
Shin Seo Hyun mematut diri di depan cermin. Berkali-kali ia merapikan dasi sebelum mengambil jam tangan dengan warna yang sesuai, lalu memakainya. Ia menganggukkan kepala sepintas dan tersenyum tipis setelah yakin dengan penampilannya.
Dengan menenteng tas kerja, ia berjalan cepat menuruni tangga. Buru-buru membuka pintu mobil, lalu membelah Kota Seoul dengan kecepatan tinggi.
Pagi itu, semua gerak Shin Seo Hyun serba tergesa-gesa. Dengan tangan kiri di saku celana, diayunkannya langkah panjang menuju ruangannya tanpa memedulikan tatapan heran dari orang-orang yang dilewatinya.
Shin Seo Hyun meletakkan tas yang dibawanya di atas meja kerja. Sejurus kemudian, ia duduk bersandar dengan bertopang dagu. Pikirannya masih kalut.
Lima menit sudah waktu Shin Seo Hyun terbuang sia-sia dalam kekalutan. Lalu, dikeluarkannya ponsel dan menghubungi seseorang.
Park Joon Soo baru saja menyalakan laptop. Tumpukan dokumen yang menggunung sudah menanti untuk segera diselesaikan.
Sejenak ia memajukan kursinya dan mengambil lembar dokumen paling atas. Belum sempat ia meraih dokumen itu, tiba-tiba ponsel yang diletakkannya di atas meja berbunyi. Menampilkan sebuah nama yang sudah tidak asing.
“Shin Seo Hyun? Tumben pagi-pagi menghubungiku. Ada urusan apa lagi sekarang?”
Tak ingin kena damprat, Park Joon Soo segera mengangkat panggilan itu. Ia sangat mengenali tabiat Shin Seo Hyun. Bosnya itu tidak menggunakan telepon kantor. Itu artinya hal yang akan dibicarakan bukanlah menyangkut pekerjaan.
“Ya?”
“Ke ruanganku sekarang!”
Park Joon Soo langsung beranjak dari tempat duduknya.
Setelah mengetuk pintu, Park Joon Soo masuk tanpa menunggu disilakan. Untuk sesaat ia menyipitkan mata melihat Shin Seo Hyun terkulai lesu bersandar di atas kursi kebesarannya.
Shin Seo Hyun tanpa bergairah melirik Park Joon Soo berjalan dan mengenyakkan pantatnya di atas sofa.
Park Joon Soo duduk bersilang kaki dan merentangkan kedua tangannya di lengan sofa. Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya matanya memancarkan sorot sejuta tanya, menatap wajah sendu Shin Seo Hyun.
Shin Seo Hyun masih membisu seribu bahasa. Ia bingung harus mulai dari mana. Keraguan terpancar di matanya. Rasa malu pun menyelimuti hatinya.
“Oke. Kalau memang tidak ada yang ingin kau bicarakan, sebaiknya aku kembali ke ruanganku sekarang. Pekerjaanku menumpuk.” Park Joon Soo bergerak hendak berdiri.
“Tunggu, Joon Soo!”
Teriakan Shin Seo Hyun membuat Park Joon Soo duduk kembali.
Shin Seo Hyun bangkit dari kursinya dan duduk di dekat Park Joon Soo dengan tampang serius.
“Joon Soo .…” Shin Seo Hyun ragu-ragu. Ia terlihat sedikit kikuk.
“Ya?”
Park Joon Soo merasa heran. Untuk pertama kalinya ia melihat Shin Seo Hyun begitu gugup.
“Sepertinya masalah yang dialami Seo Hyun cukup serius. Apa ada kaitannya dengan wanita?”
“Kalau diingat-ingat, Seo Hyun belum pernah pacaran. Jangan-jangan ia sedang jatuh cinta. Pantas saja grogi. Pengalaman pertama sih .…”
Mendadak Park Joon Soo senyum dikulum. Ia merasa geli hati melihat ekspresi Shin Seo Hyun. Tetapi teringat bagaimana perasaannya saat pertama kali jatuh cinta, Park Joon Soo jadi bersimpati. Ia sangat memahami kegelisahan Shin Seo Hyun.
“Jatuh cinta … berjuta rasanya .…”
Hati Park Joon Soo tiba-tiba bernyanyi. Jika benar dugaannya, ia ikut berbahagia untuk sahabatnya itu.
“Joon Soo … aku mau minta pendapat nih. Aku bingung soalnya .…”
Shin Seo Hyun menatap Park Joon Soo untuk sesaat.
“Tentang apa?”
“Itu … temanku curhat. Akhir-akhir ini dia sering berhalusinasi. Menurutmu kenapa bisa begitu? Kira-kira temanku perlu ke psikiater tidak?”
Sejenak Park Joon Soo tertegun. Ia menatap curiga, membuat Shin Seo Hyun merasa gerah. Tanpa sadar Shin Seo Hyun meraba kuduknya, salah tingkah.
Park Joon Soo merasa geli melihat bahasa tubuh Shin Seo Hyun. Ia yakin yang dibicarakan bosnya itu bukanlah temannya, melainkan dirinya sendiri. Hanya saja, alih-alih mengonfrontasi Shin Seo Hyun, Park Joon Soo lebih memilih untuk pura-pura memercayai cerita si bos. Mungkin dengan bersikap seolah-olah tidak mengetahui yang sebenarnya justru dapat mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya. Begitu yang terlintas di pikiran Park Joon Soo saat itu.
“Wah, kasus halusinasi tidak bisa dipandang remeh. Jadi, sebelum ke psikiater, sebaiknya diselidiki dulu penyebabnya. Memangnya sudah berapa lama temanmu itu berhalusinasi?”
Park Joon Soo mulai menggali informasi yang akan disandingkan dengan kecurigaannya. Shin Seo Hyun tampak berpikir serius. Mengingat-ingat sejak kapan ia mulai melihat penampakan sosok Izzah di mana-mana.
“Hem … mungkin sejak beberapa bulan terakhir.”
“Ya ampun! Itu waktu yang cukup lama. Harusnya temanmu itu menceritakan semua itu lebih cepat. Aku yakin dia pasti sangat menderita. Bahkan, mungkin bertingkah seperti orang gila. Kasihan sekali! Kalau tidak segera diobati,
bisa-bisa dia jadi gila betulan.”
Park Joon Soo memasang wajah prihatin, seolah kondisi teman ilusi Shin Seo Hyun itu memang sangat menyedihkan.
“Hah! Separah itu?”
Shin Seo Hyun terperangah. Ia tidak menyangka efek bayangan Izzah yang senantiasa menghantui setiap langkahnya bisa sedahsyat itu. Park Joon Soo menahan senyum melihat wajah bloon Shin Seo Hyun.
“Apa temanmu punya riwayat penyakit gangguan mental?” tanya Joon Soo. “Seperti skizofrenia, demensia, delirium atau semacamnya?”
“Tidak.”
“Terlibat penyalahgunaan zat tertentu, obat-obatan, atau pencandu alkohol?”
“Tidak juga.”
Pertanyaan Park Joon Soo mulai membuat kuping Shin Seo Hyun memanas. Tetapi demi mendapat obat anti galaunya, Shin Seo Hyun berusaha menyabarkan hati. Park Joon Soo seolah-olah tidak memperhatikan perubahan wajah Shin Seo Hyun. Bak seorang psikiater, ia melanjutkan pertanyaan demi pertanyaan.
“Begitu ya? Atau jangan-jangan dia punya kebiasaan jelek, suka begadang?”
Park Joon Soo geleng-geleng kepala, seakan sangat menyayangkan kebiasaan teman Shin Seo Hyun.
Mendengar itu, muka Shin Seo Hyun makin menggelap. “Sabaaar … sabaar ….” Shin Seo Hyun menyugesti dirinya sendiri untuk meredakan amarahnya yang bergolak.
Park Joon Soo merasa senang bisa mengerjai Shin Seo Hyun. Ia seolah mendapat durian runtuh.
“Seingatku dia tidak seperti itu,” bela Shin Seo Hyun.
Park Joon Soo melepas tawa ringan mendengar pembelaan Shin Seo Hyun.
“Hem … sepertinya ini kasus yang aneh. Ngomong-ngomong, halusinasi apa yang dialami oleh temanmu itu?”
Merasa mendapatkan simpati dari Park Joon Soo, Shin Seo Hyun jadi bersemangat lagi.
“Begini, dia merasa seolah melihat bayangan seseorang yang selalu mengikuti ke mana pun dia pergi. Mau makan, mau mandi, mau kerja. Bahkan, ketika mau tidur bayangan itu semakin banyak menari-nari di langit-langit kamarnya.”
Saking semangatnya Shin Seo Hyun menceritakan Izzah seraya membayangkan senyum manis gadis itu, tatapannya mengawang. Pancaran matanya berbinar-binar, melukiskan rasa bahagia yang perlahan menyelinap ke relung hatinya.
“Hem … Shin Seo Hyun benar-benar sedang dimabuk cinta. Dasar bos gendeng! Umur sudah hampir kepala tiga, tapi tetap saja tidak menyadari perasaan sendiri.”
Park Joon Soo tertawa terbahak-bahak di dalam hati. Untung saja Shin Seo Hyun tidak mempunyai kemampuan untuk mendengarkan dialog batinnya.
“Oh ya? Waah … benar-benar parah. Bayangan yang dilihatnya itu berwujud manusia, bukan?”
“Lah iyalah … masa setan!”
Tanpa sadar nada bicara Shin Seo Hyun meninggi. Ia mulai sulit mengontrol emosi.
“Kalau begitu, kesimpulannya cuma satu ….”
Park Joon Soo sengaja menggantung kalimatnya. Ia ingin melihat reaksi Shin Seo Hyun. Shin Seo Hyun yang mulai kehilangan kesabaran menghadapi Park Joon Soo jadi makin penasaran.
“Apa?”
Park Joon Soo memberi kode dengan jarinya agar Shin Seo Hyun mendekat. Tidak perlu menunggu lama, Shin Seo Hyun merapatkan kupingnya ke bibir Park Joon Soo.
“Dia sedang jatuh cinta,” bisik Park Joon Soo dengan senyum menggoda.
“Apaaa?”
Shin Seo Hyun terlonjak. Hampir saja ia jatuh dari sofa saking kagetnya mendengar kesimpulan Park Joon Soo.
"Tidak mungkin!” ujar Shin Seo Hyun setelah berhasil menenangkan diri.
“Terserah kamu mau percaya atau tidak. Beritahu temanmu itu, semakin dia mengingkari perasaannya, semakin ia akan menjadi gila.”
Selesai berkata begitu, Park Joon Soo berdiri dan tersenyum lebar meninggalkan Shin Seo Hyun yang masih bengong seperti sapi ompong.
***