A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 72. Kumohon, bertahanlah!



“Singgah di supermarket dulu ya, Mas. Aku ingin membeli minuman,” kata Izzah begitu melihat sebuah supermarket di kejauhan.


Shin Seo Hyun mengangguk dan langsung menghentikan mobilnya ketika tiba di supermarket itu.


“Biar aku saja yang turun!” ujar Shin Seo Hyun saat  Izzah akan membuka sabuk pengamannya.


“Tidak usah. Biar aku saja!” tolak Izzah. Ia telah membuka pintu dan segera keluar.


Selang beberapa menit, Izzah meninggalkan supermarket dengan menenteng kantong keresek berisi beberapa botol minuman soda, air mineral dan cemilan ringan. Dari jauh Shin Seo Hyun tersenyum mengawasi gadis itu melangkah gontai karena lelah.


Baru saja Izzah meletakkan barang belanjaannya di kursi belakang dan hendak menutup pintu, ia melihat seorang perempuan tua berdiri di tepi jalan dengan tongkatnya. Sepertinya wanita itu ingin menyeberang. Tiba-tiba sebuah mobil tak terkendali muncul tanpa disadari oleh wanita tua itu. Cepat-cepat Izzah membanting pintu dan berlari menyelamatkan wanita itu.


Izzah menarik wanita tua itu dan mendorongnya ke tepi. Namun, ia tak sempat menyelamatkan dirinya sendiri. Dalam hitungan detik, tak khayal ia menjadi korban kecepatan mobil yang menggila itu, menggantikan wanita tua yang tadi diselamatkannya.


Izzah terpelanting bak sehelai kertas terbang tertiup angin kencang begitu mobil itu menghantam tubuhnya dengan telak.


CIIIIIT! BRAAAK!


Bunyi rem berdecit dan suara seseorang ditabrak membuat Shin Seo Hyun kaget. Segera ia turun dari mobil dan berlari ke arah orang-orang yang sudah berkerumun di pinggir jalan.


Wanita tua itu bangkit, merangkak mendekati Izzah yang tergeletak tidak jauh darinya.


“Nona, anda baik-baik saja? Nona, bangun Nona!” panggil wanita itu sambil mengguncang bahu Izzah yang tertelungkup, Tampak bercak darah membasahi aspal.


Wanita itu terus memanggil-manggil Izzah. Air mata mengalir menganak sungai membanjiri  kulit pipi kisutnya. Ia


benar-benar mencemaskan kondisi gadis yang telah menjadi dewi penolongnya itu.


Shin Seo Hyun yang mulai khawatir berusaha menorobos kerumunan itu untuk melihat siapa yang telah tertabrak.


“Izzzzaaah …,” pekiknya bergema lantang di seantero jalan raya itu.


Ia panik saat menyaksikan tubuh Izzah tak bergerak dan tak merespons suara wanita tua yang terus memanggilnya. Bergegas Shin Seo Hyun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Park Joon Soo.


NGUING! NGUING! NGUING!


Kerumunan orang-orang itu menepi begitu mobil ambulans tiba. Petugas medis dengan sigap berlari, memindahkan raga Izzah ke mobil. Begitu melihat Park Joon Soo, Shin Seo Hyun segera melemparkan kunci mobil. Lalu, secepat kilat ia melesat naik ke mobil ambulans untuk mendampingi Izzah.


Shin Seo Hyun benar-benar cemas melihat wajah Izzah yang pucat laksana kertas. Digenggamnya tangan Izzah dengan erat.


“Bertahanlah, Sayang! Kau gadis yang kuat. Semua pasti akan baik-baik saja,” bisik Shin Seo Hyun dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca menahan tangis.


Hatinya remuk redam menyaksikan Izzah tergolek lemah dan tak berdaya tanpa sadarkan diri.


“Aku mohon … bertahanlah! Buka matamu, Sayang!” Tak urung air mata Shin Seo Hyun akhirnya jatuh juga.


Izzah masih diam tak bergerak. Shin Seo Hyun tak hentinya membisikkan kata-kata penyemangat dan tak sedetik pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Izzah.


“Tolong cek dengan teliti dan lengkap,” pinta Shin Seo Hyun begitu Lee Kwan Gi menghampiri dan menepuk pundaknya, seolah memberi kekuatan.


“Baik, Tuan Shin. Percayalah! Dokter Izzah akan baik-baik saja,” sahut Lee Kwan Gi, menenangkan Shin Seo Hyun.


Beberapa jam telah berlalu. Izzah belum juga sadarkan diri. Ia masih tergolek lemah di ruang VVIP dengan berbagai peralatan yang menempel di tubuhnya. Shin Seo Hyun selalu berada di sisinya, menempel bak prangko.


Suasana begitu gelap. Tak ada setitik pun cahaya. Bahkan, pendar rembulan pun tak tampak. Izzah berjalan seorang diri tak tentu arah. Tertatih-tatih dan meraba-raba. Semua hitam. Semua kelam. Izzah seakan terasing di negeri antah berantah.


“Apakah aku sudah mati?” tanya Izzah pada diri sendiri.


Diedarkannya pandangannya ke sekeliling. Tetap tak ada yang terlihat selain kegelapan pekat.


Entah sudah berapa jauh ia berjalan terseok-seok, menyeret kakinya yang lemah. Izzah semakin lelah tak bertenaga, lalu jatuh tersungkur, bersimpuh di atas tanah yang terasa lembek, seakan menyedot habis kekuatannya.


“Wahai Zat Penguasa semesta, Pemilik cahaya langit dan bumi, kumohon … keluarkan aku dari kegelapan ini! Jangan biarkan aku tersesat! Berilah aku petunjuk-Mu!” Dalam sedu sedannya, Izzah bermunajat sepenuh jiwa.


Lamat-lamat ia mendengar suara isak tangis di kejauhan. Izzah mendongak. Mencari-cari dari mana suara tangisan itu berasal. Disipitkannya matanya, berusaha menembus kegelapan. Namun, sia-sia. Ia tetap tak bisa melihat apa-apa.


Kembali terdengar isak tangis disertai suara seseorang memanggil-manggil namanya dengan nada pilu. Membuat hatinya bergetar.


“Hei … siapa kau? Di mana kau? Kau mendengarku? Tolong jawab aku!” teriak Izzah dengan sisa-sisa tenaganya. Tak ada sahutan, hanya desah angin terkurung.


“Ya Allah … haruskah aku di sini selamanya? Aku benar-benar lelah,” desis Izzah, lalu jatuh terkulai tak sadarkan diri.


Shin Seo Hyun panik ketika terdengar bunyi mesin yang terhubung ke tubuh Izzah melengking panjang. Tim dokter berhamburan datang segera setelah Shin Seo Hyun memencet bel. Bergegas mereka memasang alat pacu jantung dan melakukan beberapa kali shoot. Shin Seo Hyun tak henti-hentinya membisikkan nama Izzah dan melantunkan doa agar gadis itu segera kembali.


Mendengar suara yang terus-terusan memanggil namanya, Izzah terbangun. Ia mencoba membuka mata dan duduk bersimpuh, bertopang kedua tangannya. Namun, lagi-lagi ia tak bisa melihat apa-apa selain warna hitam kelam. Izzah menengadah menatap langit di ambang rasa putus asa.


Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki memanggilnya disertai seberkas cahaya. Memanfaatkan cahaya itu, Izzah melihat sekelilingnya. Betapa terkejutnya Izzah ketika mengetahui dirinya telah terperosok ke dalam sebuah sumur tua yang mulai mengering. Sumur itu tidak terlalu dalam karena timbunan tanah yang hanyut terbawa arus hujan.


“Izzaaah … kumohon … bangunlah! Ayo … raih tanganku!” bisik suara itu memanggil Izzah lirih.


Izzah menoleh. Tampak sebuah tangan terulur, mencoba meraihnya. Izzah masih diam, ragu. Ia tak tahu siapa lelaki itu. Wajahnya tidak jelas, silau oleh cahaya terang yang menerpa.


“Ayo … kumohon … bangunlah!” Suara itu terdengar makin lirih.


Izzah terkesima. Perlahan bayang-bayang hitam memanjang muncul mendekati pria yang sedang mencoba membantunya. Sesaat kemudian, seorang lelaki paruh baya telah berdiri di samping pria yang tengkurap itu.


“Bangunlah, Nak! Raih tangannya. Sudah saatnya kau kembali,” ujar lelaki itu berwibawa.


“Ayah, kau kah itu?” tanya Izzah dengan suara lemah. Namun, mendadak lelaki itu menghilang ditelan cahaya.


***