A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 53. Dokter dan Pasien



Hampir satu jam Shin Seo Hyun duduk di sofa menanti Izzah yang tak kunjung datang. Ia mulai gelisah. Berkali-kali matanya mengamati pintu. Berharap Izzah akan muncul di situ dengan senyum manisnya. Namun, pintu itu tak jua kunjung terbuka.


“Aissh! Kenapa lama sekali gadis itu mencuci piring? Jangan-jangan dia sudah melarikan diri.”


Berpikir kemungkinan Izzah benar-benar kabur, Shin Seo Hyun bergegas keluar kamar dan berlari menuruni tangga. Nyaris saja ia jatuh tertelungkup ketika kaki kanannya tersandung tumit kirinya saat menginjak anak tangga terakhir.


Tanpa memedulikan pakaiannya basah kuyup, Shin Seo Hyun menghidupkan mesin mobil. Ia meninggalkan pekarangan rumahnya, menembus derasnya hujan. Yang ada di pikirannya cuma satu, yaitu tiba di rumah Izzah selekas mungkin. Bayangan anggota kelompok XY mengadang jalannya ketika pulang dari Seoraksan membuat


tubuhnya menggigil.


“Tuhan, lindungi Izzah!” bisik hati Shin Seo Hyun, dilanda kecemasan.


Sementara itu, di salah satu kamar rumah Shin Seo Hyun, seorang wanita usia awal lima puluhan merebahkan tubuh Izzah di atas ranjang. Dalam waktu singkat, wanita itu telah mengganti baju basah Izzah dengan pakaian bersih yang ditemukannya dalam koper di sisi ranjang. Selepas itu, ia menyelimuti tubuh Izzah.


Berdiri di tepi ranjang, wanita itu mengamati Izzah dengan saksama.


“Siapa gadis ini hingga Shin Seo Hyun membawanya pulang?”


Wanita itu bertanya-tanya dalam hati. Ia merasa aneh karena selama ia mengenal Shin Seo Hyun, belum pernah lelaki itu mengajak, apalagi sampai mengizinkan seorang gadis untuk tinggal di rumahnya.


Wanita itu mengambil baskom air yang tergeletak di lantai dan menggantinya dengan yang baru. Selesai meletakkan kompresan di kening Izzah, ia beranjak keluar. Membiarkan gadis itu seorang diri.


Berjalan menuruni tangga, wanita itu masuk ke salah satu kamar yang ada di lantai bawah dan berganti pakaian. Setelah itu ia menyeduh secangkir teh dan memanggang roti. Dibawanya teh dan roti itu ke dalam kamarnya.


Tiga puluh menit kemudian wanita itu keluar dari kamarnya menuju dapur. Selesai mencuci cangkir teh dan piring rotinya, ia membuka kulkas. Mengecek persediaan makanan yang masih tersisa.


“Sudah hampir habis. Sebaiknya aku belanja sekarang mumpung hujan sudah berhenti,” gumamnya, lalu meninggalkan rumah Shin Seo Hyun.


Shin Seo Hyun makin gelisah ketika pintu rumah Izzah tak kunjung dibuka dari dalam setelah diketuk beberapa kali. Dicobanya menghubungi ponsel Izzah. Namun, tak diangkat.


“Ke mana gadis keras kepala itu?” Shin Seo Hyun berjalan mondar-mandir di depan pintu seperti setrikaan.


Lama-lama ia berlari turun ke bawah, mengetuk rumah ibu indekos Izzah.


TOK! TOK!


“Ya?” Seorang wanita paruh baya membuka pintu.


“Anda terlihat gugup, ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan Shin?”


“Oh ... maaf Nyonya Choi! Saya kembali karena ingin menanyakan sesuatu. Apakah Dokter Izzah datang ke sini setelah saya?”


“Dokter Izzah? Sepertinya tidak. Apakah dia tidak lagi di rumah Anda?” Nyonya  Choi ikut khawatir. Ia sangat menyukai Izzah.


“Bukan begitu. Saya hanya ingin memastikannya saja,” sahut Shin Seo Hyun, tak ingin membuat wanita itu cemas.


“Baiklah. Kalau begitu, saya permisi dulu, Nyonya Choi. Maaf telah mengganggu waktu santai Anda,” pamit Shin Seo Hyun seraya membungkukkan badan.


“Tidak apa-apa, Tuan Shin. Hati-hati berkendara!” ujar wanita itu, melepas kepergian Shin Seo Hyun.


Sepanjang jalan Shin Seo Hyun dirundung resah. Ke mana ia harus mencari Izzah? Teringat nomor ponsel Izzah masih aktif saat dihubungi, akhirnya Shin Seo Hyun memutuskan untuk kembali ke rumah.


Setibanya di rumah, Shin Seo Hyun terus masuk ke kamar Izzah. Begitu melihat gadis itu berbaring di ranjang dengan kompresan di kening saat membuka pintu, Shin Seo Hyun segera menarik kursi dan duduk di samping Izzah. Diperiksanya denyut nadi Izzah. Begitu lemah.


BIP! BIP.


“Ya?”


“Tuan Ihsan dan Tuan Dimas sudah diperbolehkan pulang. Apakah Anda akan datang menjemput, Tuan?” tanya suara di seberang telepon.


“Maaf Joon Soo. Sepertinya tidak bisa. Tolong gantikan aku mengurus segala administrasinya ya!” tolak Shin Seo Hyun.


“Baik, Tuan!”


“Oh ya, setelah itu tolong singgah di apotik. Beli cairan infus dan beberapa obat-obatan! Nanti aku kirimkan resepnya. Antarkan ke rumahku secepatnya!” perintah Shin Seo Hyun, lalu menutup telepon tanpa menunggu jawaban Park Joon Soo.


Sesaat kemudian ia beranjak mengambil peralatan medisnya dan memeriksa Izzah, kemudian mengirimkan resep obat kepada Park Joon Soo.


Dimas dan Ihsan yang samar-samar mendengar percakapan Park Joon Soo and Shin Seo Hyun sama-sama mengangkat alis.


“Apa yang terjadi?” tanya Ihsan. Perasaannya tidak enak.


“Entahlah. Sepertinya Dokter Izzah membutuhkan sedikit perawatan,” jawab Park Joon Soo.


“Tapi kalian tidak perlu khawatir, Tuan Shin akan merawatnya dengan baik,” lanjutnya cepat saat melihat Ihsan dan Dimas bergegas turun dari ranjang.


Park Joon Soo menatap curiga kedua lelaki itu.


“Hem ... sepertinya Tuan Shin memiliki pesaing,” desisnya pelan.


“Apa?” tanya Dimas.


“Ah, tidak apa-apa. Ayo pulang sekarang!” ujar Park Joon Soo.


Bertiga, mereka melangkah meninggalkan rumah sakit.


“Ke mana saya harus mengantar Anda, Tuan Dimas?” tanya Park Joon Soo sambil melirik Dimas dari kaca spion.


“Bawa kami ke tempat Izzah!” jawab Dimas


“Maaf, Tuan Dimas. Tuan Shin meminta saya untuk mengantar Anda dan Tuan Ihsan pulang.”


“Kenapa kami tidak boleh membesuk Izzah?”


“Bukan begitu. Hanya saja saat ini Tuan Shin ingin Dokter Izzah benar-benar bisa beristirahat dengan tenang agar bisa pulih lebih cepat. Bukankah Anda tahu bahwa Dokter Izzah adalah dokter magang terbaik yang menjadi andalan rumah sakit kami?” kilah Park Joon Soo.


Meski mencium gelagat yang tidak beres, Dimas tidak ingin berdebat. Ia percaya, sebagai seorang dokter tentu Shin Seo Hyun akan melakukan yang terbaik untuk pasiennya, apalagi jika itu pasien khusus.


Setelah menurunkan Ihsan di hotel tempatnya menginap, Park Joon Soo mengantar Dimas ke rumahnya. Selanjutnya, ia memacu mobilnya menuju apotik sesuai perintah Shin Seo Hyun.


Shin Seo Hyun masih duduk termangu di sisi Izzah. Gadis itu masih belum sadarkan diri. Ia bertanya-tanya bagaimana Izzah tiba-tiba terbaring di ranjang dan berganti pakaian setelah sempat menghilang.


“Dia tidak mungkin punya ilmu yang aneh-aneh, kan?” pikirnya. “Dia tidak mungkin memiliki kemampuan untuk melenyapkan diri sesuka hati, lalu muncul kembali kapan saja dan di mana saja.”


Shin Seo Hyun geleng-geleng kepala. Hatinya masih dibalut gundah. Andai Izzah sudah sadarkan diri, tentu ia tidak perlu memendam resah lebih lama. Ia pasti bisa bertanya langsung pada gadis itu.


Shin Seo Hyun menatap sendu pada wajah pias Izzah. “Izzah, sadar dong!” rengeknya.


***