A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 61. Pembalasan



Malam itu, meja makan yang semestinya terasa hangat berubah menjadi dingin mencekam. Shin Seo Hyun tak sedetik pun melepaskan tatapannya dari Izzah, sementara mulutnya terus saja mengunyah daging ayam yang tertancap di ujung garpu. Bagi Shin Seo Hyun, gadis itu sungguh menguji kesabarannya.


Di seberang Shin Seo Hyun, tatapan Izzah tak kalah tajam menusuk mata kelam lelaki yang berada di hadapannya. Bagi Izzah, lelaki itu sungguh membuat darahnya mendidih. Shin Seo Hyun selalu berhasil membuatnya tak berkutik dan dengan terpaksa tak pernah bisa menolak keinginannya. Ingin rasanya Izzah melemparkan paha ayam dalam piring di hadapannya itu ke muka Shin Seo Hyun.


“Hah! Paha ayam?”


Izzah segera mengalihkan perhatiannya dan bergegas menyambar satu-satunya paha ayam yang tersisa. Dengan santainya Izzah menyuwir daging ayam itu dengan jari-jari lentiknya, lalu memasukkan ke dalam mulut tanpa menghiraukan tatapan bosnya.


Shin Seo Hyun cuma bisa melongo menyaksikan ulah Izzah. Gemas.


“Waaah! Gadis ini benar-benar selalu punya cara untuk mengubah warna hatiku,” bisik Shin Seo Hyun dalam hati. Diam-diam ia makin mengagumi gadis itu.


Selesai bersantap, Izzah membereskan meja makan dan membawa perkakas yang kotor ke wastafel cuci piring.


“Biar aku saja yang mencucinya,” ujar Shin Seo Hyun basa-basi saat melihat Izzah menuangkan sabun pencuci piring ke dalam mangkuk.


Mendengar ucapan Shin Seo Hyun, Izzah langsung mencuci tangannya dan meninggalkan lelaki itu tanpa berkata apa-apa. Dengan santainya, ia melenggang naik tangga.


Berdiri mematung di depan wastafel, Shin Seo Hyun cuma bisa melongo sambil garuk-garuk kepala. Dalam hati ia berteriak kencang.


“Izzaaaaaah … enggak peka banget sih kamu jadi orang,” rutuknya. “Padahal, maksud aku ngomong begitu kan supaya ada adegan kayak drama-drama Korea gitu. Saling rebutan piring terus pandang-pandangan, deg-degan, terus … terus …. Ih! Sebel!” omel Shin Seo Hyun bersungut-sungut sambil menyabun piring dengan kesal.


“Awas ya, Zah. Tunggu tanggal mainnya!” geram Shin Seo Hyun.


Terdengar suara dentang kencang lantaran beradunya piring dan gelas yang dicuci Shin Seo Hyun dengan kasar. Kalau saja piring dan gelas itu bisa bicara, mereka pasti sudah memaki Shin Seo Hyun.


“Izzah yang bikil kesal, kenapa kami yang dilempar? Tidak tahu terima kasih banget sih kamu!”


“Oke. Sekarang tarik napas dalam-dalam!” perintah Shin Seo Hyun pada diri sendiri.


Huuuuh … haaaah … huuuuh … haaaaah ….


Dari tangga, Izzah menyaksikan kekesalan Shin Seo Hyun dengan senyum lebar.


“Rasain! Memangnya enak dikerjain! Dasar bos licik!” maki Izzah sambil menutup tawanya dengan kedua tangan dan bergegas naik ke atas dengan mengendap-endap sebelum ketahuan.


Ketika hendak memutar handle pintu, Izzah melihat pendar cahaya panjang di lantai tidak jauh dari kamarnya. Izzah melepaskan pegangannya dan berjalan menuju cahaya itu. Setelah dekat baru disadarinya kalau cahaya itu menyeruak dari celah pintu yang sedikit terbuka.


“Pintu? Aku tidak melihat pintu itu sebelumnya,” gumamnya.


Penasaran, Izzah mendorong pintu itu perlahan dan melongokkan kepala, mengintip isi ruang di balik pintu itu. Tampak rak-rak tinggi menjulang dipenuhi buku. Di sudut kanan dari pintu, terdapat sebuah lemari kecil. Di depan lemari itu, sepasang meja dan kursi tersusun rapi.


“Hem … sepertinya ini perpustakaan pribadi, Mas Dirga. Masuk ah .…”


Setelah memastikan Shin Seo Hyun belum naik, Izzah masuk ke ruang itu dan menutup pintu dengan pelan.


“Waaah … banyak banget koleksi buku-bukunya,” desis Izzah kagum. Ia  berjalan menyusuri buku-buku yang tersusun rapi.


Tiba-tiba matanya terpaut pada sebuah buku bersampul gelap. Ditariknya buku itu.


“The Nocturnal Brain: Tales of Nightmares and Neuroscience and the Secret World Sleep. Guy Leschziner,” bisik Izzah, membaca judul dan penulis buku.


Dibukanya lembar demi lembar buku di hadapannya. Meresapi setiap baris kalimat yang dibacanya. Berharap ia akan menemukan jawaban atas semua mimpi-mimpi buruk yang selama ini kerap mengganggu tidurnya.


Sebagai seorang dokter, Izzah sangat paham bahwa seharusnya ia mendatangi seorang psikiater. Hanya saja, keengganannya untuk membiarkan orang lain masuk ke ranah pribadi hidupnya membuat Izzah tetap bertahan untuk tidak berkonsultasi pada psikiater mana pun.


Huuuuh … haaaah .…


Izzah menarik napas dalam. Rangkaian kisah yang menyuguhkan bagaimana gangguan tidur memengaruhi kehidupan seseorang dan keluarganya benar-benar membuatnya harus mengakui bahwa di lubuk hatinya ia sangat khawatir.


Mimpi-mimpi buruknya terus menggerogoti keyakinannya akan cinta seorang pria. Ia makin pesimis. Tanpa disadarinya, ia seakan telah menjelma menjadi seorang wanita berkepribadian ganda. Sosoknya yang hangat dan ceria berubah dingin dan ketus saat berhadapan dengan lelaki muda.


Diawali dengan desahan panjang, Izzah menutup buku yang dibacanya. Jari-jarinya menyatu menopang dagu. Matanya menerawang jauh, menatap kegelapan di luar jendela.


“Haruskah aku menemui seorang psikiater?”


Berulang kali pertanyaan itu mengusik ketenangan Izzah. Bingung menentukan pilihan, Izzah kembali membuka buku yang tadi dibacanya. Entah sudah berapa lama ia berada di perpustakaan itu. Izzah pun mulai menguap, lalu jatuh tertidur dengan buku yang masih terkembang.


***


Di ruang kerjanya, Shin Seo Hyun duduk menguap dengan laptop masih menyala. Detak jam terdengar jelas, pertanda malam semakin sunyi. Shin Seo Hyun melirik jam kecil di atas mejanya. Pukul 11.19. Ia pun berdiri seraya mematikan laptop.


Baru saja tubuhnya menyentuh kasur, Shin Seo Hyun bangkit kembali dan keluar dari kamarnya menuju kamar Izzah. Matanya menyipit ketika melihat pintu kamar itu tidak tertutup rapat.


Tak ingin membuat penghuni kamar itu terbangun, Shin Seo Hyun bermaksud menutup pintu itu dengan perlahan. Namun, saat menyadari lampu masih menyala, Shin Seo Hyun membatalkan niatnya. Dibukanya pintu itu pelan. Betapa kagetnya Shin Seo Hyun saat menyaksikan hanya Ha Na yang terbaring di ranjang.


“Ke mana gadis aneh itu?” Hati Shin Seo Hyun bertanya-tanya.


Diliriknya pintu kamar mandi. Tak ada sedikit pun pendar cahaya merembes keluar.


“Hem … dia juga tidak di kamar mandi. Ke mana dia?”


Perlahan ditutupnya kembali pintu kamar itu.


“Dia tidak mungkin kabur, kan?” bisik hati Shin Seo Hyun mulai curiga.


“Tidak! Dia tidak mungkin meninggalkan Ha Na. Dia bukan gadis seperti itu. Selama ini dia sangat bertanggung jawab,” bantah sisi hati Shin Seo Hyun yang lain.


Tiba-tiba Shin Seo Hyun teringat Izzah senang sekali membaca. Ia pun melangkahkan kaki menuju perpustakaan. Diputarnya handle pintu. Tak terkunci, lalu dibukanya perlahan.


Berdiri di tengah pintu, Shin Seo Hyun tersenyum. Ia menarik napas lega saat matanya menangkap sosok Izzah di dekat jendela. Tanpa bersuara, ia pun menutup pintu dan berjalan menghampiri gadis itu.


Untuk sesaat Shin Seo Hyun hanya berdiri dengan tangan kanan di saku celana. Dipandanginya punggung Izzah yang tertidur. Sejurus kemudian, dilewatinya gadis itu dan duduk di sebelah kanan Izzah.


Dengan bertopang pipi, Shin Seo Hyun memandangi wajah Izzah yang terlelap berbantalkan lengan kirinya yang terentang. Sementara tangan kanannya masih menyentuh halaman terakhir dari buku yang dibacanya.


Shin Seo Hyun menarik napas panjang, lalu meniru pose Izzah secara berlawanan. Kantuk yang tadi menyerangnya mendadak lenyap seketika menyaksikan wajah polos Izzah yang tampak seperti anak kucing tertidur pulas.


Tiga puluh menit kemudian, kening Shin Seo Hyun ikut berkerut saat melihat Izzah mengernyit dalam tidurnya. Izzah sedang bermimpi.


***