A Thousand Flowers

A Thousand Flowers
Chapter 79. Yaaah ....



Mata besar Izzah makin membulat. Mulutnya menganga lebar saat lelaki itu melepaskan bekapannya.


“Kau?” desis Izzah masih tak percaya. Lelaki itu memperlihatkan senyumnya yang memesona.


“Ya. Ini aku,” sahut lelaki itu tegas sambil mencopot topinya dan menjatuhkannya begitu saja ke lantai.


Izzah menggelengkan kepalanya kuat-kuat seraya memejamkan mata. Berharap lelaki itu hanyalah ilusi dan akan menghilang saat ia membuka mata. Dan betapa ia terbengong-bengong ketika melihat lelaki itu masih berdiri, menatapnya dengan senyum menawan tatkala ia takut-takut membuka sebelah matanya, mengintip.


Lelaki itu kembali tersenyum melihat tingkah Izzah.


“Bukankah aku sudah berjanji akan kembali untuk menjemputmu? Kau lupa?” sahut lelaki itu sambil menyusuri lekuk bibir Izzah dengan ujung jempol tangan kanannya.


“Huh?” Kedua alis Izzah bertaut mendengar ucapannya.


“Jadi … kau?” Izzah masih belum bisa memahami situasi sepenuhnya.


“Benar. Akulah suamimu,” jawabnya sambil menarik Izzah dan mengunci pinggang gadis itu dengan lengan kirinya.


Berdiri dengan tubuh yang begitu dekat, membuat jantung Izzah makin berdebar-debar. Sesaat ia seakan hilang kesadaran karena syok dengan kenyataan itu. Dan ketika kesadarannya kembali, tahu-tahu bibir lelaki itu telah ******* bibirnya dengan lembut.


Untuk sesaat Izzah hanya bengong, tak merespon. Namun, ketika ******* itu semakin menuntut, tubuh Izzah bereaksi mengikuti insting kewanitaannya.


Merasa ciumannya mendapat balasan, lelaki itu makin bergairah dan ******* bibir Izzah dengan rakus. Ia baru menghentikan ciumannya saat Izzah hampir kehabisan napas. Senyumnya mengembang menatap pipi Izzah bersemu merah. Sedetik kemudian tahu-tahu Izzah  sudah berada dalam gendongannya.


“Turunkan aku, Mas!” pinta Izzah merasa risi.


Sejenak langkahnya terhenti. Tatapannya tajam menusuk bola mata Izzah, membuat gadis itu mati kutu.


“Nanti. Setelah sampai di ranjang atau kau mau kucium di sini?” tanyanya dengan senyum menggoda. Merasa malu, Izzah menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Membuat senyum lelaki itu semakin lebar.


Begitu tubuhnya menyentuh kasur, Izzah bergegas duduk. Namun, secepat kilat lelaki itu mendorongnya jatuh telentang dan mengunci kedua ujung lengannya dengan tangannya yang kekar. Keduanya saling tatap dalam diam. Lambat laun lelaki itu kembali mendekatkan wajahnya ke muka istrinya. Izzah bisa merasakan hangatnya embusan napas lelaki itu menyapu wajahnya.


DEG! DEG! DEG!


Suara detak jantung Izzah bertalu-talu. Ia cemas membayangkan apa yang akan dilakukan lelaki itu kepadanya. Saking groginya, tanpa sadar Izzah memejamkan mata. Membuat suaminya  menyunggingkan senyum, lalu perlahan mendaratkan ciuman lembut di bibir Izzah.


Kaget karena mendapat serangan mendadak, spontan mulut Izzah terbuka. Hal itu tentu  saja memberi kesempatan kepada lelaki itu untuk lebih leluasa mengeksplorasi bibir ranumnya. Lama-lama mereka pun hanyut dalam desah asmara.


Hasrat lelaki itu semakin menggebu dan tangannya semakin liar menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya. Namun, saat ia sudah siap dalam posisi hendak menyatukan jiwa mereka, tiba-tiba Izzah menghentikannya.


“Tunggu, Mas! Tidak sekarang,” cegah Izzah, menahan dada suaminya.


“Kenapa? Kau takut? Aku janji akan melakukannya dengan lembut,” sahut suaminya meyakinkan Izzah.


“Aku … aku sedang cuti, Mas,” tukas Izzah pelan.


“Bukankah itu bagus? Kau bisa istirahat seharian setelahnya,” timpal suaminya dengan tatapan menggoda.


“Bukan cuti kerja maksudku, Mas,” lanjut Izzah membuat kening suaminya berkerut.


“Lalu, apa maksudmu?” tanya lelaki itu tak paham.


“Aku … aku lagi datang bulan, Mas,” jelas Izzah menyeringai mesem.


“Apaa?” suaminya kaget.


NYIIUUUT!


Sontak semangatnya yang tadi membara menciut seperti balon kehabisan udara dalam sekejap. Lalu, ia merebahkan tubuhnya dengan lunglai di samping istrinya. Melihat itu, Izzah menahan senyum.


“Kau kecewa?” tanya Izzah, berbaring miring bertopang tangan di pelipisnya seraya mempermainkan jemarinya di dada sang suami.


Lelaki itu menahan napas, melirik tubuh istrinya yang masih terbalut handuk.


“Atau … aku akan kembali menerkammu,” lanjutnya lagi seraya menatap mata istrinya lekat.


Sontak Izzah langsung melompat turun dari ranjang. Lelaki itu pun melampiaskan kekecewaannya dengan menyembunyikan wajahnya di balik bantal serta memukul-mukulkan ujung kakinya di atas kasur. Persis seperti anak balita yang tidak diberi mainan. Ketika Izzah menoleh ke ranjang, ia tersenyum geli melihat ulah suaminya itu.


Selang beberapa menit, lelaki itu pun menghentikan aksinya. Duduk bersandar di kepala ranjang seraya memeluk bantal yang tadi dipakainya. Matanya tak berkedip mengamati istrinya yang tengah memakai baju. Tergoda dengan gemulainya gerakan sang istri, ia pun meletakkan bantal dan turun dari ranjang.


“Biar kubantu!” tawarnya begitu tiba di belakang Izzah yang terlihat sedikit kesulitan memasang ritsleting gamisnya.


“Ah!” Izzah memekik geli saat lelaki itu mencium kuduknya setelah selesai menarik ritsleting bajunya.


“Biarkan aku seperti ini sebentar!” bisik suaminya seraya memeluk Izzah dari belakang dan menyandarkan bahunya di pundak Izzah. Izzah hanya mendesah.


“Kau masih terus menyimpannya?” tanya lelaki itu, melihat sebuah boneka beruang kecil di lemari pakaian Izzah.


“Apa?” tanya Izzah, memberanikan diri menyentuh lembut lengan suaminya.


“Boneka beruang itu,” tunjuk lelaki itu dengan bibirnya.


“Bagaimana kau tahu?” tanya Izzah, menoleh kepada suaminya dengan kening berkerut.


Lelaki itu melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Izzah menghadapnya. Lalu, ia mengeluarkan selembar foto yang terselip di dompetnya dan memperlihatkan foto itu kepada Izzah.


Begitu melihat foto itu, ingatan Izzah langsung melayang pada peristiwa yang terjadi belasan tahun yang lalu. Saat ia masih berusia tujuh tahun.


“Kak, tunggu!” teriak Izzah, berlari mengejar seorang anak laki-laki yang telah menghiburnya dan memberinya seorang teman, sebuah boneka beruang kecil dengan wajah tersenyum bahagia.


Anak laki-laki itu menghentikan langkahnya dan berbalik menanti Izzah.


“Ada apa?” tanyanya dengan senyum menawan.


“Ini untuk Kakak,” kata Izzah, menyodorkan sebuah gantungan kunci berbentuk bunga Rafflesia warna merah yang baru saja dilepasnya dari tas yang disandangnya.


Anak lelaki itu tampak ragu untuk menerima pemberian Izzah.


Izzah tersenyum manis. “Aku masih punya satu lagi,” ujarnya sambil memperlihatkan sebuah gantungan kunci dengan bentuk yang sama, tetapi dalam warna yang berbeda. Izzah menyimpan yang berwarna putih untuk dirinya


“Terima kasih,” ucap anak lelaki itu setelah mengambil gantungan kunci dari tangan Izzah.


Dengan senyum memesona ia membelai lembut kepala Izzah, lalu berlari menuju mobil yang sudah menunggunya di tepi jalan.


Izzah berdiri mematung seraya melambaikan tangan hingga mobil anak lelaki itu menghilang dari pandangannya.


“Kau … Kakak itu?” tanya Izzah menatap suaminya dengan mata berbinar.


Lelaki itu mengangguk, lalu kembali memeluk Izzah dengan erat.


“Aku sangat merindukanmu,” bisiknya sambil mengelus rambut panjang Izzah.


Izzah membalas pelukan suaminya. Rasanya begitu hangat berada dalam pelukan suaminya itu. Sesaat kemudian, Izzah merenggangkan pelukannya tanpa melepaskan tangan dari pinggang suaminya.


“Sejak kapan kau mengenaliku?” tanya Izzah penasaran.


Lelaki itu menatap wajah Izzah hangat. “Sejak hari pertama kita bertemu.”


“Hah!”


“Kau jahat,” rajuk Izzah sambil memukul dada suaminya pelan.


Lelaki itu segera memegang dadanya seraya terbungkuk-bungkuk, seolah pukulan Izzah benar-benar menyakitinya.


***