-jangan kalian benaran berjodoh nih.” Izzah ikut menggoda.
“Benarkah?” Reaksi Riris di luar dugaan.
“I love you, Zaaah .…” Riris mencubit kedua pipi Izzah, gemas.
“Aduh! Sakit tahu!” Izzah menjerit kesakitan.
“Tahu bakal kayak gini, mending diam saja tadi,” omel Izzah dalam hati.
NYUT!
Yudha merasa hatinya seperti ditusuk ribuan duri mendengar kelakar Izzah.
langsung terdiam.
Tidak lama kemudian Rahmi menghadapkan ponsel kepada Izzah. Fadhil ingin melihat kondisi adiknya karena belum bisa pulang. Untuk beberapa waktu Fadhil dan Izzah bercengkerama via video call. Sesekali Ihsan dan yang lain ikut nimbrung, membuat suasana semakin ramai dengan gelak tawa. Izzah merasa terhibur.
Pukul sepuluh malam. Yudha dan Riris pamit.
“Sebaiknya Bunda juga ikut pulang bersama Yudha dan Riris. Bunda terlihat sangat lelah dan mengantuk. Biar saya yang menjaga Izzah malam ini,” saran Ihsan saat melihat Rahmi sudah beberapa kali menguap.
“Bunda tidak apa-a–” Rahmi ingin membantah, tetapi Izzah memotong ucapannya.
“Ihsan benar, Bunda. Sebaiknya Bunda pulang saja. Izzah tidak mau Bunda jatuh sakit.” Izzah menepuk punggung tangan bundanya, meyakinkan kalau ia baik-baik saja.
Izzah melirik Ihsan.
“Kamu juga, San. Saya enggak apa-apa ditinggal sendiri. Kan ada perawat.”
Ihsan menatap Izzah tanpa ekspresi.
“Baiklah kalau itu maumu. Bunda akan pulang. Tapi … biarkan Ihsan tetap di sini. Bunda tidak ingin kamu kenapa-napa.” Rahmi melirik Ihsan.
“Bunda titip Izzah ya, Nak”
Mata Ihsan berkilat senang.
“Siap, Bunda!” Ihsan memberi hormat.
NYUT!
Hati Yudha kembali rasa teriris.
“Ah, kalau tahu bakal begini, mending enggak usah pamit tadi,” sesal Yudha dalam hati.
Ia melangkah keluar diikuti Riris dan Rahmi.
***
Pukul 10.15 malam. Di ruang VIP itu, tinggallah Izzah ditemani Ihsan. Untuk pertama kalinya Izzah berdua saja dengan seorang lelaki dalam satu ruangan di malam selarut itu. Suasana mendadak canggung.
Izzah membuka ponselnya, menyibukkan diri dengan membaca artikel tentang kesehatan.
Ihsan menutup pintu, lalu melangkah pelan mendekati ranjang.
Deg! Deg! Deg!
“Kenapa lagi ini?" Ihsan mengusap dadanya yang berdebar tak keruan.
Semakin dekat ia dengan Izzah, semakin kuat detak jantungnya.
“Apa aku begitu cemas akan terjadi sesuatu yang buruk pada Izzah?”
Ihsan menelengkan kepala, berpikir keras.
“Aha … tentu saja begitu. Kami sudah berteman cukup lama. Bukankah wajar seorang teman mengkhawatirkan temannya?” Ihsan menganguk-angguk.
“Benar. Pasti itu alasannya kenapa jantungku tidak bisa tenang setiap kali melihat Izzah. Terlebih lagi sejak ia menghilang. Aku cemas karena dia temanku. Benar begitu.” Ihsan meyakinkan dirinya sendiri.
BRUK!
Tanpa sadar Ihsan menabrak kursi di samping ranjang. Izzah kaget. Ponselnya nyaris terjatuh.
“Maaf!” Ihsan buru-buru minta maaf. Salah tingkah. Ia pun segera duduk.
“Kebiasaan lama,” sungut Izzah, kembali melanjutkan bacaannya.
“Sudah malam. Tidurlah! Biar cepat pulih.” Ihsan mengingatkan Izzah.
Izzah mendongak sebentar.
“Tanggung. Sedikit lagi.”
Ihsan merampas ponsel di tangan Izzah dan meletakkannya di atas nakas. Izzah melotot, protes.
“Lanjutkan besok! Kesehatanmu lebih penting,” ujar Ihsan dengan nada mengintimidasi.
Meski jengkel, Izzah akhirnya berbaring. Ia tahu ia tak akan pernah menang jika berdebat dengan Ihsan. Terkadang Izzah tak habis pikir kenapa Ihsan bisa mendominasi dirinya.
Ihsan merapikan selimut di kaki Izzah.
“Tidur yang nyenyak. Aku akan tidur di sofa. Panggil aku kalau butuh sesuatu,” pesan Ihsan sambil mematikan lampu. Izzah mengacungkan jempol.
Ihsan membaringkan diri di atas sofa, mengusap-usap dadanya seraya mengembuskan napas panjang.
“Lama-lama dekat Izzah, jantungku bisa meledak,” bisiknya.
Pukul dua dini hari. Di atas sofa, Ihsan gelisah. Berkali-kali ia ganti posisi. Namun, belum jua bisa terlelap.
Ihsan melonggarkan dasinya, meletakkan tangan kiri di atas perutnya, dan tangan kanan di atas kening. Kembali ia mencoba memejamkan mata. Namun, mendadak ia tersentak duduk. Lamat-lamat ia mendengar seperti rengekan dari ranjang Izzah.
Ihsan memasang kuping lebar-lebar, memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Benar, suara itu dari ranjang Izzah.
Ihsan segera bangkit dan menghidupkan lampu. Tampak Izzah tengah bermimpi buruk. Keringat membanjiri keningnya.
Ihsan duduk, mengeluarkan sapu tangan dan mengelap keringat Izzah. Izzah makin gelisah dan menangis. Mulutnya mengucap kata tidak jelas. Tangan kirinya mencengkeram kuat. Tangan kanannya menggapai liar. Raut wajahnya sangat ketakutan.
Ihsan segera menyambar tangan Izzah yang menggapai udara. Menggenggamnya erat dan mengusap lembut untuk menenangkan Izzah. Ihsan ikut mengernyit melihat kening Izzah berkerut.
Pagi menyapa. Izzah terjaga saat azan subuh berkumandang. Ia terkejut melihat Ihsan tertidur sambil menggenggam tangan kanannya.
“Kenapa Ihsan malah tidur di sini? Apa aku mimpi buruk lagi tadi malam?” Izzah bertanya-tanya.
Tiba-tiba Ihsan menggeliat. Izzah segera memejamkan mata. Pura-pura masih terlelap.
Ihsan juga kaget menyadari dirinya ketiduran sambil memegang tangan Izzah. Dilihatnya Izzah masih pulas. Pelan-pelan ia melepaskan genggamannya agar tak membangunkan Izzah.
Ihsan dengan setia menemani Izzah selama Izzah dirawat di rumah sakit. Bahkan, ia mengerjakan sebagian pekerjaannya sembari menunggui Izzah.
Izzah jadi serba salah. Ia bertanya-tanya kenapa Ihsan melakukan itu. Ketika dokter mengizinkan pulang, Izzah benar-benar lega.
***