A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 73. Siuman



Izzah masih termangu. Tak percaya laki-laki paruh baya itu menghilang begitu saja setelah memintanya kembali.


“Izzah, aku mohon … aku sangat mencintaimu. Bangunlah, Sayang! Raih tanganku!” ujar lelaki di atas sumur.


Perkataan lelaki itu mengingatkan Izzah akan rencana pernikahannya.


“Dia kah lelaki yang dijodohkan Bunda?” batin Izzah, bertanya-tanya.


Ragu-ragu, akhirnya Izzah berdiri dan menjangkau tangan lelaki yang menunggu di bibir sumur itu. Tangan lelaki itu terasa begitu hangat saat menggenggam tangannya dengan erat, lalu sekuat tenaga menariknya ke atas.


Sayangnya, sinar yang memancar terlalu terang dan menyilaukan sehingga Izzah tidak bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas.


“Kumohon … bertahanlah! Kau akan baik-baik saja,” ujar lelaki itu sambil terus menggenggam dan menarik tangan Izzah.


TES! TES!


Tiba-tiba Izzah merasakan air yang begitu hangat mengalir di tangannya.


“Apakah lelaki itu menangisiku?” batin Izzah.


Tubuhnya mendadak terasa begitu ringan, seakan melayang di udara dan terbang bersama embusan angin.


Shin Seo Hyun masih menggenggam erat jemari Izzah dengan kedua tangannya. Air mata kesedihan mengalir deras, membasahi tangan Izzah. Bibirnya tak henti-hentinya menyebut nama gadis itu berulang kali.


Perlahan jemari Izzah bergerak ketika merasakan tetes hangat di kulitnya. Shin Seo Hyun sontak mengangkat kepalanya.


“Izzah, kau sudah bangun?” tanya Shin Seo Hyun dengan mata berpijar terang.


Disekanya kedua matanya. Harapannya kini membuncah. Ditatapnya wajah Izzah tanpa kedip. Tangannya memijat pelan jari-jari Izzah.


Perlahan Izzah membuka matanya. Tak terkira senangnya hati Shin Seo Hyun melihat mata bulat Izzah bergerak liar, berusaha mengenali sekitarnya.


“Alhamdulillah. Akhirnya kau sadar. Terima kasih sudah kembali,” bisik Shin Seo Hyun lembut, tak dapat menyembunyikan rasa senangnya.


Dengan sebelah tangan masih menggenggam jemari Izzah, tanpa sadar ia bangkit dan refleks hendak mencium kening Izzah yang masih terbaring lemah.


Sontak tangan Izzah yang bebas mengadang bibir Shin Seo Hyun dengan jari-jarinya. Terkejut, Shin Seo Hyun langsung menarik mundur kepalanya.


“Oh ... maaf,” ujar Shin Seo Hyun malu. Saking bahagianya, ia lupa kalau Izzah bukan istrinya.


Tidak lama setelah Shin Seo Hyun menekan bel, tim dokter datang mengecek kondisi Izzah.


“Kami senang anda telah berhasil melewati masa kritis, Dokter Izzah. Anda akan segera membaik. Beristirahatlah!” ujar Lee Kwan Gi, menyemangati Izzah.


Izzah tersenyum getir, “Terima kasih, Tuan Lee.”


“Tuan Shin, Anda sekarang sudah bisa beristirahat dengan tenang,” bisik Lee Kwan Gi saat menepuk pundak Shin Seo Hyun sambil lalu. Membuat pipi Shin Seo Hyun bersemu merah.


“Terima kasih, Tuan Lee,” ucap Shin Seo Hyun.


Lee Kwan Gi hanya melambaikan tangannya ke atas tanpa menoleh.


“Bagaimana perasaanmu?" tanya Shin Seo Hyun, merapikan selimut Izzah.


“Baik-baik saja. Hanya saja perutku terasa agak sakit,” sahut Izzah, berusaha duduk. Seluruh tubuhnya terasa pegal.


“Untung saja mobilnya sempat ngerem. Jadi, kau tidak mengalami cedera yang serius. Tapi,  benturan di kepalamu cukup keras,” jelas Shin Seo Hyun.


“Kau benar-benar membuatku sangat khawatir. Apakah itu termasuk salah satu hobimu?” lanjutnya lagi dengan nada setengah menggoda. Membuat Izzah memasang tampang manyun.


“Lalu, kenapa tak kau abaikan saja aku?” sahut Izzah sewot.


Refleks Shin Seo Hyun mengusap kepala Izzah geregetan setelah membantu gadis itu bersandar dengan nyaman.


“Gadis bodoh!” desisnya. Membuat wajah Izzah makin cemberut dan makin membuat Shin Seo Hyun gemas.


“Mau minum madu hangat?” tawar Shin Seo Hyun. Izzah mengangguk,


Pelan-pelan didekatkannya mulut cangkir itu ke bibir Izzah. Dengan malu-malu dan detak jantung yang tak keruan, Izzah menyeruput pelan madu hangat yang disodorkan Shin Seo Hyun demi memulihkan tenaga dan kekuatannya.


Shin Seo Hyun meletakkan cangkir kosong di atas nakas. Ia segera menoleh ketika terdengar suara pintu terbuka.


Park Joon Soo masuk diiringi seseorang. Shin Seo Hyun langsung datang menyongsong saat melihat siapa yang datang bersama Park Joon Soo.


“Apa kabar, Tuan Fadhil?” sapa Shin Seo Hyun, menyalami kakak Izzah.


“Alhamdulillah, baik. Terima kasih sudah setia merawat adik saya, Tuan Shin,” sahut Fadhil, merasa bersyukur adiknya itu memiliki bos yang sangat peduli dan bertanggung jawab.


“Ah … itu bukan apa-apa. Sudah menjadi kewajiban saya,” timpal Shin Seo Hyun sambil berjalan mendampingi Fadhil menuju ranjang Izzah.


Izzah tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya saat melihat kemunculan Fadhil.


“Aduh!” rintih Izzah kesakitan saat Fadhil memeluknya dengan erat, melepaskan kerinduan yang telah lama terpendam.


“Maaf. Habis Kakak kangen banget sih,” ujar Fadhil kaget dengan gaya khas cengengesannya.


“Bagian mana yang sakit?” tanyanya mulai khawatir. Izzah menyeringai.


“Issh … dasar!” sungut Fadhil, menowel hidung Izzah. Baru sadar kalau dikerjai adik semata wayangnya itu.


“Bagaimana keadaanmu, Dokter Izzah?” sapa Park Joon Soo setelah Fadhil duduk di samping Shin Seo Hyun.


“Aku baik-baik saja, Tuan Park. Maaf sudah merepotkan Anda,” sahut Izzah dengan senyum manisnya, membuat mata Shin Seo Hyun menggelap. Park Joon Soo hanya tertawa.


“Kau mau makan apa? Biar Park Joon Soo belikan,” tanya Shin Seo Hyun dengan nada hangat, lalu melirik Park Joon Soo dengan sudut matanya.


“Entahlah. Apa saja boleh asal bisa membuatku terasa lebih bertenaga,” jawab Izzah malas.


“Kalau begitu, belikan hobakjuk dan jus apel saja!” perintah Shin Seo Hyun.


Park Joon Soo bergegas keluar dari ruang itu.


***


Shin Seo Hyun yang sedang mengemas barang-barang Izzah mengernyit dan menghentikan kegiatannya saat melihat gadis itu terbengong dan menutup ponselnya dengan lesu.


“Siapa yang telepon? Kok mukamu tiba-tiba murung?” tanya Shin Seo Hyun, berjalan mendatangi Izzah.


“Bunda,” jawab Izzah, nyaris tak terdengar.


“Lalu, kenapa kau tidak bersemangat?” selidik Shin Seo Hyun


“Pernikahanku dipercepat, Mas.” Izzah melirik Shin Seo Hyun dengan emosi tak menentu. Tatapan matanya kosong.


Shin Seo Hyun menghempaskan napas berat. Sorot matanya tak terbaca. Ia duduk di tepi ranjang menatap Izzah lekat.


“Bukankah itu bagus?”


Izzah mendesah. Sungguh ia merasa dilema. Ia tidak tahu apakah harus bahagia atau kecewa dengan pernikahan yang akan dijalaninya. Sejuta tanya berkecamuk di benaknya.


“Bagaimana kalau suaminya nanti tak sebaik Shin Seo Hyun? Akankah ia bisa mencintainya? Ah, andai saja lelaki itu Shin Seo Hyun mungkin aku akan belajar untuk benar-benar mencintainya,” batin Izzah.


“Astagfirullah!”


Izzah geleng-geleng kepala, mengusir pikiran aneh yang baru saja menyusupi hatinya.


“Kau kenapa? Kepalamu sakit lagi?” tanya Shin Seo Hyun kembali cemas.


“Oh ... tidak. Rasanya aku sudah ingin cepat-cepat tiba di rumah. Aroma rumah sakit ini membuatku seakan tambah sakit,” sahut Izzah berkilah.


Shin Seo Hyun menahan senyum. Ia tahu Izzah hanya beralasan. Bagaimana mungkin seorang dokter tidak tahan dengan kondisi lingkungan kerjanya sendiri?


***