
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Menjelang puncak musim dingin semua tanaman seolah beku. Membentuk bukit salju di sana sini. Suhu mencapai minus enam derajat. Sebuah angka yang fantastis untuk membuat darah berhenti mengalir jika tak menemukan sumber kehangatan saat berada di luar rumah.
Izzah masih bergelung memeluk guling. Entah kenapa, sejak beberapa hari terakhir ia malas sekali bergerak walau hanya sekadar beranjak dari tempat tidur. Selimut tebal itu seakan telah menyihirnya untuk betah berlama-lama mendekam dalam pelukan mimpi.
“Ayo bangun, Putri Tidur! Jangan sampai matahari menertawakanmu,” goda Shin Seo Hyun, menyingkap selimut dari tubuh Izzah.
“Aaaah … aku masih mau di sini,” rengek Izzah manja seraya menarik kembali selimut yang disingkap suaminya.
“Mandi dulu! Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu,” bujuk Shin Seo Hyun.
Izzah menggeleng kuat seraya menggigit pinggiran selimut setelah menurunkan bagian yang menutupi wajahnya. Kedua alis Shin Seo Hyun menyatu. Merasa heran. Belakangan ini istrinya selalu menolak bila disuruh mandi. Dan dengan berat hati melakukannya disertai bibir monyong beberapa senti bila dipaksa. Biasanya juga akan diikuti suara pintu dibanting keras. Benar-benar seperti bukan Izzah yang dikenalnya.
Setelah tawar-menawar dan berbagai bujuk rayu, akhirnya Izzah mengalah juga. Dengan enggan, ia menyeret langkah menuju kamar mandi.
HUEEK! HUEEK!
Izzah memuntahkan isi perutnya ke toilet. Terbirit-birit Shin Seo Hyun yang masih berdiri tidak jauh dari pintu berlari menghampiri istrinya.
“Kenapa, Sayang? Kau baik-baik saja?” tanya Shin Seo Hyun, cemas mendengar Izzah muntah-muntah. Digosoknya kuduk Izzah dengan lembut.
“Aku tidak apa-apa, Mas. Mungkin masuk angin karena cuaca terlalu dingin,” jawab Izzah pelan seraya menyeka sisa muntahannya.
Wajahnya memucat. Kepalanya terasa pusing. Serasa naik roller coaster kecepatan tinggi. Lututnya pun lemas seakan tak bertenaga. Lantaran kasihan melihat kondisi istrinya, Shin Seo Hyun memapah Izzah kembali ke ranjang dan membaringkannya.
GREP!
Izzah menyambar tangan Shin Seo Hyun saat suaminya itu akan beranjak meninggalkannya.
“Ada apa? Kau ingin kumasakkan menu spesial untuk sarapanmu?” tanya Shin Seo Hyun sambil duduk di tepi ranjang seraya membelai kepada Izzah.
Izzah menggeleng dan menepuk kasur, memberi isyarat agar Shin Seo Hyun ikut berbaring di sisinya. Sejenak Shin Seo Hyun mengernyit. Merasa Izzah semakin aneh, tetapi tatapan sayu istrinya itu seolah menjadi magnet kuat yang melumpuhkan saraf-sarafnya hingga ia tak kuasa menolak permintaan Izzah.
Begitu Shin Seo Hyun berada tepat di sebelahnya, Izzah langsung mendekap dan membenamkan kepalanya di ceruk leher Shin Seo Hyun serta mengendus-endus aroma wangi yang memancar dari tubuh suaminya itu.
“Biarkan aku seperti ini sebentar,” bisik Izzah, memperketat dekapannya.
Shin Seo Hyun menghela napas panjang dan mengusap punggung Izzah. Menikmati kemanjaan istrinya itu dengan hati berbunga-bunga.
“Cuaca makin dingin. Sebaiknya kau periksa. Aku takut kau kenapa-napa,” saran Shin Seo Hyun.
“Kalau kau tak mau ke rumah sakit, aku saja yang melakukannya. Bagaimana?” lanjutnya bertanya. Mencari cara untuk menjawab rasa penasarannya.
“Aku rasa tidak perlu, Mas. Ini hanya sementara. Aku yakin besok akan membaik,” tolak Izzah keras kepala.
“Baiklah. Tapi kalau besok pagi kau masih muntah, kau harus menuruti permintaanku ya …,” sahut Shin Seo Hyun mengalah. Izzah mengangguk, membuat bola mata Shin Seo Hyun berpijar.
Keesokan harinya, Izzah terpaksa menyerah pada keputusan Shin Seo Hyun. Mau tidak mau ia menerima test pack yang disodorkan suaminya setelah isi perutnya terkuras habis saat pagi-pagi memaksakan diri ke kamar mandi.
Sejenak Izzah tegak mematung menatap test pack di genggamannya. Hatinya ragu. Penjelasan dokter bedah di ruang konsultasi beberapa tahun yang lalu saat ia masih SMA bergema ulang di ingatannya.
“Jadi, bagaimana hasilnya, Dok?” tanya Izzah, menahan malu demi mengetahui kebenaran kondisi kesehatannya.
Dokter itu tersenyum. Mencoba mengurangi kegelisahan gadis yang duduk di depannya.
“Jadi, harus dioperasi, Dok?” tanya Izzah lagi.
Sesaat dokter itu diam. Menatap lekat Izzah dengan tatapan iba seorang ayah.
“Dari segi medis, operasi memang jalan terbaik mengingat ukurannya yang sudah cukup besar, tapi .…” Dokter itu menjeda ucapannya seolah ragu.
“Tapi apa, Dok?” kejar Izzah ingin tahu.
Dokter itu menyatukan kedua tangannya di atas meja, memandang Izzah dengan tatapan hangat dan lembut, lalu mendesah ramah.
“Kalau kau percaya herbal, tak ada salahnya mencoba. Hanya saja mungkin reaksinya sedikit lambat dan butuh kedisiplinan,” sahut dokter itu memberi alternatif, lalu menceritakan kisah istri seorang dokter yang bisa sembuh dari kanker rahim setelah rutin mengonsumsi rebusan benalu teh.
Izzah tertarik mendengar solusi lain yang ditawarkan dokter itu.
“Terima kasih, Dok. Saya akan mencobanya,” ujar Izzah, yakin dengan pilihannya.
“Harap diingat, aku mengatakan itu bukan sebagai dokter, melainkan sebagai seorang ayah yang juga mempunyai seorang anak perempuan seusiamu. Aku harap kau paham maksudku,” lanjut dokter itu lagi.
“Ya, Dok. Terima kasih,” jawab Izzah, sangat mengerti.
Izzah baru saja hendak pamit ketika dokter itu kembali berkata.
“Tapi … ada satu hal lagi yang harus kau ketahui,” kata dokter itu sedikit bimbang.
“Katakan saja, Dok! Apa pun itu, aku akan menerimanya dengan lapang dada,” tukas Izzah cepat, mengusir keraguan yang membayang di wajah dokter yang duduk di hadapannya.
Senyum tipis mengembang di bibir sang dokter menghadapi kenyataan betapa bijak dan dewasanya pola pikir Izzah.
“Rahimmu … sepertinya kau juga mengidap inkompetensi serviks,” lanjut dokter itu dengan nada rendah. Dahi Izzah berkerut. Tak paham arti perkataan dokter itu.
“Untuk saat ini sebaiknya kau fokus saja ke pengobatan kista dulu. Tak usah terlalu memikirkan apa yang barusan aku bilang,” sambungnya ketika gadis di depannya terlihat bingung.
“Baik, Dok. Terima kasih,” ujar Izzah seraya berdiri pamit. Keluar dari ruangan itu dengan rasa hati tak menentu.
Selama perjalanan pulang ke rumah, Izzah gelisah dan terus memikirkan ucapan sang dokter.
“Hem … baiklah. Aku akan berjuang keras untuk masuk ke Fakultas Kedokteran setelah lulus nanti,” tekad Izzah. Semua demi menjawab teka-teki yang bergelayut di benaknya.
Huuuh! Haaah!
Izzah menarik napas panjang dan dalam. Matanya belum beralih dari test pack yang dipegangnya.
Di luar kamar mandi, Shin Seo Hyun berjalan mondar-mandir tak tenang. Hatinya gugup menanti hasil test pack Izzah. Berkali-kali ia menengadah dan berdoa, lalu kembali bolak-balik dengan gelisah serta sesekali menggigit kuku jempol tangannya. Semakin resah, Shin Seo Hyun menyandarkan keningnya di dinding bertumpukan lengan.
KREEET!
Terdengar pintu kamar mandi terbuka. Sontak Shin Seo Hyun berpaling dan menyongsong Izzah yang keluar dengan kepala tertunduk lesu seraya menyembunyikan hasil test pack dalam genggaman kedua tangannya.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Shin Seo Hyun penasaran sembari memegang kedua bahu Izzah. Dadanya bergerak turun naik. Harap-harap cemas.
***