
Seorang gadis kecil usia lima tahun mendadak menghentikan permainan bonekanya saat mendengar teriakan dari rumah di sebelahnya. Takut-takut, ia berjalan menuju jendela dan mengintip dari balik terali kayu.
Hanya terhalang jalan setapak, gadis kecil itu melihat dengan jelas seorang lelaki memukul seorang perempuan dengan brutal di dalam kamarnya. Tangisan bayi tak menghentikan aksi beringas lelaki itu. Bahkan, jerit kesakitan wanita yang telah dinikahinya itu tak sedikit pun menggugah rasa kasihannya. Ia terus saja mendorong dan menjambak rambut istrinya dengan kuat. Berkali-kali pula ia membenturkan kepala istrinya ke dinding.
Gadis kecil itu tak bisa berbuat apa-apa. Ia bahkan tak punya kekuatan untuk sekadar berteriak minta tolong. Keringatnya mengucur deras, menyaksikan penyiksaan itu. Tangan kirinya mencengkeram terali dengan erat seolah-olah meminta kekuatan. Tangan kanannya menggapai-gapai ke luar jendela, ingin meraih punggung lelaki sadis itu agar menjauh dari istrinya.
“Hentikaaan!”
Gadis kecil itu berteriak kencang. Namun, hanya desau angin yang terdengar. Suaranya seakan tercekat di kerongkongan. Air matanya mengalir deras. Bibirnya bergetar. Seluruh tubuhnya menggigil saat melihat wanita itu jatuh melorot ke lantai tanpa bergerak. Wajahnya penuh lebam. Dinding yang semula putih polos telah terikat pita merah dari darah yang mengucur dari kepala wanita itu.
Melihat wanita yang disiksanya tak lagi bergerak, lelaki kejam itu bergegas memasukkan pakaiannya ke dalam sebuah tas hitam besar, lalu berlari keluar. Meninggalkan istrinya diiringi raungan bayi tak berdosa. Gadis kecil itu hanya bisa mematung dan membisu. Tatapannya kosong.
Dada Shin Seo Hyun ikut memburu melihat Izzah begitu gelisah. Cepat-cepat ditangkapnya tangan Izzah yang mengambang di udara. Mendadak ia teringat bisikan kakak Izzah sebelum berpisah di bandara beberapa bulan yang lalu.
“Tolong awasi adik saya saat bekerja shift malam, Tuan Shin! Dia sering mimpi buruk,” pinta Fadhil sambil memeluk Shin Seo Hyun.
Saat itu Shin Seo Hyun hanya bisa melirik Izzah penuh tanya. Tapi kini, ia benar-benar prihatin dengan kondisi Izzah. Ia menduga-duga, mimpi buruk Izzah berkaitan erat dengan persepsi negatif gadis itu tentang cinta kaum adam.
“Zah … bangun!” panggil Shin Seo Hyun seraya menepuk pipi Izzah pelan. Sementara sebelah tangannya tak sedetik pun lepas dari jemari Izzah.
Genggaman tangan Izzah semakin erat seiring aliran keringatnya yang kian deras. Matanya yang tertutup bergerak liar. Lamat-lamat Izzah mulai sesenggukan.
“Zah! Izzah! Bangun!” Shin Seo Hyun makin keras mengguncang tubuh gadis yang ketakutan itu.
“Zah!” panggil Shin Seo Hyun lagi.
“Aaarkh! Tidaaak!”
Izzah tersentak bangun dengan napas memburu. Ia duduk bengong memandang Shin Seo Hyun dengan tatapan kosong. Ketakutan masih tergambar jelas di wajahnya. Tiba-tiba saja ia menangis histeris.
Spontan Shin Seo Hyun memeluk Izzah. Saat Izzah berusaha menyembunyikan wajahnya di dada Shin Seo Hyun dan menarik baju lelaki itu dengan kuat, perlahan Shin Seo Hyun menepuk pundak gadis itu dengan lembut.
“Tidak apa-apa. Itu cuma mimpi. Ada aku di sini. Semua akan baik-baik saja,” bisik Shin Seo Hyun menenangkan Izzah.
Lambat laun tangis Izzah mulai mereda. Cengkeramannya di baju Shin Seo Hyun pun melonggar. Shin Seo Hyun merenggangkan pelukannya dari Izzah saat ia yakin gadis itu sudah benar-benar tenang dan kembali tertidur. Pelan-pelan diangkatnya tubuh Izzah dan digendongnya menuju kamar.
Sesampainya di kamar, dengan sangat hati-hati Shin Seo Hyun membaringkan tubuh Izzah di samping Ha Na yang tertidur pulas, lalu diselimutinya. Sejenak Shin Seo Hyun masih berdiri di tepi ranjang, menatap Izzah dengan prihatin.
“Kepahitan macam apa yang kau kubur di alam bawah sadarmu, Zah?” gumam Shin Seo Hyun seraya menghela napas berat.
Dirapikannya selimut Izzah dan Ha Na sebelum menjauh dari ranjang itu dan kembali dengan sehelai kasur tipis, sebuah bantal dan juga selimut. Sejurus kemudian, ia merebahkan tubuhnya. Namun, matanya tak jua kunjung terpejam. Angannya masih menerawang jauh, memikirkan rahasia batin yang dipendam Izzah.
Menjelang pagi, Shin Seo Hyun tak kuasa lagi menahan kantuk. Akhirnya, ia jatuh tertidur setelah lelah berulang kali duduk tidur mengecek kondisi Izzah. Sepanjang sisa malam ia begadang memastikan gadis itu tak lagi mengalami mimpi buruk.
***
Semburat mentari pagi yang jatuh menimpa wajahnya dari celah ventilasi membuat Izzah terbangun dari tidurnya. Izzah menggeliat. Badannya terasa pegal. Dengan sedikit malas ia duduk dan terkesima saat melihat Shin Seo Hyun tidur di sisi ranjang hanya beralaskan kasur tipis.
Izzah ingat kemarin malam ia menghabiskan waktu dengan membaca buku di perpustakaan. Berpikir bahwa Shin Seo Hyun telah memindahkannya, wajah Izzah tiba-tiba bersemu merah.
Pelan-pelan Izzah turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi, cuci muka dan gosok gigi. Saat keluar dari kamar mandi, dilihatnya Ha Na masih tidur nyenyak. Izzah tak membangunkan gadis cilik itu. Ia tahu Ha Na harus mengisi ulang tenaganya yang kemarin terkuras habis.
Izzah mendekati Shin Seo Hyun dan membangunkannya.
“Mas Dirga ...,” panggil Izzah pelan.
“Heemmm ...,” sahut Shin Seo Hyun dengan nada masih mengantuk.
“Tidak ke kantor?” tanya Izzah mengingatkan.
“Biarkan aku tidur sebentar lagi,” pinta Shin Seo Hyun tanpa membuka mata.
“Baiklah,” balas Izzah seraya memungut sajadah yang masih terhampar di sisi Shin Seo Hyun.
“Apa yang dilakukannya semalaman?” Hati Izzah bertanya-tanya.
“Ah, sudahlah. Lebih baik aku membuat sarapan,” pikir Izzah, lalu melangkah keluar membiarkan Shin Seo Hyun dan Ha Na melanjutkan mimpi mereka.
Setibanya di dapur, Izzah langsung membuka kulkas, mengecek persediaan yang ada. Ia sangat bersyukur Sandra sudah berbelanja. Dikeluarkannya bahan-bahan yang dibutuhkannya.
“Hari ini masak nasi goreng saja. Sudah lama tidak sarapan ala Indonesia,” gumamnya.
Dan dalam waktu singkat, dua porsi nasi goreng spesial sudah terhidang di meja di tambah secangkir kopi moka kegemaran Shin Seo Hyun. Tak lupa Izzah juga membuatkan pancake aneka rasa untuk Ha Na dan segelas susu hangat.
Saat Izzah baru hendak membangunkan Shin Seo Hyun dan Ha Na, tahu-tahu mereka sudah berada di ujung tangga.
“Aunty Izzaaah …,” teriak Ha Na, berlari ke pelukan Izzah.
“Waah … Ha Na sudah bangun, Sayang? Padahal, Aunty baru saja mau menjemput Ha Na,” ujar Izzah, merapikan rambut Ha Na.
“Aroma masakanmu memaksa kami untuk bangun lebih cepat,” timpal Shin Seo Hyun sambil mendudukkan Ha Na di atas kursi.
“Ho oh … haruuum ...,” sahut Ha Na.
Ia memejamkan mata seolah tengah mengendus aroma masakan dari jauh. Membuat Shin Seo Hyun dan Izzah tertawa. Shin Seo Hyun mengusap kepala Ha Na penuh kasih sayang.
“Selamat makaaan,” teriak Ha Na senang begitu Izzah menghidangkan pancake beserta saus strawberry dan cokelat kesukaannya.
“Eiit ... baca doa dulu!” ujar Izzah mengingatkan.
“Oh, iya,” sahut Ha Na menadahkan tangan, lalu membaca doa makan.
Duduk di seberang Izzah, Shin Seo Hyun menikmati nasi goreng spesial buatan Izzah dengan perasaan berbunga-bunga. Untuk pertama kalinya Izzah memasak untuknya. Tak henti-hentinya ia melirik Izzah. Sementara Izzah tetap cuek dan sibuk melayani Ha Na.
Pagi itu, lelah Shin Seo Hyun akibat begadang semalaman langsung hilang seketika karena menu sarapan spesial buatan Izzah.
***