A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 95. Liburan Musim Dingin



Memasuki bulan Desember, matahari mulai terlihat enggan menampakkan sinarnya. Lebih memilih tetap bersembunyi di balik awan. Membuat malam terasa lebih panjang. Pepohonan yang meranggas seakan berhibernasi tanpa daun dan bunga. Menunggu hingga musim semi tiba.


Butiran uap air beku laksana kapas putih berjatuhan menyentuh bumi. Mengubah daratan yang semula hijau dan berwarna-warni senada dalam satu warna, putih. Menghampar tanpa celah.


Izzah masih bergelung di bawah selimut tebal. Menggeliat pelan saat Shin Seo Hyun menarik tubuhnya makin merapat.


“Tetaplah berbaring! Tidak ada alasan untuk buru-buru bangun. Ini hari Minggu,” bisik Shin Seo Hyun, masih dengan mata terpejam.


“Tapi ... di luar sepertinya salju pertama mulai turun,” sahut Izzah, mengangkat kepala melewati bahu suaminya.


Terkejut, Shin Seo Hyun membuka mata, lalu melompat turun dari ranjang dan menyibak tirai jendela.


Melihat termometer di dinding kamar menunjukkan suhu 0,5 derajat Celsius, Izzah menyambar jaket tebalnya sebelum berdiri di sisi Shin Seo Hyun.


“Waaah … cantiknya!” desis Izzah terkagum-kagum, menyaksikan salju untuk pertama kalinya.


“Kau lebih cantik,” puji Shin Seo Hyun seraya mendekap istrinya.


Detik dan menit berlalu, Izzah masih terpaku bersandar manja di dada suaminya. Berdiri di belakang jendela, menikmati kristal-kristal es yang turun kian deras.


“Haaatsyin!” Izzah bersin. Hidungnya makin memerah karena gosokan jarinya.


Shin Seo Hyun memperkuat dekapannya pada tubuh Izzah, menyalurkan kehangatan untuk melawan dinginnya cuaca. Ketika frekuensi bersin Izzah terus bertambah, Shin Seo Hyun segera mengangkat istrinya. Membawanya kembali ke pembaringan dan menyembunyikannya di balik selimut hangat.


“Tubuhmu masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan cuaca sedingin ini,” ujar Shin Seo Hyun, melayangkan kecupan ringan di kening Izzah.


“Beristirahatlah! Aku akan membuatkanmu teh hangat,” lanjutnya lagi, lalu beranjak keluar kamar.


Izzah hanya membalas ucapan suaminya dengan anggukan kepala seraya makin bergelung seperti seekor kucing.


TAP! TAP! TAP!


Dalam waktu singkat terdengar langkah kaki Shin Seo Hyun makin mendekat diiringi derit pintu yang terbuka. Shin Seo Hyun melangkah masuk dengan nampan berisi dua cangkir teh madu dan roti bakar. Diletakkannya nampan itu di atas meja.


Ketika Izzah memaksakan diri untuk duduk sambil menahan dingin, Shin Seo Hyun menyambutnya dengan melingkarkan scarf di leher Izzah dan memasangkan topi wol tebal serta penutup telinga.


“Terima kasih,” kata Izzah, menghadiahi Shin Seo Hyun dengan kecupan kecil di bibir. Tubuhnya terasa nyaman.


Sejak Izzah mengucap kata cinta dan tak malu-malu mengungkapkan perasaannya, perhatian Shin Seo Hyun meningkat berlipa-lipat. Benar-benar memanjakan Izzah dengan sentuhan kasih sayangnya.


Sembari menikmati sarapan di ranjang. Shin Seo Hyun dan Izzah berbagi ide soal mengisi liburan di musim dingin dan menyusun sejuta rencana.


“Bagaimana kalau kita ajak Riris dan Park Joon Soo ke Pyeongchang Trout Festival? Pasti seru. Siapa tahu mereka bisa makin dekat,” usul Izzah semangat.


“Kurasa mereka sudah jadi pasangan,” timpal Shin Seo Hyun. Diletakkannya cangkir teh yang sudah kosong di atas meja. Alis Izzah terangkat.


“Benarkah? Sejak kapan?” tanyanya, merasa kecolongan.


“Aku juga tidak tahu pasti, tapi tiga hari yang lalu tanpa sengaja aku memergoki Park Joon Soo menarik Riris ke balik tangga …,” jelas Shin Seo Hyun, tersenyum membayangkan adegan ala drama Korea yang disaksikannya.


“Oh My God. Riris benar-benar telah berubah,” ujar Izzah setengah berteriak. Tak percaya temannya yang biasa bermulut ember dan ceplas-ceplos itu bisa juga menyimpan rahasia darinya.


“Kau menyindirku?” sergah Izzah mendelik keki, membuat Shin Seo Hyun tertawa.


“Kau lebih sensitif sekarang. Jangan-jangan–”


PLUK!


Ucapan Shin Seo Hyun terpotong oleh lemparan bantal Izzah.


“Hei! Kau juga jadi tambah berani. Ayo kita periksa!” ajak Shin Seo Hyun seraya menarik tangan Izzah.


“Apaan sih, Mas. Baru sebulan juga …,” tolak Izzah dengan pipi bersemu merah.


Harus diakuinya akhir-akhir ini ia mudah sekali tersinggung. Emosinya seolah sangat sulit dikontrol. Parahnya lagi, ia juga tak ingin jauh-jauh dari Shin Seo Hyun. Ya, sikapnya seratus delapan puluh derajat berubah.


“Tidak ada salahnya kan kalau dicoba?” bujuk Shin Seo Hyun


“Pokoknya tetap tidak mau. Titik!” bantah Izzah.


Ia membenamkan tubuhnya di balik selimut, membelakangi suaminya. Persis seperti anak kecil yang merajuk karena dipaksa memakan makanan yang tak disukainya.


Tingkah Izzah mengundang senyum geli Shin Seo Hyun. Dengan desahan napas mengalah, ia pun berbaring memeluk tubuh istrinya seraya mengecup tengkuknya.


“Ya sudah deh kalau memang tak mau sekarang. Kita bisa melakukannya lain kali,” bisiknya lembut.


Menghadapi Izzah tak ubahnya seperti menarik rambut dalam tepung. Harus ekstra hati-hati dan sabar. Salah-salah rambut tak dapat, tepung pun tumpah. Berantakan jadinya. Rayuannya tak mempan, yang ada Izzah malah makin menjauh, padahal Izzah baru saja membuka hati untuknya. Shin Seo Hyun tak ingin ambil risiko. Biarlah waktu yang akan menjawab segalanya.


***


Kehadiran Samhansaon sepanjang musim dingin di Korea terasa sangat menguntungkan. Siklus empat hari hangat setelah tiga hari dipagut dingin menimbulkan sensasi tersendiri sekaligus kebebasan ruang gerak untuk beraktivitas di luar rumah.


Shin Seo Hyun dan Izzah sudah sepakat untuk mengisi akhir pekan dengan mengikuti Pyeongchang Trout Festival di Gangwon-do.


Pagi-pagi sekali semua keperluan yang akan dibawa telah siap dan dimasukkan ke bagasi mobil. Tak ketinggalan bekal makanan hasil karya Sandra yang terkenal superlezat dan menggugah selera.


“Seo Hyun, sudah siap berangkat? Ayo!” panggil Park Joon Soo, berteriak hendak masuk ke mobil.


“Kami berangkat, Bi. Hati-hati di rumah!” pamit Izzah, mengiringi langkah Shin Seo Hyun. Sandra tersenyum melepas mereka di depan pintu.


Mengingat jarak seratus kilometer bukanlah jarak yang dekat. Baik Park Joon Soo maupun Shin Seo Hyun bersikeras membawa kendaraan masing-masing. Tentu saja demi kepentingan pribadi. Mengikuti gejolak jiwa muda yang tengah bergelora.


Butuh waktu lebih lama untuk tiba di Pyeongchang karena jalanan yang licin tertutup lapisan salju. Namun, ketika tiba semua kelelahan itu terbayar dengan fenomena lautan manusia yang berpasang-pasangan, bahkan bergerombol menikmati keseruan memancing ikan trout melalui lubang kecil terukir di atas lantai es.


Riris dengan centilnya langsung berlari mencari spot yang sedikit sepi diikuti langkah santai Park Joon Soo, menatap lucu tingkah Riris di tengah keramaian itu.


Shin Seo Hyun dan Izzah saling melepas pandang. Sedetik kemudian mereka pun mengayun langkah, menyusul Riris dan Park Joon Soo.


Riris penuh semangat melubangi hamparan es itu, dibantu Park Joon Soo. Sama sekali tak menghiraukan Izzah dan Shin Seo Hyun. Benar-benar dunia seakan milik mereka berdua.


***