A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 59. Seperti Keluarga



Siang itu, cuaca sangat bersahabat. Hawanya sejuk dan tak begitu panas. Shin Seo Hyun memegang kemudi dengan hati-hati. Sesekali ia mengintip canda tawa Ha Na dan Izzah melalui kaca spion. Gadis kecil itu bercoloteh dengan riang hingga tiba di sebuah panti asuhan.


Begitu Shin Seo Hyun membuka pintu, Izzah segera turun diikuti Ha Na. Dua orang wanita paruh baya bergegas menyongsong dan menyapa mereka.


Dua wanita itu membawa Izzah dan Ha Na masuk. Sementara Shin Seo Hyun bergerak


mengambil barang-barang dari bagasi. Beberapa anak panti ikut membantunya.


Ha Na senang sekali berkeliling, membagikan hadiah yang dibawanya untuk anak-anak panti. Tingkah lucunya membuat suasana semakin semarak.


“Ya ampuuun … Nona Ha Na dermawan sekali,” puji pengasuh panti asuhan itu, membuat Ha Na makin bersemangat.


“Sini! Minum dulu! Ha Na capek ya?” ujar Izzah, melihat keringat bercucuran di kening Ha Na.


Ha Na mengangguk, lalu menghampiri Izzah. Izzah berjongkok menyibak anak rambut yang menutupi kening Ha Na dan menyeka keringatnya dengan penuh kelembutan. Dibimbingnya gadis kecil itu menuju sebuah bangku di bawah sebatang pohon. Disodorkannya sebotol susu cair rasa strawberry pada Ha Na. Dalam sekejap isi botol itu pun sudah berpindah ke perut Ha Na.


Di kejauhan, tampak Shin Seo Hyun sedang asyik bermain bola dengan anak-anak panti.


“Mereka terlihat sangat dekat,” desis Izzah.


“Ya. Keluarga Tuan Shin dari generasi ke generasi selalu berkunjung secara rutin ke sini,” sahut pengasuh panti.


Izzah terperanjat. Ia tidak tahu sejak kapan pengasuh itu duduk di sampingnya.


“Benarkah?” tanya Izzah sambil mendudukkan Ha Na di pangkuannya.


“Setiap kali anggota keluarga Tuan Shin berulang tahun, mereka akan datang dengan membawa berbagai macam makanan dan hadiah untuk anak-anak malang itu. Bahkan selama bertahun-tahun keluarga Tuan Shin menjadi donatur tetap panti ini. Kami tidak tahu bagaimana nasib anak-anak itu seandainya Tuhan tidak mengirimkan


keluarga Tuan Shin kepada kami,” sahut pengasuh panti, mengagumi kebaikan hati keluarga besar Shin Seo Hyun.


Izzah tercenung mendengar penjelasan pengasuh panti itu. Meski hanya singgah sesaat, Izzah dapat merasakan bahwa keluarga Shin Seo Hyun memang jauh dari gambaran tipikal orang kaya yang sombong dan dingin. Sebaliknya, keluarga Shin Seo Hyun penuh dengan kehangatan dan keramahan.


“Hahaha .…” Pengasuh panti itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat Shin Seo Hyun jatuh terjengkang karena ditabrak beberapa orang anak yang berlari kencang mengejar bola.


Melihat Shin Seo Hyun jatuh, anak-anak itu bukannya membantu Shin Seo Hyun berdiri, tetapi malah ikut menjatuhkan diri mengimpit Shin Seo Hyun. Sontak Izzah ikut tertawa geli melihat ulah bocah-bocah lugu itu.


Anak-anak itu baru turun dari tubuh Shin Seo Hyun saat salah satu pengasuh panti membubarkan mereka.


Dengan napas ngos-ngosan Shin Seo Hyun berjalan menghampiri Izzah dan Ha Na. Bajunya terlihat kotor penuh debu.


Izzah menyerahkan sebotol air mineral kepada Ha Na dan membisikkan perintah di telinga gadis cilik itu. Begitu menerima botol dari tangan Izzah, Ha Na langsung meluncur dari pangkuan Izzah dan berlari kecil menyongsong Shin Seo Hyun.


“Uncle pasti capek. Minum dulu ya!” ujar Ha Na.


Ia menyodorkan botol air yang dibawanya kepada Shin Seo Hyun. Shin Seo Hyun berjongkok dan mengambil botol itu dari tangan mungil Ha Na.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Shin Seo Hyun. Dibimbingnya Ha Na kembali ke bangku.


Begitu menghempaskan pantat di samping Izzah, Shin Seo Hyun langsung membuka tutup botol dan menenggak isinya.


GLEK! GLEK!


Suara tegukan air dari tenggorokan Shin Seo Hyun membuat Izzah menoleh.


CLIIING!


Tetes keringat yang berjatuhan dari ujung rambut Shin Seo Hyun yang basah serta gerakan jakun Shin Seo Hyun saat menelan membius Izzah untuk sesaat.


“Waaah … bahkan saat minum seperti itu pun bos licik ini tampak bercahaya,” batin Izzah. Tiba-tiba saja pipinya bersemu merah disertai detak jantung yang mulai memburu.


Ia mengajak Ha Na menyusul pengurus panti. Ia tidak sanggup lama-lama berada dekat Shin Seo Hyun.


“Aunty, nanti beli es krim ya?” pinta Ha Na manja, menarik tangan Izzah. Izzah menoleh dengan senyum manisnya.


“Iya, Sayang. Tapi, setelah pamit sama ibu panti ya,” sahut Izzah menyenangkan Ha Na.


“Horeeee … beneran ya Aunty. Aku mau yang banyak …,” celoteh Ha Na riang.


“Sebanyak Kang Ha Na mau,” jawab Izzah, membuat gadis itu semakin berjingkrak kegirangan.


“Sini! Gendong sama Uncle,” ujar Shin Seo Hyun tiba-tiba, mengangkat tubuh mungil Ha Na.


“Geli, Uncle …,” pekik Ha Na, menggelinjang manja digelitik Shin Seo Hyun.


Izzah tertegun melihat kehangatan canda Shin Seo Hyun dan Ha Na. Ha Na makin tertawa senang saat Shin Seo Hyun mendudukkannya di pundak. Setengah berlari Shin Seo Hyun bergerak seolah terbang sambil merentangkan kedua tangan Ha Na di genggamannya.


“Senangnya melihat mereka begitu, seperti ayah dan anak. Ternyata Tuan Shin hangat juga. Calon imam idaman nih,” puji Izzah dalam diam.


Sedetik kemudian ia tersentak dan geleng-geleng kepala. “Ya ampuun … kenapa juga aku harus berpikir seperti itu.” Buru-buru Izzah menyusul Shin Seo Hyun dan Ha Na.


Setelah meninggalkan panti, Shin Seo Hyun membawa Izzah dan Ha Na ke sebuah taman bermain. Layaknya sebuah keluarga, mereka mencoba aneka permainan yang diinginkan Ha Na.


“Aunty, aku mau boneka itu,” ujar Ha Na, menunjuk sebuah boneka lumba-lumba lucu saat melewati arena permainan tembak. Sontak langkah Shin Seo Hyun dan Izzah terhenti.


“Itu sih gampang … lihat! Akan Uncle dapatkan boneka itu untukmu,” ujar Shin Seo Hyun sesumbar sambil menerima senapan yang diulurkan penjaga stan.


Tuing!


Meleset. Ha Na terlihat kecewa. Izzah mengusap kepala Ha Na.


“Tenang … baru pemanasan,” kilah Shin Seo Hyun.


Tuing! Tuing! Tuing! Tuing!


Sudah lima peluru terbuang percuma. Shin Seo Hyun mulai salah tingkah. Kesal dan malu bercampur jadi satu. Wajah Ha Na semakin merunduk.


Izzah menatap Shin Seo Hyun dingin. Membuat Shin Seo Hyun semakin kikuk.


“Berikan senapannya padaku!” pinta Izzah, menadahkan tangan pada Shin Seo Hyun. Shin Seo Hyun ragu-ragu.


“Aku saja susah mendapatkan boneka itu, apalagi gadis aneh ini,” kata hati Shin Seo Hyun, meremehkan kemampuan Izzah.


“Aah … ini. Ambillah!” ujar Shin Seo Hyun cepat saat melihat Izzah akan meminta senapan yang lain pada penjaga stan.


“Ha Na, Sayang … bantu Aunty dengan doa ya …,” ujar Izzah sambil berjongkok membelai rambut di pelipis Ha Na dan menyelipkan helaian rambut yang terjuntai ke belakang telinga Ha Na. Ha Na menggangguk.


Selama beberapa detik, Izzah menatap targetnya dengan cermat.


DUAR! DUAR! DUAR!


Tiga botol kecil yang berbaris rapi jatuh seketika. Izzah mendesah lega. Shin Seo Hyun mengusap kuduknya, merasa malu karena kalah saing di depan Ha Na.


“Horrreee!” Ha Na berteriak gembira.


Tampang penjaga stan itu tampak kurang senang ketika menyerahkan boneka incaran Ha Na kepada Izzah.


***