A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 71. Jaga Dia Dengan Baik!



“Ngomong-ngomong, di mana bakti sosialnya?” tanya Izzah setelah lama hening.


“Kau tidak menyimak rapatnya?” Shin Seo Hyun balik bertanya.


“Entahlah. Sepertinya saat itu aku tidak begitu memperhatikan ucapan Tuan Lee,” sahut Izzah jujur. Salah satu sifat lain dari Izzah yang juga sangat disukai Shin Seo Hyun.


Shin Seo Hyun menoleh sekilas. “Kau masih memikirkan perjodohan itu?” tanyanya.


“Sedikit,” jawab Izzah singkat seraya mengangkat bahu.


Shin Seo Hyun tertawa. “Kukira gadis cuek sepertimu tak akan terganggu sama sekali dengan hal seperti itu.”


Izzah mendelik. “Kenapa kau mengalihkan pertanyaanku?”


“Ah … maaf,” ujar Shin Seo Hyun, merasa bersalah.


Tak seharusnya ia membahas hal sensitif di saat mood Izzah sedang tidak begitu bagus.


“Kita sudah dekat. Coba lihat ke depan!” lanjutnya seraya memberi kode dengan gerakan muka. Izzah mengikuti pandangan Shin Seo Hyun.


Di kejauhan tampak gedung-gedung tinggi pencakar langit. Salah satu simbol kemajuan Korea Selatan. Harga properti itu tentu saja berbanding lurus dengan bangunan-bangunan itu.


Semakin dekat ke tempat tujuan, Izzah menyadari adanya ketimpangan sosial yang sangat mencolok. Rumah-rumah kecil di dekat gedung-gedung itu sungguh berbanding terbalik, laksana Beauty and The Beast.


Sungguh Izzah tak menyangka, di balik kemajuan Korea Selatan yang begitu pesat, ternyata masih menyisakan sepetak perkampungan kumuh, yang tentu saja biasanya selalu dibumbui dengan secarik kisah pilu.


Shin Seo Hyun menepikan mobilnya, lalu bergegas turun membukakan pintu untuk Izzah. Dengan santai, Shin Seo Hyun dan Izzah berjalan berdampingan menuju sebuah lapangan yang tidak begitu  luas. Tiga buah tenda kecil telah berdiri di sana.


“Selamat datang, Tuan Shin, Dokter Izzah,” sambut Lee Kwan Gi begitu melihat kedatangan Shin Seo Hyun dan Izzah.


Izzah dan Shin Seo Hyun mengedarkan pandangan. Di tenda paling kanan, tampak sepasang dokter dan perawat tengah sibuk dengan pasien anak-anak. Jerit tangis bocah-bocah lugu yang ketakutan sesekali terdengar.


Di tenda kedua, dua pasang dokter dan perawat juga mulai bermandi keringat melayani pasien dewasa. Sementara di tenda paling kiri, beberapa mahasiswa tersenyum ramah menyodorkan semangkuk bubur dan segelas jus buah segar kepada pasien yang telah menjalani pemeriksaan.


Seakan sudah sehati, Shin Seo Hyun dan Izzah sama-sama menarik napas panjang. Melahirkan senyum jenaka dari bibir Lee Kwan Gi.


“Maaf, Tuan. Mereka sudah lebih dulu mengambil posisi masing-masing. Jadi, mau tidak mau hanya bagian pasien lansia yang tersisa,” ujar Lee Kwan Gi, menjelaskan kondisi kerja rekan-rekannya.


“Tidak masalah. Di mana pasien lansianya?” tanya Shin Seo Hyun saat tak melihat satu orang pun lansia yang berada di sana.


“Oh ... itu. Mereka tidak didatangkan ke sini, melainkan dokter bertugas yang berkunjung ke kediaman mereka,” jelas Lee Kwan Gi.


“Kalau Tuan Shin dan Dokter Izzah keberatan, aku akan menugaskan dokter lain,” sambungnya cepat.


“Ah, tidak perlu!” cegah Shin Seo Hyun dan Izzah serempak, membuat senyum Lee Kwan Gi kembali tersungging.


Sejenak Shin Seo Hyun dan Izzah saling pandang. Merasa canggung.


“Baiklah. Kalau begitu terserah kalian saja. Saya permisi dulu,” pamit Lee Kwan Gi, lalu berkeliling mengecek pekerjaan rekan-rekannya.


Shin Seo Hyun segera mengambil satu-satunya kotak perlengkapan medis yang tersisa dan menyerahkannya kepada Izzah. Lalu, diangkatnya kardus berisi makanan sehat yang akan dibagikan kepada lansia yang mereka datangi.


Tanpa membuang waktu, ia dan Izzah berjalan menyusuri lorong-lorong sempit kompleks perumahan kumuh kampung Guryong setelah mendapatkan daftar para lansia yang akan diperiksa. Sesekali mereka merunduk, menyibak ranting-ranting dedaunan yang mengadang jalan mereka.


Semakin ke dalam, semakin padat gubuk-gubuk reyot berjajar. Dinding-dinding tripleks yang sudah lapuk dimakan usia serta terpal-terpal sobek dan plafon yang menjuntai menyambut mereka dengan rintihan lara karena embusan angin. Entahkah masih layak untuk disebut rumah.


Berjam-jam sudah Shin Seo Hyun dan Izzah naik turun rumah dari pintu ke pintu. Kondisi setiap rumah di perkampungan itu sangat memprihatinkan. Tak ada kamar mandi. Namun, pekarangan dan jalanan di perkampungan itu terlihat bersih. Menunjukkan tingginya tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan.


Iba dengan kondisi perempuan tua itu, Izzah segera memapahnya kembali ke dalam, mendudukkannya di atas kasur usang yang sedikit berbau pesing. Tumpukan pakaian berserakan di lantai semen yang kasar dan berlobang di sana sini. Entah bersih, entah kotor, tak dapat lagi dibedakan.


Tirai-tirai robek menghias jendela kecil dengan kacanya yang sudah retak dan diberi perekat berwarna cokelat. Menambah kesan kotor pada debu-debu yang terlihat tebal. Sepertinya wanita renta itu tinggal sendiri. Izzah merasa prihatin.


Saat Izzah mengeluarkan stetoskopnya, wanita itu pun membaringkan tubuh rentanya di atas kasur tipis dan kucel. Sesekali terdengar suara batuknya seperti derit pintu tua dengan engsel yang berkarat. Membuat Izzah dan Shin Seo Hyun menghela napas panjang.


Dengan sangat hati-hati dan lembut Izzah memeriksa kondisi kesehatan wanita tua itu. Kulit keriput dan tipis pembalut tulang ringkih itu dirabanya perlahan. Tak lupa, disalurkannya hawa sejuk dan hangat yang tersembunyi di telapak tangannya.


“Terima kasih. Sentuhanmu terasa berbeda dari dokter-dokter sebelumnya,” ujar wanita itu, duduk kembali setelah Izzah memeriksanya.


“Semoga lekas sembuh ya, Nek,” sahut Izzah, menampilkan senyum manisnya.


“Ya ampun … senyummu sangat menawan,” puji wanita itu sambil meraba wajah Izzah. Membuat Izzah merasa terharu karena merindukan sentuhan bundanya.


“Terima kasih. Nenek mau makan buburnya sekarang?” tanya Izzah sambil mengeluarkan semangkuk bubur dan segelas jus dalam kemasan plastik.


“Nanti saja. Aku  baru sudah  makan,” tolak wanita itu halus.


“Baiklah. Kalau begitu kami permisi dulu, Nek. Jaga kesehatan,” pamit Izzah seraya menyalami wanita tua itu.


Shin Seo Hyun berjongkok menyodorkan obat-obatan yang diperlukan wanita itu.


“Minum obatnya dengan teratur ya, Nek,” pesan Shin Seo Hyun sambil memasukkan obat itu ke genggaman wanita tua itu.


Tanpa melepaskan genggaman tangannya, sebelah tangan tua renta itu membelai pipi Shin Seo Hyun. Tatapan matanya hangat. Seulas senyum menghias bibirnya ketika ia berkata.


“Kamu lelaki yang beruntung. Jaga dia baik-baik!” pesan wanita itu seraya melirik Izzah yang sudah berdiri di luar.


Shin Seo Hyun tersenyum dan mengangguk mantap, “Tentu, Nek. Terima kasih.”


Sedetik kemudian, Shin Seo Hyun pun menyusul Izzah setelah menyelipkan beberapa lembar pecahan lima puluh ribu won ke dalam tangan lemah itu.


Merasa pegal dan lelah, Izzah mengetok-ngetok lututnya pelan sambil duduk merentangkan kaki di atas sebuah kursi bulat tidak jauh dari tenda. Sebagian rekan-rekannya sudah mulai berkemas.


“Minumlah! Kau pasti sangat haus,” ujar Shin Seo Hyun, menyerahkan segelas jus.


“Terima kasih,” sahut Izzah pelan dan langsung menyedot isi gelas itu.


Shin Seo Hyun menarik kursi dan duduk di samping Izzah.


“Bagaimana perasaanmu setelah mengitari perkampungan Guryong?” tanya Shin Seo Hyun, memulai percakapan.


“Luar biasa kaget. Aku tidak menyangka masih ada perkampungan seperti ini yang tersisa di Korea, apalagi letaknya bersebelahan dengan kompleks perumahan mewah distrik Gangnam. Bak langit dan bumi,” urai Izzah, membuat Shin Seo Hyun tersenyum.


Shin Seo Hyun baru saja akan membuka mulutnya untuk menimpali ucapan Izzah ketika Lee Kwan Gi datang menghampiri mereka. Bergegas Shin Seo Hyun dan Izzah berdiri menyongsongnya.


“Terima kasih atas kerja keras anda hari ini, Tuan Shin dan juga Dokter Izzah,” kata Lee Kwan Gi, merasa terbantu dan puas dengan kinerja sang Direktur dan Izzah.


“Sama-sama, Tuan Lee,” balas Shin Seo Hyun dan Izzah. Lagi-lagi bersamaan.


“Sekarang, saatnya kita pulang!” ajak Lee Kwan Gi sambil memutar tubuh dan melangkah mendahului Shin Seo Hyun dan Izzah.


***