
Izzah tersenyum geli melihat betapa di era yang serba canggih ini, masih ada orang-orang yang percaya mitos.
“Kenapa senyum-senyum? Ingin melakukan hal yang sama seperti mereka?” goda Dimas.
“Idih! Tidaklah. Cukup orang-orang itu saja dengan keyakinan mereka.”
“Lah … terus kenapa tadi senyum-senyum sendiri?”
“Aku cuma merasa lucu saja. Ternyata kecanggihan teknologi tidak bisa menghapus suatu keyakinan yang sudah mendarah daging dan diwarisi secara turun temurun.”
Dimas tercenung. “Benar juga, terkadang sebagian masyarakat lebih percaya mitos dari pada logika.”
“Aku rasa tidak selamanya percaya mitos itu jelek loh, Mas.”
“Maksudmu?” Terkadang Dimas sulit memahami pola pikir Izzah.
“Lihat saja apa yang telah mereka lakukan dengan gembok-gembok itu! Meski cuma sekumpulan gembok, tapi kalau dipikir-pikir lagi, itu seperti sebuah karya seni yang menjadi magnet untuk menarik minat para wisatawan untuk datang ke sini. Tentu saja akan sangat besar pengaruhnya bagi pertumbuhan ekonomi dari sektor wisata.”
Shin Seo Hyun yang bersembunyi tidak jauh dari Izzah mendengar dengan jelas semua ucapan gadis itu. Ia manggut-manggut dan tersenyum sambil mengacungkan jempol.
“Aku selalu suka cara pandangmu terhadap sesuatu,” puji Dimas
“Memangnya ada yang tidak Mas Dimas sukai dari aku?”
Selesai berkata begitu Izzah berjalan mendahului Dimas.
“Oh … sudah mulai berani menggoda aku ya .…” Dimas pun mengejar Izzah.
“Aduh! Lepas dong!” teriak Izzah ketika langkahnya tertahan karena Dimas menarik ranselnya.
Dimas kembali menyejajari langkah Izzah.
Deg! Deg!
Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang.
“Gadis ini selalu membuat jantungku berdebar.”
“Lihat saja terus. Lama-lama bisa bolong wajahku, Mas.”
Sontak Dimas gelagapan mengetahui Izzah menyadari tatapannya.
“Idih! Ge-er. Siapa juga yang melihat kamu. Bilang saja kamu yang minta diperhatikan,” elak Dimas.
Ia sangat berterima kasih pada cahaya temaram yang telah menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
Izzah tertawa kecil, membuat Dimas tersenyum. Entah kenapa Izzah merasa selalu bisa menjadi dirinya sendiri jika bersama Dimas. Terkadang ia bertanya-tanya pada diri sendiri, mungkinkah itu terjadi karena keluarga ayahnya sudah sejak lama bersahabat dengan keluarga Dimas? Baginya Dimas seolah sudah menjadi kakak kedua setelah Fadhil.
“Waaah … bagusnya!”
Dimas mengikuti arah pandangan Izzah. Tampak kembang api menghias angkasa dengan indah.
“Sepertinya ada yang mengungkapkan perasaan tuh.”
Dimas menghela napas. Berdiri di samping Izzah membuat hatinya ikut berbunga-bunga, seindah kembang api yang disaksikannya. Debaran jantungnya makin menggebu.
Untuk sesaat Dimas dan Izzah seakan tersihir oleh keindahan pesona cahaya yang berpijar di langit Namsan Tower.
Di balik kegelapan, kuping Shin Seo Hyun terasa panas mendengar canda Izzah dan Dimas.
“Ternyata gadis aneh itu bisa bercanda juga, tapi kenapa ia selalu bersikap kaku di depanku?”
“Apa istimewanya sih Dimas itu di mata Izzah?”
“Aw!”
Tanpa sadar Shin Seo Hyun menjerit kesakitan saat kepalanya terantuk ketika akan keluar dari tempat persembunyiannya untuk menyusul Izzah dan Dimas. Buru-buru ia menutup mulut dengan kedua tangan.
Pukul 21.30 Dimas dan Izzah meninggalkan Namsan Tower.
“Cari makan dulu yuk!” ajak Dimas
“Boleh.”
Dimas memacu mobilnya menuju restoran halal di sekitar Namsan Tower. Setelah itu baru mengantar Izzah kembali ke rumah.
Izzah membuka pintu dan tersenyum kepada Dimas.
“Terima kasih telah memperlihatkan keindahan Kota Seoul dari Namsan Tower, Mas Dimas.”
“Sama-sama. Lain kali aku akan mengajakmu ke tempat yang tak kalah indahnya dari Namsan Tower.” Dimas juga tersenyum.
“Aku pamit dulu. Tidur yang nyenyak ya!”
Izzah mengangguk.
“Peluk ini kalau kamu merindukanku!” goda Dimas, mengeluarkan sebuah boneka kelinci kecil dari belakang tubuhnya dan menggoyangkannya di depan wajah Izzah.
Izzah tertawa kecil sambil membekap mulutnya dengan kedua tangan.
“Perasaan tidak ada yang aneh dengan boneka ini.”
Ia menelengkan kepala berulang kali menatap boneka kelinci itu. Membuat tawa Izzah pecah.
“Dasar cewek aneh! Kamu menertawakan aku ya?”
Dimas berlagak akan memukulkan boneka itu ke kepala Izzah. Spontan Izzah menghindar, masih dengan tawanya.
“Lucu saja lihat kamu, Mas. Sepertinya kamu kebanyakan nonton drama Korea ya? Sok romantis-romantisan segala.”
Dimas menahan geregetan. Dalam hati menggerutu sendiri.
“Waah … gadis ini benar-benar aneh. Bukannya senang dibelikan boneka, eeh … malah menertawakanku.”
Melihat Dimas bengong. Izzah menyambar boneka di tangan Dimas dan berlari masuk.
Dari balik pintu, Izzah mengeluarkan sebagian tubuhnya dan menggoyangkan boneka yang terulur ke arah Dimas.
“Terima kasih juga atas hadiah bonekanya.”
BRAK!
Pintu ditutup dengan bantingan cukup keras.
Dimas terperangah. Garuk-garuk kepala, lalu meninggalkan rumah Izzah dengan senyum terkembang.
“Dasar Izzah gadis aneh. Selalu penuh kejutan!”
***
Duduk di belakang kemudi, Shin Seo Hyun menatap tangga rumah Izzah dengan kesal.
“Kenapa lelaki itu belum keluar juga?” desisnya.
Tiba-tiba ia melihat Dimas mendekati Izzah. Tangan Dimas merengkuh tengkuk gadis itu, dan mengangkat dagunya perlahan. Wajah Dimas dan Izzah begitu dekat. Lalu, bibir mereka saling bertemu memberi kehangatan di tengah terjangan dinginnya angin malam yang menusuk tulang.
Shin Seo Hyun menggeram marah.
“Tidak! Tidak! Itu tidak boleh terjadi!” pekiknya.
“Ah!”
Sorot lampu mobil Dimas membuyarkan lamunan Shin Seo Hyun.
“Sial! Bahkan, sebuah bayangan pun membuatku marah.” Shin Seo Hyun memukul setir.
“Ada apa denganku?” Shin Seo Hyun benar-benar bingung dengan dirinya sendiri.
“Apa aku sudah menjadi gila karena pekerjaan yang menumpuk akhir-akhir ini?”
Melihat mobil Dimas sudah menghilang dari pandangannya, Shin Seo Hyun menghidupkan mesin mobilnya dan kembali pulang.
Setelah melepas sarung tangan dan jaket serta membantingnya ke atas sofa di kamarnya. Shin Seo Hyun menghempaskan diri ke atas kasur. Gelisah dan amarah menguasai setiap tetes darah di tubuhnya.
“Dokter Izzzaaah! Apa yang telah kau lakukan padaku?”
Ditenggelamkannya mukanya di balik bantal. Shin Seo Hyun benar-benar merasa telah melakukan hal bodoh dengan menghabiskan waktu menguntit Izzah. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
“Apa yang harus kulakukan?”
Shin Seo Hyun membalikkan tubuh menatap langit-langit kamar yang tiba-tiba saja dipenuhi oleh wajah Izzah dengan senyum manisnya.
“Aiissh!”
Cepat-cepat Shin Seo Hyun bangkit menuju kamar mandi, cuci muka. Di depan cermin, ia berbicara dengan bayangannya.
“Ada apa denganmu Shin Seo Hyun?”
“Hari ini kamu sudah menjadi seorang penguntit hanya karena seorang gadis aneh.”
“Heh! Sepertinya kamu sudah tidak waras!”
Shin Seo Hyun tersenyum sinis, mencaci dirinya sendiri. Dengan membanting handuk yang baru saja dipakainya, ia keluar dari kamar mandi itu.
Mendadak ia berhenti dan berbalik. Mengendus-endus, mencari aroma yang menggelitik hidungnya. Tangannya meraih handuk yang tadi dibantingnya. Mendekatkan ke hidung dan menyesap baunya.
Dalam sekejap, Shin Seo Hyun seolah melayang. Kedua tangannya memeluk erat handuk kecil itu. Aroma Izzah yang masih menempel di handuk itu membuat khayalannya akan sosok Izzah kembali membubung tinggi.
Perlahan kakinya melangkah kembali menuju tempat tidur seraya mengelus handuk di lengan kirinya, seolah itu adalah Izzah.
Tiba-tiba Shin Seo Hyun jatuh telentang di ranjang. Senyumnya mengembang. Terbuai angan dan bayang. Berharap semua itu tidak akan hilang ketika pagi menjelang.
“Selamat malam, Sayang!”
Jiwa Shin Seo Hyun pun terbang melayang, menggapai bintang dalam dengkuran panjang.
***