
BUK! BUK! BUK!
Berkali-kali boneka tak bersalah itu menerima hantaman luapan emosi Nadira. Selang beberapa menit kemudian, Nadira menyingkap tirai jendela, mengintip mamanya yang masih saja terlena dengan rajutannya. Tak menyadari Nadira menatapnya berurai air mata dari balik jendela.
Nadira menyeka air matanya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Haruskah ia mencari Izzah sesuai keinginan papanya? Nadira menatap kosong kepadatan pengunjung yang berlalu lalang.
Di pelataran peristirahatan, Arif duduk termangu di atas sebuah batu besar. Mengeluarkan selembar foto hitam putih yang terselip di dompetnya. Foto itu tampak lusuh dimakan usia. Dengan jari-jari bergetar, dipandanginya gambar
sepasang bayi kembar yang terlihat lucu dan menggemaskan bermain air dalam sebuah bak mandi kecil. Tarikan napasnya terasa berat. Pandangannya mulai buram, terhalang kristal bening yang merebak keluar seiring gerimis yang mulai berjatuhan.
Arif menengadah menatap langit yang tak lagi biru. Awan kelabu berarak resah, seakan ikut merasakan secarik luka yang terpendam di lubuk hati penghuni semesta. Takut foto yang dipegangnya basah, Arif menyimpan kembali foto itu ke dalam dompetnya. Lalu, ia berdiri mencari-cari sosok Nadira di antara kerumunan pengunjung yang makin menyemut.
Berjalan tanpa gairah, Nadira membiarkan saja gerimis yang mulai deras mengguyur seluruh tubuhnya. Menyamarkan derai air mata yang masih mengalir menganak sungai di kedua pipinya.
Arif bergegas turun menyusul Nadira. Ada penyesalan menyusupi hatinya. Bagaimanapun, rasa cintanya sebagai seorang ayah tetap lebih besar daripada kemarahannya.
“Kenapa aku tidak mengetahui kebenarannya lebih awal?” Pertanyaan itu terus berputar ulang di kepala Arif.
Kehidupan memuat selaksa peristiwa yang terkadang tak sejalan dengan angan dan harapan. Tak jarang pula memporak-porandakan keyakinan. Meluluhlantakkan kepercayaan, bahkan mencabik-cabik kebahagiaan.
Arif mendesah gundah. Haruskah ia menyalahkan takdir atas semua yang menimpanya? Gerimis mulai berhenti. Arif masih celingukan menuruni jalan setapak, mencari Nadira.
Di pangkal jembatan, Nadira terduduk lesu memeluk kedua lututnya. Tatapannya kosong ke langit gelap. Ia tak bisa terima mengapa mama dan papanya lebih memuji Izzah. Pun saat kedua orang tuanya memutuskan untuk pindah ke Jakarta, mamanya masih saja menyebut-nyebut nama Izzah. Membuat hidupnya laksana sebuah bayang-bayang yang berdiri di belakang Izzah. Kecemburuan yang bersemayam di hatinya selama bertahun-tahun telah bersemi dan terus mekar menjadi lautan kebencian tak bertepi.
Terlebih lagi ketika papa yang selama ini selalu memanjakannya juga membela Izzah. Pembelaan papanya itu tidak hanya membuat kebencian Nadira pada Izzah kian membuncah, tetapi juga membuat hatinya hancur lebur karena kerasnya hempasan rasa tak dicintai.
“Nadira ....” Arif memanggil Nadira lembut. Nadira menoleh sekilas, lalu kembali menatap langit, hampa. Arif berjongkok membantu Nadira berdiri. Nadira menuruti, seolah terhipnotis.
“Maafkan, Papa. Tidak seharusnya Papa menamparmu,” sesal Arif. Tangis Nadira tiba-tiba saja pecah.
“Katakan apa salahku, Pa! Kenapa Mama dan Papa lebih membanggakan dan membela gadis miskin itu daripada aku? Apa aku tidak ada artinya buat Mama dan Papa? Aku benci Izzah, Pa. Sangat benci! Dia telah merampas perhatian Mama dan juga Papa,” oceh Nadira, menumpahkan semua beban batin yang selama ini dipendamnya.
Arif memeluk Nadira. Membiarkan gadis itu menangis sepuasnya, melepaskan seluruh emosi yang telah membuat hatinya menjadi sekeras batu.
“Maafkan Papa dan juga Mama!”
Hanya permintaan maaf yang terucap dari bibir Arif berulang-ulang. Ia tak menyadari betapa selama ini Nadira sangat menderita karena perlakuan mereka.
“Ayo pulang!” ajak Arif saat Nadira sudah mulai tenang.
Di pelataran parkir, sekilas Arif masih sempat melihat Izzah berlalu meninggalkan Seoraksan. Gelora rindu yang tak pernah tersampaikan terpaksa dikuburnya di lubuk hati terdalam. Di dekapannya, Nadira melepas kepergian Izzah dengan kilatan mata penuh kebencian.
***
Dua jam kemudian .…
Shin Seo Hyun melirik kaca spion berulang kali. Keningnya berkerut. Sebuah mobil hitam tampak selalu membuntuti sejak tiga puluh menit yang lalu. Kecurigaannya makin menguat ketika mobil itu terus menyesuaikan kecepatannya dengan kecepatan mobil Shin Seo Hyun.
Melintasi kawasan yang agak sepi, tiba-tiba mobil hitam itu menggunting laju kendaraan Shin Seo Hyun, diikuti satu mobil lainnya.
CIIIT!
Decitan ban bergesekan dengan aspal jalan terdengar kencang. Tiga penumpang Shin Seo Hyun terkaget-kaget atas aksi mengerem mendadak Shin Seo Hyun.
“Siapa mereka?” tanya Dimas dari kursi belakang begitu melihat segerombolan lelaki berjaket hitam keluar dari mobil yang mengadang mobil Shin Seo Hyun. Sebagian membawa pentungan.
“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Sepertinya niat mereka tidak baik,” sahut Shin Seo Hyun, menyingsingkan lengan bajunya.
“Tetaplah di mobil!” perintah Shin Seo Hyun pada Izzah saat ia beranjak ke luar.
Ihsan dan Dimas juga buru-buru menyusul Shin Seo Hyun. Tiga lelaki itu berbaris di depan mobil, seakan siap menanti serangan.
“Menyingkirlah! Kami hanya menginginkan gadis yang ada di dalam mobil itu,” hardik pimpinan dari gerombolan itu.
“Jangan banyak bacot! Serahkan saja agar kalian bertiga bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat.”
“Kami tidak akan menyerahkannya kepada orang-orang jahat seperti kalian,” tukas Ihsan.
Mendengar penolakan Ihsan, lelaki itu memberi kode dengan tangannya. Dan dalam waktu singkat, perkelahian pun tak terhindarkan.
Duduk di dalam mobil, Izzah mengamati jalannya pertarungan yang mulai tak seimbang. Kemampuan bela diri Dimas dan Ihsan tidak cukup tinggi untuk menandingi gerombolan penjahat itu. Beberapa kali pukulan mereka mendarat di tubuh Ihsan dan Dimas. Melihat Ihsan dan Dimas mulai kewalahan, Izzah turun dari mobil, memberikan pertolongan.
Empat puluh menit telah berlalu, Ihsan dan Dimas jatuh terkapar bersama sebagian besar anggota gerombolan itu. Kini yang tersisa hanya Shin Seo Hyun dan Izzah, menghadapi empat orang dedengkot pengadang itu.
Shin Seo Hyun dan Izzah beradu punggung saling melindungi. Serangan demi serangan mereka tangkis sekuat tenaga. Adakalanya mereka menyerang balik dalam kerja sama yang harmonis.
Nguing … nguing … nguing ….
Beberapa mobil polisi tiba dan mengepung tempat perkelahian itu.
“Angkat tangan!” teriak seorang opsir polisi, mengarahkan pistol kepada pemimpin gerombolan itu saat ia hendak menyerang Shin Seo Hyun.
Melihat ada begitu banyak polisi yang siap siaga di berbagai posisi, gerombolan itu menyerah. Tanpa buang waktu, beberapa opsir polisi segera memborgol delapan orang penjahat pembuat onar itu dan membawa mereka semua ke kantor polisi. Ihsan dan Dimas langsung dibawa oleh ambulans.
“Tuan Shin, Dokter Izzah, kalian baik-baik saja?” tanya Park Joon Soo khawatir.
“Iya. Aku tidak apa-apa,” jawab Izzah dengan napas masih memburu.
“Ayo kita susul Tuan Ihsan dan Tuan Dimas!” ajak Shin Seo Hyun.
“Baik, Tuan.” Park Joon Soo langsung mengambil alih kemudi dari tangan Shin Seo Hyun.
Merasa lelah karena tenaganya terkuras, Izzah memilih duduk di kursi belakang. Shin Seo Hyun mengeluarkan kotak P3K dari laci dashboard, lalu duduk di samping Izzah. Park Joon Soo segera menjalankan mobil.
“Coba kulihat tanganmu!” pinta Shin Seo Hyun.
“Tidak apa-apa, Tuan Shin. Cuma memar sedikit,” tolak Izzah halus.
“Berdarah begitu kamu bilang tidak apa-apa? Sini!” Shin Seo Hyun menarik paksa tangan Izzah.
Izzah tak berkutik. Tertunduk malu tanpa berani menatap wajah Shin Seo Hyun sedetik pun. Jantungnya berdegup kencang.
Dari kaca spion, Park Joon Soo mengintip Shin Seo Hyun mengobati luka di tangan Izzah. Ia pun menurunkan kecepatan. Begitu Shin Seo Hyun selesai mengobati lukanya, Izzah cepat-cepat menarik tangannya.
Merasa gugup, Izzah terlalu malu untuk menawarkan bantuan kepada Shin Seo Hyun sehingga ia membiarkan bosnya itu mengobati lukanya sendiri.
“Bagaimana anda bisa terlibat perkelahian dengan kelompok XY, Tuan?” tanya Park Joon Soo heran
“Apa? Mereka dari kelompok XY?”
“Ya.”
“Hem. Selidiki siapa dalang di balik semua ini!”
“Baik, Tuan!”
Shin Seo Hyun tak habis pikir kenapa kelompok XY menginginkan Izzah. Ia melirik Izzah. Gadis itu memejamkan mata.
“Secepat itukah ia tertidur? Atau hanya pura-pura tidur?”
Akhirnya Shin Seo Hyun juga memejamkan matanya. Mencoba melupakan sejenak apa yang baru saja dialaminya.
***