
“Zah, sini!” Fadhil memanggil. Izzah menghampiri teman-temannya. Mereka duduk melingkar, siap-siap membuka bekal masing-masing. Seperti biasa, Riris selalu membawa menu komplet, nasi putih beserta lauk, sayur dan buah. Tak lupa susu kotak. Maklum, selain Riris memang tipe cewek yang sangat memedulikan tampilan fisik, ia juga mahasiswi gizi.
Johny dan Yudha mengeluarkan termos kecil air panas, menyeduh kopi moka, dan memakai sisanya untuk memasak pop mie. Fadhil menghilang sesaat, memenuhi undangan sekelompok pemuda untuk ikut bergabung ke tenda mereka dan kembali dengan membawa semangkuk mi siap saji.
Izzah membuka sebungkus potato chips karena sedang tidak ingin mengonsumsi makanan berat. Baru saja hendak mencomot beberapa keping, bungkus potato chips itu tak lagi berada di genggaman tangannya, dirampas Ihsan.
“Makan ini saja. Lebih sehat.” Ihsan menyodorkan sebuah kotak bekal berisi sandwich dan potongan buah segar kepada Izzah.
Yudha langsung bergerak menjauh, membawa dua mangkuk pop mie hangat. Ihsan memang pintar masak. Setiap kali pergi bersama Izzah, ia akan membuat dan membawa makanan untuk Izzah. So sweeeeat. Bikin iri yang lain.
“Makasih,” ujar Izzah begitu menerima kotak bekal itu tanpa langsung menyantap isinya.
Yang lain sudah sejak tadi meninggalkan Izzah dan Ihsan. Menikmati hidangan masing-masing sambil menatap indahnya air terjun. Seorang pemuda mendendangkan sebuah lagu nostalgia, tembang pengantar tidur. Suara dentingan gitar dan nyanyian yang merdu disertai bisik dedaunan dan sepoi-sepoi embusan angin menghadirkan
suasana nyaman dan membuat makan terasa lebih nikmat. Namun, Izzah sama sekali belum menyentuh makanan dalam kotak makanan di atas pangkuannya. Melihat itu, Ihsan mengambil sepotong sandwich dan menyodorkan ke mulut Izzah.
“Aaaa …,” perintah Ihsan memberi kode agar Izzah membuka mulut. Izzah kaget.
“Aiissh … apaan sih, San. Aku bisa makan sendiri kali,” tolak Izzah seraya menarik kepala ke belakang. Wajahnya bersemu merah, merasa malu. Untung kulitnya eksotis, bukan putih.
“Oke. Pastikan kamu memakannya! Jika tidak, aku benar-benar akan menyuapi kamu,” Ihsan mengancam.
Meski merasa dongkol, Izzah tidak ingin mengambil risiko. Ihsan selalu konsisten dengan ucapannya. Setelah membaca doa, dengan enggan Izzah menggigit sepotong sandwich.
Ihsan gemas melihat ekspresi kesal Izzah saat mengunyah. Ketika melihat lelehan mayonnaise di sudut bibir Izzah, refleks tangan Ihsan terulur, ingin membersihkan lelehan itu. Namun, Ihsan segera tersadar. Izzah pasti akan
menghindar. Ia pun mengeluarkan sapu tangan dan menyodorkan sapu tangan itu pada Izzah.
“Mau ngelap sendiri atau aku yang lakukan?” tanya Ihsan dengan nada menggoda.
Izzah menatap tajam, membersihkan sudut bibirnya dengan jempol kiri.
“Ya sudah kalau enggak butuh. Jadi, enggak repot mencuci,” selorohnya, menyimpan kembali sapu tangannya ke dalam saku celana.
Ia tahu Izzah masih kesal. Tapi entah kenapa, ia selalu merasa senang setiap kali berhasil mengobrak-abrik emosi Izzah.
***
Izzah melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 15.05 WIB.
“Guys, mau nginap di sini?” Suara Izzah cukup jelas untuk didengar teman-temannya.
“Pulang dong,” jawab Riris. Diamini oleh yang lain.
“Eh Zah. Lewat atas saja!” Yudha menghentikan langkah Izzah.
“Kenapa? Lewat bawah kan bisa lebih cepat.”
“Mau lihat kibut. Tadi enggak sempat gara-gara nih cewek manja.” Yudha mencibir Riris, membuat Riris melotot.
“Serius, Yud? sebelah mana? Aku kok enggak lihat.” Johny penasaran
“Jelas enggak lihatlah, John. Kamu kalau jalan kayak orang mencari duit jatuh. Lihat ke bawah melulu,” ledek Ihsan. Johny menyeringai mesem.
“Benaran ya, Yud? Awas saja kalau kamu bohong!”
“Yaelah, Zah. Curiga saja bawaannya. Noooh ... buktiin saja sendiri!” Yudha mendengus.
“Oke. Let’s go!” Izzah berbalik arah.
***
Melihat bunga kibut mekar sempurna di depan matanya, tinggi, besar dan cantik, Izzah terperangah. Johny memberi kode agar Izzah mendekat.
“Nah, tanya sama cewek ini saja!” kata Johny pada seorang wanita usia awal empat puluhan bersama seorang lelaki sedikit lebih tua dan dua orang remaja. Sepertinya mereka keluarga.
“Apaan sih John?” Izzah bingung.
“Ibu ini nanya tentang bunga kibut. Aku enggak begitu paham. Urusan yang beginian kan kamu pakarnya.”
“Sialan! Giliran yang ribet lempar ke aku,” batin Izzah.
“Iya, Dik. Penasaran. Bukannya ini Bunga Rafflesia ya?” tanya wanita itu.
“Ibu dari mana?” Izzah tidak langsung memberi jawaban, malah balik bertanya.
“Palembang, Dik”
“Oh, pantas. Umumnya orang luar memang cenderung menganggap bunga Rafflesia dan Kibut itu sama, padahal dari segi bentuk saja sudah beda. Bunga Rafflesia berkelopak lima dan enggak tinggi, Bu. Nah, kalau yang ini namanya bunga Kibut.” Si Ibu manggut-manggut mendengar penjelasan Izzah.
“Nama ilmiahnya apa?”
“Amorphophallus titanum Becc. Termasuk jenis tumbuhan suku talas-talasan.”
“Baunya kok enggak enak banget ya. Biasanya bunga kan harum?”
“Selain di sini, apa ada di tempat lain juga?” Wanita itu makin penasaran.
“Ini termasuk salah satu bunga endemik Sumatera, khususnya Bengkulu dan Lampung. Jadi, kalau Ibu ke Lampung, In syaa Allah Ibu juga bisa melihatnya. Biasanya tumbuh di tanah berkapur dan di bawah kanopi dengan ketinggian antara seratus dua puluh sampai tiga ratus enam puluh lima meter di atas permukaan laut. Umumnya ditemukan di hutan sekunder, ladang penduduk, pinggir sungai atau tepi hutan, tapi cuma mekar selama tujuh hari.”
“Sebentar banget”, Si Ibu heran. “Masyarakat sini enak ya, bisa sering lihat.”
“Enggak juga sih, Bu. Sebutir biji bunga kibut butuh waktu sekitar dua puluh sampai empat puluh tahun untuk berbunga.” Si Ibu melongo.
“Berarti langka juga ya .…”
“Betul, Bu. Tapi, itu hanya salah satu faktor penyebab bunga ini langka.”
“Ada faktor lainnya?” Si Ibu benar-benar kepo nih.
“Sebagian besar karena adanya alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan pemukiman. Mungkin ini juga salah satu dampak dari pertumbuhan penduduk. Selain itu ada juga masyarakat yang dengan sengaja memotong bunga dan daun bunga kibut karena merasa terganggu atau terancam dengan baunya.”
Wanita itu menggelengkan kepala, seakan tak bisa percaya kenapa ada masyarakat setega itu.
“Sangat disayangkan, padahal bunga ini cantik banget lo,” desisnya kagum.
“Warna bunganya memang selalu seperti ini?”
“Kalau untuk kelopak, biasanya sih memang merah hati, jingga dan kehijauan. Tongkolnya keunguan serta kuning dengan biji berwarna merah.” Si Ibu terus mengitari bunga itu, mengamati lebih saksama.
“Besar juga ya bunganya, kira-kira ini berapa meter?”
“Kalau ini sih sebenarnya tidak terlalu besar, Bu. Paling sekitar dua meteran.”
“Oh ya? Bisa lebih besar lagi?” Si Ibu lagi-lagi terperangah.
“Bisa mencapai tinggi lima meter dengan diameter semeter setengah. Beratnya bisa mencapai seratus kilo,” jelas Izzah lebih rinci.
“Bisa dimakan?” Sepertinya wanita itu benar-benar haus akan ilmu pengetahuan.
“Bisa,” jawab Izzah singkat
“Bagian mananya?”
“Umbi. Bisa buat makanan, minuman, bahkan obat-obatan.”
“Wow! Luar biasa.”
Tak hentinya wanita itu geleng-geleng kepala sambil berdecak kagum. Matanya terus mengamati bunga Kibut.
“Tapi, kok kayak ada asap-asapnya begitu?” Keningnya berkerut.
Izzah tersenyum geli. “Itu sih bukan kayaknya, Bu. Tapi, benaran asap.”
“Kok bisa?”
“Karena pada saat mekar, suhu bunga Kibut berkisar antara lima puluh sampai enam puluh derajat Celsius.” Si Ibu ber-oh karena takjub.
“Waah … makasih banget ya atas penjelasannya. Aku merasa beruntung bisa ketemu kamu di sini.” Wanita itu merasa puas dengan penjelasan Izzah
Izzah tersenyum manis. “Sama-sama, Bu. Izzah juga senang bisa berbagi sedikit ilmu yang Izzah miliki dengan Ibu,” balas Izzah sopan dan tulus. “Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan.”
Wanita itu menyalami Izzah, lalu pamit.
PLOK! PLOK! PLOK!
Teman-teman Izzah memberikan tepuk tangan meriah.
“Pokoknya, kalau ada Izzah, urusan yang beginian bereessss!” puji Johny seraya mengacungkan dua jempolnya. Izzah cuek bebek.
***
Puas menikmati flora langka si Bunga Kibut, Izzah dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Yudha, Riris dan Johny tiba lebih dulu di bendungan. Mereka istirahat menunggu kedatangan yang lain.
Izzah terpaku menatap sebatang pohon pada sebuah tebing di tepi sungai. Sekitar satu meter dari permukaan tanah, pohon itu bercabang dua. Uniknya, kedua cabang itu menyatu di bagian atas membentuk sebuah rongga, cukup besar untuk bisa dilewati orang dewasa.
Izzah menimbang-nimbang sejenak, lalu memutuskan untuk memanjat pohon itu agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di sepanjang aliran sungai, di bawah tebing.
“Aissh … sial!” Ihsan mengumpat. Tali sepatunya tersangkut pada sebuah akar dan membuatnya nyaris jatuh tertelungkup. Dia berjongkok, mengikat kuat tali sepatunya.
Tiba-tiba angin bertiup kencang disertai munculnya cahaya terang benderang. Izzah terkejut dan hilang keseimbangan.
“Aaaaaaaa …,” pekiknya bergema memecah keheningan belantara. Burung-burung terbang berhamburan.
Ihsan sontak berdiri kaget. Langkah Fadhil terhenti mendadak. Secepat kilat mereka berlari menerobos belukar.
***